登入"Kau anak pembangkang! Ayah hanya ingin kau lebih dewasa dalam berpikir, Alando!" sebuah suara bariton yang berat dan bergetar karena amarah terdengar menggelegar.Elena tersentak kaget. Apa yang terjadi di dalam? Ia menoleh ke sekitar, tak ingin ada para suster atau orang lain yang mendengar kegaduhan itu. Didorong oleh rasa kemanusiaan dan insting dokternya yang khawatir akan kondisi psikologis pasiennya yang baru sadar, Elena memberanikan diri melangkah mendekat ke arah celah pintu."Anak tak tahu diuntung!" suara pria tua itu kembali terdengar, kian meninggi dan sarat akan kekecewaan yang mendalam. "Aku hanya ingin kau segera menikah dan mulai bersikap lebih serius mengurus masa depan perusahaan kita! Jika kau terus-menerus membangkang seperti ini, lebih baik kau tidak perlu pulang ke Milan selamanya! Lupakan bahwa kau masih memiliki seorang Ayah yang sudah tua... dan memiliki penyakit jantung ini!"Elena tersentak hebat, jantungnya berdegup kencang saat melihat siluet pria tua d
Hujan mulai mereda. Butiran bening terjun bebas dari kaca jendela berembun. Setelah selesai mengikat simpul perban, Elena mengembuskan napas lega. Ia menatap wajah George dengan penuh rasa ingin tahu. Pakaian yang dikenakan pria ini terbuat dari bahan sutra dan wol Italia kelas tinggi, jam tangan di pergelangan tangannya seharga ratusan ribu euro—penampilannya sangat jelas mengindikasikan seorang pengusaha muda sukses. "Luka Anda sudah berhasil dijahit dan dibersihkan, Tuan," ujar Elena lembut sembari melepas sarung tangan medisnya. "Tapi... apa yang sebenarnya dilakukan oleh seorang pengusaha seperti Anda di bangsal anak rumah sakit ini? Apakah Anda sedang mencari anak atau keponakan Anda yang dirawat di sini?" George baru saja hendak membuka mulutnya untuk menjawab, ketika tiba-tiba— 𝘉𝘙𝘈𝘈𝘒! Pintu ruang tindakan medis terdorong keras dari luar. "TUAN MUDA! APA ANDA BAIK-BAIK SAJA?!" Elena dan Joice tersentak kaget, seketika menoleh ke arah pintu. Sejumlah pria
"Halo, Tuan Luca.." "Ya, Kapten. Apa?" Panggilan tersebut terhubung langsung ke Sisilia, diterima oleh Luca yang saat itu berdiri tegak di belakang George Riciteli. Setelah mendengarkan laporan singkat dari Kapten Smith di Roma, Luca menutup telepon lalu melangkah mendekati bos besarnya. Di dalam kamar griya tawang mewah yang luas di Sisilia, George Riciteli berdiri membelakangi ruangan, memandangi gemerlap lampu kota melalui dinding kaca besar. Ia memejamkan matanya erat-erat saat mendengar laporan dari bibir Luca bahwa Bella baru saja kembali melakukan aksi nekat di Roma dan hampir membuat identitasnya terbongkar jika Smith tidak segera membungkam korbannya. "George..." Luca bersuara dengan nada yang sangat berat. "Kita tidak bisa terus-menerus membiarkan Bella lepas kontrol seperti ini. Pihak kepolisian Roma, bahkan yang kita bayar sekalipun, tidak akan mampu lagi menahan gelombang tekanan dari ribuan warga yang terus berdemonstrasi menuntut penangkapan pelaku pembunuhan ber
Malam memeluk ibu kota Roma dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Hujan deras mengguyur permukaan jalanan batu yang basah, menciptakan kilatan pendar dari lampu-lampu jalanan tua yang remang-remang. Di salah satu gang sepi tak jauh dari kawasan pusat hiburan, berjalan sesosok wanita berpakaian gaun malam merah menyala. Bella Austin Castaro melangkah dengan keanggunan seorang predator mematikan. Tangan kirinya memegang sebuah payung hitam besar yang melindungi rambut gelapnya dari tumpahan air hujan, sementara tangan kanannya menggenggam erat sebilah pisau belati berlekuk tajam yang berkilau di bawah temaram lampu. Bibir tipis berpoles gincu merah darah itu melengkung, membentuk seringai lapar yang mengerikan. Sepasang mata indahnya memancarkan aura kegilaan tanpa dasar. Beberapa puluh meter di depannya, seorang gadis muda berlari ketakutan setengah mati. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan liar seiring langkah kakinya yang menghempas genangan air hujan. Sesekal
Malam menyelimuti daratan Palermo, di sebuah unit apartemen sederhana yang terletak di kawasan pusat kota Palermo, jarum jam dinding tua sudah menunjukkan pukul sebelas malam tepat. Di dalam ruang tengah yang sunyi, Elena Botticelli tampak masih duduk sendirian di atas sofa kain berwarna abu-abu. Di bawah pendar lampu meja yang temaram, ia sedang serius memeriksa lembaran-lembaran dokumen laporan riwayat medis pasien anak yang harus ia evaluasi untuk jadwal praktik esok hari. Karena gerakannya yang agak terburu-buru saat hendak merapikan berkas, tas selempang kulit miliknya yang ditaruh di sisi sofa mendadak tersenggol, menyebabkan isinya agak berhamburan. Sebuah benda kecil berhamburan keluar dari dalam tas dan jatuh berdentang halus di atas lantai kayu apartemen. Elena menghentikan aktivitasnya, membungkuk untuk memungut benda kecil tersebut dari lantai. Ia mengernyitkan dahinya yang mulus, menatap sebuah alat penyimpan data digital (flashdisk) berwarna putih polos berukuran ke
Sementara itu, ribuan kilometer dari tempat tambak ikan yang dingin, sebuah pemandangan yang bertolak belakang tersaji di dalam sebuah griya tawang (penthouse) super mewah yang terletak di pusat kota Sisilia. George Riciteli duduk bersandar dengan angkuh di atas sofa kulit berdesain modern, satu tangannya memegang sebuah ponsel pintar mahal yang menempel di telinganya. Di wajahnya yang biasanya kaku dan dingin, kini terukir sebuah senyuman gemas yang sangat langka sewaktu ia mendengarkan suara manja dan kekeh ringan Bella yang terdengar jernih dari balik saluran telepon. "Apakah kau merasa kesepian di Roma tanpa diriku, Bella?" George bertanya dengan nada suara yang sengaja dipertahankan selembut mungkin, kontras dengan statusnya sebagai Raja Mafia yang ditakuti. "Kemungkinan besar aku belum bisa pulang ke rumah sampai lusa nanti. Ada terlalu banyak urusan bisnis pelabuhan dan gudang senjata dengan Marco yang harus kuselesaikan di pulau ini." Di belahan kota Roma yang berjarak j







