MasukPenderitaanku kemarin seakan terbayar ketika aku berjalan menelusuri gemerlap kota yang dipenuhi sihir ini. Aku tak bisa berhenti ternganga ketika melihat sekelilingku. Maksudku... ini seperti dongeng yang diinginkan setiap orang di bumi.
Aku benar-benar tidak tahu harus mulai mengagumi yang mana dulu. Mataku terus bergerak ke segala arah, berusaha menangkap setiap keajaiban yang muncul di hadapanku. Rasanya seperti seorang anak kecil yang tiba-tiba dilempar ke tengah dunia dongeng yang selama ini hanya ada di buku. Lihat saja di sana. Para petugas kebersihan jalanan itu. Mereka tak perlu menyapu sendiri-sapu-sapu itu seperti hidup, menyapu jalan tanpa harus dipegang. Atau tukang koran yang melemparkan korannya dari atas karpet terbang. Dan seorang badut jalanan yang tak hanya menampilkan trik sihir murahan seperti trik kartu atau membuat seekor burung menjadi dua, tapi dia bahkan benar-benar berubah menjadi burung api dan terbang ke atas, kemudian meledak menjadi kembang api kecil. Ini bahkan lebih hebat daripada teknologi paling canggih di bumi. Untuk sesaat aku bahkan ingin bersorak dan berlari seraya berteriak kegirangan. Tapi kuurungkan niatku itu-aku mungkin akan dilihat sebagai orang aneh. Meski begitu, menahan rasa kagum ternyata jauh lebih sulit dari yang kubayangkan. Setiap kali melangkah lebih jauh ke dalam kota, selalu ada sesuatu yang membuatku terpana. Tempat ini terlalu ajaib untukku. Terlalu luar biasa. Tempat ini membangkitkan penyakit kronis yang selalu kumiliki sejak kecil. Rasa ingin tahu. Aku sempat berpikir untuk menghampiri semua orang yang kutemui di jalan dan bertanya bagaimana caramu melakukannya?-hingga kusadari itu bukan ide bagus. Aku tetap berusaha menahan keingintahuanku yang tinggi ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi percayalah, menahan keingintahuan dalam diriku ini seperti menahan bab, rasanya sungguh menyiksa. Aku berlari kesana-kemari, mengagumi setiap sihir yang kutemui. Aku tak bisa lepas dari itu semua. Menelusuri keramaian, aku sadar bahwa sepertinya aku mengarah ke pasar yang ramai. Banyak kios berjejer di pinggir jalan, menawarkan barang-barangnya kepada setiap pejalan kaki yang lewat. Alih-alih menawarkannya dengan cara konvensional, para pedagang itu langsung menerbangkan barang dagangannya kepada setiap pejalan kaki yang lewat. Banyak sekali barang-barang aneh yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Ini seperti surga bagiku. Aku berharap Alice juga bisa melihat ini semua, andai dia ada di sini. "Bagaimana?" tanya Aster padaku. "Ini... hebat," kataku sambil berbinar. Dia tertawa kecil. "Apakah di tempat asalmu tak ada yang seperti ini?" "Tidak..." jawabku sambil terus melihat-lihat sekelilingku, kagum. "Wah... itu pasti suram sekali." Kami terus berjalan melewati kerumunan yang semakin padat, mengarah ke utara melewati beberapa blok jalan yang ramai. Kami sempat melewati beberapa kereta kuda yang ditarik semacam pegasus, tetapi ketika aku melihat lebih dekat, kepala hewan itu bukan kuda melainkan macan. Hewan itu berbadan kuda, berkepala singa, dan tubuhnya seperti bersisik ikan. "Itu makhluk apa?" tanyaku sambil berbinar. "Itu kereta griffon," kata Aster. "Serius, kau tidak tahu?" Dia melirikku heran. "Tempatmu seprimitif apa sebenarnya?" "Yah...., aku belum pernah lihat yang seperti ini," jawabku. "Di tempatku hanya ada kendaraan besi yang mengeluarkan asap." "Hah? Tempatmu unik juga ya." "Tapi... kau belum melihat semuanya." Entah kenapa ucapan itu membuatku semakin bersemangat. Aku seperti hampir kehilangan diriku karena terlalu antusias-maksudku, ini terlalu hebat untuk kubiarkan begitu saja. "Jadi seberapa jauh kita akan pergi?" tanyaku. "Tak jauh... beberapa blok lagi." Aku hanya mengangguk setengah mendengar. Aku tak terlalu menghiraukannya karena fokusku teralihkan oleh berbagai macam keajaiban ini. Ketika kami keluar dari kerumunan itu, gerombolan orang mulai terlihat menyusut-meski masih padat, baik di darat maupun di udara. Ketika