LOGIN
“Tumben?”
Wanita cantik tampak merapikan gaun sutera yang dikenakannya seraya menenteng tas kain berisi kotak bekal di depan pintu ruang pimpinan. Pandangannya tak lepas dari meja jati di sisi kiri yang kosong tak bertuan. Markas besar sekretaris direktur itu terlihat rapi. “Biasanya Erika sudah menyambutku dengan segala cerita tentang Mas Arka. Ke mana dia?” Sosok feminin bernama panjang Kalla Serena Darmawan itu mengernyit lantas mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ada rasa hampa kala keadaan tak seperti biasa. Sejak menikah dan mengabdikan hidup sebagai seorang istri, dia jadi minim interaksi. Salah satu teman yang menjadi tempat diskusi tentang sang suami adalah Erika Dewi. “Apa dia sakit?” Erika bukanlah orang lain. Teman SMA seorang Arkana Satriya Giawan itu belum ada setahun masuk ke perusahaan dan menempati posisi sekretaris pimpinan. Berbekal hubungan dekat yang sudah seperti kerabat membuat wanita lajang tersebut bisa melenggang tanpa hambatan ke perusahaan real estat dan developer cukup ternama di ibu kota itu. “Sudahlah. Sebaiknya aku masuk ke dalam. Beri kejutan untuk Mas Arka.” Bibir Kalla melengkung manis. Diempasnya segala tanya yang tak menemukan jawaban. Tatapan terkunci pada tas bekal dengan aroma semerbak menyeruak. Ayam kecap andalan tersimpan rapi di dalamnya. “Mudah-mudahan Mas Arka suka masakanku kali ini.” Penuh perjuangan untuk Kalla yang seorang putri manja anak pejabat pada eranya itu menjelma jadi ibu rumah tangga. Mengubah kelakuan dan kebiasaan 180 derajat demi seorang pria yang menjadi pahlawan di dalam hidupnya. Bagaimana tidak? Arka adalah salah satu alasannya berbenah diri dan menyelesaikan kuliah yang terancam putus di tengah jalan. “Ah, sebaiknya aku langsung masuk saja.” Punggung tangan yang siap mengetuk tampak menggantung sebelum menyentuh pintu. Perlahan turun lalu berlabuh pada knop stainles. Dibukanya tanpa menimbulkan suara, Kalla menahan napas. Senyum wanita dengan tinggi 160 senti itu kian lebar. Tak terlihat rupa Arka, tetapi suara bariton terdengar dari balik kursi pimpinan yang membelakangi pintu. Suaminya yang tampan sepertinya sedang menghubungi seseorang. “Ya, aku usahakan pulang kerja mampir ke tempatmu. Sudah minum obat?” Pertanyaan penuh perhatian itu tertangkap oleh Kalla. Entah kenapa, perasaannya mendadak tak enak. Melangkah masuk tanpa suara, dia menutup pintu dengan pelan. Jarak terpangkas, dia sudah berdiri di balik punggung sang suami yang belum menyadari keberadaannya. Berharap bisa menguping sedikit obrolan laki-laki tampan tersebut. “Ya, aku pasti ke sana. Kamu ke dokter sekarang. Jangan menungguku datang. Aku masih ada rapat habis makan siang.” Kalla tegang. Perasaannya bergelombang. Ada ombak pasang yang sedang menghantam karang di dalam hatinya. Mas Arka sedang bicara dengan siapa? Kenapa terdengar penuh perhatian? Tidak mungkin Mama, ‘kan? “Jangan begini. Aku benar-benar tidak bisa membatalkan rapat. Aku kirim sopir, jangan pergi dengan taksi.” Di titik ini, pikiran positif Kalla terkikis habis. Dia tak mampu berbaik sangka. Nada bicara suaminya berbeda dari biasa. Ada perhatian dan kekhawatiran tersirat dalam tiap kata. “Aku tidak bisa. Benar-benar tidak bisa, Sayang.” Sepasang mata Kalla mencelang. Kata-kata terakhir Arka membuat jantungnya tertumbuk kencang. “Begini saja, setelah rapat aku akan menemuimu, oke?” Suara Arka terdengar