ログイン
Sebuah Novel Fantasi oleh Coffeeman Never Sleep Halo semua! Aku Coffeeman, seorang penulis pemula yang baru saja merampungkan novel pertamaku. Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah mampir ke sini. Karena ini adalah novel pertamaku, tentu masih banyak kekurangan di sana-sini. Oleh karena itu, aku sangat mengharapkan saran dan kritik dari kalian yang membacanya. Jangan sungkan untuk menyampaikan pendapat, ya. Terima kasih! Mengenal Dunia: Dalam novel ini, Solita - sang tokoh utama - secara tidak sengaja terlempar ke dunia lain yang penuh dengan sihir: sebuah benua bernama Pandora. Di Pandora, semua orang mampu menggunakan sihir, dan sihir adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di benua ini terdapat beberapa kerajaan yang tersebar luas. Namun, fokus cerita hanya akan berada di Kekaisaran Kahalin - sebuah kekaisaran megah yang terletak di ujung Utara benua Pandora. Definisi Penyihir : Meskipun semua orang di Pandor
10 November, 2020 Aku solita, baru saja memecahkan rekor baru sebagai budak korporat dengan keluar kantor pukul dua dini hari. Aku keluar dari gedung kantor sambil menyeret langkah lelah. Lampu-lampu kota masih menyala terang, tetapi jalanan mulai sepi seperti kota mati. Aku membuka ponselku, notifikasi itu langsung muncul memenuhi layar. Berbagai macam surat cinta dari tukang sampah kompleks, listrik, air, dan... dari rumah sakit. Ya, beginilah kehidupan seorang tulang punggung keluarga. Kau berharap aku mendapatkan surat cinta?. Aku terkekeh pelan sambil memijat pelipis ku, berhenti sejenak untuk sekadar melupakan layar komputer dan berbagai permasalahan di dalamnya. Bicara dengan diri sendiri? Ini belum termasuk gila... hanya sedikit saja. Adikku sakit keras dan banyak menghabiskan waktu di rumah sakit, sementara orang tuaku sudah lama meninggal sejak aku kuliah. Dengan begitu, aku tak punya pilihan selain mengurus adikku. Lucunya, aku bahkan tak yakin bisa mengurus dir
Sungguh asyik sekali terombang-ambing di udara dengan wajah yang sakit ini, saking asyiknya aku sampai ingin muntah. Pria itu membawaku melesat melewati reruntuhan dengan kecepatan yang membuat isi perutku seperti tertinggal di belakang. Kami terombang-ambing beberapa saat hingga jatuh dengan kecepatan tinggi, tapi dapat mendarat dengan aman di tanah. Sekarang aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Terombang-ambing di udara sedikit membuat kepalaku pusing. Sepertinya ada sesuatu yang masuk ke mulutku saat aku terbang tadi. Dia terlihat sangat tenang. Seorang pria yang cukup tampan, dia masih muda. Kira-kira seumurku, tapi dia cukup aneh-rambutnya berwarna putih. Masih muda, kenapa rambutnya putih? Dan pupil matanya berwarna biru, mirip orang Eropa. Dilihat dari segala sisi, dia cukup tampan bagiku. Hanya... kenapa rambutnya itu seperti semak belukar. Dia benar-benar seorang penyihir! Aku bertanya-tanya apakah aku sekarang ada di dunia lain. Aku ingin sekali bertanya padanya, se
11 November 434, kekaisaran KahalinAku bermimpi melihat diriku yang masih remaja bersama adikku yang aku gendong ke mana pun aku pergi, tentang kami yang menyukai hal yang sama, melukis.Menggambar, mencorat-coret apa pun yang kami temui, bahkan dinding rumah orang pun tak luput. Kadang-kadang orang-orang akan datang mengomel pada ibuku, dan ibu akan menyita peralatan lukis kami serta mengurung kami di kamar seharian.Namun itu tak menghentikan aku dan adikku. Kami berbagi pensil kecil yang dipotong dua untuk situasi darurat seperti itu, dan kami akan melanjutkan aksi kami selanjutnya sambil tertawa pelan.Aku merindukan saat-saat itu, di mana kami dapat menggambar, melukis, menciptakan apa pun yang kami mau tanpa terkekang, seakan kami bisa membuat dunia kami sendiri. Kami berdua pun berjanji akan menjadi seorang pelukis bersama. Namun semua itu sirna, mimpi itu perlahan menghilang.Setelah ibu meninggal, aku terpaksa mengubur impian itu dalam-dalam. Aku mulai melupakannya dan beral
Aku tak menjawabnya dan hanya diam mengikuti langkahnya dari belakang. Sejujurnya, aku tidak tahu kenapa semudah itu aku mempercayai orang asing di tempat seperti ini. Namun jika dipikir-pikir lagi, kalau dia memang berniat jahat, mungkin sejak tadi aku sudah mati, dijual, atau dijadikan bahan eksperimen aneh entah apa....tapi tunggu dulu.Bagaimana kalau dia memang sedang memanfaatkanku? Pikiran itu langsung membuat bulu kudukku meremang.Aku terus mengikutinya di belakang. Cahaya lentera yang ia bawa bergoyang pelan mengikutinya melewati lorong yang remang-remang. Kulihat lagi dirinya - dia berjalan menuju ruangan tempatku tadi bangun. Entah kenapa aku malah gugup dengan situasi ini, dan kenapa dia diam saja, itu membuatku sedikit takut.Penyihir itu masuk lebih dulu, lalu meletakkan lentera di atas meja kecil dekat dinding. Cahaya keemasan langsung menyebar lembut ke seluruh ruangan. Aku berdiri kikuk di ambang pintu. Dia menoleh ke arahku, tatapannya datar."Duduklah.""Ba... b
Bagaimana menurutmu jika sekarang kau sedang duduk di depan orang yang hampir saja membunuhmu beberapa menit yang lalu?Ya, kurang lebih seperti itulah situasiku sekarang.Namanya Aster, kalau tak salah. Dia duduk santai sambil mengamatiku dan menyeringai aneh. Entah kenapa senyum itu membuatku ingin memukul wajahnya.Untungnya roti ini enak sekali - aku serasa makan roti buatan Prancis, meski aku tak pernah makan roti Prancis sih.Tapi semua orang tak akan menolak tampilannya yang menggugah selera. Roti panggang berbentuk sabit yang dipanggang sempurna, dengan taburan gula dan buah di atasnya. Aku bukan ahli roti, tapi aku tahu ini yang terbaik - plus tanpa bahan pengawet kimia.Aku mungkin membencinya, tapi kuberikan keringanan untuk setidaknya tak memukul wajahnya. Roti ini benar-benar enak.Dia masih menyeringai ketika aku meletakkan piring di meja."Gimana?""Lumayan," jawabku ketus."Jadi... Solita," dia berhenti sejenak. "Aku minta maaf sekali lagi mengenai tadi..."Dia mendeka







