LOGINMalam kian merambat, membawa udara sejuk yang perlahan menyelimuti sudut kota Jakarta. Sesuai dengan kesepakatan sore tadi, Ana melangkah masuk ke dalam restoran pilihan Gery di kawasan Menteng. Restoran itu bergaya kolonial klasik dengan pilar-pilar putih yang anggun dan rimbun dedaunan di pelatarannya. Suasananya begitu sunyi dan privat, jauh dari hiruk-pikuk kota yang melelahkan.Seorang pelayan dengan ramah mengantar Ana menuju area outdoor tersembunyi di bagian belakang. Begitu tirai beludru dibuka, langkah kaki Ana seketika terhenti. Matanya membelalak kecil, menatap lurus ke arah sebuah meja bundar di tengah taman kecil yang dikelilingi pendar lentera temaram.Di atas meja itu, kelopak bunga mawar merah ditata rapi mengelilingi lilin-lilin aromaterapi yang menguar harum maskulin bercampur vanila. Dua set alat makan perak berkilau di bawah cahaya malam. Dan di sana, di balik meja itu, Gery sudah berdiri tegak. Pria itu telah menanggalkan jas kantornya, kini hanya mengenakan
Seminggu berlalu sejak kejadian di bandara, tapi suasana ketegangan belum sepenuhnya mereda. Hari ini, Ana memutuskan untuk melangkah lebih jauh. Ditemani oleh Gery, dia mendatangi kantor Raka. Saat pintu ruangan kerja Raka terbuka, tampak Raka sedang duduk di balik meja besarnya dengan tumpukan berkas yang berantakan. Wajahnya yang kuyu menunjukkan kelelahan yang luar biasa, terlebih saat melihat Ana masuk bersama Gery."Ana? Apa yang kamu lakukan di sini?" suara Raka terdengar serak, dengan nada yang sarat akan frustrasi yang dia coba tutupi.Ana tidak langsung menjawab. Dia meletakkan sebuah map putih di atas meja tepat di hadapan Raka. "Ini adalah surat panggilan sidang perceraian kita. Aku datang untuk memastikan kamu menerimanya secara langsung, Raka," ucap Ana.Raka menatap map itu dengan tatapan yang membakar. Tangannya mengepal kuat, urat-urat di lehernya menonjol. "Kamu pikir dengan surat ini kamu bisa menghancurkanku? Kamu sudah keterlaluan, Ana! Kamu bawa orang asin
Di tengah gema bentakan Raka yang masih menyisakan ketegangan pekat di udara Terminal 3, Gery sama sekali tidak bergeming. Dia tidak membalas provokasi murahan itu dengan amarah ragawi yang lain. Pria itu justru menurunkan pandangannya ke arah jam tangan kronograf di pergelangan tangan kirinya, lalu sedetik kemudian, seulas senyum tipis, senyuman penuh kemenangan yang teramat dingin, terukir di sudut bibirnya."Saya memang orang luar dalam dokumen pernikahanmu, Raka. Tapi saya adalah orang yang memegang kendali penuh atas nasibmu malam ini," ucap Gery, suaranya mengalun sangat lambat, berat, dan dipenuhi kepastian yang mutlak.Sebelum Raka sempat mencerna arti kalimat tersebut, dari arah koridor lobi kedatangan luar yang berbatasan dengan area parkir, sayup-sayup terdengar sebuah suara melengking kecil yang teramat akrab di telinga Ana."Mama... Mama...!"Suara itu mulanya tenggelam di antara deru mesin pendingin ruangan bandara dan lalu lalang manusia, tapi bagi insting seorang
"Raka! Kamu sudah gila, ya? Nia itu anak kandungmu! Dia darah dagingmu sendiri! Bagaimana bisa kamu meninggalkannya bersama orang asing hanya untuk mengancam ibunya? Bajingan kamu, Raka! Kembalikan Nia sekarang! Di mana alamatnya? Katakan padaku!" teriak Ana, suaranya melengking tinggi, pecah oleh rasa sakit yang teramat sangat. Dia maju selangkah, menunjuk wajah suaminya dengan jari yang gemetar hebat. Ibu Dewi yang melihat menantunya histeris, justru melipat kedua tangannya di dada, mencoba mengembalikan keangkuhannya yang sempat ciut. "Heh, Ana! Jangan berteriak seperti orang kesurupan di sini! Raka itu ayahnya, dia punya hak penuh atas Nia. Kalau kamu mau anakmu kembali dengan selamat tanpa cacat, lebih baik kamu tutup mulutmu dan dengarkan apa maunya Raka!" ucap Ibu Dewi.Raka membasahi bibirnya yang kering. Melihat Ana yang sudah berada di titik nadir keputusasaan, rasa percaya diri pria itu perlahan bangkit kembali. Dia merasa di atas angin karena memegang kartu as terbesa
