共有

DECEMBER DAWN : THE PROPHET
DECEMBER DAWN : THE PROPHET
作者: Coffeeman Never Sleep

BAB IX TERSESAT

last update 公開日: 2026-06-08 02:23:00

Sepertinya melihat-lihat pameran ini adalah salah satu pengalaman paling indah dalam hidupku, dan aku bahkan membawa satu suvenir. Aku harap bisa membawa ini pulang dan menunjukkannya pada Alice. Aku yakin dia akan senang.

Mungkin dia akan tertawa kecil sambil memuji bentuknya, lalu menyimpannya di rak kamarnya seperti benda berharga lainnya. Memikirkannya saja membuat dadaku terasa hangat.

Aku terlalu tenggelam dalam lamunan hingga tak sadar Aster sudah berjalan cukup jauh di depan. Baru ketika mengangkat kepala, aku tersentak.

"Aster?"

Sosoknya hampir menghilang di antara lautan manusia. Aku bergegas mengejarnya. Namun ketika mencoba mengejar Aster, entah kenapa kerumunan menjadi semakin padat. Aku bahkan tak bisa bergerak bebas.

Orang-orang bergerak dari berbagai arah hingga jalanan yang tadi masih cukup luas sekarang terasa semakin sesak. Bahuku bahkan beberapa kali bertabrakan dengan pengunjung lain, dan aku kesulitan berjalan lurus.

Aku mencoba menyelinap di antara kerumunan, tetapi sia-sia. Semakin jauh aku berjalan, semakin sulit bergerak.

Apa-apaan ini, kenapa tiba-tiba ramai begini?

Tubuhku terombang-ambing mengikuti arus manusia. Sesaat aku kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh.

Sial.

Aku mencoba menembusnya, dengan susah payah menepi. Mencoba keluar dari tengah kerumunan.

Di mana dia?

Aku terus mencari, berjalan sambil melirik sekitar, mencoba menemukan Aster. Dan setelah beberapa saat, aku akhirnya melihat siluetnya sekilas di depan. Rambut putih itu tampak familiar.

Jarak kami tak terlalu jauh, aku berusaha mengejarnya meski agak tertahan oleh kerumunan itu. Namun, tepat saat aku mulai melangkah, entah kenapa tiba-tiba rasa nyeri di lenganku semakin terasa.

Apa lagi sekarang?

Lenganku terasa kebas ketika aku memeganginya. Rasa nyeri itu semakin menjadi-jadi, rasanya seperti ada sesuatu yang bergerak di bawah kulit. Aku memeganginya semakin erat, namun justru rasa nyeri itu semakin kuat.

Dan ketika aku mencoba mengejar Aster, seseorang menepuk punggungku. Aku refleks berbalik. Aku melihatnya—darahku seakan membeku. Dia seorang pria dengan jubah bertudung yang menutupi setengah wajahnya, dengan seringai aneh yang terpampang di bibirnya.

Jantungku berdetak kencang. Ingatanku langsung melayang pada pria bertopeng ular yang pernah mencoba menangkapku. Kemudian peringatan Aster tentang para penyihir yang mengincar pengetahuan keluarga Astarot.

Tenggorokanku terasa kering. Untuk sesaat, aku bahkan lupa cara bernapas. Aku membeku di tempat, tak bisa berkata-kata. Kakiku seolah membatu dan tenggorokanku serasa dicekik.

"Menarik...." katanya.

Pria itu perlahan mengulurkan telapak tangannya, seperti hendak menangkap seekor hewan kecil yang terjebak. Aku mencoba mundur, namun kakiku terasa berat. Aku takut, aku... benar-benar takut!

Tepat ketika ujung telapak tangannya hampir menyentuhku, tiba-tiba tato di lengan kananku bersinar. Tato itu menyala—seketika ledakan energi mendorong tubuhku ke belakang, membuat pria itu terhuyung beberapa langkah.

Beberapa orang di sekitar kami berteriak kaget. Suasana jalanan yang ramai itu mendadak kacau. Aku tidak membuang kesempatan ini dan langsung lari.

"Baiklah... sepertinya aku tak salah," katanya sambil menyeringai.

Aku tak tahu ke mana aku lari, aku terlalu panik. Menyusuri lorong demi lorong, berbelok di setiap persimpangan yang kulihat. Hingga akhirnya aku menyadari sesuatu—aku tersesat!

