共有

BAB VII KOTA ARIANA

last update 公開日: 2026-06-01 01:17:51

Penderitaanku kemarin seakan terbayar ketika aku berjalan menelusuri gemerlap kota yang dipenuhi sihir ini. Aku tak bisa berhenti ternganga ketika melihat sekelilingku. Maksudku... ini seperti dongeng yang diinginkan setiap orang di bumi.

Aku benar-benar tidak tahu harus mulai mengagumi yang mana dulu. Mataku terus bergerak ke segala arah, berusaha menangkap setiap keajaiban yang muncul di hadapanku. Rasanya seperti seorang anak kecil yang tiba-tiba dilempar ke tengah dunia dongeng yang selama ini hanya ada di buku.

Lihat saja di sana. Para petugas kebersihan jalanan itu. Mereka tak perlu menyapu sendiri-sapu-sapu itu seperti hidup, menyapu jalan tanpa harus dipegang. Atau tukang koran yang melemparkan korannya dari atas karpet terbang.

Dan seorang badut jalanan yang tak hanya menampilkan trik sihir murahan seperti trik kartu atau membuat seekor burung menjadi dua, tapi dia bahkan benar-benar berubah menjadi burung api dan terbang ke atas, kemudian meledak menjadi kembang api kecil.

Ini bahkan lebih hebat daripada teknologi paling canggih di bumi. Untuk sesaat aku bahkan ingin bersorak dan berlari seraya berteriak kegirangan. Tapi kuurungkan niatku itu-aku mungkin akan dilihat sebagai orang aneh.

Meski begitu, menahan rasa kagum ternyata jauh lebih sulit dari yang kubayangkan. Setiap kali melangkah lebih jauh ke dalam kota, selalu ada sesuatu yang membuatku terpana.

Tempat ini terlalu ajaib untukku.

Terlalu luar biasa.

Tempat ini membangkitkan penyakit kronis yang selalu kumiliki sejak kecil.

Rasa ingin tahu.

Aku sempat berpikir untuk menghampiri semua orang yang kutemui di jalan dan bertanya bagaimana caramu melakukannya?-hingga kusadari itu bukan ide bagus.

Aku tetap berusaha menahan keingintahuanku yang tinggi ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi percayalah, menahan keingintahuan dalam diriku ini seperti menahan bab, rasanya sungguh menyiksa.

Aku berlari kesana-kemari, mengagumi setiap sihir yang kutemui. Aku tak bisa lepas dari itu semua. Menelusuri keramaian, aku sadar bahwa sepertinya aku mengarah ke pasar yang ramai. Banyak kios berjejer di pinggir jalan, menawarkan barang-barangnya kepada setiap pejalan kaki yang lewat.

Alih-alih menawarkannya dengan cara konvensional, para pedagang itu langsung menerbangkan barang dagangannya kepada setiap pejalan kaki yang lewat. Banyak sekali barang-barang aneh yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Ini seperti surga bagiku. Aku berharap Alice juga bisa melihat ini semua, andai dia ada di sini.

"Bagaimana?" tanya Aster padaku.

"Ini... hebat," kataku sambil berbinar.

Dia tertawa kecil. "Apakah di tempat asalmu tak ada yang seperti ini?"

"Tidak..." jawabku sambil terus melihat-lihat sekelilingku, kagum.

"Wah... itu pasti suram sekali."

Kami terus berjalan melewati kerumunan yang semakin padat, mengarah ke utara melewati beberapa blok jalan yang ramai. Kami sempat melewati beberapa kereta kuda yang ditarik semacam pegasus, tetapi ketika aku melihat lebih dekat, kepala hewan itu bukan kuda melainkan macan.

Hewan itu berbadan kuda, berkepala singa, dan tubuhnya seperti bersisik ikan.

"Itu makhluk apa?" tanyaku sambil berbinar.

"Itu kereta griffon," kata Aster.

"Serius, kau tidak tahu?" Dia melirikku heran.

"Tempatmu seprimitif apa sebenarnya?"

"Yah...., aku belum pernah lihat yang seperti ini," jawabku.

"Di tempatku hanya ada kendaraan besi yang mengeluarkan asap."

"Hah? Tempatmu unik juga ya."

"Tapi... kau belum melihat semuanya."

Entah kenapa ucapan itu membuatku semakin bersemangat. Aku seperti hampir kehilangan diriku karena terlalu antusias-maksudku, ini terlalu hebat untuk kubiarkan begitu saja.

