INICIAR SESIÓNENDHujan tipis menyapu kaca mobil saat kendaraan hitam itu melaju meninggalkan Sisilia. Jalanan basah memantulkan lampu-lampu kota yang semakin lama semakin jarang hingga berganti gelap jalan raya dan bayangan bukit-bukit yang tertutup kabut. Di kursi belakang, Luna memangku seorang bayi perempuan yang tertidur pulas di lengannya. Tubuh kecil itu dibungkus selimut putih lembut, wajahnya nyaris tenggelam di antara lipatan kain mahal yang terlalu bersih untuk kisah kelahirannya. Kulitnya pucat, bulu matanya halus, dan napasnya teratur tanpa tahu dunia seperti apa yang menunggunya. Luna menunduk lama memandangi wajah mungil itu. Ada sesuatu di garis tipis matanya yang mengingatkannya pada Audrey. Bukan Audrey yang dingin dan licik, bukan Audrey yang memandang dunia seperti papan catur, melainkan Audrey yang pernah duduk diam di depan piano dengan bahu lurus dan mata kosong, memainkan nada-nada indah untuk menyembunyikan kehancuran yang tumbuh di dalam dadanya.Audrey telah mati tiga ha
Chapter 82MenyerahLuna tidak langsung menemui Audrey setelah mendengar kabar itu. Ia memberi waktu, bukan karena ragu dan bukan pula karena kasihan semata, melainkan karena Luna tahu seperti apa rasanya menerima kenyataan yang datang seperti petir di tengah reruntuhan hidup. Luna teringat saat kehamilan pertamanya, dirinya baru saja dijual oleh ayahnya lalu diusir dari rumahnya.Sekarang Audrey baru saja mengetahui ada kehidupan lain di dalam tubuhnya, di saat ia sendiri sedang berada di titik terendah, terkunci sendirian, dibenci, dan tidak lagi memiliki siapa pun. Dalam keadaan seperti itu, manusia tidak akan bicara jujur. Yang keluar hanya akan teriakan, penolakan, atau kebohongan yang lahir dari kepanikan.Jadi Luna menunggu hingga beberapa saat hingga langit di luar mulai berubah jingga dan ia berjalan menyusuri koridor bawah tanah markas Genevece. Cahaya matahari yang tersisa masuk samar melalui jendela-jendela kecil di atas lorong memantul di lantai batu yang dingin dan di be
Chapter 81Menunggu Kematian Beberapa hari setelah peti mati yang dikirim ke depan rumah Pietro, hidup Draco runtuh lebih cepat dari yang ia bayangkan. Uang yang diberikan Diego San Lorenzo perlahan menguap dalam hitungan hari. Biaya rumah duka tidak sedikit dan ia harus membeli peti yang lebih layak karena keluarga Beata menolak pemakaman sederhana, belum lagi biaya transportasi jenazah, biaya administrasi makam, dan tuntutan kecil lain yang datang bertubi-tubi membuat lembaran-lembaran euro itu menipis cepat.Keluarga Beata yang tersisa kini sama miskinnya, meskipun begitu masih memelihara gengsi yang menyebalkan. Mereka menangis sambil memaki Draco, menyebutnya tak becus, tak tahu diri, dan tak punya hati karena hendak menguburkan Beata seperti gelandangan. Mereka menuntut upacara yang menurut mereka layak, menuntut bunga, peti mahal, dan misa yang pantas membuat Draco terpojok hingga tak punya pilihan, akhirnya Draco yang putus asa meminjam uang pada lintah darat.Sekarang tanah
Chapter 80PamitMalam telah turun sepenuhnya di markas keluarga San Lorenzo. Dari jendela-jendela tinggi di lantai paling atas, lampu kota tampak seperti lautan bintang yang jatuh ke bumi, dan berkedip samar di kejauhan. Di balik pintu kayu tua yang berat, ruang kerja kepala keluarga berdiri dalam kemegahan yang nyaris menyesakkan, rak-rak buku dari kayu ek tua memenuhi dinding, aroma tembakau dan kulit masih tertinggal di udara, sementara meja besar berukir di tengah ruangan tampak seperti singgasana yang diwariskan turun-temurun.Ruangan itu dulu milik kepala keluarga lama tetapi kini meskipun tanpa upacara resmi, dan tanpa pengumuman besar, ruangan itu telah menjadi milik Diego San Lorenzo.Ayahnya belum benar-benar menyerahkan gelar, tetapi semua orang tahu keputusan itu hanya tinggal menunggu waktu. Usia telah membuat sang kepala keluarga memilih mundur perlahan, dan di mata semua orang, terutama di mata ayahnya, Diego lebih dari pantas duduk di kursi itu.Diego duduk di balik m
