Beranda / Mafia / DI ATAS RANJANG MAFIA / 65. Di Antara Dua Dunia

Share

65. Di Antara Dua Dunia

Penulis: Dewa Amour
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-13 12:03:39

Matahari sore menggantung rendah di cakrawala, menyebarkan cahaya jingga yang tampak seperti genangan darah di atas hutan pinus yang mengepung kastil tua itu.

Di dalam salah satu ruangannya yang lembap, Meghan masih terjaga dalam kesiagaan penuh. Ia mendekap George—putranya yang mungil—erat-erat ke dadanya, seolah degup jantungnya sendiri bisa menjadi perisai bagi bocah itu.

Pintu kayu berderit terbuka, memotong kesunyian yang mencekam. Seorang gadis muda masuk membawa nampan berisi roti hangat dan sup.

Wajahnya polos, senyumnya tampak tulus, namun di mata Meghan, setiap keramahan di tempat ini adalah ancaman tersembunyi.

"Makanlah! Kau dan anakmu pasti sudah lapar, kan?" Gadis itu meletakkan nampan di atas meja kayu yang rapuh.

Meghan tidak bergeming. Matanya menatap tajam, memindai setiap gerak-gerik gadis itu. Pikiran buruk merayapi benaknya; apakah makanan itu telah dicampur dengan sianida? Apakah ini cara pria bertopeng itu melenyapkan mereka tanpa suara?

Di tempat yang dikuas
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    77. Misteri Kematian Carlo

    Musim dingin di Roma selalu terasa seperti kutukan bagi mereka yang membawa luka lama. Langit sore itu tampak mendung, seolah-olah awan sedang menahan beban kesedihan yang sama beratnya dengan apa yang dirasakan Michele. Titik-titik salju mulai berjatuhan, melayang lambat sebelum mendarat dan mencair di atas batu nisan marmer yang dingin. Angin pegunungan yang tajam meniup helaian rambut dan bulu halus di dagu lancip Michele, namun pria itu bergeming.Sepasang mata tajamnya, yang biasanya dingin dan tak tersentuh, kini meredup saat menatap potret di pusara itu.CARLO MATIUS RICITELI.Nama itu terukir dengan tinta emas yang mulai pudar dimakan usia. Enam tahun. Enam tahun sejak Michele membuang identitasnya dan bersembunyi di balik panasnya dapur restoran di Brazil.Ini adalah kali pertama ia memiliki keberanian untuk berdiri di hadapan adiknya kembali.Ingatannya melesat ke tanggal 28 Januari, enam tahun silam. Saat itu, restorannya sedang berada di puncak keramaian. Di tengah aroma

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    76. Rencana Baru

    "Mr. Agust Hernandez."Georgino mengeja nama itu dengan nada mengejek, matanya memicing menatap papan nama plastik yang tergantung di ujung ranjang rumah sakit. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada pria yang terbaring kaku di bawah selimut putih bersih. Pria itu mengenakan setelan rumah sakit berwarna biru muda, namun aura penguasa tetap memancar meski wajahnya pucat pasi."Pantas saja aku harus memutar otak mencari namamu di seluruh rumah sakit mewah di Roma ini," ujar Georgino sambil memperbaiki posisi topi koboinya. "Mengapa kau tidak bilang kalau kau sudah pensiun menjadi singa dan memilih nama seorang pelayan Spanyol?"Bill dan Bull, dua anak buah setianya, hanya bisa saling lirik dan tertawa canggung. Mereka tahu siapa yang mereka hadapi. Michele—atau sekarang 'Agust'—hanya memalingkan wajah ke jendela, menatap langit Roma dengan tatapan kosong yang mematikan. Ia bosan. Sepuluh hari di ranjang ini terasa seperti sepuluh tahun di penjara bawah tanah."Tuan Muda Riciteli ti

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    75. Jangan Dekati Putraku

