Home / Romansa / DALAM DEKAPAN MAFIA / 1. 1 Milyar Dolar

Share

DALAM DEKAPAN MAFIA
DALAM DEKAPAN MAFIA
Author: Cherry Blossom

1. 1 Milyar Dolar

last update Last Updated: 2025-03-19 10:48:48

Chapter 1

1 Milyar Dolar

Luna Valerianus membuka mata di sebuah kamar hotel, tubuhnya terbungkus selimut hotel dan merasakan sakit di pangkal pahanya. Juga rasa sakit di kepalanya yang berdenyut-denyut.

Luna mencoba bangun, wanita dengan mata berwarna Hazel dan berambut panjang berwarna cokelat itu menyeka air matanya. Ayahnya tega menjualnya ke pria brengsek, penguasa Sisilia untuk membayar utang.

Perusahaan ayahnya mengalami defisit keuangan sehingga ayahnya meminjam uang pada sang penguasa Sisilia untuk menyelamatkan perusahaan. Tetapi, kebangkrutan tetap tidak bisa dihindarkan sehingga ayahnya tidak bisa membayar utang pada penguasa Sisilia yang dikenal sebagai mafia paling kejam.

Orang bilang, sang mafia memiliki postur tubuh tinggi besar dan wajahnya mengerikan, angker. Tetapi, semalam ayahnya menutupi matanya menggunakan kain hitam, tangannya juga diikat di ranjang sehingga Luna tidak bisa melihatnya. Hanya bisa mengingat pria itu melucuti pakaiannya lalu sakit yang luar biasa saat pria itu mendesakkan kejantannya, merobek dinding keperawanannya. Saking sakitnya Luna bahkan sampai tak sadarkan diri.

Luna turun dari ranjang, kakinya gemetaran menyentuh lantai. Ia mengamati pergelangan tangannya yang memerah bekas ikatan semalam, untungnya bajingan itu melepaskannya sehingga ia tidak harus terikat sampai pagi.

Luna meraih tasnya di atas nakas dan mengambil ponsel yang lalu memeriksa jam di ponselnya. Hari ini adalah ulang tahunnya yang ke sembilan belas dan hadiah yang ia dapatkan adalah penghinaan. Ia tidak akan melupakan apa yang ayahnya lakukan seumur hidupnya.

Sambil menyeka air mata Luna mengambil pakaiannya yang tercecer di lantai lalu mengenakannya, ia kemudian mengambil cek yang terletak di atas nakas. Ingin sekali Luna merobek cek itu, tetapi jika ia melakukan itu mungkin ayahnya akan membunuhnya.

Luna pulang menggunakan taksi ke rumahnya dan alangkah terkejutnya saat mendapati Scott Prager, sahabat masa kecilnya, orang yang sangat ia cintai seumur hidupnya berada di sana.

"Dari mana saja kau? Scott datang pagi-pagi untuk merayakan ulang tahunmu," ucap Audrey Valerianus, adik Luna dari ibu yang berbeda.

Ibu Luna meninggal saat Luna berusia satu bulan karena sakit dan ayahnya langsung menikah lagi dengan ibu Audrey tujuh hari setelah kematian ibunya sehingga jarak umur Luna dan Audrey hanya sebelas bulan.

"Scott, maaafkan kakakku. Tapi, dia malah keluyuran semalaman tidak pulang," kata Audrey, gadis yang usianya belum genap delapan belas tahun dan memiliki paras cantik dan tubuh yang molek, dan mata Hazel sama seperti Luna.

Pergi semalaman entah ke mana apanya, batin Luna. Jelas-jelas ayahnya sendiri yang melemparkannya pada seorang pria di sebuah hotel.

"Jangan-jangan tadi malam kau pergi berpesta merayakan ulang tahunmu dan...," kata Audrey seraya menatap jijik kepada Luna.

Selama hidupnya Luna selalu mengalah pada adiknya, bahkan ketika adiknya mengatakan menyukai Scott, ia langsung menjaga jarak dengan Scott. Belum lagi ibu tirinya yang selalu bersikap jahat dan arogan padanya, tetapi bersikap manis di depan ayahnya.

