登入Di tengah gema bentakan Raka yang masih menyisakan ketegangan pekat di udara Terminal 3, Gery sama sekali tidak bergeming. Dia tidak membalas provokasi murahan itu dengan amarah ragawi yang lain. Pria itu justru menurunkan pandangannya ke arah jam tangan kronograf di pergelangan tangan kirinya, lalu sedetik kemudian, seulas senyum tipis, senyuman penuh kemenangan yang teramat dingin, terukir di sudut bibirnya."Saya memang orang luar dalam dokumen pernikahanmu, Raka. Tapi saya adalah orang yang memegang kendali penuh atas nasibmu malam ini," ucap Gery, suaranya mengalun sangat lambat, berat, dan dipenuhi kepastian yang mutlak.Sebelum Raka sempat mencerna arti kalimat tersebut, dari arah koridor lobi kedatangan luar yang berbatasan dengan area parkir, sayup-sayup terdengar sebuah suara melengking kecil yang teramat akrab di telinga Ana."Mama... Mama...!"Suara itu mulanya tenggelam di antara deru mesin pendingin ruangan bandara dan lalu lalang manusia, tapi bagi insting seorang
"Raka! Kamu sudah gila, ya? Nia itu anak kandungmu! Dia darah dagingmu sendiri! Bagaimana bisa kamu meninggalkannya bersama orang asing hanya untuk mengancam ibunya? Bajingan kamu, Raka! Kembalikan Nia sekarang! Di mana alamatnya? Katakan padaku!" teriak Ana, suaranya melengking tinggi, pecah oleh rasa sakit yang teramat sangat. Dia maju selangkah, menunjuk wajah suaminya dengan jari yang gemetar hebat. Ibu Dewi yang melihat menantunya histeris, justru melipat kedua tangannya di dada, mencoba mengembalikan keangkuhannya yang sempat ciut. "Heh, Ana! Jangan berteriak seperti orang kesurupan di sini! Raka itu ayahnya, dia punya hak penuh atas Nia. Kalau kamu mau anakmu kembali dengan selamat tanpa cacat, lebih baik kamu tutup mulutmu dan dengarkan apa maunya Raka!" ucap Ibu Dewi.Raka membasahi bibirnya yang kering. Melihat Ana yang sudah berada di titik nadir keputusasaan, rasa percaya diri pria itu perlahan bangkit kembali. Dia merasa di atas angin karena memegang kartu as terbesa
Di tengah ketegangan yang pekat dan isak tangis yang mulai mereda di ruang tamu, suasana mendadak dipecahkan oleh suara ketukan pintu yang tergesa-gesa tapi sarat akan ketegasan.Tok! Tok! Tok!Ana langsung berdiri, diikuti tatapan waspada dari Pak Anton dan Ibu Sari. Begitu pintu kayu jati itu dibuka, sosok Gery berdiri di ambang pintu. Napasnya sedikit memburu, dan sepasang matanya memancarkan kilat urgensi yang amat sangat. Ponsel pintarnya masih menyala di genggaman tangan kanan."Ana… Tim intelijen saya baru saja mendapatkan manifest penerbangan dan sinyal ponsel Raka yang aktif di menara pemancar sekitar Tangerang. Raka, ibunya, dan Vanya... mereka sekarang berada di Bandara Soekarno-Hatta, Terminal 3. Mereka berniat memesan tiket penerbangan domestik darurat menuju Surabaya malam ini juga," ucap Gery, suaranya yang berat mengalun cepat namun tetap terkendali.Mendengar kata bandara, darah Ana rasanya langsung berdesir hebat. Rasa panik yang sempat padam kini membakar seluru
Suasana di dalam rumah Pak Anton mendadak berubah mencekam ketika ketukan pintu Ana di malam buta membangunkan kedua orang tuanya. Di bawah pendar lampu ruang tamu yang sengaja dinyalakan seadanya, Pak Anton dan Ibu Sari duduk bersisian di sofa panjang. Di hadapan mereka, Ana berdiri mematung dengan sisa-sisa air mata yang masih membekas di pipinya yang pucat. Map cokelat berisi bukti perselingkuhan Raka kini tergeletak pasrah di atas meja kaca, mengakhiri semua sandiwara yang coba Ana susun rapi sejak sore.Keheningan malam yang sunyi itu seketika pecah oleh isak tangis Ibu Sari. Tangan paruh bayanya bergetar hebat saat memegang dada kirinya, merasa sesak yang luar biasa setelah mendengar penuturan runtut dari putri tunggalnya."Astagfirullah, Ana... Jadi... jadi selama ini Raka...Setahun ini dia mengkhianatimu? Di saat kamu pontang-panting mengurus perusahaannya yang hampir bangkrut? Dan ibunya... Ibu Dewi tahu tentang hal ini?" Suara Ibu Sari tercekat, napasnya memburu kaku hing
