MasukMatahari sore yang garang menyapu fasad batu kastil tua milik keluarga Jonas, memberikan rona oranye yang tampak seperti karat. Sebuah SUV hitam berhenti dengan decitan ban yang kasar. Fabrizio Jonas melangkah keluar dengan rahang mengeras. Hidungnya dibalut perban putih bersih, kontras dengan wajahnya yang masih lebam keunguan akibat hantaman George malam sebelumnya.Seorang pengawal berlari tergopoh-gopoh menghampirinya. "Tuan Fabrizio! Ada kiriman paket... dari orang tak dikenal. Baru saja tiba di teras utama."Fabrizio menghentikan langkahnya. Matanya menyipit penuh kecurigaan. Di dunia bawah tanah Italia, paket tanpa nama biasanya berarti satu dari dua hal: pesan perdamaian yang palsu atau bom yang akan meratakan gedung. "Siapkan tim penjinak! Malik, periksa!" perintahnya kasar.Malik, asisten setianya, segera maju ke depan. Para bodyguard mengepung sebuah kotak kayu besar yang diletakkan begitu saja di teras marmer. Dengan gerakan hati-hati, mereka mencongkel tutup kotak terse
Hotel La Vola, ComoUdara di dalam kamar VIP itu terasa statis, dipenuhi bau mesiu dan aroma kematian yang pekat. George Riciteli berdiri dengan angkuh, moncong senjatanya hanya berjarak beberapa inci dari kening Fabrizio Jonas. Namun, tepat saat jarinya hendak menekan pelatuk untuk mengakhiri garis keturunan Jonas, sebuah kilatan cahaya muncul dari arah pintu yang hancur.DUAR!Peluru kaliber .45 melesat, merobek bahu kiri George. Hantaman itu begitu keras hingga tubuh George tersentak ke samping. Bella menjerit, suaranya melengking memecah ketegangan. Barisan bodyguard Kelabang Hitam yang tadinya ciut, kini menyibak, memberi jalan bagi sesosok pria bermuka pucat dengan mata cekung yang memancarkan kebengisan dingin.Dominico Jonas. Sang predator yang sedang sekarat itu melangkah maju, pistolnya masih mengepulkan asap. Fabrizio, yang menyadari kesempatannya, segera bangkit dan melayangkan tendangan brutal ke ulu hati George. George terjerembab ke lantai marmer yang dingin. Dalam s
Pesisir Pantai Como – Pukul 22.00.Deru mesin mobil yang meraung memecah kesunyian pesisir pantai yang berbatu. Sebuah sedan hitam berhenti dengan sentakan kasar di depan sebuah gudang tua yang tersembunyi di balik dinding tebing. Pintu mobil terbuka secepat kilat, dan dua orang bodyguard berotot besar menyeret Marques Jonas keluar seperti seonggok daging tak berharga.Marques, yang beberapa jam lalu masih merasa menjadi pemenang, kini hanya bisa berteriak parau meminta pertolongan yang tak kunjung datang. Suaranya tenggelam oleh suara ombak yang menghantam karang. Carlo Matius Riciteli, dengan topeng perak yang memantulkan cahaya bulan, melangkah keluar dari kegelapan. Tawa dinginnya pecah, bergema mengerikan di telinga Marques."Bawa dia ke ruang bawah tanah," perintah Carlo datar. "Biarkan dia mencium aroma kematiannya sendiri," perintah Carlo.Sambil menaiki tangga batu menuju kastil tua di atas tebing, Carlo merogoh ponselnya dan menghubungi Luca. Wajahnya yang tersembunyi di b
Hotel La Vola, Lake Como – Pukul 20.00.Lantai 100 Hotel La Vola berguncang oleh getaran musik klasik yang berpadu dengan denting gelas kristal. Di ruang VIP yang terisolasi dari hiruk-pikuk tamu umum, aroma cerutu Kuba dan anggur Petrus ribuan dolar memenuhi udara. Fabrizio Jonas duduk di sofa beludru, kakinya menyilang dengan angkuh. Di sampingnya, Dominico yang pucat dan Marques yang tampak antusias, bergabung dengan sekutu setia mereka, Lucas dan Nacos—dua pimpinan mafia lokal yang mencium bau kekuasaan baru."Aku benar-benar ingin mencium tangan gadis itu," ujar Lucas sambil tertawa parau, mengangkat gelasnya. "Siapa sangka, Sang Raja Muda Riciteli yang sombong itu mati di tangan seorang sniper wanita. Dunia benar-benar sudah terbalik."Nacos menimpali dengan seringai sinis. "Kita harus memberinya hadiah, Fabrizio. Berkat dia, dominasi klan Riciteli di Eropa kini runtuh seperti rumah kartu. Don Lazaro sekarang hanyalah singa tua yang ompong dan sedang sekarat di ICU."Fabrizio