Chapter 79 Pengakuan DiegoPagi di rumah Pietro terasa sunyi, langit Sisilia masih pucat ketika lelaki tua itu membuka pintu depan dengan wajah kusut dan tubuh yang dibungkus jubah tidur lusuh. Ia berniat mengambil koran pagi yang biasanya dilempar ke halaman sekaligus menghirup udara sebelum kembali masuk dan melanjutkan ocehannya pada Draco.Namun, begitu pintu terbuka napas Pietro tersekat karena mendapati sebuah peti mati dari kayu gelap berukuran besar berada di ambang pintu seperti ancaman yang dikirim langsung dari neraka. Tidak ada pita dan nama maupun kartu.Pietro mundur satu langkah dengan wajahnya memucat. "Draco!" teriaknya dan suara tua itu pecah. "Draco!"Tak lama kemudian terdengar langkah tergesa dari dalam rumah, Draco muncul dengan rambut berantakan dan kaus kusut, wajahnya masih penuh sisa kantuk dan kejengkelan."Apa lagi sekarang...." Kalimat Draco terhenti dan matanya membelalak menatap peti itu beberapa detik, seolah tubuhnya menolak memahami apa yang dilihatn
Chapter 78Sesuatu yang Sudah Selesai Pintu tertutup di belakang Luna dengan bunyi pelan yang hampir tidak terdengar, namun cukup untuk menandai bahwa sesuatu telah benar-benar berakhir di dalam ruangan itu. Ia berdiri beberapa detik tanpa bergerak, seolah tubuhnya butuh waktu untuk menyesuaikan diri kembali dengan dunia di luar. Koridor di depanya sunyi diterangi lampu redup yang tidak menyilaukan, dan Luke berdiri di ujungnya, bersandar dengan tenang menunggunya.Luke tidak langsung mendekati Luna, tetapi tatapannya jatuh pada istrinya dan mengamati tanpa bertanya seolah ia tahu bahwa kata-kata bukan hal pertama yang dibutuhkan Luna saat ini. Tidak ada rasa penasaran di wajahnya, Luke hanya ada di sana dengan sangat tenang dan stabil seperti tidak akan goyah walau apa pun yang terjadi.Luna lalu melangkah, gerakannya tidak terburu-buru, tapi ada sesuatu yang berbeda. Ketegangan yang selama ini tersembunyi kini perlahan terlihat dan ketika jarak di antara mereka tinggal beberapa lan
Chapter 13Tidur dengan Mama “Apa kau tahu salah satu hal yang paling kubenci?” tanya Luke dengan nada dingin. Luna meremas handuknya, bagaimana mungkin ia tahu hal-hal yang disukai dan tidak disukai Luke sementara dirinya tidak mengenal Luke—belum lebih tiga hari sejak dirinya kembali ke Sisilia
Chapter 12 Pertolongan Pertama dan Terakhir “Tuan Genevece, ini hanya salah paham. Ya, ya, ya... hanya pertengkaran ibu dan anak biasa,” kata Draco seraya membungkuk-bungkukkan badannya dan menatap Luke dengan ekspresi ketakutan. “Mereka berani menyentuhmu?” tanya Luke pada Luna seraya menat
Chapter 8 Transaksi Pertama Luke baru saja masuk kamar bermaksud untuk mengganti pakaiannya karena makanan Liam jatuh mengenai jasnya, tetapi pintu kamarnya diketuk. Ia pun berbalik dan membuka pintu dan mendapati Luna berdiri di depan pintu kamarnya. Luke menatap Luna beberapa saat dan ali
Chapter 7 Garis Kehidupan Luna menghela napasnya dengan berat, makan malam dengan Aami dan Liam di ruang makan yang mejanya sangat panjang hingga muat untuk perjamuan enam belas orang dan mereka hanya bertiga dilayani oleh tiga orang pelayan yang masing-masing melayani satu orang bahkan hanya un