"Ke mana saja kau semalam?" hardik Beata, ibu tiri Luna yang tiba-tiba datang.

Seluruh keluarganya tahu jika tadi malam ayahnya menjualnya kepada seorang mafia dan sekarang di depan Scott mereka bersandiwara seolah mereka tidak tahu.

Tiba-tiba Beata mendekat dan menjambak rambut panjang Luna. "Dari mana? Apa kau bersenang-senang merayakan lang tahun tadi malam sementara keluarga kita sedang mengalami kebangkrutan?"

Untuk pertama kalinya Luna merasakan keberanian, juga muak yang sudah tidak bisa lagi dibendung. Ia menarik rambutnya dari cengkeraman Beata.

"Ya. Aku tidur dengan laki-laki tadi malam. Aku menjual diriku untuk menyelamatkan keluarga ini," kata Luna dengan dingin.

Sebuah tamparan kencang melayang mengenai pipi Luna hingga membuatnya tersungkur ke lantai. "Tidak tahu malu! Di mana harga dirimu!" bentak Beata.

Luna memegangi pipinya, air mata membasahi wajahnya. Rasanya sangat sakit ketika harus menerima penghinaan bertubi-tubi.

Scott hendak mendekati Luna, tetapi Audrey menariknya. "Kakakku sungguh menjijikkan!" kata Audrey.

"Kau benar-benar menghancurkan nama keluarga ini. Apa kata orang jika ada yang tahu jika kau menjual diri untuk melunasi utang keluarga kita? Apa kau pikir ayahmu tidak kompeten sehingga kau harus tidur dengan pria tua demi uang?" kata Beata dengan nada tinggi.

Luna membuka tasnya dan mengeluarkan selembar cek lalu melemparkannya kepada Beata. Beata memungutnya, mata wanita itu terbelalak melihat angka yang tertera di cek itu, tetapi sesungguhnya perasaannya sangat bahagia.

"Kau benar-benar menjual diri? Anak sialan! Kau tidak ubahnya seorang pelacur!" ucap Beata masih dengan nada tinggi.

Scott melepaskan lengannya yang dipegangi Audrey dan mendekati Luna, pria itu menekuk kakinya di depan Luna. "Luna, katakan semua ini tidak benar."

Scott adalah pria berperawakan tinggi dengan mata berwarna cokelat terang, rambutnya berwarna cokelat gelap dan kulitnya kecokelatan. Mereka mengenal sejak masih duduk di bangku taman kanak-kanak, persahabatan mereka berlanjut hingga kini dan Luna menyimpan perasaan cinta untuk pria itu karena hanya bersama Scott, ia merasakan memiliki seseorang yang bersedia mendengarkan semua keluh kesahnya.

Luna memegangi pipinya yang memerah bekas tamparan ibu tirinya dan mendongakkan wajahnya, matanya penuh air mata.

"Ya. Aku telah menjual diriku," jawab Luna datar.

Scott menundukkan kepalanya menatap lantai. "Aku bisa meminjamkanmu uang, kenapa kau harus menjual dirimu?"

"Aku tidak ingin berutang pada siapa pun," jawab Luna dingin.

Tidak ada lagi harapan di matanya, tidak ada lagi cinta untuk Scott. Semua sudah hancur, pria mana yang bisa menerima wanita kotor sepertinya meskipun ayahnyalah yang menjualnya.

"Tidak, Luna. Kita bisa membicarakan ini, Oke? Kembalikan cek itu biar aku yang membayar utang keluargamu," kata Scott.

"Apa kau tahu berapa utang keluarga ini?" tanya Luna sambil menatap Scott. "1 Milyar Dolar, Scotts. Bahkan jika kau menjual rumah dan perusahaanmu, kau belum tentu bisa membayarnya."

Scott terdiam, menunduk. "Maaf, Luna. Aku tidak berguna."

Luna tersenyum masam. "Terima kasih, Scott."

Kemudian Luna bangkit dari posisinya. Ia menuju kamarnya dan segera berlari ke kamar mandi, rasanya sangat jijik dan hina. Wanita dengan tinggi 165 cm itu menangis sejadi-jadinya di bawah guyuran air shower seraya menggosok seluruh tubunya yang terasa kotor.

