Share

15. MAKAN MALAM

Author: QUILLDREN
last update publish date: 2026-07-19 01:26:22

"Mas, kita mau ke mana?" tanyaku lagi.

"Makan malam."

Aku berkedip.

"Makan malam?"

"Iya."

"Tapi nanti di mansion pasti sudah ada makan malam."

"Nggak apa-apa."

Mas Noah tersenyum santai.

"Sesekali makan di luar."

Aku masih tampak ragu.

"Kalau nanti Mas Tian marah gimana?"

Mas Noah terkekeh kecil.

"Mas Tian?"

Aku mengangguk.

"Iya."

"Tenang aja."

Ia kembali melihat jalan.

"Mas Tian hampir nggak pernah makan malam di rumah."

"Jadi..."

Mas Noah melirikku sekilas sambil tersenyum.

"Sekarang kamu ngg
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Diah wahyu nuritasari
lama2 greget sma ini bocah, jatohnya mau mau malu, ngeselin...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   140

    Cahaya matahari pagi perlahan masuk melalui celah tirai kamar. Aku membuka mata dengan kepala yang masih terasa berat. Semalam aku tidur cukup larut setelah berbicara dengan Kak Gavin. Walaupun pikiranku masih dipenuhi banyak hal, suara Kak Gavin berhasil membuatku sedikit lebih tenang. Pintu kamar diketuk pelan. “Masuk.” Seorang pelayan masuk dan menghampiriku. “Selamat pagi, Nona.” “Pagi.” Pelayan itu kemudian membantuku bersiap. Setelah semuanya selesai, ia membantu memindahkanku dari tempat tidur ke kursi roda dengan hati-hati. Pelayan itu memastikan semuanya sudah rapi sebelum kemudian bertanya, “Nona mau sarapan di kamar atau di ruang makan?” “Di ruang makan saja.” “Baik, Nona.” Namun sebelum aku dibawa keluar kamar, handphone yang berada di atas meja tiba-tiba bergetar. Layar menyala. Kak Gavin — Video Call Senyum kecil langsung muncul di wajahku. Aku segera menerima panggilannya. Wajah Kak Gavin muncul di layar. “Pagi, Rania.” “Pagi, Kak.” Tatapannya langs

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   139

    Pintu itu tertutup perlahan. Aku masih menatapnya. Untuk beberapa detik, aku tidak mampu melakukan apa pun selain memandangi pintu yang baru saja dilewati Mas Tian. Rasanya aneh. Beberapa menit yang lalu, aku masih ingin dia pergi. Aku ingin dia berhenti memaksaku untuk terus berada dalam hubungan yang bahkan kami sendiri tahu tidak seharusnya terjadi. Namun sekarang, ketika dia benar-benar pergi... dadaku justru terasa begitu sesak. Aku memeluk tubuhku sendiri. Air mata yang sejak tadi kutahan kembali jatuh. Bukankah ini yang kuinginkan? Mas Tian akhirnya menyerah. Dia tidak lagi memintaku memilih dirinya. Seharusnya aku merasa lega. Namun, kenapa yang kurasakan justru seperti kehilangan? Aku mengusap pipiku dengan telapak tangan. “Bodoh...” bisikku pada diri sendiri. Aku menarik selimut hingga sebatas dada. Aku menatap langit-langit kamar. Pikiranku kembali berputar. Tentang Mas Tian. Tentang pertunangan dengan Kak Giselle. Tentang pengakua

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   138

    Mas Tian berjalan mendekat, langkahnya berdentum pelan di atas lantai berlapis karpet. Tidak ada bentakan atau gurat amarah yang meledak-ledak di wajahnya. Ia justru terlihat sedang menahan mati-matian badai emosi di dalam dadanya. Ia berhenti tepat di samping tempat tidur. Ia menunduk menatapku dengan napas yang memburu. “Kenapa kamu menerima Gavin sebagai kekasihmu?” tanyanya pelan. Suaranya tidak membentak, terdengar begitu halus dan memohon penjelasan baik-baik, namun justru ketenangan itulah yang membuatku merinding. Sorot matanya memancarkan rasa terluka yang begitu dalam. Aku menelan ludah, berusaha mencari suaraku. “K-karena dia sungguh-sungguh mencintaiku.” Mendengar kata itu, mata Mas Tian seketika memerah. Rahangnya mengeras menahan ngilu. Perlahan, ia naik ke atas ranjang. Ia tidak menyentakku, melainkan mengurung tubuhku dengan kedua lengannya, mencondongkan tubuh besarnya hingga wajah kami hanya berjarak beberapa sentimeter. “Apa kamu pik

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   137.

