Share

183

Penulis: QUILLDREN
last update Tanggal publikasi: 2026-11-03 16:31:20

Cahaya matahari pagi mulai menyusup melalui celah tirai ruang rawat, menghadirkan kehangatan yang perlahan mengusir dinginnya udara rumah sakit.

Aku mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya yang menerpa wajahku. Rasa mual dan nyeri di kepala memang sudah jauh berkurang dibandingkan semalam, meskipun masih ada sedikit pening yang membuatku enggan bergerak terlalu banyak.

Ketika pandanganku mulai fokus, sosok pertama yang kulihat adalah Kak Gavin. Ia masih duduk
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   183

    Cahaya matahari pagi mulai menyusup melalui celah tirai ruang rawat, menghadirkan kehangatan yang perlahan mengusir dinginnya udara rumah sakit.Aku mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya yang menerpa wajahku. Rasa mual dan nyeri di kepala memang sudah jauh berkurang dibandingkan semalam, meskipun masih ada sedikit pening yang membuatku enggan bergerak terlalu banyak.Ketika pandanganku mulai fokus, sosok pertama yang kulihat adalah Kak Gavin. Ia masih duduk di kursi tepat di samping ranjangku. Wajahnya tampak lelah setelah berjaga sepanjang malam, tetapi senyum lega langsung menghiasi bibirnya saat menyadari aku sudah terbangun.Sementara itu, sofa di sudut ruangan tampak kosong.Papa tidak ada di sana."Selamat pagi, Ran."Suara Kak Gavin terdengar sedikit serak. Ia segera berdiri dan membenarkan posisi selimut yang menutupi tubuhku."Masih pusing?"Aku mengangguk kecil. "Udah lumayan berkurang, Kak.""Syukurlah."Belum sempat kami melanjutkan per

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   182

    Genggaman tangan Mas Tian terasa hangat, perlahan mengusir hawa dingin yang sejak tadi merayap di tengkukku.Ia menundukkan wajah lebih dekat, berusaha mencari jawaban dari balik tatapanku.Sorot matanya yang tajam seolah mampu menembus pertahananku, menangkap ketakutan yang masih tersembunyi di balik kelopak mataku yang setengah terbuka. "Ada yang sakit, Ran?" bisiknya pelan, tetapi terdengar begitu mendesak. Jemarinya yang bebas terangkat, menyeka sebulir air mata yang lolos dari sudut mataku. Alih-alih membalas pertanyaannya, aku hanya bisa menatap matanya dalam-dalam sambil mempererat genggaman pada jemarinya. Melalui sentuhan itu, aku berusaha menyampaikan seluruh ketakutan dan rasa sakit yang tidak mampu kuungkapkan dengan kata-kata. Mas Tian membalas genggamanku tak kalah erat, seolah ingin meyakinkanku bahwa ia tidak akan meninggalkanku. "Rania sayang." Suara Bunda terdengar bergetar penuh kelegaan saat menyadari mataku telah terbuka. "Biar Papa panggilkan perawat," uj

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   181

    Gelap. Kesadaranku perlahan muncul dari kegelapan yang menyelimutiku. Namun, alih-alih merasa lebih baik, kepalaku justru terasa begitu berat. Nyeri berdenyut di pelipis kanan, seolah ada sesuatu yang terus menghantam bagian dalam kepalaku. Aroma antiseptik yang khas segera memenuhi indra penciumanku. Aku tahu sedang berada di rumah sakit, meskipun belum sanggup membuka mata. Kelopak mataku terasa berat. Tubuhku pun seolah kehilangan seluruh tenaga. Bahkan untuk sekadar menggerakkan jemari, aku harus mengerahkan usaha yang luar biasa. Di tengah kesadaran yang masih samar, telingaku mulai menangkap percakapan beberapa orang di dekat ranjang. “Pulanglah sebentar, Vin. Bersihkan dirimu dan ganti pakaian,” ujar seorang wanita dengan suara lembut. Itu ibu Kak Gavin. “Tapi, Bu, aku mau tetap di sini sampai Rania sadar.” Suara Kak Gavin terdengar berat. Ada kecemasan yang begitu jelas di balik ucapannya. “Benar kata ibumu, Nak Gavin,” timpal Bunda. “Di sini masih ada kami yang menj