Dunia begitu kejam padanya. Sejak kecil ia ditinggalkan ibunya, lalu memiliki ibu tiri yang sangat jahat, dan kini satu-satunya orang yang seharusnya melindunginya justru menjualnya demi uang 1 Milyar Dolar. Memang uang itu sangat dibutuhkan keluarga Valerianus, tetapi di mana hati nurani ayahnya hingga sanggup menjual putrinya?

Apa salahku? Batinnya begitu nelangsa hingga rasanya tidak ingin lagi melihat dunia.

Bersambung....

Jangan lupa kasih vote bintang ya, dan tinggalkan komentar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
SaNdra Roulina S
.........bagus kak..
goodnovel comment avatar
Fifi Tasya
poor Luna...
goodnovel comment avatar
Badriyatul Aminah
kasian sungguh malang nasib luna
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   58. Bangun di Genangan Darah

    Chapter 58 Bangun di Genangan Darah Bangunan batu tua itu sunyi, Beata melangkah keluar dengan kaki gemetar dan sepatunya terasa berat seolah setiap langkah menariknya kembali ke dalam ruangan tempat Aami tergeletak. Bau besi masih menempel di tenggorokannya, ia menelan ludah, keras, tapi rasa itu tidak pergi. Udara malam Sisilia dingin dan lembap. Angin membawa suara serangga dan di kejauhan, ombak memukul batu. Beata memeluk tubuhnya sendiri, jaketnya tipis, tangannya masih bergetar—bukan karena dingin, tapi karena kesadaran yang datang terlambat bahwa setelah ini, tidak ada tempat pulang. Ia berjalan menjauh dari bangunan itu, menyusuri jalan tanah yang retak dan gelap. Setiap bayangan tampak hidup, setiap suara seperti langkah yang mengejarnya. Beata mempercepat langkah, napasnya memburu, pikirannya berantakan. Genevece pasti memburunya seperti memburu sisa-sisa pengikut Nicolo, ia benar-benar tidak memiliki tempat lagi di Sisilia. Tiba-tiba lampu menyala dan cahaya put

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   57. Keadilan

    Chapter 57 Keadilan Gerbang besi mansion belum sepenuhnya tertutup ketika mesin mobil bergetar aneh, seperti tersedak napasnya sendiri. Aami langsung merasakan itu, insting yang entah mengapa terbentuk begiu saja selama beberapa bulan berada di tengah-tengah lingkungan dengan ancaman yang tak pernah benar-benar pergi. Tangannya refleks menahan tubuh Liam yang duduk di kursi belakang, sabuk pengaman sudah terpasang, rambut bocah itu masih berantakan karena baru saja tertidur di perjalanan pulang. "Kenapa kita berhenti?" suara Liam kecil, masih serak, tapi tidak menangis. Aami tersenyum, senyum yang dipelajarinya bukan dari kebahagiaan, melainkan dari cara bertahan hidup. "Mesinnya manja sedikit. Kita tunggu sebentar, ya...." Mobil di depan mereka mendadak memotong jalur. Dari spion, Aami melihat bayangan bergerak cepat untuk disebut sebuah kebetulan kemudian pintu pengemudi dibuka paksa, suara logam beradu terdengar kering dan tajam. Aami tidak berteriak karena tahu teriakan

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   56. Rumah yang Tak Layak

    Chapter 56 Rumah yang Tidak Layak Hujan turun tipis dan malas, seperti ragu apakah layak membasahi kota yang sudah busuk sejak lama. Bangunan rumah susun itu berdiri miring, catnya mengelupas, jendelanya kusam, dan lampu lorong berkedip seolah setiap detik bisa padam. Audrey mengenakan mantel panjang berwarna gelap, rambutnya disanggul rapi seperti wanita yang tidak pernah disentuh kemiskinan dan berhenti di depan pintu besi berkarat di lantai tiga. Ia mengetuk sekali, tidak keras dan tidak ragu. Beata membuka pintu dan wajahnya langsung berubah mendapati Audrey di depan pintu, tetapi tidak kaget. Ekspresinya lebih seperti campuran malu dan marah. Rambut Beata kusut, wajahnya lebih tirus dari terakhir Audrey melihatnya, dan aroma ruangan di belakangnya adalah bau pengap dan sisa hidup yang tidak lagi dirawat. "Kau," kata Beata, nadanya tajam, seolah satu kata itu cukup untuk melampiaskan semua kebencian yang ia simpan. Audrey tersenyum tipis. Senyum yang tidak hangat, tapi juga