Aku sudah tak tahu lagi berada di mana. Kerumunan tadi yang memenuhi jalanan kini sudah hilang. Suasana terasa sepi di sini. Aku berhenti sejenak. Napasku terasa berat, dan lenganku masih terasa nyeri meski sudah tak separah tadi.

Aku menatap tanganku yang bertato simbol aneh. Bekas kehitaman muncul jelas di sana.

Apa yang terjadi tadi? Sinar apa itu?

"Cahaya itu keluar dari tato ini."

Baru saja aku merasa lega, tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Aku sadari itu bukan pertanda baik. Dan ketika aku menengok ke belakang, pria itu muncul di sana dengan seringai aneh yang sama.

Aku mencoba lari masuk ke dalam gang, tapi di belakangku dia melesat ke arahku dengan cepat hingga aku tak sempat bereaksi.

"Mari kita pergi ke tempat yang lebih sepi..."

Dia terlalu cepat. Dia mencengkeram pundakku. Sambil mengeluarkan liontin kubus dari sakunya, dia bergumam sesuatu, dan tiba-tiba di depanku muncul pintu kaca yang terbentuk dari retakan-retakan cahaya di udara.

"Apa—"

Belum sempat aku menyelesaikan kalimat ini, pintu itu menarikku masuk ke dalamnya. Tubuhku terseret masuk ke dalam pintu itu. Aku mencoba berteriak sekuat tenaga, juga menarik sesuatu—apa saja, siapa saja—namun sepertinya semua itu sia-sia. Yang kutemukan hanyalah kehampaan. Hingga aku benar-benar terseret masuk, dan pandanganku memutih....

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   FROM ME

    Sebuah Novel Fantasi oleh Coffeeman Never Sleep Halo semua! Aku Coffeeman, seorang penulis pemula yang baru saja merampungkan novel pertamaku. Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah mampir ke sini. Karena ini adalah novel pertamaku, tentu masih banyak kekurangan di sana-sini. Oleh karena itu, aku sangat mengharapkan saran dan kritik dari kalian yang membacanya. Jangan sungkan untuk menyampaikan pendapat, ya. Terima kasih! Mengenal Dunia: Dalam novel ini, Solita - sang tokoh utama - secara tidak sengaja terlempar ke dunia lain yang penuh dengan sihir: sebuah benua bernama Pandora. Di Pandora, semua orang mampu menggunakan sihir, dan sihir adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di benua ini terdapat beberapa kerajaan yang tersebar luas. Namun, fokus cerita hanya akan berada di Kekaisaran Kahalin - sebuah kekaisaran megah yang terletak di ujung Utara benua Pandora. Definisi Penyihir : Meskipun semua orang di Pandor

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB I BUKU ANEH

    10 November, 2020 Aku solita, baru saja memecahkan rekor baru sebagai budak korporat dengan keluar kantor pukul dua dini hari. Aku keluar dari gedung kantor sambil menyeret langkah lelah. Lampu-lampu kota masih menyala terang, tetapi jalanan mulai sepi seperti kota mati. Aku membuka ponselku, notifikasi itu langsung muncul memenuhi layar. Berbagai macam surat cinta dari tukang sampah kompleks, listrik, air, dan... dari rumah sakit. Ya, beginilah kehidupan seorang tulang punggung keluarga. Kau berharap aku mendapatkan surat cinta?. Aku terkekeh pelan sambil memijat pelipis ku, berhenti sejenak untuk sekadar melupakan layar komputer dan berbagai permasalahan di dalamnya. Bicara dengan diri sendiri? Ini belum termasuk gila... hanya sedikit saja. Adikku sakit keras dan banyak menghabiskan waktu di rumah sakit, sementara orang tuaku sudah lama meninggal sejak aku kuliah. Dengan begitu, aku tak punya pilihan selain mengurus adikku. Lucunya, aku bahkan tak yakin bisa mengurus dir

