Home / Mafia / DI ATAS RANJANG MAFIA / 163. Kematian Don Lazaro Riciteli

Share

163. Kematian Don Lazaro Riciteli

Author: Dewa Amour
last update publish date: 2026-04-19 15:52:50

Rumah Sakit Riciteli, Roma – Pukul 16.00.

Koridor rumah sakit yang steril itu mendadak terasa mencekam saat ponsel di saku jas George bergetar hebat. Nama 'Carlo Riciteli' berkedip di layar.

George mengangkatnya, dan suara yang menyambutnya bukanlah ketenangan biasanya, melainkan raungan mesin, desing peluru, dan napas Carlo yang tersengal penuh keputusasaan.

"George... Napoli... Mereka menjebak kami... Kakekmu..." Suara itu terputus oleh dentuman keras.

Wajah George memucat. Ia menoleh ke ara
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    163. Kematian Don Lazaro Riciteli

    Rumah Sakit Riciteli, Roma – Pukul 16.00.Koridor rumah sakit yang steril itu mendadak terasa mencekam saat ponsel di saku jas George bergetar hebat. Nama 'Carlo Riciteli' berkedip di layar. George mengangkatnya, dan suara yang menyambutnya bukanlah ketenangan biasanya, melainkan raungan mesin, desing peluru, dan napas Carlo yang tersengal penuh keputusasaan."George... Napoli... Mereka menjebak kami... Kakekmu..." Suara itu terputus oleh dentuman keras.Wajah George memucat. Ia menoleh ke arah Bella yang baru saja akan melangkah masuk ke ruang operasi untuk pengangkatan alat penyadap. "Bella, aku harus pergi. Paman dan Kakek dalam bahaya besar di perbatasan. Aku akan kembali secepat mungkin!" Tanpa menunggu jawaban, George berlari kencang meninggalkan koridor, sepatu botnya bergema di atas lantai porselen.Bella berdiri mematung, menatap punggung George yang menjauh dengan firasat buruk yang mencengkeram dadanya. Saat ia berbalik untuk masuk ke ruang operasi, dua pria berpakaian pe

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    162. Cinta Adalah Racun Paling Mematikan

    Matahari Roma yang biasanya hangat kini terasa menyengat, seolah ikut membakar emosi yang meluap di dalam aula utama Kastil Riciteli. Pintu ganda berbahan kayu ek itu terbanting terbuka, menampilkan sosok George yang melangkah masuk dengan angkuh. Di sampingnya, Bella berdiri dengan seragam taktis yang masih menyisakan noda debu dan darah kering dari Brazil."George! Apa-apaan ini?!" Suara Don Lazaro menggelegar, mengguncang lampu kristal di langit-langit. Pria tua itu berdiri dengan tongkat peraknya, wajahnya merah padam. Di sudut ruangan, Jane Pabio berdiri dengan mata sembab; kecemburuannya telah berubah menjadi kebencian yang murni. Ia menatap Bella seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.George tidak berhenti. Ia terus menarik lembut tangan Bella melewati kakeknya. "Dia akan tinggal di sini. Mulai sekarang, Bella adalah tanggung jawabku," ucap George dingin, tanpa sedikit pun keraguan."Kau membawa musuh ke dalam jantung kekuasaan kita!" raung Don Lazaro. "Dia adalah Unit 002 da

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    161. Lautan Darah Di Arpoador

    Langit malam Brasil dihiasi oleh kembang api yang meledak bagaikan pecahan permata, menerangi garis Arpoador Beach yang eksotis. Di sebuah vila megah yang bertengger di atas tebing, musik bossa nova mengalun lembut, beradu dengan suara deburan ombak yang menghantam karang. Namun, di balik kemewahan pesta Sekte Mawar Berduri, udara terasa sesak oleh konspirasi dan aroma mesiu yang tersembunyi.George Riciteli berdiri di balkon utama, mengenakan setelan jas hitam yang membalut tubuh atletisnya dengan sempurna. Tangannya menggenggam segelas wiski, namun matanya tidak tertuju pada kerumunan sosialita yang menari di bawah sana. Ia menatap kegelapan laut, mencari sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa. Di sampingnya, Jane Pabio tampak mempesona dengan gaun merah menyala yang berani, lengannya menggelayut manja di siku George."Lihatlah mereka, George. Semua orang menunggu pengumuman itu," bisik Jane, suaranya penuh kemenangan. "Malam ini, kau akan menjadi milikku sepenuhnya di depan dun

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    160. Api Cemburu Menuju Brasil