    “Saya setuju.”Dua kata itu meluncur begitu saja dari bibir Mas Tian.Dingin, tegas, tanpa keraguan sedikit pun.Semua percakapan di meja makan seketika terhenti.Bunda tampak terkejut, sebelum senyum lega muncul di wajahnya. Papa ikut terlihat lebih santai, sementara Tuan Carter tertawa puas.“Keputusan yang sangat baik, Tian.”Kak Giselle tersenyum di sampingnya.Aku hanya diam.Entah kenapa, dadaku terasa sesak mendengar jawaban itu.Mas Tian menerima pertunangan dengan Kak Giselle.Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Mas Tian.Dan mungkin aku memang tidak perlu tahu.Aku sudah memiliki Kak Gavin.Aku sudah memilih jalan yang berbeda.Hubunganku dengan Mas Tian adalah sesuatu yang tidak pernah seharusnya terjadi. Hubungan yang hanya diketahui oleh kami berdua dan harus tetap menjadi rahasia.Jadi ketika dia menerima pertunangan itu, seharusnya aku merasa lega.Seharusnya aku bisa benar-benar melepaskan semuanya.Tapi kenyataannya, ada bagian kecil dalam diriku yang justru teras

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   136

    Bunyi benturan itu masih berdenging di udara. Semua percakapan seketika terhenti. Mata semua orang di ruangan VVIP itu tertuju pada Mas Tian. Tangan pria itu masih mencengkeram erat meja, urat-urat di punggung tangannya menonjol menahan emosi. Namun sedetik kemudian, ia menarik napas panjang. Rahangnya yang mengeras perlahan mengendur, meski matanya tetap menyorot tajam. "Maaf," ucap Mas Tian dengan suara parau yang terdengar dipaksakan. "Tangan saya licin." Sebuah alasan yang teramat kaku. Namun Kak Gavin sama sekali tidak terpengaruh oleh letupan emosi itu. Ia duduk dengan tenang, bahunya rileks, sama sekali tidak gentar menghadapi tatapan Mas Tian yang seolah ingin menelannya hidup-hidup. "Sejak kapan?" tanya Mas Tian. Suaranya rendah. Dingin. Mengandung tuntutan yang hanya bisa dirasakan oleh kami yang duduk di sudut meja ini. Kak Gavin menatap balik tanpa berkedip. "Hampir satu minggu, Kak," jawabnya mantap. Hening sejenak. Lalu, suara tawa Tuan Aryasena memecah

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   135

    Mataku tak bisa lepas dari sosok yang berdiri di luar sana. Kak Gavin. Ia berdiri beberapa meter dari pintu ruangan kami.Kemeja kasual yang biasa ia kenakan di kampus kini berganti dengan setelan jas semi-formal berwarna gelap yang dijahit sempurna. Penampilannya benar-benar berbeda. Belum sempat aku memproses kehadirannya, seorang pelayan yang tadi membawa piring kosong mendorong daun pintu VVIP untuk keluar. Pintu itu terbuka lebar. Pada saat yang sama, Tuan Carter yang kebetulan sedang menghadap ke arah luar langsung membelalakkan mata. Ia segera bangkit dari kursinya. “Ah! Pak Aryasena?” serunya dengan senyum terkejut yang langsung berubah hangat.“Sungguh kebetulan yang luar biasa. Sedang makan malam di sini juga, Pak?” Keluarga yang semula hanya melintas di depan ruangan itu pun menghentikan langkah. Tuan Aryasena menoleh ke dalam.Begitu melihat siapa yang memanggilnya, ia tertawa kecil. “Ah, Pak Carter. Benar. Kami baru saja menyelesaikan urusan di sekitar sini dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status