"Jadi seberapa jauh kita akan pergi?" tanyaku.

"Tak jauh... beberapa blok lagi."

Aku hanya mengangguk setengah mendengar. Aku tak terlalu menghiraukannya karena fokusku teralihkan oleh berbagai macam keajaiban ini. Ketika kami keluar dari kerumunan itu, gerombolan orang mulai terlihat menyusut-meski masih padat, baik di darat maupun di udara.

Ketika kami melewati gang di ujung blok, sekilas aku melihat sesuatu yang menarik perhatianku. Sesosok bayangan-seseorang berdiri di sana. Jauh di dalam lorong yang gelap.

Aku hanya sempat melihatnya sekilas, tapi dia menghilang. Entah kenapa tiba-tiba tanganku terasa nyeri. Ini tak pernah terjadi sebelumnya, dan perasaanku menjadi agak gelisah dan aneh.

Kenapa ini?

"Solita... kenapa?" tanya Aster.

"Entah... tanganku sedikit terasa nyeri," jawabku sambil memegangi telapak tangan.

Di balik bayangan gang yang gelap, seseorang bersandar pada tembok. Seolah tak peduli jika dirinya terlihat. Di antara jemarinya, sebuah kubus kaca berputar-putar mengikuti gerakan tangan.

Matanya mengarah lurus, seakan sedang mengintai mangsa. Dan sebuah senyum tipis perlahan muncul di wajahnya.

"Sepertinya aku menemukan sesuatu yang menarik," katanya sambil menyeringai.

"Mari kita lihat..."

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   FROM ME

    Sebuah Novel Fantasi oleh Coffeeman Never Sleep Halo semua! Aku Coffeeman, seorang penulis pemula yang baru saja merampungkan novel pertamaku. Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah mampir ke sini. Karena ini adalah novel pertamaku, tentu masih banyak kekurangan di sana-sini. Oleh karena itu, aku sangat mengharapkan saran dan kritik dari kalian yang membacanya. Jangan sungkan untuk menyampaikan pendapat, ya. Terima kasih! Mengenal Dunia: Dalam novel ini, Solita - sang tokoh utama - secara tidak sengaja terlempar ke dunia lain yang penuh dengan sihir: sebuah benua bernama Pandora. Di Pandora, semua orang mampu menggunakan sihir, dan sihir adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di benua ini terdapat beberapa kerajaan yang tersebar luas. Namun, fokus cerita hanya akan berada di Kekaisaran Kahalin - sebuah kekaisaran megah yang terletak di ujung Utara benua Pandora. Definisi Penyihir : Meskipun semua orang di Pandor

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB I BUKU ANEH

    10 November, 2020 Aku solita, baru saja memecahkan rekor baru sebagai budak korporat dengan keluar kantor pukul dua dini hari. Aku keluar dari gedung kantor sambil menyeret langkah lelah. Lampu-lampu kota masih menyala terang, tetapi jalanan mulai sepi seperti kota mati. Aku membuka ponselku, notifikasi itu langsung muncul memenuhi layar. Berbagai macam surat cinta dari tukang sampah kompleks, listrik, air, dan... dari rumah sakit. Ya, beginilah kehidupan seorang tulang punggung keluarga. Kau berharap aku mendapatkan surat cinta?. Aku terkekeh pelan sambil memijat pelipis ku, berhenti sejenak untuk sekadar melupakan layar komputer dan berbagai permasalahan di dalamnya. Bicara dengan diri sendiri? Ini belum termasuk gila... hanya sedikit saja. Adikku sakit keras dan banyak menghabiskan waktu di rumah sakit, sementara orang tuaku sudah lama meninggal sejak aku kuliah. Dengan begitu, aku tak punya pilihan selain mengurus adikku. Lucunya, aku bahkan tak yakin bisa mengurus dir