membujuk. “Sudah dulu. Aku harus kerja. Istirahat sekarang.” Kalla tegang. Ya Tuhan, ini mimpi, ‘kan? Tubuh Kalla gemetar. Kotak bekal di dalam genggaman ikut bergetar. Telapak tangannya mendadak dingin dan berkeringat, dada pun berdebar tak karuan. Pandangan mulai berkunang, sakit kepala datang. Di tengah penglihatan yang membayang, dia melihat Arka menyimpan ponsel ke dalam laci di belakang meja kerja. Ya, aku yakin ini mimpi. Mas Arka tidak mungkin selingkuh, ‘kan? Namun, keyakinan Kalla hanya sebatas bibir. Dia menyadari sesuatu. Ponsel putih yang baru disembunyikan Arka ke dalam laci bukanlah benda familier di dalam hidupnya. Ya Tuhan, sejak kapan Mas Arka punya ponsel lain? Kenapa aku sampai tidak tahu? Kalla menelan ludah. "Ada begitu banyak rahasia di dalam hidup suamiku. Tapi, Tuhan baru membukanya sekarang."“Suma, aku ada kirim upeti untuk anak-anakmu. Thanks, aku tidak bisa membayangkan andai Kalla mengetahui semuanya. Aku malu.”Malam itu, Arka terlihat duduk di ruang kerjanya. Laptop terbuka menyala di depannya. Namun, perhatiannya tak di sana.“Ya, ini Rara dan Annel sedang rebutan. Next time, tolong beli yang warnanya sama. Kamu tahu sendiri, anak kembar ini seleranya juga sama.” Suma terkekeh. “Berarti, kamu harus waspada. Jangan-jangan mereka rebutan cinta di masa depannya. Bisa terjadi perang saudara.” Arka ikut tergelak. Namun, suaranya lenyap seketika, dia teringat sesuatu. “Kamu katakan apa pada istriku? Kebohongan apa yang kamu jual?”“Tidak ada.” Suma terdengar serius di ujung telepon. “Maaf, aku katakan semuanya. Foto itu diambil saat papamu sedang sekarat beberapa tahun lalu. Kamu butuh uang dan dan terpaksa harus ....”Wajah Arka berubah pucat.“Istrimu berhak tahu, Bro. Dia berhak tahu apa yang sudah kamu korbankan untuknya. Dengan begitu, musuhmu tak akan menggunakan k
“Kalau bukan kamu, siapa lagi yang tahu masalah ini? Hanya kamu, ‘kan? Dan, kamu tahu jelas apa yang terjadi hari itu.”“Demi Tuhan, bukan aku yang melakukannya.”“Dari mana kamu dapat foto ini? Pasti bukan orang sembarangan yang bisa mengambil foto ini, ‘kan?”Erika menggeleng. “Demi Tuhan, bukan aku yang melakukannya. Bagaimana mungkin aku bisa mendapatkan foto itu? Aku tahu semua yang kamu lakukan, tapi belum tentu aku yang mengirimnya pada istrimu. Aku tidak tahu apa-apa, Ka.”“Jangan bohong!” Arka menggertak.“Selama ini hanya kamu yang tahu masalah ini. Tidak ada orang lain.”“Aku tidak tahu apa-apa. Selama ini aku pulang kampung menemui orang tuaku. Mana ada waktu mengurusi masalahmu dan Kalla.”“Kalau bukan kamu, lalu siapa?” Tidak ada orang lain yang tahu masalahku ini.”Erika diam.“Hanya kamu satu-satunya, Eri.”“Kalau memang kamu minta bertemu untuk ini, aku rasa ... tidak ada yang harus dibahas lagi. Aku tegaskan sekali lagi, aku tidak ada sangku pautnya dengan masalah fo
“Kenapa basah?” Kalla masuk ke dapur dan keheranan melihat lantai yang basah di beberapa titik. Sebuah baskom berisi air es masih tergeletak di dekat bak cuci piring“Oh, itu Pak Arka tadi cuci muka, cuci tangan pakai air es.” Asisten rumah menjelaskan sembari memotong wortel. “Cuci muka pakai air es?” Kalla bingung. Dia bermaksud membuatkan suaminya bubur. “Apa tidak salah?”“Tidak, Bu. Tadi Bapak ke sini. Cuci kaki juga tadi aku lihat.”Di tengah kebekuan, otak Kalla mulai merangkai berbagai keanehan-keanehan yang didapatnya sebelum keluar kamar. Hingga akhirnya sampai pada satu kesimpulan dan membuat dia menggeleng tak percaya.“Kerjaan Mas Arka,” gerutunya. “Pantas saja. Dibilang demam, tapi suhunya normal. Kaki tangan dingin sampai ke muka-mukan. Bagaimana tidak dingin kalau cucinya pakai air es. Ada-ada saja!”Empat puluh lima menit berlalu, Kalla sudah kembali dengan sebuah nampan berisi bubur. Segelas air hangat ikut melengkapi sarapan sederhana Arka yang dibuat oleh istriny