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   55. Pemain Lama

    Chapter 55 Pemain Lama Dua bulan kemudian. Malam itu Palermo berkilau dengan cara yang dingin. Bukan kemewahan yang hangat, melainkan cahaya lampu kristal yang memantul di marmer putih dan gaun mahal, menciptakan kesan bersih yang terlalu sempurna untuk sebuah kota yang hidup dari darah dan rahasia. Gedung tua peninggalan bangsawan abad lalu itu malam ini menjadi tuan rumah sebuah acara amal. Musik klasik, donasi untuk pendidikan seni, dan deretan nama besar yang tercetak rapi di undangan. Klan-klan lama, pengusaha pelabuhan, pejabat yang pura-pura netral, dan wajah-wajah yang saling mengenal tapi tak pernah benar-benar percaya satu sama lain, berkumpul dalam satu ruang. Luna melangkah masuk bersama Luke. Gaun hitamnya sederhana, tanpa perhiasan mencolok dengan potongan bersih yang jatuh lembut mengikuti tubuhnya. Rambutnya disanggul rendah, memperlihatkan tengkuk pucat yang kontras dengan tatapan matanya yang kini jauh lebih tenang dibandingkan beberapa bulan yang lalu. Namun k

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   54. Bukan Musuh yang Terang

    Chapter 54 Bukan Musuh yang Terang Beberapa hari kemudian, Diego datang sendirian ke markas besar Genevece, tidak ada konvoi panjang maupun sirine. Mobil hitam itu berhenti di halaman markas Genevece tepat saat matahari mulai turun, cahayanya pucat dan dingin, memantul di marmer putih seperti kilau pisau. Dari balik jendela ruangan, Luke sudah berdiri sejak lima menit lalu. Ia tidak bergerak ketika pintu mobil dibuka, matanya mengikuti setiap detail, mulai dari sepatu kulit Diego yang menginjak kerikil, sampai caranya berdiri sejenak sebelum melangkah seolah menghitung napas. Luna berada di samping Luke, memeluk lengan pria itu tanpa sadar, jari-jarinya menekan kain jas Luke sedikit lebih erat dari biasanya. Sejak penculikan, tubuhnya seperti selalu mencari titik jangkar, dan Luke membiarkannya. Bahkan sekarang ia menggeser tubuhnya setengah langkah ke depan, posisi protektif yang terlalu halus untuk disebut sadar, tapi cukup jelas untuk dibaca oleh siapa pun yang terbiasa hidu

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   53. Wilayah Abu-abu

    Chapter 53 Wilayah Abu-abu Malam terlihat tenang meskipun tidak sepenuhnya damai, laut terbentang hitam di bawah balkon mansion, permukaannya memantulkan cahaya bulan yang patah-patah oleh riak kecil. Angin asin naik perlahan, menyusup ke sela-sela tiang balkon dan menyentuh kulit dengan dingin yang lembut. Luna berdiri bersandar pada pagar besi, ia mengenakan cardigan tipis di atas gaun rumah berwarna gelap. Rambutnya tergerai, masih sedikit lembap karena mandi setelah makan malam. Dari balik kaca, lampu ruang makan telah diredupkan. Audrey sudah pulang dan mansion kembali ke ritme sunyi yang hanya dimiliki tempat-tempat dengan terlalu banyak rahasia. Luke keluar tanpa suara seperti biasa, ia berdiri di samping Luna, jaraknya dekat tetapi tidak bersentuhan. Matanya tertuju ke laut dan tangannya bertumpu di pagar balkon, tangan lain memegang segelas whiskey yang belum disentuh sejak tadi. Beberapa saat mereka hanya berdiri, berbagi keheningan. "Apa yang kau lihat darinya se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status