Home / Romansa / DENDAM LUKA LAMA / 5. Mencarimu

Share

5. Mencarimu

last update Huling Na-update: 2025-07-14 23:01:02

DENDAM

- Mancarimu

"Jujur saja sama aku. Aku bisa nyimpen rahasiamu. Lagian nggak ada yang salah. Kamu dan dia sudah sah sebagai suami istri."

Vania menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangis. Andai di sekitarnya tidak ada CCTV, dia akan meledakkan tangisnya saat itu juga.

"Ya," jawab Vania lirih. Nyaris tak terdengar. Kemudian ia menarik napas panjang.

"Tapi kamu nggak hamil kan, Van?"

"Nggak. Aku sempat khawatir juga sebenarnya. Setelah kejadian pertama kali, aku langsung minum pil kontrasepsi. A-aku sendiri masih ingin meraih gelar dokterku, Tar. Aku nggak ingin gagal dan harus mengulang. Tapi aku sempat takut juga, nggak ada kontrasepsi yang bisa menjamin 100%. Berkali-kali aku cek, hasilnya negatif semua."

"Syukurlah. Bebanmu nggak semakin berat. Tapi beneran kamu masih ingin mencarinya?"

"Iya."

"Ke mana?"

"Ke mana saja. Sampai dia ketemu."

"Kamu memang harus bertemu dia untuk menyelesaikan statusmu, Van."

Keduanya berbincang sampai beberapa saat kemudian. Setelah itu Vania kembali masuk ke IGD karena hawa di luar semakin dingin. Tara juga sudah mengantuk.

Ada kesempatan Vania untuk memejam sejenak, tapi tidak bisa. Insomnia begitu mengganggunya akhir-akhir ini. Semua kenangan tentang Sagara bermain di benak. Terutama tentang satu hari yang mungkin akan sulit sekali untuk dilupakannya. Sesuatu yang begitu manis dan indah itu, kini tinggal kepahitan yang teramat sangat.

Vania kembali membuka galeri ponselnya. Siapa tahu masih ada gambar yang tersisa. Ternyata tetap tidak ada. Dia baru sadar kalau semuanya sudah dihapus. "Kenapa kamu begitu kejam? Apa salahku, Mas?" Dada Vania seperti diremas-remas.

🖤LS🖤

Pagi menjelang. Matahari mulai menerangi halaman Rumah Sakit Harapan Sentosa. Sudah pergantian shift, Vania berjalan pulang melewati koridor yang masih sunyi. Sepatunya berderap lelah. Di ujung lorong, suara langkah lain menyusul.

"Vania," panggil Raka. Dengan langkah lebar, pria itu mengejar Vania. Senyum terbit di bibir dokter muda yang menenteng jasnya. "Kamu dijemput?"

"Enggak, Dok. Papa dan Mama saya ada acara ke Surabaya pagi ini. Nanti saya naik taksi atau ojek saja."

Setelah kegagalan pernikahannya, Vania pergi dan pulang dari rumah sakit dijemput oleh papanya atau sopir mereka.

"Ku antar."

"Terima kasih. Rumah kita arahnya berbeda. Saya nanti ngrepoti dokter Raka."

"Tidak juga."

"Tidak usah, Dok. Terima kasih banyak. Saya masih mampir minimarket juga nanti." Vania mencari alasan. Sudah cukup orang-orang menggunjingnya tentang kegagalan kemarin. Dia tidak ingin menambah lagi gosip baru kalau pulang di antar oleh Raka.

"Oke. Kamu sudah pesan taksi?"

"Belum. Di depan biasanya ada ojek. Saya bisa naik itu saja."

"Kalau gitu hati-hati, ya."

Vania tersenyum sambil mengangguk. Mereka sudah sampai parkiran. Dua orang teman koas Vania menghampiri dan menyapa Raka. Dokter laki-laki itu akhirnya pamit dan melangkah ke arah mobilnya.

"Cie, semalaman bareng dokter Raka, ya?" goda salah seorang dari temannya.

"Kami banyak pasien tadi malam," jawab Vania.

"Dia masih single kok, Van. Ganteng pula itu."

"Ada-ada saja kamu, Ci," sergah Vania sambil memandang temannya yang bernama Cici. Sedangkan satu rekan disebelahnya terlihat tidak peduli. Bisa dikatakan tidak suka. Sebab sejak koas di rumah sakit itu, dokter Raka memang menarik perhatiannya.