“Kamu mau ke mana?”Arka terpaksa mengurai pelukannya saat Kalla memaksa turun dari ranjang. Tak mau berlama-lama meringkuk dalam dekap.“Aku harus kerja, Mas.” Wanita yang pagi itu terlihat seksi dengan tampilan bangun tidurnya tengah duduk sambil mengikat rambut pirangnya asal. Beberapa helai tampak jatuh di pundaknya yang putih tanpa cela.“Tapi, aku masih demam. Nih, sudah mau menggigil lagi.” Arka beralasan. Ikut duduk, dipeluknya pinggang Kalla lalu merebah di punggung wanita tersebut seolah tak pernah terjadi masalah di antara mereka. Dia tak rela melepas sang istri pergi.“Aku harus kerja, Mas. Aku ....”“Tapi, aku masih sakit, Sayang. Apa kamu tega? Aku baru saja jadi yatim piatu. Hidupku sedang terpuruk-puruknya. Istriku menuntut cerai, mamaku meninggal. Aku sedang di titik terendah hidupku. Apa tidak kasihan? Aku tidak punya alasan untuk tetap bertahan di dunia.”Arka menahan tawa sambil mengeratkan belit di pinggang istrinya.“Mas, apa-apaan sih? Kenapa bicara seperti itu?
“Kamu sakit sampai menggigil begini. Apa tidak sebaiknya ke dokter, Mas?”Kalla masih setia menjaga suaminya. Hingga malam tiba, dia masih bertahan di kediaman sang mertua. Pemilik wajah berkubang resah itu tak sedikit pun melangkah pergi dari sisi Arka. “Mas.”Duduk di samping pria yang sedang bergelung di balik selimut. Meringkuk dengan suara menggigil, tubuh gagah itu bergetar hebat.“Dingin, Sayang.” Arka berbisik pelan. Mata terpejam.“Ya, makanya. Ini sudah dinaikkan suhu AC-nya, Mas.”“Dingin.” Pria dewasa itu terus menggigil.“Lalu, bagaimana?” Kalla bingung. “Kita ke dokter saja. Ini panasnya sudah turun, tapi ....”Kalla kembali menempelkan punggung tangan di dahi dan kulit leher Arka. Dia mengecek suhu tubuh suaminya yang tak lagi sehangat tadi siang dan mulai berkeringat.“Tapi, dingin, Sayang.” Arka makin manja.“Aneh. Sudah turun panasnya, tapi masih kedinginan. Orang kepanasan.” Kalla bergumam tak jelas.“He ... em.”“Ke dokter saja, ya? Takutnya ada masalah serius. In
Raut wajah Arka berubah. Entah kenapa, kata-kata sederhana itu mampu membuat isi kepalanya jauh lebih ringan. “Harusnya ... kalau sakit itu bicara, Mas? Kenapa diam saja?” Kembali suapan selanjutnya berlabuh di dalam mulut Arka. Tak lagi ada protes dan tanya dari empunya. “Nah, ‘kan? Mas itu kelaparan. Kenapa tidak keluar? Sudah disiapkan makanan.” Kalla merapikan rambut Arka yang acak-acakan. Tak lupa, dia juga mengusap wajah pria yang tengah menelan bubur sambil mengernyit. “Kenapa? Panas?” Arka menggeleng. “Sakit tenggorokan?” Kalla kembali menginterogasi suaminya. “Ya.” Arka menjawab lemah. “Keluhannya apa saja? Mas itu kelelahan. Beberapa hari ini kurang istirahat. Makannya tak teratur.” Arka hanya menatap dan diam. Melahap setiap sendok bubur yang disuapkan kepadanya. Tak butuh waktu lama, semangkuk bubur sudah berpindah ke perut. “Mas demam.” Kalla meraih air jahe hangat dan menyodorkan pada sang suami. “Setelah ini minum obat.” Menyambar selembar tisu, diusapnya