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB II BERTEMU PENYIHIR

    Sungguh asyik sekali terombang-ambing di udara dengan wajah yang sakit ini, saking asyiknya aku sampai ingin muntah. Pria itu membawaku melesat melewati reruntuhan dengan kecepatan yang membuat isi perutku seperti tertinggal di belakang. Kami terombang-ambing beberapa saat hingga jatuh dengan kecepatan tinggi, tapi dapat mendarat dengan aman di tanah. Sekarang aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Terombang-ambing di udara sedikit membuat kepalaku pusing. Sepertinya ada sesuatu yang masuk ke mulutku saat aku terbang tadi. Dia terlihat sangat tenang. Seorang pria yang cukup tampan, dia masih muda. Kira-kira seumurku, tapi dia cukup aneh-rambutnya berwarna putih. Masih muda, kenapa rambutnya putih? Dan pupil matanya berwarna biru, mirip orang Eropa. Dilihat dari segala sisi, dia cukup tampan bagiku. Hanya... kenapa rambutnya itu seperti semak belukar. Dia benar-benar seorang penyihir! Aku bertanya-tanya apakah aku sekarang ada di dunia lain. Aku ingin sekali bertanya padanya, se

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB III TERBANGUN ENTAH DIMANA

    11 November 434, kekaisaran KahalinAku bermimpi melihat diriku yang masih remaja bersama adikku yang aku gendong ke mana pun aku pergi, tentang kami yang menyukai hal yang sama, melukis.Menggambar, mencorat-coret apa pun yang kami temui, bahkan dinding rumah orang pun tak luput. Kadang-kadang orang-orang akan datang mengomel pada ibuku, dan ibu akan menyita peralatan lukis kami serta mengurung kami di kamar seharian.Namun itu tak menghentikan aku dan adikku. Kami berbagi pensil kecil yang dipotong dua untuk situasi darurat seperti itu, dan kami akan melanjutkan aksi kami selanjutnya sambil tertawa pelan.Aku merindukan saat-saat itu, di mana kami dapat menggambar, melukis, menciptakan apa pun yang kami mau tanpa terkekang, seakan kami bisa membuat dunia kami sendiri. Kami berdua pun berjanji akan menjadi seorang pelukis bersama. Namun semua itu sirna, mimpi itu perlahan menghilang.Setelah ibu meninggal, aku terpaksa mengubur impian itu dalam-dalam. Aku mulai melupakannya dan beral

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB IV ASTER CASTY

    Aku tak menjawabnya dan hanya diam mengikuti langkahnya dari belakang. Sejujurnya, aku tidak tahu kenapa semudah itu aku mempercayai orang asing di tempat seperti ini. Namun jika dipikir-pikir lagi, kalau dia memang berniat jahat, mungkin sejak tadi aku sudah mati, dijual, atau dijadikan bahan eksperimen aneh entah apa....tapi tunggu dulu.Bagaimana kalau dia memang sedang memanfaatkanku? Pikiran itu langsung membuat bulu kudukku meremang.Aku terus mengikutinya di belakang. Cahaya lentera yang ia bawa bergoyang pelan mengikutinya melewati lorong yang remang-remang. Kulihat lagi dirinya - dia berjalan menuju ruangan tempatku tadi bangun. Entah kenapa aku malah gugup dengan situasi ini, dan kenapa dia diam saja, itu membuatku sedikit takut.Penyihir itu masuk lebih dulu, lalu meletakkan lentera di atas meja kecil dekat dinding. Cahaya keemasan langsung menyebar lembut ke seluruh ruangan. Aku berdiri kikuk di ambang pintu. Dia menoleh ke arahku, tatapannya datar."Duduklah.""Ba... b

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB V AKU INGIN MEMUKUL WAJAHNYA

    Bagaimana menurutmu jika sekarang kau sedang duduk di depan orang yang hampir saja membunuhmu beberapa menit yang lalu?Ya, kurang lebih seperti itulah situasiku sekarang.Namanya Aster, kalau tak salah. Dia duduk santai sambil mengamatiku dan menyeringai aneh. Entah kenapa senyum itu membuatku ingin memukul wajahnya.Untungnya roti ini enak sekali - aku serasa makan roti buatan Prancis, meski aku tak pernah makan roti Prancis sih.Tapi semua orang tak akan menolak tampilannya yang menggugah selera. Roti panggang berbentuk sabit yang dipanggang sempurna, dengan taburan gula dan buah di atasnya. Aku bukan ahli roti, tapi aku tahu ini yang terbaik - plus tanpa bahan pengawet kimia.Aku mungkin membencinya, tapi kuberikan keringanan untuk setidaknya tak memukul wajahnya. Roti ini benar-benar enak.Dia masih menyeringai ketika aku meletakkan piring di meja."Gimana?""Lumayan," jawabku ketus."Jadi... Solita," dia berhenti sejenak. "Aku minta maaf sekali lagi mengenai tadi..."Dia mendeka

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status