Home / Mafia / DI ATAS RANJANG MAFIA / 64. Romantika Dunia Mafia

Share

64. Romantika Dunia Mafia

Author: Dewa Amour
last update publish date: 2026-01-13 12:02:59

Langit Roma pagi itu tampak pucat, seolah tahu bahwa badai besar sedang bersiap menerjang daratannya. Di atas ketinggian, baling-baling helikopter VIP membelah awan dengan suara ritmis yang memekakkan telinga.

Di dalam kabin yang mewah dan kedap suara, Michele Lazaro Riciteli duduk dengan tenang. Namun, ketenangannya hanyalah topeng.

Di balik kacamata hitamnya, matanya terus mengawasi hamparan kota yang pernah ia kuasai, seolah mencari titik hitam di antara bangunan-bangunan tua yang agung.

S
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    196. Tak Bisa Lepas Darinya

    Napas Miranda terengah-engah, dadanya terasa panas terbakar oleh pasokan oksigen yang menipis saat kakinya menginjak lantai beton area parkir basement yang luas dan sepi. Pencahayaan di tempat itu sangat minim, hanya mengandalkan beberapa lampu neon yang berkedip-kedip redup. ​Sepasang matanya yang tajam dan dipenuhi air mata kemarahan menyapu deretan mobil-mobil yang terparkir rapi. Di sudut area yang agak gelap, ia menangkap siluet sebuah mobil sedan abu-abu yang pintunya terbuka. Seorang pria bertubuh kekar membelakanginya, tampak sedang memasukkan sesuatu yang besar ke dalam bagasi mobil. ​Melalui celah bagasi yang belum tertutup rapat, Miranda melihat sepasang sepatu kets kecil berwarna biru. Itu kaki kecil Noah! ​Kemarahan seorang ibu yang anaknya diusik seketika mengubah Miranda menjadi singa betina yang haus darah. Ia mengepalkan tangannya, membuang seluruh rasa takutnya, dan berlari kencang di atas lantai beton sembari berteriak murka yang menggema di seluruh ruangan

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    195. Noah Di Culik

    Pagi belum jatuh sepenuhnya di dermaga pelabuhan Amerika Timur. Kabut tebal yang bergulung dari laut membuat atmosfer di sekitar area kedatangan terasa lembap dan suram. Namun suara terompet kapal yang membaur dengan hirup pikuk orang-orang, memecah keheningan. Miranda Ford berjalan tergesa-gesa di antara kerumunan orang yang lalu lalang. Tas besar disampirkan di bahunya, sementara tangan kanannya menyeret sebuah koper perak dengan susah payah. Kapal pesiar mewah yang membawanya dari Pulau Eden telah menghilang kembali ke balik kabut samudra, membawa pergi para pengawal Riciteli yang mengawalnya. Kini, ia benar-benar sendirian di tanah kelahirannya. ​Miranda menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak yang masih tertinggal di dadanya pasca-mendengar pengakuan jujur George dari mulut Noah. Ia menoleh ke samping bawah, menatap putranya yang berjalan dengan langkah gontai. Noah menggendong ransel kecilnya, dengan wajah yang masih tampak murung dan enggan bicara. ​"Noah, Sa

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    194. Keheningan Dan Kehilangan

    Satu jam perjalanan yang sunyi berlalu hingga mobil akhirnya tiba di sebuah dermaga rahasia yang terisolasi di pinggiran pulau. Sebuah kapal pesiar berukuran sedang yang mewah sudah bersandar, mesinnya bergandengan dengan suara ombak laut yang tenang.​Luca mengantarkan Miranda dan Noah hingga ke jembatan kapal. "Dua pengawal terbaik Tuan Muda akan menemani perjalanan Anda hingga tiba di daratan Amerika Timur, Dokter Ford. Seluruh kebutuhan Anda selama di kapal sudah terpenuhi," ujar Luca formal.​"Terima kasih, Luca... untuk semuanya," ucap Miranda pelan, menyadari bahwa pria di hadapannya ini adalah salah satu dari sedikit orang yang memperlakukannya secara manusiawi di tempat ini.​Miranda menuntun Noah melangkah memasuki kabin penumpang kapal yang mewah. Begitu kapal mulai bergerak meninggalkan dermaga Pulau Eden, membelah lautan Rusia menuju samudra luas, Miranda duduk di kursi penumpang yang empuk. Tangannya perlahan merayap ke dalam saku mantelnya, mengeluarkan selembar kert