kami melewati gang di ujung blok, sekilas aku melihat sesuatu yang menarik perhatianku. Sesosok bayangan-seseorang berdiri di sana. Jauh di dalam lorong yang gelap. Aku hanya sempat melihatnya sekilas, tapi dia menghilang. Entah kenapa tiba-tiba tanganku terasa nyeri. Ini tak pernah terjadi sebelumnya, dan perasaanku menjadi agak gelisah dan aneh. Kenapa ini? "Solita... kenapa?" tanya Aster. "Entah... tanganku sedikit terasa nyeri," jawabku sambil memegangi telapak tangan. Di balik bayangan gang yang gelap, seseorang bersandar pada tembok. Seolah tak peduli jika dirinya terlihat. Di antara jemarinya, sebuah kubus kaca berputar-putar mengikuti gerakan tangan. Matanya mengarah lurus, seakan sedang mengintai mangsa. Dan sebuah senyum tipis perlahan muncul di wajahnya. "Sepertinya aku menemukan sesuatu yang menarik," katanya sambil menyeringai. "Mari kita lihat..."Kata-kata dalam buku itu bergetar sesaat sebelum pudar, dan muncul tulisan baru yang kali ini lebih panjang dari sebelumnya.“Baiklah, bolehkah aku bertanya lebih detail? Aku punya beberapa formula sihir terlarang untuk digunakan, atau aku bisa mengubah fungsiku menjadi senjata.”Sialan, di saat seperti ini buku ini malah menanyakan hal yang berbelit-belit. Bisakah lebih sederhana saja? Aku menelan ludah sambil terengah-engah dan mengepalkan tanganku yang sedikit gemetar ini.Dalam keadaan itu, aku menjawabnya dengan sangat singkat dan padat.“Ubah dirimu menjadi senjata.”Kenapa aku memilihnya? Sudah jelas, itu bukan pilihan pertama—tidak mungkin bagiku yang tak mengerti sihir, apalagi menggunakan sihir yang jelas asing bagiku. Jadi, pilihan kedua jauh lebih masuk akal untuk dicoba.“Baiklah, memulai fungsi senjata. Tuangkan keinginanmu ke atas kertas, dan sobek aku.”Aku bingung dengan kata “tuangkan” dalam buku ini, apa maksudnya itu. Tak bisakah kau tidak bermain teka-teki di saa
Balok kaca itu meluncur tepat ke arahku dari atas. Aku sudah tak sempat untuk lari. Aku mematung di tempat persembunyian, menatap ke atas tepat ke arah balok kaca itu."Apakah sungguh ini akan berakhir seperti ini?" kataku dengan suara samar, nyaris tak terdengar.Aku mencengkeram buku itu kuat-kuat karena hanya itu yang aku punya. Entah kenapa waktu terasa melambat. Aku sedikit mengingat kembali Ibu dan Alice di bumi. Entah kenapa ingatan ini selalu muncul di saat-saat seperti ini.Apakah ini ingatan sebelum kematian? Jika iya, syukurlah.Balok kaca itu meluncur dengan cepat, hampir jatuh menghantam diriku di bawah. Aku sudah pasrah. Mau bagaimana lagi, aku tak bisa lari. Aku sudah berusaha bertahan sejauh yang aku bisa. Jika ini akhirku, ya mau bagaimana lagi.Hanya... dewa, Tuhan, atau siapapun di sana—aku tahu aku bukan orang yang religius. Aku banyak menyia-nyiakan waktuku, aku juga jarang sekali berdoa. Tapi kali ini saja, aku mohon... jika aku mati di sini, tolong berikan kasih
Aku tersentak bangun. Kesadaranku kembali ke diriku yang sekarang masih dililit ular itu. Namun ada sesuatu yang berbeda—tanganku yang sebelumnya terasa sakit kini justru ringan, dan simbol-simbol yang terukir di kulitku semakin jelas, menjalar hingga ke pergelangan tangan.Untuk sesaat aku teringat pada wanita itu, yang menyentuh tanganku.Apakah ini ulahnya?Cahaya di tanganku semakin menyala terang. Ular yang melilitku meronta-ronta, mengeluarkan jerit melengking seperti kesakitan. Cengkeramannya mengendur sebelum melemparkanku ke tanah.Aku terbanting ke lantai yang berkilau itu. Melihat ke atas, tubuh monster itu mulai meleleh seperti lilin yang terkena api. Sisiknya mencair, sayapnya hancur, lalu seluruh tubuhnya menyusut hingga berubah menjadi miniatur kecil sebesar telapak tangan.“Ternyata kau menetralkannya!” kata pria bertopeng itu, tampak antusias.Aku sendiri bingung dengan apa yang terjadi, tapi ini pertanda baik. Hingga buku itu muncul di depanku entah dari mana, mengh