    Semburat jingga matahari yang tenggelam di cakrawala Mediterania menyelinap masuk melalui celah balkon kamar George, menyinari sebuah kanvas yang kini menjadi pusat semesta bagi pria itu. George duduk dengan tenang, jemarinya yang biasanya akrab dengan pelatuk senjata kini menggenggam kuas dengan kelembutan yang kontradiktif. Di atas kanvas, sesosok wanita dengan mata tajam namun menyimpan luka mulai terbentuk—Bella. Lukisan itu begitu nyata, seolah-olah helai rambut hitam Bella bisa bergerak tertiup angin laut Roma.Pintu balkon terbuka perlahan. Carlo melangkah masuk, senyum tipis tersungging di wajahnya yang penuh pengalaman. Ia berhenti di belakang George, terdiam sejenak mengagumi detail lukisan itu."Kau punya bakat yang luar biasa, George. Lukisan ini seolah memiliki nyawa," Carlo berdecak kagum, memecah keheningan.George tersentak, sedikit terkejut namun segera kembali ke raut wajah acuhnya. Ia meletakkan kuasnya, melirik sekilas ke arah pamannya dengan tatapan malas. "Aku

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    159. Badai Emosional

    Fajar belum benar-benar pecah di langit Milan, namun keheningan Markas Besar EXO telah hancur oleh raungan alarm darurat yang memekakkan telinga. Lampu sorot merah berputar-putar di sepanjang tembok beton, menciptakan bayangan-bayangan mengerikan di lapangan utama.Alando berdiri di depan jendela kamar 204 yang terbuka lebar, wajahnya memerah karena amarah yang meledak-ledak. Di tangannya, seutas tali yang terpotong menjadi bukti bisu pelarian yang memalukan. "Cari mereka! Tutup semua akses! Jangan biarkan tikus-tikus itu keluar dari perimeter!" teriaknya hingga urat lehernya menegang.Di kamarnya yang sunyi, Bella sudah terjaga sepenuhnya. Ia berdiri di depan cermin, mengenakan topi militernya dengan gerakan mekanis yang kaku, menyembunyikan getaran halus di jemarinya. Ia tahu kekacauan ini pasti terjadi. Suara sepatu bot para tentara yang berlarian di koridor terdengar seperti detak jantung yang memburu."Siswa dari kelas bangsawan itu kabur!" suara seorang tentara terdengar di ba

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    158. Perpisahan Di Ujung Neraka

    Angin malam yang menderu di celah-celah batu benteng tua itu terdengar seperti rintihan jiwa-jiwa yang terabaikan. Di dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya rembulan yang masuk melalui celah sempit, suasana terasa jauh lebih dingin daripada udara di luar. George Riciteli mondar-mandir dengan langkah yang tidak tenang, setiap hentakan sepatunya menggema di dinding benteng. Pikirannya kalut setelah mendengar detail mengerikan tentang proyek monster Dante Castanyo yang baru saja merenggut Elena."Aku akan menghubungi Carlo sekarang juga," George berhenti mendadak, tangannya merogoh saku untuk mencari ponsel satelitnya. "Pasukan AXIS bisa tiba di Amsterdam dalam hitungan jam. Kita akan meratakan laboratorium itu dan membawa Elena kembali.""Jangan!" Bella memotong dengan suara yang tajam namun penuh keputusasaan. Ia berdiri di sudut yang gelap, bayangannya memanjang di lantai beton. "Jika kau melakukan itu, George, kau membongkar keberadaan mu di sini. Kau tidak mengerti betapa luas

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    87. Putra Mahkota Riciteli

    Malam itu, Napoli diselimuti oleh keheningan yang megah. Langit begitu cerah, seolah-olah semesta sedang memamerkan bulan yang bulat sempurna tanpa cela. Dari atas geladak kapal yang membelah ombak dengan tenang, Georgino berdiri layaknya seorang penguasa samudra. Angin malam bertiup kencang, n

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • DI ATAS RANJANG MAFIA    91. Upaya Kabur Meghan

    "George!"Suara Meghan pecah, tertelan oleh rimbunnya hutan Alaska yang membeku. Napasnya membentuk uap putih di udara yang menggigit. Lentera di tangannya berayun liar, membelah kabut tebal yang menyelimuti pepohonan pinus raksasa. Firasatnya sebagai seorang ibu berteriak kencang. Ia tahu George

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • DI ATAS RANJANG MAFIA    86. Di Mana George

    "Lepaskan!"Suara Meghan memecah kesunyian hutan yang lembap. Ia menarik paksa lengannya dari cengkeraman Maxi, pria bertopeng perak yang terus menyeretnya menembus semak belukar. Hutan ini terasa seperti labirin tanpa akhir setelah mereka meninggalkan mobil di tepi bukit yang curam.Maxi hanya me

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • DI ATAS RANJANG MAFIA    88. Antara Darah Dan Penantian

    "Bajingan! Kau sudah membunuh putraku!"Suara Meghan pecah, melengking di antara dinding batu kastil yang dingin. Tangannya yang gemetar mencengkeram kemeja putih Maxi, kukunya menancap dan menarik paksa hingga kain mahal itu terkoyak dari bahu hingga ke dada, mengekspos kulit pria di balik topeng

    last updateLast Updated : 2026-03-29
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status