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    193. Kepergian Miranda

    Semburat cahaya jingga di ufuk timur belum sepenuhnya jatuh menyinari Pulau Eden ketika ketegangan memuncak di salah satu kamar paviliun. Kamar yang selama lima bulan terakhir menjadi saksi bisu kecemasan, air mata, dan pergulatan batin seorang Miranda Ford kini tampak berantakan. Koper-koper kulit besar terbuka di atas ranjang, menampung pakaian-pakaian yang dilipat dengan tergesa-gesa.​"Cepat, Noah. Masukkan mainanmu yang tersisa ke dalam ransel. Kita harus pergi sekarang juga," perintah Miranda, suaranya bergetar menahan tekanan emosi yang mendera dadanya sejak subuh. Perintah George mutlak: pergi begitu matahari terbit.​Di sudut ruangan, Noah berdiri mematung. Bocah berusia lima tahun itu tidak menyentuh ranselnya sama sekali. Wajah bulat yang biasanya ceria kini tampak mendung, matanya menatap lantai marmer dengan tatapan murung yang begitu dalam.​"Noah, kau dengar Mommy? Ayo cepat kemasi mainan mu," desak Miranda lagi, tangannya gemetar saat menutup ritsleting kopernya den

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    192. Batas Sang Tawanan

    "Aahhh! Hentikan!"​Hentakan kasar itu semakin menggila, membuat tubuh Miranda terdorong-dorong maju di atas meja yang berantakan. Miranda terus meringis menahan perih dan gelombang gairah terlarang yang bercampur aduk di dalam dirinya. George terus bergerak, menuntut kepuasan penuh dari tubuh wanita yang telah berani menyentuh batas kesabarannya.​Saat George menghentikan gerakannya sejenak untuk mengubah posisi, Miranda mengumpulkan sisa kekuatannya. Ia memutar tubuhnya dengan sentakan liar, lalu mengayunkan tangannya, mencakar wajah tampan George hingga meninggalkan jalur kemerahan di pipi pria itu.​"Cukup, George! Aku bukan budak seksmu!" teriak Miranda dengan napas tersengal-sengal dan rambut yang acak-acakan. Ia mencoba bangkit dari meja, hendak berlari menuju pintu.​Namun, amarah George justru semakin tersulut. Ia mencekal lengan Miranda sebelum wanita itu sempat melangkah, lalu melemparkan tubuh polos itu ke tengah ranjang besarnya. "Aarkh!"Miranda berusaha merangkak kabu

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    191. Harga Sebuah Pengakuan

    Malam di Pulau Eden terasa lebih pekat dari biasanya. Di dalam kamarnya, Miranda Ford baru saja menarik selimut untuk menutupi tubuh mungil Noah yang telah terlelap. Pikirannya masih gusar, digerogoti oleh bayangan-bayangan gelap dan ancaman dingin George di koridor siang tadi.​Tok! Tok! Tok!​Ketukan pelan di pintu mengejutkannya. Miranda membukanya dan mendapati seorang pelayan pria berdiri menunduk hormat. "Dokter Ford, Tuan Muda Riciteli meminta Anda untuk segera menemuinya di kamar pribadi beliau."​Darah Miranda berdesir hebat. Ia tahu persis apa arti panggilan tengah malam itu. Namun, kali ini ada gelombang pemberontakan yang membakar dadanya. Ia lelah menjadi bayang-bayang yang patuh. Ini adalah saatnya ia meminta haknya—meminta kepastian bahwa dirinya bukan sekadar budak pemuas nafsu di kala sang istri membeku.​Miranda melangkah menyusuri koridor megah menuju sayap kamar George. Malam ini, ia mengenakan jubah tidur sutra berwarna putih gading yang tipis, melapisi lingerie

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status