Home / Romansa / DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU / 80. RASA PANAS YANG ANEH (WARNING : 🔞)

Share

80. RASA PANAS YANG ANEH (WARNING : 🔞)

Author: QUILLDREN
last update publish date: 2026-08-17 08:51:43

Keringat dingin membasahi pelipis dan leherku.

Aku meringis sambil menggeliat gelisah di atas ranjang, napas memburu tidak beraturan.

Sensasi itu bukan sekadar demam biasa; ada dorongan aneh, berat, dan menggelora yang merayap dari dalam dada, membuat sekujur tubuhku terasa sangat peka dan mendambakan sentuhan.

Aku mencoba duduk, tetapi kepalaku justru berputar hebat.

Tanganku tanpa sadar merayap ke dadaku, meremas payudaraku yang terasa sangat sensitif.

"Ah... kenapa... kenapa j
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   82. COBA INGAT KEMBALI

    "Rania."Aku mengangkat wajah."Coba ingat kembali apa yang kamu lakukan sebelum kejadian semalam."Aku terdiam.Perlahan, aku mencoba mengingat."Aku datang ke pesta ulang tahun Siska."Mas Tian mengangguk."Apa yang terjadi setelah itu?"Aku memejamkan mata.Suasana pesta mulai muncul di dalam ingatanku.Musik yang terdengar cukup keras.Orang-orang yang mengobrol dan tertawa.Lampu-lampu yang menghiasi ruangan.Semuanya masih terasa normal."Aku tidak minum alkohol, Mas."Mas Tian menatapku serius."Yakin?"Aku mengangguk."Iya. Aku sama sekali tidak minum alkohol."Aku kembali mencoba mengingat."Lalu Dimas datang menghampiriku."Nama itu langsung membuatku terdiam."Dia memberiku cokelat.""Cokelat?"Aku mengangguk."Iya. Katanya itu hadiah."Aku menarik napas panjang."Aku menerimanya."Mas Tian tetap diam, membiarkanku melanjutkan."Setelah aku memakannya, awalnya aku masih biasa saja."Aku mengusap pelipisku."Tapi beberapa saat kemudian tubuhku mulai terasa panas."Aku menund

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   81. AIR MATA YANG TERTINGGAL

    Aku terbangun perlahan. Hal pertama yang kurasakan adalah rasa sakit. Tubuhku terasa begitu berat, terutama bagian bawah tubuhku yang masih terasa nyeri dan perih. Aku meringis kecil sambil menarik napas panjang. Untuk beberapa detik, aku hanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Aku tidak mengerti kenapa tubuhku terasa seperti ini. Lalu aku menyadari sesuatu. Selimut yang menutupi tubuhku terasa berantakan. Aku menundukkan pandangan, lalu seketika tubuhku membeku. Ada bercak darah samar di seprai putih. Dadaku langsung terasa sesak. Tanganku gemetar ketika menarik selimut lebih erat untuk menutupi tubuhku. Dan tiba-tiba... Potongan-potongan kejadian semalam bermunculan di kepalaku. Aku mengingat kamar ini. Aku mengingat Mas Tian datang ketika aku memanggilnya. Aku mengingat diriku yang begitu panas dan tidak mampu mengendalikan tubuh sendiri. Aku mengingat bagaimana aku menariknya mendekat. Aku mengingat bibirnya. Aku mengingat pelukannya. Aku mengi

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   80. RASA PANAS YANG ANEH (WARNING : 🔞)

    Keringat dingin membasahi pelipis dan leherku. Aku meringis sambil menggeliat gelisah di atas ranjang, napas memburu tidak beraturan. Sensasi itu bukan sekadar demam biasa; ada dorongan aneh, berat, dan menggelora yang merayap dari dalam dada, membuat sekujur tubuhku terasa sangat peka dan mendambakan sentuhan. Aku mencoba duduk, tetapi kepalaku justru berputar hebat. Tanganku tanpa sadar merayap ke dadaku, meremas payudaraku yang terasa sangat sensitif. "Ah... kenapa... kenapa jadi begini..." rintihku, kakiku menggesek-gesekkan paha satu sama lain, mencoba meredakan panas yang menjalar di antara kedua pahaku. Di lantai bawah, suara pintu utama terdengar terbuka. Seseorang baru saja pulang ke mansion. Aku mendengar langkah menaiki tangga menuju lantai atas, namun saat melewati lorong kamar, langkah kaki itu tiba-tiba terhenti. "Rania?" panggilnya dari balik pintu. Itu suara Mas Tian. "Rania, kamu di dalam? Ada apa?" Mendengar suara bariton itu, aku menga