"Aku pulang dulu, ya. Selamat bekerja untuk kalian." Vania melangkah pergi. Dia keluar gapura dan menghampiri lelaki setengah baya yang menunggu penumpang.

"Pulang ke mana, Dok?"

"Antar saya ke resort, Pak."

"Wah, tapi jauh, Dok. Nggak apa-apa to naik motor?"

"Nggak apa-apa."

"Baiklah. Ini helm-nya."

Motor bergerak meninggalkan rumah sakit. Melaju ke arah resort yang ada di pinggiran kota. Resort yang sudah selesai pembangunannya dan tinggal peresmian saja. Sebenarnya Vania pesimis mendapatkan kabar Sagara di sana. Sebab sudah berulangkali dia atau orang suruhan papanya datang ke sana untuk mencari suaminya. Namun tak mendapatkan keterangan apapun.

Setelah turun dari motor, Vania meminta bapak ojek untuk menunggu. Baru ia melangkah mendekati pos satpam. Seorang lelaki yang berjaga di sana menyambutnya. Sepertinya dia tidak mengenali Vania, karena gadis itu juga mengenakan masker. "Mau cari siapa, Mbak?"

"Pak, bisakah saya bertemu manager proyek di sini."

"Pak Adit maksud, Mbak?"

"Iya."

Adit adalah manager yang menggantikan Sagara setelah pria itu pergi.

"Tapi beliau sudah jarang ke sini sekarang."

"Berapa hari sekali biasanya beliau datang, Pak?"

"Nggak tentu, Mbak."

Vania diam sambil memperhatikan bangunan megah di dalam sana. Tempat ini termasuk penyumbang kenangan pahit baginya. Lalu Vania kembali memandang Pak Satpam. "Maaf, Pak. Bisakah saya minta nomer teleponnya Pak Adit?"

"Maaf, saya nggak punya, Mbak," jawab lelaki berseragam biru itu. Bukan tidak punya, tapi tidak berani memberikan pada Vanya.

"Baiklah, Pak. Terima kasih." Vania menangkupkan tangan kemudian melangkah pergi. Dia tidak menyadari ada seseorang yang memperhatikan dari jendela kaca kantor di lantai tiga.

Vania pulang dengan hampa. Baru sekali ini dia bertemu dengan lelaki yang begitu baik tapi juga kejam dalam waktu yang bersamaan.

Sesampainya di rumah, Vania mandi dan ganti pakaian. Ada satu tempat yang ingin di datanginya. Tidak peduli mata mengantuk, tubuh lelah, ia tetap ingin pergi. Karena ini kesempatan, mumpung kedua orang tuanya sedang ke Surabaya.

"Mbak Mar, ada kerjaan yang harus saya selesaikan dengan teman koas. Nanti kalau Papa atau Mama telepon, bilang begitu, ya." Vania berpesan pada ART-nya.

"Iya, Mbak. Tapi Mbak Vania mau naik apa? Bapak melarang Mbak nyetir mobil."

"Saya naik taksi."

"Oh iya. Hati-hati, Mbak."

Vania mengangguk lantas melangkah pergi. Duduk di gazebo depan menunggu taksi datang. Jika ada kesempatan, dia akan terus mencari Sagara sampai ketemu. Walaupun sampai sekarang ini, orang-orang suruhan papanya juga masih terus mencarinya. Namun lelaki ini seperti hilang ditelan bumi.

Ketika tengah melamun, ada dua orang laki-laki berdiri di luar pagar dan memanggilnya. Vania menghampiri.

"Selamat pagi, Mbak," sapa mereka.

"Pagi juga. Mas berdua mencari siapa?" tanya Vania berbicara dari celah pintu pagar.

"Kami dari Trust Media. Ingin bertemu Mbak Vania. Untuk sedikit wawancara kalau bersedia. Mengenai berita yang sempat viral di media sosial beberapa hari kemarin. Mbak ini, Mbak Vania, kan?" Salah satu dari mereka bicara sangat ramah.

"Maaf, Mas. Masalah saya bukan untuk jadi bahan berita. Viral juga bukan keinginan saya. Ini hal yang menyedihkan bagi saya."

"Maaf, maaf banget. Bukan bermaksud memanfaatkan keadaan. Tapi biar menjadi inspirasi bagi orang-orang yang merasa putus asa karena mengalami nasib seperti Mbak Vania." Wartawan di luar tetap bersikap manis meski sudah ditolak.

