ANMELDENBalok kaca itu meluncur tepat ke arahku dari atas. Aku sudah tak sempat untuk lari. Aku mematung di tempat persembunyian, menatap ke atas tepat ke arah balok kaca itu."Apakah sungguh ini akan berakhir seperti ini?" kataku dengan suara samar, nyaris tak terdengar.Aku mencengkeram buku itu kuat-kuat karena hanya itu yang aku punya. Entah kenapa waktu terasa melambat. Aku sedikit mengingat kembali Ibu dan Alice di bumi. Entah kenapa ingatan ini selalu muncul di saat-saat seperti ini.Apakah ini ingatan sebelum kematian? Jika iya, syukurlah.Balok kaca itu meluncur dengan cepat, hampir jatuh menghantam diriku di bawah. Aku sudah pasrah. Mau bagaimana lagi, aku tak bisa lari. Aku sudah berusaha bertahan sejauh yang aku bisa. Jika ini akhirku, ya mau bagaimana lagi.Hanya... dewa, Tuhan, atau siapapun di sana—aku tahu aku bukan orang yang religius. Aku banyak menyia-nyiakan waktuku, aku juga jarang sekali berdoa. Tapi kali ini saja, aku mohon... jika aku mati di sini, tolong berikan kasih
Aku tersentak bangun. Kesadaranku kembali ke diriku yang sekarang masih dililit ular itu. Namun ada sesuatu yang berbeda—tanganku yang sebelumnya terasa sakit kini justru ringan, dan simbol-simbol yang terukir di kulitku semakin jelas, menjalar hingga ke pergelangan tangan.Untuk sesaat aku teringat pada wanita itu, yang menyentuh tanganku.Apakah ini ulahnya?Cahaya di tanganku semakin menyala terang. Ular yang melilitku meronta-ronta, mengeluarkan jerit melengking seperti kesakitan. Cengkeramannya mengendur sebelum melemparkanku ke tanah.Aku terbanting ke lantai yang berkilau itu. Melihat ke atas, tubuh monster itu mulai meleleh seperti lilin yang terkena api. Sisiknya mencair, sayapnya hancur, lalu seluruh tubuhnya menyusut hingga berubah menjadi miniatur kecil sebesar telapak tangan.“Ternyata kau menetralkannya!” kata pria bertopeng itu, tampak antusias.Aku sendiri bingung dengan apa yang terjadi, tapi ini pertanda baik. Hingga buku itu muncul di depanku entah dari mana, mengh
Kalian pergi tamasya ke rumah kaca? Kalau aku justru ke dunia kaca yang menakjubkan—saking menakjubkannya, aku sampai bermain kejar-kejaran dengan seekor ular bersayap hitam dan taring yang siap menjadikanku cemilan.Kau tahu, aku sudah berlari cukup lama. Setelah beberapa saat berhasil lolos darinya, aku menjatuhkan diri di balik dinding cermin sambil mengusap dahiku yang basah. Sekarang aku tahu pentingnya olahraga—selain untuk menjaga tubuh tetap sehat, juga untuk berjaga-jaga jika suatu saat nanti kau dikejar monster di dunia lain.Setidaknya aku berhasil bersembunyi untuk beberapa saat, meski napasku kini terasa pendek sekali."Sial..."Dan sekarang ini sepertinya aku terjebak di dalam sihir orang itu. Dunia ini sangat aneh. Jadi, bagaimana aku bisa keluar dari sini? Aku yang tak tahu apa-apa tentang sihir dipaksa melawan ular ganas dan orang gila? Yang benar saja."Andai ada Aster di sini..."Aku mendongak, melirik sekitar, sekadar memastikan ular itu tak mendekat. Baru saja aku
Aku membuka mataku di dunia lain lagi, ya.... lagi-lagi di dunia lain. Ini klise sekali. Jatuh tersungkur di antara kaca-kaca yang berkilauan, jidatku terasa sakit. Aku mendapati diriku di dunia yang.... penuh cermin.Aku tak tahu ini apa dan di mana, tapi aku akan menyebutnya dunia cermin, karena sepanjang mata memandang luasnya tempat ini, semuanya terbuat dari kaca cermin yang memantulkan bayanganmu.Kepalaku agak pusing akibat pendaratanku yang selalu tak mulus, ditambah nyeri di lengan kananku yang semakin menjadi. Aku melihat pria itu berdiri di depanku, menatapku sambil menyeringai aneh.Dia mendekat ke arahku sambil membuka tudung jubahnya, memperlihatkan wajahnya. Seorang pria paruh baya, atau bisa kubilang om-om. Dengan kumis tipis dan rambut coklat yang tersisir rapi, daripada seorang kriminal dia malah terlihat seperti pria beradab di film kolosal barat yang sering aku tonton."Si... siapa?" tanyaku."Menarik...." sambil mencubit dagunya.Entahlah, dia selalu bilang mena