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB II BERTEMU PENYIHIR

    Sungguh asyik sekali terombang-ambing di udara dengan wajah yang sakit ini, saking asyiknya aku sampai ingin muntah. Pria itu membawaku melesat melewati reruntuhan dengan kecepatan yang membuat isi perutku seperti tertinggal di belakang. Kami terombang-ambing beberapa saat hingga jatuh dengan kecepatan tinggi, tapi dapat mendarat dengan aman di tanah. Sekarang aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Terombang-ambing di udara sedikit membuat kepalaku pusing. Sepertinya ada sesuatu yang masuk ke mulutku saat aku terbang tadi. Dia terlihat sangat tenang. Seorang pria yang cukup tampan, dia masih muda. Kira-kira seumurku, tapi dia cukup aneh-rambutnya berwarna putih. Masih muda, kenapa rambutnya putih? Dan pupil matanya berwarna biru, mirip orang Eropa. Dilihat dari segala sisi, dia cukup tampan bagiku. Hanya... kenapa rambutnya itu seperti semak belukar. Dia benar-benar seorang penyihir! Aku bertanya-tanya apakah aku sekarang ada di dunia lain. Aku ingin sekali bertanya padanya, se

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB III TERBANGUN ENTAH DIMANA

    11 November 434, kekaisaran KahalinAku bermimpi melihat diriku yang masih remaja bersama adikku yang aku gendong ke mana pun aku pergi, tentang kami yang menyukai hal yang sama, melukis.Menggambar, mencorat-coret apa pun yang kami temui, bahkan dinding rumah orang pun tak luput. Kadang-kadang orang-orang akan datang mengomel pada ibuku, dan ibu akan menyita peralatan lukis kami serta mengurung kami di kamar seharian.Namun itu tak menghentikan aku dan adikku. Kami berbagi pensil kecil yang dipotong dua untuk situasi darurat seperti itu, dan kami akan melanjutkan aksi kami selanjutnya sambil tertawa pelan.Aku merindukan saat-saat itu, di mana kami dapat menggambar, melukis, menciptakan apa pun yang kami mau tanpa terkekang, seakan kami bisa membuat dunia kami sendiri. Kami berdua pun berjanji akan menjadi seorang pelukis bersama. Namun semua itu sirna, mimpi itu perlahan menghilang.Setelah ibu meninggal, aku terpaksa mengubur impian itu dalam-dalam. Aku mulai melupakannya dan beral

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB IV ASTER CASTY

    Aku tak menjawabnya dan hanya diam mengikuti langkahnya dari belakang. Sejujurnya, aku tidak tahu kenapa semudah itu aku mempercayai orang asing di tempat seperti ini. Namun jika dipikir-pikir lagi, kalau dia memang berniat jahat, mungkin sejak tadi aku sudah mati, dijual, atau dijadikan bahan eksperimen aneh entah apa....tapi tunggu dulu.Bagaimana kalau dia memang sedang memanfaatkanku? Pikiran itu langsung membuat bulu kudukku meremang.Aku terus mengikutinya di belakang. Cahaya lentera yang ia bawa bergoyang pelan mengikutinya melewati lorong yang remang-remang. Kulihat lagi dirinya - dia berjalan menuju ruangan tempatku tadi bangun. Entah kenapa aku malah gugup dengan situasi ini, dan kenapa dia diam saja, itu membuatku sedikit takut.Penyihir itu masuk lebih dulu, lalu meletakkan lentera di atas meja kecil dekat dinding. Cahaya keemasan langsung menyebar lembut ke seluruh ruangan. Aku berdiri kikuk di ambang pintu. Dia menoleh ke arahku, tatapannya datar."Duduklah.""Ba... b

  • DECEMBER DAWN : THE PROPHET   BAB V AKU INGIN MEMUKUL WAJAHNYA

    Bagaimana menurutmu jika sekarang kau sedang duduk di depan orang yang hampir saja membunuhmu beberapa menit yang lalu?Ya, kurang lebih seperti itulah situasiku sekarang.Namanya Aster, kalau tak salah. Dia duduk santai sambil mengamatiku dan menyeringai aneh. Entah kenapa senyum itu membuatku ingin memukul wajahnya.Untungnya roti ini enak sekali - aku serasa makan roti buatan Prancis, meski aku tak pernah makan roti Prancis sih.Tapi semua orang tak akan menolak tampilannya yang menggugah selera. Roti panggang berbentuk sabit yang dipanggang sempurna, dengan taburan gula dan buah di atasnya. Aku bukan ahli roti, tapi aku tahu ini yang terbaik - plus tanpa bahan pengawet kimia.Aku mungkin membencinya, tapi kuberikan keringanan untuk setidaknya tak memukul wajahnya. Roti ini benar-benar enak.Dia masih menyeringai ketika aku meletakkan piring di meja."Gimana?""Lumayan," jawabku ketus."Jadi... Solita," dia berhenti sejenak. "Aku minta maaf sekali lagi mengenai tadi..."Dia mendeka

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status