Setelah urusan riasan selesai, Ana melangkah ke ruang ganti. Di sana, gaun hitam berbahan sutra itu sudah tergantung rapi. Saat dia mengenakannya, kain dingin itu terasa seperti kulit ular yang membelit tubuhnya. Potongan lehernya memang cukup rendah, mengekspos tulang selangkanya yang indah, persis seperti yang diinginkan Ibu Dewi untuk menarik perhatian Pak Gery. Dia keluar dari salon dengan penampilan yang sempurna secara visual, namun hancur secara batin. Orang-orang yang berpapasan dengannya menoleh, mengagumi kecantikannya, namun tak satu pun dari mereka melihat jeritan yang tertahan di tenggorokannya. Di dalam mobil, Ana menatap dirinya sekali lagi di spion tengah. Dia nyaris tidak mengenali wanita di cermin itu. Wanita itu tampak elegan, mahal, dan siap untuk dihidangkan. "Ini demi Nia, ini demi keluarga." bisik Ana pada dirinya sendiri, dan mencoba menanamkan mantra itu ke dalam pikirannya agar dia tidak memutar kemudi dan pergi sejauh mungkin dari kota ini. Tapi
Last Updated : 2026-05-04 Read more