    "George!"Suara Meghan pecah, terserap oleh sunyinya hutan di sekitar Aventine Hill. Ia berlari limbung, lentera di tangannya bergoyang liar menciptakan bayangan monster di pepohonan. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit di pangkal tenggorokan. George hilang. Putranya lenyap dari kamar.Pikiran Meghan kalut. Bayangan pria bertopeng perak yang nyaris menodainya tadi siang kembali muncul. Apakah pria itu membalas dendam melalui George? Apakah pria itu tega menyakiti anak sekecil itu?"George! Di mana kau, Nak?!" Meghan berteriak dengan suara parau. Dia nyaris mati ketakutan.Kaki Meghan tersandung akar pohon, ia nyaris tersungkur di jalan berbatu yang tajam. Namun, rasa sakit di kakinya tak sebanding dengan rasa sesak di dadanya. Di tengah keputusasaan itu, matanya menangkap sesuatu di atas bukit. Titik-titik cahaya kecil yang berterbangan, dan seorang anak kecil yang tengah tertawa riang mengejarnya."George?" Meghan berbisik, napasnya tersengal.Di sana, di bawah rembulan

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    74. Bertahan Hidup

    Mata Meghan terbelalak. Suara gemerincing logam dari ikat pinggang Maxi yang mulai terbuka terdengar seperti lonceng kematian baginya. Tidak. Ini tidak boleh terjadi! Dengan sisa tenaga yang masih tersisa, Meghan menghimpun seluruh amarahnya. Ia mendorong dada polos Maxi sekuat tenaga. Sentakan itu cukup kuat untuk membuat Maxi terhuyung sejenak, memberi Meghan celah untuk merangkak keluar dari bak mandi yang licin.Namun, Maxi yang sudah dirasuki obsesi tidak membiarkannya lepas begitu saja. "Mau ke mana, Sayang?" geramnya.Tangan kekar pria itu menyambar rambut panjang Meghan yang basah, menyentaknya hingga kepala Meghan terdongak, lalu melempar tubuh wanita itu kembali ke dalam bathtub.Byur! Air memuncrat mengenai wajah Maxi. Pria bertopeng itu menyeka air di matanya sambil tertawa puas—tawa yang terdengar seperti gema dari lubuk neraka. Meghan meringkuk di dasar bak, nyaris menyerah pada nasibnya."Tuan, ada surel mendesak untuk Anda!"Suara Lily membelah ketegangan itu. Maxi

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    73. Sentuhan Liar

    Brak!Meja kayu jati itu berdentum keras di bawah hantaman tinju Maxi. Di depannya, James mematung dengan napas tertahan. Kabar yang dibawa pria itu hanya racun bagi pendengaran Maxi."Gagal?" desis Maxi. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang lebih mengerikan daripada teriakan. "Kau bilang kau sudah menyuntikkan racun itu ke sarafnya?"James menunduk dalam-dalam. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya, jatuh ke lantai marmer yang dingin. Saat Maxi bangkit, James bisa merasakan bayangan besar pria itu menyelimutinya. Tanpa peringatan, tangan Maxi menyambar kerah jaket James, menyentaknya hingga pria itu berjinjit."Michele bukan singa tua yang bisa kau jinakkan dengan jarum murahan, James!" bentak Maxi tepat di depan wajah James. "Dia punya insting binatang. Dia peka!"Maxi menghempaskan James hingga pria itu tersungkur menabrak meja. Pria bertopeng perak itu kemudian berbalik, menyembunyikan kedua tangannya di saku celana, berdiri tegak di tengah ruangan yang sunyi.James

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    72. Ancaman AXIS

    Rumah Sakit Mega Hospital berdiri seperti benteng putih yang dingin di tengah kegelapan Roma. Pukul dua belas malam, lorong-lorongnya diselimuti kesunyian yang mencekam, kecuali di sayap VIP lantai paling atas. Di sana, aroma antiseptik bercampur dengan ketegangan yang bisa dirasakan di udara. Puluhan bodyguard berbaju hitam berdiri siaga, menjaga sebuah pintu yang di baliknya terbaring sang penguasa Roma yang terluka, Michele Lazaro Riciteli.Michele telah melewati gerbang kematian. Pendarahan otak yang nyaris merenggut nyawanya berhasil ditangani melalui operasi maraton selama delapan jam. Selama dua hari, ia sempat dinyatakan mati otak—sebuah kondisi yang membuat klan Riciteli nyaris runtuh. Namun, keajaiban atau mungkin kutukan, membawa Michele kembali.Sebagai penderita Congenital Insensitivity to Pain (CIP), Michele tidak bisa merasakan rasa sakit dari jahitan di kepalanya atau lebam di sekujur tubuhnya. Baginya, luka hanyalah data visual. Namun, tubuhnya tetaplah daging dan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status