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   79. MALAM YANG TIDAK TENANG

    Aku terus berpegangan pada lengan Nadia ketika kami berjalan keluar dari tempat pesta. Langkahku terasa semakin berat. "Nad..." "Iya?" "Aku pusing banget." Nadia mempererat pegangannya di lenganku. "Sebentar lagi sampai luar." Aku mengangguk pelan. Begitu pintu ruangan terbuka, udara malam langsung menyentuh wajahku. Aku berharap udara segar bisa membuat tubuhku terasa lebih baik. Namun kepalaku masih terasa berat. Aku hanya menghela napas dan berusaha berjalan seperti biasa. Nadia kemudian memesan taksi online untuk kami. Sambil menunggu, aku duduk di kursi dekat pintu masuk. Aku menyandarkan kepala ke dinding. "Kayaknya aku kecapekan," gumamku. Nadia mengangguk kecil. Tidak lama kemudian, taksi yang dipesan Nadia tiba. Nadia membantuku berdiri. "Ayo." Aku bangkit perlahan. Namun ketika berjalan menuju mobil, pandanganku kembali berkunang-kunang. Aku berhenti sebentar. Nadia langsung memegang bahuku. Aku masuk ke dalam mobil bersama Nadia. Sepanjang perjalana

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   78. PESTA MALAM INI

    Pagi itu, aku terbangun dengan sensasi berat yang menghantam kepalaku. Perlahan, aku membuka mata, membiarkan cahaya matahari pagi menembus celah tirai kamar. Sambil memegangi pelipis yang berdenyut, aku mengerang pelan. "Aduh..." Aku mencoba merangkai kepingan ingatan semalam. Yang tersisa di kepalaku hanya bayangan saat aku duduk di balkon bersama Mas Tian, rasa penasaran pada minumannya, lalu keputusan nekatku untuk ikut mencicipinya. Setelah itu... Gelap total. Aku bahkan tidak ingat kapan atau bagaimana bisa sampai kembali ke kamar tidurku. Aku menghela napas panjang. Aku memang belum pernah minum alkohol sebelumnya. Mungkin itu alasan kepalaku terasa seberat ini. Setelah rasa pusing sedikit mereda, aku melangkah turun ke lantai bawah. Suasana mansion terasa cukup tenang. Papa dan Bunda sedang duduk santai, sementara Mas Tian tampaknya sudah berangkat lebih awal ke kantor. Entah kenapa, ada sedikit rasa aneh karena pagi ini mansion terasa lebih sepi.

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   77. MINUM TERLALU BANYAK

    Aku masih memperhatikan gelas di tangan Mas Tian. Cairan berwarna kecokelatan itu membuatku penasaran. "Mas." "Hm?" "Itu rasanya seperti apa?" Mas Tian menoleh kepadaku. "Kamu belum pernah minum?" Aku menggeleng. "Belum." Ia kemudian mengambil gelas lain dan menuangkan sedikit minuman ke dalamnya. "Kalau mau coba, sedikit saja." Aku menerima gelas itu. Aku menatap isinya beberapa detik sebelum perlahan mengangkatnya ke bibir. Seteguk kecil masuk ke mulutku. Aku langsung mengernyit. "Pahit." Mas Tian tertawa kecil. Aku menatap gelas di tanganku. Rasanya memang pahit. Namun ada rasa hangat yang tertinggal di tenggorokan. Aku kembali mencicipinya. Kali ini sedikit lebih banyak. Mas Tian hanya menggeleng kecil. "Pelan-pelan." Aku mengangguk. Aku kembali menatap langit malam. Mansion yang beberapa jam lalu begitu ramai kini mulai terasa sunyi. Lampu-lampu di taman masih menyala, membuat suasana di balkon terasa tenang. Hari ini benar-b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status