Kalian pergi tamasya ke rumah kaca? Kalau aku justru ke dunia kaca yang menakjubkan—saking menakjubkannya, aku sampai bermain kejar-kejaran dengan seekor ular bersayap hitam dan taring yang siap menjadikanku cemilan.Kau tahu, aku sudah berlari cukup lama. Setelah beberapa saat berhasil lolos darinya, aku menjatuhkan diri di balik dinding cermin sambil mengusap dahiku yang basah. Sekarang aku tahu pentingnya olahraga—selain untuk menjaga tubuh tetap sehat, juga untuk berjaga-jaga jika suatu saat nanti kau dikejar monster di dunia lain.Setidaknya aku berhasil bersembunyi untuk beberapa saat, meski napasku kini terasa pendek sekali."Sial..."Dan sekarang ini sepertinya aku terjebak di dalam sihir orang itu. Dunia ini sangat aneh. Jadi, bagaimana aku bisa keluar dari sini? Aku yang tak tahu apa-apa tentang sihir dipaksa melawan ular ganas dan orang gila? Yang benar saja."Andai ada Aster di sini..."Aku mendongak, melirik sekitar, sekadar memastikan ular itu tak mendekat. Baru saja aku
Aku membuka mataku di dunia lain lagi, ya.... lagi-lagi di dunia lain. Ini klise sekali. Jatuh tersungkur di antara kaca-kaca yang berkilauan, jidatku terasa sakit. Aku mendapati diriku di dunia yang.... penuh cermin.Aku tak tahu ini apa dan di mana, tapi aku akan menyebutnya dunia cermin, karena sepanjang mata memandang luasnya tempat ini, semuanya terbuat dari kaca cermin yang memantulkan bayanganmu.Kepalaku agak pusing akibat pendaratanku yang selalu tak mulus, ditambah nyeri di lengan kananku yang semakin menjadi. Aku melihat pria itu berdiri di depanku, menatapku sambil menyeringai aneh.Dia mendekat ke arahku sambil membuka tudung jubahnya, memperlihatkan wajahnya. Seorang pria paruh baya, atau bisa kubilang om-om. Dengan kumis tipis dan rambut coklat yang tersisir rapi, daripada seorang kriminal dia malah terlihat seperti pria beradab di film kolosal barat yang sering aku tonton."Si... siapa?" tanyaku."Menarik...." sambil mencubit dagunya.Entahlah, dia selalu bilang mena
Sebuah Novel Fantasi oleh Coffeeman Never Sleep Halo semua! Aku Coffeeman, seorang penulis pemula yang baru saja merampungkan novel pertamaku. Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah mampir ke sini. Karena ini adalah novel pertamaku, tentu masih banyak kekurangan di sana-sini. Oleh karena itu, aku sangat mengharapkan saran dan kritik dari kalian yang membacanya. Jangan sungkan untuk menyampaikan pendapat, ya. Terima kasih! Mengenal Dunia: Dalam novel ini, Solita - sang tokoh utama - secara tidak sengaja terlempar ke dunia lain yang penuh dengan sihir: sebuah benua bernama Pandora. Di Pandora, semua orang mampu menggunakan sihir, dan sihir adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di benua ini terdapat beberapa kerajaan yang tersebar luas. Namun, fokus cerita hanya akan berada di Kekaisaran Kahalin - sebuah kekaisaran megah yang terletak di ujung Utara benua Pandora. Definisi Penyihir : Meskipun semua orang di Pandor
Sepertinya melihat-lihat pameran ini adalah salah satu pengalaman paling indah dalam hidupku, dan aku bahkan membawa satu suvenir. Aku harap bisa membawa ini pulang dan menunjukkannya pada Alice. Aku yakin dia akan senang.Mungkin dia akan tertawa kecil sambil memuji bentuknya, lalu menyimpannya di
Sayang sekali pagi yang indah ini harus diwarnai oleh rasa nyeri di tanganku. Tidak terlalu parah, tetapi cukup mengganggu hingga sulit kuabaikan. Entah mengapa, ada pula perasaan tidak nyaman yang mengganjal di dalam dada, seolah sesuatu akan terjadi di depan. Aku dan Aster berjalan menyusuri
12 November 434, Kekaisaran KahalinKali ini aku bangun dengan perasaan yang lebih baik dari sebelumnya, setidaknya sakit punggungku sudah mendingan. Hanya saja bau tak sedap sempat tercium di samping rumah, mungkin itu selokan. Ku berikan rating 4/10 untuk rumah ini, 4 untuk roti berbau enak di d
Bagaimana menurutmu jika sekarang kau sedang duduk di depan orang yang hampir saja membunuhmu beberapa menit yang lalu?Ya, kurang lebih seperti itulah situasiku sekarang.Namanya Aster, kalau tak salah. Dia duduk santai sambil mengamatiku dan menyeringai aneh. Entah kenapa senyum itu membuatku ing







