ログインSayang sekali pagi yang indah ini harus diwarnai oleh rasa nyeri di tanganku. Tidak terlalu parah, tetapi cukup mengganggu hingga sulit kuabaikan. Entah mengapa, ada pula perasaan tidak nyaman yang mengganjal di dalam dada, seolah sesuatu akan terjadi di depan.
Aku dan Aster berjalan menyusuri trotoar yang ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang. Udara pagi terasa sejuk, sementara cahaya matahari yang perlahan meninggi memantul di permukaan bangunan-bangunan megah di sepanjang jalan. Memang, ini adalah pagi yang indah untuk menikmati udara pagi di luar dan melihat keajaiban kota sihir ini. Kereta yang ditarik griffon melintas silih berganti, karpet-karpet terbang memenuhi langit kota ini. Meski sudah beberapa kali melihatnya, aku tetap tidak bisa berhenti kagum. Aku melirik Aster yang berjalan beberapa langkah di depanku. Kali ini ia tak mengenakan jubahnya, hanya pakaian biasa yang membuatnya terlihat lebih seperti warga kota pada umumnya. “Aster...?” “Ya? Ada apa?” sambil menoleh ke arahku. “Tidak...” kataku. “Hanya... pasti menyenangkan kalau semua orang bisa menggunakan sihir, dunia jadi lebih indah karenanya.” Dia berhenti dan berbalik padaku, menatapku dengan tatapan aneh dan sedikit menyeringai. “Tidak juga...” katanya. “Justru karena sihir sangat umum, banyak sekali yang menyalahgunakan sihir untuk hal-hal jahat.” “Banyak sekali orang-orang yang memanfaatkan sihir untuk perang.” Tatapannya berubah tajam. Aku terdiam. Kalau dipikir-pikir, perkataannya memang masuk akal. Sihir mungkin terlihat menakjubkan, tetapi bukan berarti semua orang menggunakannya dengan benar. Apalagi semua orang di sini bisa menggunakannya. Membayangkan seluruh manusia bumi bisa menggunakan sihir, pasti pertikaian tak akan terhindarkan. Sayang sekali, sesuatu yang menakjubkan seperti ini disalahgunakan. “Itulah alasan kekaisaran membuat berbagai peraturan,” katanya. “Tidak semua orang boleh mempelajari sihir tingkat tinggi, hanya penyihir resmi yang memiliki izin yang bisa mengakses sihir tingkat tinggi.” Aku mengangguk pelan. Aster kembali berjalan dan aku segera menyusulnya. “Warga sipil hanya diperbolehkan mempelajari sihir dasar. Sihir yang dapat digunakan untuk melukai atau membunuh seseorang diawasi dengan sangat ketat.” “Itu sangat serius sepertinya.” “Memang.” “Kekaisaran membentuk unit khusus untuk menangani penggunaan sihir ilegal di seluruh negeri, dan aku salah satu anggotanya,” katanya sambil berjalan. “Singkatnya, kami memastikan sihir digunakan dengan benar agar tak terjadi hal-hal mengerikan ke depannya.” “Begitu...” Jadi dia pegawai negeri, ya? Kami berjalan menyusuri jalanan kota yang ramai, kali ini jauh lebih ramai dibanding tadi. Kami menyeberangi jalanan padat yang dipenuhi griffon yang menarik kereta dengan berbagai model yang unik. Ada banyak sekali model dan ukuran. Aku melihat yang kecil seukuran mobil mini, juga melihat yang besar seukuran bus kecil yang terlihat membawa banyak penumpang di belakangnya. Aku memperhatikan semuanya dengan penuh rasa kagum, hingga kusadari aku hampir tertinggal jauh di belakang Aster karena terlalu sibuk mengagumi para griffon. Aster berjalan dengan lihainya di antara kerumunan orang yang berlalu lalang—ya, dia kan penduduk sini, pastinya sudah terbiasa dengan tempat ini. Kami menyeberang jalan dan berjalan tak jauh dari situ, sekali lagi melewati kerumunan pedagang yang mendirikan kios-kiosnya di pinggir jalan. Tapi kali ini sepertinya agak berbeda karena aku tak menjumpai pedagang yang menjual bahan makanan atau hal-hal dapur lain. Yang kulihat tak jauh-jauh dari kerajinan keramik, lukisan, dan hal-hal berbau seni. “Apakah ini pasar seni?” tanyaku. “Aku hanya melihat kerajinan di sini.” “Ya, kurang lebih begitu. Ini disebut pasar seni tahunan. Pantas saja tadi ramai sekali, aku lupa soal itu.” “Pasar seni tahunan?” “Intinya banyak seniman