"Semoga nggak akan ada lagi perempuan yang dipermalukan seperti saya, Mas. Maaf, saya nggak bisa ngasih informasi apapun." Selesai bicara, Vania menjauh.

Next ....

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (23)
goodnovel comment avatar
Sofiyah Prilestari
kelanjutannya mana mba
goodnovel comment avatar
Helmy Rafisqy Pambudi
ee alah bisa2nya ya orng dah sakit hati malah mu di viralkan LG .bener2 wartawan km ya ..Sagara knp km jahat banget ya smapi bikin perempuan yg gak salah SM km ,km bikin kyk gitu
goodnovel comment avatar
Yanyan
siapakah laki" yg ngintip di jendela lantai 3 ..pengen tak uwel" si Sagara
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • DENDAM LUKA LAMA   133. Jangan Diulangi Lagi 3

    "Banyak pasien, Mas.""Sampai tidak sempat membalas pesan meski singkat saja?" Wajah Erlangga masih menunjukkan kegelisahan.Keduanya saling pandang. Vania kemudian menceritakan kalau dokter Fatimah sudah tahu tentang kehamilannya."Mas memang sudah ngasih tahu Mama tadi malam. Dan Mama ingin menemuimu sebentar lagi di kosan."Dada Vania berdebar-debar mendengarnya. "Jangan khawatir, Mama bahagia mendengar kamu hamil.""Mbak Alina bagaimana, Mas?""Mas belum ngasih tahu. Malam ini Mas ngajak ngobrol Mbak Alina. Apa papamu menelepon lagi?"Vania mengangguk."Beliau ngomong apa?"Setelah menghela napas panjang, Vania menceritakan apa yang mereka bicarakan. Vania sebenarnya ingin menutupi, tapi rasanya tidak mungkin. Erlangga harus tahu kalau papanya mengkhawatirkan tentang balas dendam. "Kamu nggak ada kepikiran hal itu kan, Mas?""Ya Allah, Van. Mana mungkin Mas akan mencelakaimu dan anak kita. Kamu tahu betapa bahagianya Mas saat kamu hamil. Mas melakukannya dengan sengaja, biar kamu

  • DENDAM LUKA LAMA   132. Jangan Diulangi Lagi 2

    "Bagaimana sata bisa menerima kalau adik saya sendiri menikahi anak dari lelaki yang sudah menghancurkan hidup saya?"Dokter Fatimah menghela napas pelan. "Saya tidak mengatakan itu mudah. Saya tahu bagaimana sakitnya hati Mbak Alina. Namun harus ingat, Vania bukan ayahnya. Ia adalah individu yang berbeda. Jika terus menyamakan, Mbak Alina hanya akan menutup jalan hatimu sendiri. Sedangkan selama ini pun Mbak menyayangi Vania, kan? Saya masih ingat saat Mbak Alina bilang, nyaman dan cocok dengan dokter Vania. Bahkan berniat hendak mengenalkannya pada Mas Erlangga. Iya, kan?"Alina mengangguk."Proses berdamai itu bertahap. Mulailah dengan langkah kecil. Bagaimanapun juga mereka sudah menikah."Alina menarik napas panjang ingat percakapan itu. Yang membuka sedikit ruang lega di dadanya. Ia tahu perjalanan ini tidak mudah, tapi ia harus menerimanya. Sang mama pun bisa menerima Vania.Perlahan Alina kembali bangun. Ia keluar kamar dan mengetuk pelan pintu kamar mamanya. Lalu mendorongnya

  • DENDAM LUKA LAMA   131. Jangan Diulangi Lagi 1

    DENDAM- Jangan Diulangi Lagi"Vania hamil?" tanya Bu Ambar dengan tatapan kaget sekaligus berbinar. "Ya, Ma.""Masya Allah. Alhamdulillah. Sudah berapa minggu?""Belum tahu. Belum periksa soalnya.""Segera suruh periksa. Di klinik kan ada dokter kandungan, Er. Tapi, bagaimana dengan internshipnya Vania? Semoga tidak terkendala. Dokter Fatimah sudah tahu atau belum?" panjang sekali pertanyaan Bu Ambar karena bahagianya.Erlangga menggeleng. Dia cerita kalau Vania tahu dirinya hamil juga baru tadi pagi. Bu Ambar terdiam sejenak. Wajah bahagia tadi sekarang berubah khawatir. "Er, hamil muda itu nggak mudah. Ada mual, ada lelah, ada mood yang naik turun. Kamu harus sabar. Terlebih dengan situasi kalian yang sulit begini. Kamu harus selalu mendampingi juga.""Ya, Ma.""Bagaimana dengan orang tuanya Vania?""Papanya tahu, mamanya yang belum."Bu Ambar menatap serius putranya. "Tanggapan papanya bagaimana?"Erlangga menghela napas panjang. Ia tidak langsung menjawab. Keheningan menyusup se