Malam semakin larut, dan dinginnya angin malam mulai menusuk kulit. Tapi, Ana seolah mati rasa. Dia masih terduduk di atas aspal dengan tatapan kosong, sementara Gery mengeluarkan ponsel pribadinya, lalu menekan sebuah nomor panggilan cepat. Wajahnya seketika berubah menjadi sangat serius, memancarkan kembali aura pemimpin tertinggi korporasi yang siap menggerakkan pasukannya."Halo, Baskoro? Saya butuh kamu bergerak sekarang juga. Lupakan draf gugatan cerai biasa untuk besok. Malam ini, buat laporan darurat ke kepolisian atas tindakan penculikan dan perlindungan anak. Mantan suami Ana membawa kabur putrinya yang masih di bawah umur secara paksa dari hak perwalian sementara," ucap Gery begitu telepon tersambung. Gery menjeda kalimatnya sejenak, mendengarkan respons dari sang pengacara di seberang telepon sebelum melanjutkan dengan nada yang semakin menekan."Saya tidak mau tahu bagaimana caranya. Gunakan semua koneksi kita di polda. Saya juga sudah memerintahkan tim intelijen inter
Setelah memindahkan barang-barang Ana ke hotel baru yang jauh lebih aman dan privat, fokus mereka selanjutnya adalah menjemput Nia dari rumah Mika. Ana duduk di kursi penumpang, memandangi jalanan dengan perasaan yang sedikit lebih lega. Dia merasa, perlahan-lahan, kendali atas hidupnya mulai kembali ke tangannya.Tapi, ketenangan yang baru sekejap dirasakan itu hancur berantakan dalam hitungan detik. Ponsel di genggaman Ana bergetar hebat. Nama Mika berkedip-kedip di layar. Jantung Ana mendadak mencelos, sebuah firasat buruk yang teramat kuat seketika mencengkeram dadanya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia menggeser tombol hijau."Halo, Mika? Aku sudah dijalan mau jemput…" kalimat Ana terpotong."Ana! Ana, maafkan aku! Ana... Nia, Ana... Nia dibawa pergi!" Potong Mika dengan panik, dipenuhi isak tangis yang tertahan. Tubuh Ana seketika menegang hebat. Wajahnya memucat dalam sekejap. "Apa maksudmu, Mik? Siapa yang membawa Nia?" Tanya Ana khawatir."Raka, Ana! Raka datang
Setelah pertemuan yang emosional dan penuh keterbukaan di kafe seberang bersama Gery, Ana melangkah kembali menuju hotel tempat dia menginap. Langkah kakinya lambat, diselimuti keheningan sore yang mulai turun menaungi ibu kota. Hatinya sudah mantap, tapi dia sadar, hotel ini tidak lagi aman atau
Di dalam ruang VIP kafe yang bernuansa kayu hangat dan temaram, suasana terasa begitu hening. Hanya terdengar dentingan pelan sendok yang mengaduk cangkir kopi dan desah halus pendingin ruangan. Di atas meja kaca panjang, beberapa berkas hukum dan map cokelat berisi bukti-bukti pengkhianatan Raka s
Suara dering ponsel Ana memecah keheningan sudut lobi yang sunyi. Ana tersentak, buru-buru merogoh tasnya agar suara itu tidak memancing perhatian Raka dan selingkuhannya. Di layar panel digital, nama Pak Gery berkedip. Tanpa berpikir panjang, Ana menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu
Malam itu juga, keputusan Ana sudah bulat. Berada di bawah atap yang sama dengan Raka dan Ibu Dewi terasa seperti menghirup racun yang perlahan membunuh kewarasannya. Tapi, dia tahu betul kondisi kesehatan jantung kedua orang tuanya. Jika dia membongkar perselingkuhan Raka sekarang, di saat emosiny