dari penjuru negeri berkumpul di sini memamerkan seni dan kerajinannya. Yah, itu karena Wali Kota Ariana menyukai seni, jadi ya begitu...” Kami menembus kerumunan manusia yang berlalu lalang di sana. Banyak sekali benda-benda ajaib yang menarik di sini, seperti kios tadi yang menjual aneka cangkir porselen indah yang menyala ketika diseduh teh, piring yang memanas otomatis, dan teko teh yang bisa menyeduh teh sendiri. Kain-kain berkilau yang sangat indah, miniatur boneka prajurit yang hidup layaknya memiliki nyawa—semua itu tak pernah bisa membuatku bosan. Aku bahkan sempat berpikir untuk berlari menghampiri mereka dan bertanya bagaimana cara membuatnya—ini keren. Aku juga berpikir untuk membeli beberapa sebagai suvenir, Alice pasti akan menyukainya. “Kau tertarik?” tanya Aster sambil menengok ke arahku. “Kita bisa melihat-lihat sebentar.” “Benarkah?” kataku sambil berbinar. Aku lupa diri sampai-sampai berlari ke sana kemari melihat berbagai benda-benda ajaib di sana. Aster hanya mengamatiku dengan senyum tipisnya, seperti sedang menjaga putri kecilnya yang pertama kali ke mal. Tapi percayalah, aku tak bisa menahan rasa penasaranku melihat semua ini—ini seperti surga bagiku. Aku tak ingat bahwa aku masuk sangat dalam ke pameran. Meski Aster masih di sampingku, mungkin kalau lengah sedikit aku bisa hilang di sini. Ketika kami melihat-lihat pameran lebih dalam, pandanganku tertuju pada kios kecil di ujung. Meski terlihat kecil, kios itu memajang lukisan yang tampak indah di mataku. Aku melihat-lihat gambar dan bermacam-macam lukisan terpajang di depan, ketika pemiliknya menyapaku. “Kau menyukainya?” tanyanya padaku sambil mengisap pipa. Pria tua yang tampak bungkuk, rambut dan jenggotnya memutih, berdiri di depanku sambil menghembuskan asap dari mulutnya. Jujur, aku tak terlalu menyukai bau rokok—pokoknya bau-bau menyengat. Tapi itu seperti angin lalu ketika aku teralihkan oleh lukisan yang tampak menakjubkan di depanku. “Lukisan ini sangat indah.” kataku. Pria tua itu hanya menghembuskan asap dari mulutnya dan mengetuk-ngetuk meja di samping. “Hoho, kau sepertinya sangat tertarik pada lukisan,” katanya sambil mengetuk-ngetukkan pipanya. “Tapi kau belum melihat bagian yang paling menarik.” Telingaku seperti mendengar sesuatu yang menarik. Pikiranku memproses perkataannya—apa ada bagian bagus lainnya? Aku takut akan menggila di tempat jika aku melihatnya. Tapi itu semakin membuat diriku penasaran. “Bagian bagus lainnya?” kataku sambil berbinar. Pria tua itu mengangguk. Ia mendekati lukisan merpati putih di depanku, dan dengan satu ketukan ringan, sesuatu yang menakjubkan terjadi. Lukisan itu tiba-tiba berputar—aku kira gambarnya luntur. Tapi itu belum selesai, lukisan burung itu bergerak dan burung itu keluar dari kanvas. Burung-burung keluar dari kanvas seakan memiliki nyawa, tampak hidup dan memang seperti hewan sungguhan. Aku tak bisa menahan diriku untuk menyentuhnya ketika burung-burung itu terbang berputar-putar di sekeliling kanvas. Tapi ketika disentuh, burung-burung itu pecah dan berubah menjadi kumpulan cat, lalu kembali ke dalam kanvas. Aku tak terlalu kecewa dengan itu; pertunjukan tadi sudah membuatku seperti benar-benar memegang gambar di dalam lukisan. Pria tua itu mengelus-elus jenggot tipisnya dan berdehem, seakan ingin memberi tahu sesuatu padaku—kira-kira seperti, baiklah, pertunjukan habis, sekarang bayar. Ini yang aku pikirkan—sesuatu yang sudah pasti diinginkan penjual tak lain dan tak bukan adalah uang. “Baiklah, bagaimana jika aku tawarkan lukisan ini?” katanya. “Kuberikan harga diskon untuk pelanggan pertama.” Lihat, intuisi seorang wanita tak pernah salah. Aku menggaruk pipiku yang tidak gatal. Ya, bagaimana—aku tak mungkin membeli lukisan itu. Selain tak punya uang dunia ini, lukisannya mau ditaruh di mana? Lukisannya memang indah, aku mengakuinya. “Eh... maaf, aku tak berniat