Sebuah Novel Fantasi oleh Coffeeman Never Sleep Halo semua! Aku Coffeeman, seorang penulis pemula yang baru saja merampungkan novel pertamaku. Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah mampir ke sini. Karena ini adalah novel pertamaku, tentu masih banyak kekurangan di sana-sini. Oleh karena itu, aku sangat mengharapkan saran dan kritik dari kalian yang membacanya. Jangan sungkan untuk menyampaikan pendapat, ya. Terima kasih! Mengenal Dunia: Dalam novel ini, Solita - sang tokoh utama - secara tidak sengaja terlempar ke dunia lain yang penuh dengan sihir: sebuah benua bernama Pandora. Di Pandora, semua orang mampu menggunakan sihir, dan sihir adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di benua ini terdapat beberapa kerajaan yang tersebar luas. Namun, fokus cerita hanya akan berada di Kekaisaran Kahalin - sebuah kekaisaran megah yang terletak di ujung Utara benua Pandora. Definisi Penyihir : Meskipun semua orang di Pandor
10 November, 2020 Aku solita, baru saja memecahkan rekor baru sebagai budak korporat dengan keluar kantor pukul dua dini hari. Aku keluar dari gedung kantor sambil menyeret langkah lelah. Lampu-lampu kota masih menyala terang, tetapi jalanan mulai sepi seperti kota mati. Aku membuka ponselku, notifikasi itu langsung muncul memenuhi layar. Berbagai macam surat cinta dari tukang sampah kompleks, listrik, air, dan... dari rumah sakit. Ya, beginilah kehidupan seorang tulang punggung keluarga. Kau berharap aku mendapatkan surat cinta?. Aku terkekeh pelan sambil memijat pelipis ku, berhenti sejenak untuk sekadar melupakan layar komputer dan berbagai permasalahan di dalamnya. Bicara dengan diri sendiri? Ini belum termasuk gila... hanya sedikit saja. Adikku sakit keras dan banyak menghabiskan waktu di rumah sakit, sementara orang tuaku sudah lama meninggal sejak aku kuliah. Dengan begitu, aku tak punya pilihan selain mengurus adikku. Lucunya, aku bahkan tak yakin bisa mengurus dir
Sepertinya melihat-lihat pameran ini adalah salah satu pengalaman paling indah dalam hidupku, dan aku bahkan membawa satu suvenir. Aku harap bisa membawa ini pulang dan menunjukkannya pada Alice. Aku yakin dia akan senang.Mungkin dia akan tertawa kecil sambil memuji bentuknya, lalu menyimpannya di
Sayang sekali pagi yang indah ini harus diwarnai oleh rasa nyeri di tanganku. Tidak terlalu parah, tetapi cukup mengganggu hingga sulit kuabaikan. Entah mengapa, ada pula perasaan tidak nyaman yang mengganjal di dalam dada, seolah sesuatu akan terjadi di depan. Aku dan Aster berjalan menyusuri
Penderitaanku kemarin seakan terbayar ketika aku berjalan menelusuri gemerlap kota yang dipenuhi sihir ini. Aku tak bisa berhenti ternganga ketika melihat sekelilingku. Maksudku... ini seperti dongeng yang diinginkan setiap orang di bumi.Aku benar-benar tidak tahu harus mulai mengagumi yang mana d
12 November 434, Kekaisaran KahalinKali ini aku bangun dengan perasaan yang lebih baik dari sebelumnya, setidaknya sakit punggungku sudah mendingan. Hanya saja bau tak sedap sempat tercium di samping rumah, mungkin itu selokan. Ku berikan rating 4/10 untuk rumah ini, 4 untuk roti berbau enak di d