Langit Como – Pukul 04.15 Dini Hari.Helikopter bermesin ganda membelah kabut tebal yang menyelimuti pegunungan Alpen, menuju hamparan air biru gelap Danau Como. Di dalam kabin yang bising, Bella Austin Castaro duduk mematung. Cahaya instrumen navigasi yang kemerahan memantul di wajahnya yang pucat. Sesuai perintah mutlak Dante, ia harus meninggalkan Milan sebelum fajar menyingsing.Tangannya mendekap laras panjang senapan runduk di dadanya, seolah benda dingin itu adalah satu-satunya pegangan realitas yang tersisa. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan George yang bersimbah darah di lantai marmer Kastil Riciteli kembali menghantuinya. 'Dia sudah tiada... di tanganku,' bisik batinnya yang hancur. Penyesalan itu terasa lebih tajam daripada peluru mana pun yang pernah ia tembakkan.Saat helikopter mendarat di helipad sebuah gedung pencakar langit di pusat Como, dua agen Unit EXO, Jack dan Miller, sudah berdiri tegak menyambutnya. Tanpa kata, Bella turun dengan langkah mekanis. D
Kastil Keluarga Riciteli, Roma – Pukul 15.00.Roma seolah kehilangan denyut nadinya. Langit di atas ibu kota Italia itu menggantung kelabu, mencerminkan duka yang menyelimuti klan mafia paling berkuasa di tanah Eropa. Di dalam ruang pribadinya yang kedap suara, Don Lazaro Riciteli duduk di kursi kebesarannya yang tampak terlalu besar bagi tubuhnya yang kini terlihat ringkih. Di hadapannya, sebuah album foto tua terbuka, menampilkan lembaran-lembaran memori yang kini terasa seperti sembilu.Jemari Lazaro yang bergetar mengusap permukaan foto George sewaktu kecil—saat bocah itu pertama kali memegang pistol kayu, hingga foto pelantikannya sebagai Raja Muda. Air mata yang jarang terlihat jatuh membasahi kertas foto itu."Maafkan aku, Michele... Meghan..." bisik Lazaro dengan suara parau yang pecah. "Aku telah gagal melindungi putra kalian. Aku telah membiarkan garis keturunan kita terputus di tanganku."Kesunyian itu pecah saat Luca mengetuk pintu, memberitahukan kedatangan tamu yang ta
Fajar menyingsing di atas Tahanan Khusus Pantai Tirania, membawa rona merah darah yang memantul pada permukaan laut yang gelisah. Di bawah langit yang kian kelabu, sebuah konvoi mobil hitam meluncur membelah kabut. Salah satunya membawa Marco Aeneas, Komandan Pasukan Elit AXIS yang memiliki reputa
Malam di Pantai Tirania bukan sekadar dingin; ia membeku, seolah-olah alam sendiri tahu bahwa di balik dinding beton tahan khusus Tartarus, sebuah pengkhianatan besar sedang dimasak. Salju tipis menempel pada kaca jendela mobil CRV hitam yang menepi di bayang-bayang pepohonan.Di dalam mobil, Paol
Fajar hampir menyingsing di cakrawala Pantai Tirania, namun kegelapan masih enggan beranjak dari gedung Tahanan Khusus yang kini dikepung api dan debu. Di luar gerbang, kekacauan pecah layaknya medan perang. Suara dentuman meriam dari kapal Georgino bersahut-sahutan dengan rentetan senapan mesin p
Malam itu di markas besar Klan Riciteli, udara tidak lagi berbau mesiu dan ketakutan, melainkan aroma kemenangan yang mahal. Di tengah aula besar yang diterangi lampu kristal, Carlo berdiri mematung di hadapan Michele."Michele, maafkan kebodohanku..." suara Carlo bergetar, matanya menatap lantai,