membelinya.” Dan yap, pria tua itu mendengus. Sepertinya kesal padaku, tapi mau bagaimana lagi. “Cih... Kalau begitu pergilah.” Dia mengusirku. Yah, cukup mengecewakan. Padahal aku sebenarnya sangat tertarik, tapi mau bagaimana lagi—aku mau membelinya pakai apa? Aku bahkan tak tahu mata uang di sini. Hingga Aster menyerobot dan memanggil pria tua itu. “Tuan... berapa harga lukisan kecil ini?” sambil menunjuk lukisan kecil yang seukuran bingkai foto. Pria tua itu berbalik dan segera mendatanginya dengan wajah yang berseri-seri, berbeda dengan yang tadi. “Itu murah... hanya 4 koin perak saja.” “Baiklah, aku beli.” Sambil melemparkan koin perak ke arah pria tua itu. Koin perak?. Jika tadi aku memberikannya uang kertas, apa yang akan terjadi? Ya... sepertinya ia akan mengumpat dan memukuliku. Dari yang ia sebutkan tadi, sepertinya mata uang di dunia ini masih berupa emas, perak, dan perunggu. Cukup sederhana, mirip seperti zaman besi. Aster mengambil lukisan itu dan memberikannya padaku. “Ambillah.” “Kau tak perlu repot-repot sebenarnya,” kataku sambil bergidik. “Aku juga hanya melihat-lihat...” Dia hanya diam dan memasang senyum tipis khasnya, sebelum berkata, “Ambillah, anggap ini permintaan maafku kemarin.” Kami beranjak pergi ketika aku menerima lukisan kecil itu—sebuah lukisan burung warna-warni yang sedang bertengger di dahan pohon saat musim semi. Aku tak tahu dia ternyata baik. Ya, walaupun kelihatannya seperti menyogokku dengan lukisan agar memaafkannya, tapi... ternyata dia lembut juga. “Ini sangat indah,” kataku. “Sayang sekali jika sihir seindah ini disalahgunakan.” Aster tak menjawabnya. Dia fokus menatap jalanan di depan, tetapi sorot matanya berubah menjadi agak dingin. Aku tak tahu kenapa, tapi entahlah—kadang-kadang dia terlihat seperti orang yang berbeda.Sebuah Novel Fantasi oleh Coffeeman Never Sleep Halo semua! Aku Coffeeman, seorang penulis pemula yang baru saja merampungkan novel pertamaku. Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah mampir ke sini. Karena ini adalah novel pertamaku, tentu masih banyak kekurangan di sana-sini. Oleh karena itu, aku sangat mengharapkan saran dan kritik dari kalian yang membacanya. Jangan sungkan untuk menyampaikan pendapat, ya. Terima kasih! Mengenal Dunia: Dalam novel ini, Solita - sang tokoh utama - secara tidak sengaja terlempar ke dunia lain yang penuh dengan sihir: sebuah benua bernama Pandora. Di Pandora, semua orang mampu menggunakan sihir, dan sihir adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di benua ini terdapat beberapa kerajaan yang tersebar luas. Namun, fokus cerita hanya akan berada di Kekaisaran Kahalin - sebuah kekaisaran megah yang terletak di ujung Utara benua Pandora. Definisi Penyihir : Meskipun semua orang di Pandor
10 November, 2020 Aku solita, baru saja memecahkan rekor baru sebagai budak korporat dengan keluar kantor pukul dua dini hari. Aku keluar dari gedung kantor sambil menyeret langkah lelah. Lampu-lampu kota masih menyala terang, tetapi jalanan mulai sepi seperti kota mati. Aku membuka ponselku, notifikasi itu langsung muncul memenuhi layar. Berbagai macam surat cinta dari tukang sampah kompleks, listrik, air, dan... dari rumah sakit. Ya, beginilah kehidupan seorang tulang punggung keluarga. Kau berharap aku mendapatkan surat cinta?. Aku terkekeh pelan sambil memijat pelipis ku, berhenti sejenak untuk sekadar melupakan layar komputer dan berbagai permasalahan di dalamnya. Bicara dengan diri sendiri? Ini belum termasuk gila... hanya sedikit saja. Adikku sakit keras dan banyak menghabiskan waktu di rumah sakit, sementara orang tuaku sudah lama meninggal sejak aku kuliah. Dengan begitu, aku tak punya pilihan selain mengurus adikku. Lucunya, aku bahkan tak yakin bisa mengurus dir