Di tengah ketegangan yang pekat dan isak tangis yang mulai mereda di ruang tamu, suasana mendadak dipecahkan oleh suara ketukan pintu yang tergesa-gesa tapi sarat akan ketegasan.Tok! Tok! Tok!Ana langsung berdiri, diikuti tatapan waspada dari Pak Anton dan Ibu Sari. Begitu pintu kayu jati itu dibuka, sosok Gery berdiri di ambang pintu. Napasnya sedikit memburu, dan sepasang matanya memancarkan kilat urgensi yang amat sangat. Ponsel pintarnya masih menyala di genggaman tangan kanan."Ana… Tim intelijen saya baru saja mendapatkan manifest penerbangan dan sinyal ponsel Raka yang aktif di menara pemancar sekitar Tangerang. Raka, ibunya, dan Vanya... mereka sekarang berada di Bandara Soekarno-Hatta, Terminal 3. Mereka berniat memesan tiket penerbangan domestik darurat menuju Surabaya malam ini juga," ucap Gery, suaranya yang berat mengalun cepat namun tetap terkendali.Mendengar kata bandara, darah Ana rasanya langsung berdesir hebat. Rasa panik yang sempat padam kini membakar seluru
Suasana di dalam rumah Pak Anton mendadak berubah mencekam ketika ketukan pintu Ana di malam buta membangunkan kedua orang tuanya. Di bawah pendar lampu ruang tamu yang sengaja dinyalakan seadanya, Pak Anton dan Ibu Sari duduk bersisian di sofa panjang. Di hadapan mereka, Ana berdiri mematung dengan sisa-sisa air mata yang masih membekas di pipinya yang pucat. Map cokelat berisi bukti perselingkuhan Raka kini tergeletak pasrah di atas meja kaca, mengakhiri semua sandiwara yang coba Ana susun rapi sejak sore.Keheningan malam yang sunyi itu seketika pecah oleh isak tangis Ibu Sari. Tangan paruh bayanya bergetar hebat saat memegang dada kirinya, merasa sesak yang luar biasa setelah mendengar penuturan runtut dari putri tunggalnya."Astagfirullah, Ana... Jadi... jadi selama ini Raka...Setahun ini dia mengkhianatimu? Di saat kamu pontang-panting mengurus perusahaannya yang hampir bangkrut? Dan ibunya... Ibu Dewi tahu tentang hal ini?" Suara Ibu Sari tercekat, napasnya memburu kaku hing
Sinar matahari sore yang mulai meredup menyelinap masuk melalui celah gorden kamar rawat nomor 302, menciptakan garis-garis keemasan di atas lantai kamar. Di dalam ruangan, suasana terasa jauh lebih tenang. Detak jantung Raka yang terpantau di layar monitor kini berbunyi dengan ritme yang stabil d
Suasana di dalam restoran Sunda bergaya paviliun terbuka itu terasa begitu menyejukkan.Suara gemercik air dari kolam-kolam ikan yang mengelilingi tempat makan saung, berpadu dengan aroma harum nasi liwet dan ikan bakar yang baru saja disajikan di atas meja. Pelayan baru saja selesai menata pirin
Suasana di dalam aula panti asuhan terasa begitu sejuk.Setelah membagikan paket makanan dan bingkisan buku cerita kepada anak-anak, Gery dan Ana diajak oleh Ibu Utami untuk duduk di area selasar dalam yang lebih tenang, berbincang di atas kursi rotan sederhana.Pelayan panti menyajikan secangkir
Perjalanan menuju pinggiran kota terasa jauh lebih lancar dibandingkan dengan jalur padat di pusat bisnis Jakarta pagi itu. Di dalam kabin mobil yang sejuk, keheningan sempat bertahan lama sebelum akhirnya mobil melambat dan berbelok memasuki sebuah pekarangan yang luas.Di atas gerbang besi yang