  • DENDAM LUKA LAMA   130. Tinggalkan Dia 3

    Kalau apa yang direncanakan berjalan seperti seharusnya. Dia tidak akan sebingung ini. Masih bisa menata hati. Memberitahu mamanya dengan pelan-pelan. Kalau soal papanya, terserah saja. Belum lagi ia harus berhadapan dengan rekan-rekannya di klinik. Ingin rasanya memukuli Erlangga kenapa membuatnya hamil, tapi tetap tidak akan mengubah keadaan. Dia juga punya andil hingga janin itu tumbuh di rahimnya. Sekesal apapun, dia menerima kehadiran calon anaknya. Meski hadir di momen yang tidak direncanakan."Kita pulang sekarang, Mas."Erlangga tidak bisa menahan. Vania dengan tergesa merapikan baju yang dipakainya, lalu mengenakan jilbab. Sejenak ia berdiri untuk mengecek ponsel. Benar di situ masih ada pesan dari papanya.Keduanya melangkah keluar dari apartemen. Erlangga mengajak Vania mampir ke supermarket untuk membeli susu khusus ibu hamil. Beberapa snack dan buah. Juga mampir ke rumah makan untuk membelikan makan malamnya Vania. Melihat istrinya terlihat lesu, Erlangga tambah khawatir

  • DENDAM LUKA LAMA   129. Tinggalkan Dia 2

    Pak Setya bangkit dari kursi, mondar-mandir di ruang kerja. Tangannya terus mengusap rambutnya yang masih hitam karena terbalut semir. "Benarkah ini karma? Kenapa harus Erlangga yang datang ke hidup anakku. Bagaimana ini?"Di kepalanya terus dihantui bayangan Erlangga yang bisa kapan saja membuka aib masa lalu. Jika itu terjadi, karier, keluarga, bahkan reputasi yang ia bangun puluhan tahun akan runtuh seketika. Bagaimana dengan pernikahannya? Yang ia pertahankan mati-matian sekian lama. Mereka baru saja merayakan ulang tahun pernikahan peraknya.Ia sangat mencintai Bu Endah. Itulah kenapa pilihan terakhir kembali pada wanita itu dan membiarkan Alina hancur. Istri siri yang selalu menjadi objek pelampiasan syahwatnya disaat dia berjauhan dengan Bu Endah.Wajah Vania juga terbayang. Putrinya yang cantik, yang ia cintai, kini jatuh ke pelukan 'musuh' istilahnya. Dulu ia yang melarang Erlangga menyentuh Vania sebelum menikah resmi secara negara. Namun sekarang justru putrinya sudah hami

  • DENDAM LUKA LAMA   128. Tinggalkan Dia 1

    DENDAM- Tinggalkan Dia"Apa kamu bilang?" suara Pak Setya meninggi. Tentunya dia kaget dengan pengakuan Erlangga."Vania hamil anak saya," jawab Erlangga begitu jelas. "Berani-beraninya kamu sentuh Vania. Aku nggak akan membiarkan anakku kamu hancurkan? Vania nggak tahu apa-apa. Jangan lampiaskan dendammu padanya. Jangan sakiti dia." Terdengar suara Pak Setya meninggi karena panik.Nada marah itu membuat Erlangga justru semakin tenang. Ia merebahkan tubuh di sofa dekat jendela kaca, memandangi langit siang dengan senyum samar. "Saya bukan lelaki sebrengsek yang Anda kira. Saya tidak sejahat itu. Saya tidak seperti orang yang sudah menghancurkan hidup kakak saya tujuh belas tahun yang lalu," sindirnya.Hening, tapi menyimpan amarah. Erlangga bisa mendengar suara napas kasar papa mertuanya. Jika sebagai adik dari Alina, tindakannya ini benar. Dia sedang menghajar orang yang sudah menghancurkan masa depan kakaknya. Namun jika dilihat dari segi menantu, Erlangga salah. Dia sangat tidak

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status