Sungguh asyik sekali terombang-ambing di udara dengan wajah yang sakit ini, saking asyiknya aku sampai ingin muntah. Pria itu membawaku melesat melewati reruntuhan dengan kecepatan yang membuat isi perutku seperti tertinggal di belakang. Kami terombang-ambing beberapa saat hingga jatuh dengan kecepatan tinggi, tapi dapat mendarat dengan aman di tanah. Sekarang aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Terombang-ambing di udara sedikit membuat kepalaku pusing. Sepertinya ada sesuatu yang masuk ke mulutku saat aku terbang tadi. Dia terlihat sangat tenang. Seorang pria yang cukup tampan, dia masih muda. Kira-kira seumurku, tapi dia cukup aneh-rambutnya berwarna putih. Masih muda, kenapa rambutnya putih? Dan pupil matanya berwarna biru, mirip orang Eropa. Dilihat dari segala sisi, dia cukup tampan bagiku. Hanya... kenapa rambutnya itu seperti semak belukar. Dia benar-benar seorang penyihir! Aku bertanya-tanya apakah aku sekarang ada di dunia lain. Aku ingin sekali bertanya padanya, se
11 November 434, kekaisaran KahalinAku bermimpi melihat diriku yang masih remaja bersama adikku yang aku gendong ke mana pun aku pergi, tentang kami yang menyukai hal yang sama, melukis.Menggambar, mencorat-coret apa pun yang kami temui, bahkan dinding rumah orang pun tak luput. Kadang-kadang orang-orang akan datang mengomel pada ibuku, dan ibu akan menyita peralatan lukis kami serta mengurung kami di kamar seharian.Namun itu tak menghentikan aku dan adikku. Kami berbagi pensil kecil yang dipotong dua untuk situasi darurat seperti itu, dan kami akan melanjutkan aksi kami selanjutnya sambil tertawa pelan.Aku merindukan saat-saat itu, di mana kami dapat menggambar, melukis, menciptakan apa pun yang kami mau tanpa terkekang, seakan kami bisa membuat dunia kami sendiri. Kami berdua pun berjanji akan menjadi seorang pelukis bersama. Namun semua itu sirna, mimpi itu perlahan menghilang.Setelah ibu meninggal, aku terpaksa mengubur impian itu dalam-dalam. Aku mulai melupakannya dan beral
Aku tak menjawabnya dan hanya diam mengikuti langkahnya dari belakang. Sejujurnya, aku tidak tahu kenapa semudah itu aku mempercayai orang asing di tempat seperti ini. Namun jika dipikir-pikir lagi, kalau dia memang berniat jahat, mungkin sejak tadi aku sudah mati, dijual, atau dijadikan bahan eksperimen aneh entah apa....tapi tunggu dulu.Bagaimana kalau dia memang sedang memanfaatkanku? Pikiran itu langsung membuat bulu kudukku meremang.Aku terus mengikutinya di belakang. Cahaya lentera yang ia bawa bergoyang pelan mengikutinya melewati lorong yang remang-remang. Kulihat lagi dirinya - dia berjalan menuju ruangan tempatku tadi bangun. Entah kenapa aku malah gugup dengan situasi ini, dan kenapa dia diam saja, itu membuatku sedikit takut.Penyihir itu masuk lebih dulu, lalu meletakkan lentera di atas meja kecil dekat dinding. Cahaya keemasan langsung menyebar lembut ke seluruh ruangan. Aku berdiri kikuk di ambang pintu. Dia menoleh ke arahku, tatapannya datar."Duduklah.""Ba... b
Bagaimana menurutmu jika sekarang kau sedang duduk di depan orang yang hampir saja membunuhmu beberapa menit yang lalu?Ya, kurang lebih seperti itulah situasiku sekarang.Namanya Aster, kalau tak salah. Dia duduk santai sambil mengamatiku dan menyeringai aneh. Entah kenapa senyum itu membuatku ingin memukul wajahnya.Untungnya roti ini enak sekali - aku serasa makan roti buatan Prancis, meski aku tak pernah makan roti Prancis sih.Tapi semua orang tak akan menolak tampilannya yang menggugah selera. Roti panggang berbentuk sabit yang dipanggang sempurna, dengan taburan gula dan buah di atasnya. Aku bukan ahli roti, tapi aku tahu ini yang terbaik - plus tanpa bahan pengawet kimia.Aku mungkin membencinya, tapi kuberikan keringanan untuk setidaknya tak memukul wajahnya. Roti ini benar-benar enak.Dia masih menyeringai ketika aku meletakkan piring di meja."Gimana?""Lumayan," jawabku ketus."Jadi... Solita," dia berhenti sejenak. "Aku minta maaf sekali lagi mengenai tadi..."Dia mendeka