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   180

    Suasana di dalam mobil milik Giselle terasa mencekam. Giselle mencengkeram kemudi dengan kedua tangan yang mulai berkeringat dingin. Sesekali, matanya melirik ke arah kaca spion tengah, mengawasi Gavin yang duduk di kursi belakang sambil memangku tubuh Rania. Di balik wajahnya yang tampak panik, pikirannya bekerja keras menyusun alasan untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi. “Bisa lebih cepat nggak?!” bentak Gavin. Suara pemuda itu terdengar tajam dan penuh tekanan, jauh berbeda dari sikapnya yang biasanya tenang. Giselle tersentak. “I-iya, Gavin. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin.” Namun, Gavin tidak lagi memedulikannya. Seluruh perhatiannya tertuju pada Rania yang terkulai lemah dalam pelukannya. Darah terus merembes dari luka di pelipis gadis itu, membasahi kemeja biru dongker yang dikenakannya. Dengan tangan gemetar, Gavin menekan luka tersebut menggunakan saputangan untuk membantu menghentikan pendarahan. Wajahnya menegang setiap kali melihat darah yang terus

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   179

    Pusat perbelanjaan di tengah kota siang itu tampak ramai.Begitu membimbingku turun dari motor dan memarkirkan kendaraannya, Kak Gavin langsung menggenggam jemari tanganku, menyelaraskan langkah kakinya yang panjang dengan langkahku."Papa kamu sukanya barang-barang apa, Ran?" tanya Kak Gavin seraya kami berjalan menyusuri koridor mall berlantai marmer yang mengkilap."Jam tangan, dasi, atau punya barang koleksi?""Papa tipe orang yang agak klasik, Kak," jawabku seraya mengingat-ingat selera Papa."Biasanya Papa paling suka kemeja batik tulis elegan atau aksesori yang simpel tapi terkesan bernilai."Kak Gavin membimbingku menuju salah satu boutique leather & luxury accessories ternama di lantai dasar.Kami akhirnya memilih sebuah jam tangan klasik dengan tali kulit buatan tangan berdesain elegan.Saat aku merogoh tas untuk membayar, Kak Gavin lebih dulu mengulurkan kartunya pada kasir, menolak pembayaranku dengan alasan hadiah ini adalah hadiah bersama dari kami berdua untuk Papa.Set

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   178

    Mobil keluarga Carter akhirnya melaju meninggalkan pelataran mansion.Papa dan Bunda mengembuskan napas lega, lalu saling bertukar senyum.Makan malam yang sempat diwarnai ketegangan itu akhirnya berakhir dengan kesepakatan yang mengikat kedua keluarga.Aku berdiri di ambang pintu utama, ikut melambaikan tangan sebagai bentuk kesopanan.Di sampingku, Mas Tian berdiri dengan tubuh kaku.Sejak mengantar Kak Giselle ke mobil, wajahnya tak banyak berubah.Tak ada senyum.Entah apa yang sedang berkecamuk di pikirannya, tetapi aku tak berniat mencari tahu."Rania ke kamar duluan, ya, Pa, Bun. Mau istirahat.""Iya, Sayang. Jangan tidur terlalu malam," pesan Bunda lembut.Aku mengangguk, kemudian melangkah menaiki tangga tanpa menoleh sedikit pun ke arah Mas Tian.Begitu memasuki kamar, aku langsung menutup pintu dan menguncinya.Helaan napas panjang lolos dari bibirku, seolah baru sekarang aku bisa benar-benar melepaskan ketegangan yang sejak tadi kutahan.Malam ini akhirnya terlewati.Aku b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status