Beranda / Mafia / DI ATAS RANJANG MAFIA / 192. Batas Sang Tawanan

Share

192. Batas Sang Tawanan

Penulis: Dewa Amour
last update Tanggal publikasi: 2026-06-02 17:04:55

"Aahhh! Hentikan!"

​Hentakan kasar itu semakin menggila, membuat tubuh Miranda terdorong-dorong maju di atas meja yang berantakan. Miranda terus meringis menahan perih dan gelombang gairah terlarang yang bercampur aduk di dalam dirinya.

George terus bergerak, menuntut kepuasan penuh dari tubuh wanita yang telah berani menyentuh batas kesabarannya.

​Saat George menghentikan gerakannya sejenak untuk mengubah posisi, Miranda mengumpulkan sisa kekuatannya. Ia memutar tubuhnya dengan sentakan liar,
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    194. Keheningan Dan Kehilangan

    Satu jam perjalanan yang sunyi berlalu hingga mobil akhirnya tiba di sebuah dermaga rahasia yang terisolasi di pinggiran pulau. Sebuah kapal pesiar berukuran sedang yang mewah sudah bersandar, mesinnya bergandengan dengan suara ombak laut yang tenang.​Luca mengantarkan Miranda dan Noah hingga ke jembatan kapal. "Dua pengawal terbaik Tuan Muda akan menemani perjalanan Anda hingga tiba di daratan Amerika Timur, Dokter Ford. Seluruh kebutuhan Anda selama di kapal sudah terpenuhi," ujar Luca formal.​"Terima kasih, Luca... untuk semuanya," ucap Miranda pelan, menyadari bahwa pria di hadapannya ini adalah salah satu dari sedikit orang yang memperlakukannya secara manusiawi di tempat ini.​Miranda menuntun Noah melangkah memasuki kabin penumpang kapal yang mewah. Begitu kapal mulai bergerak meninggalkan dermaga Pulau Eden, membelah lautan Rusia menuju samudra luas, Miranda duduk di kursi penumpang yang empuk. Tangannya perlahan merayap ke dalam saku mantelnya, mengeluarkan selembar kert

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    193. Kepergian Miranda

    Semburat cahaya jingga di ufuk timur belum sepenuhnya jatuh menyinari Pulau Eden ketika ketegangan memuncak di salah satu kamar paviliun. Kamar yang selama lima bulan terakhir menjadi saksi bisu kecemasan, air mata, dan pergulatan batin seorang Miranda Ford kini tampak berantakan. Koper-koper kulit besar terbuka di atas ranjang, menampung pakaian-pakaian yang dilipat dengan tergesa-gesa.​"Cepat, Noah. Masukkan mainanmu yang tersisa ke dalam ransel. Kita harus pergi sekarang juga," perintah Miranda, suaranya bergetar menahan tekanan emosi yang mendera dadanya sejak subuh. Perintah George mutlak: pergi begitu matahari terbit.​Di sudut ruangan, Noah berdiri mematung. Bocah berusia lima tahun itu tidak menyentuh ranselnya sama sekali. Wajah bulat yang biasanya ceria kini tampak mendung, matanya menatap lantai marmer dengan tatapan murung yang begitu dalam.​"Noah, kau dengar Mommy? Ayo cepat kemasi mainan mu," desak Miranda lagi, tangannya gemetar saat menutup ritsleting kopernya den

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    192. Batas Sang Tawanan

    "Aahhh! Hentikan!"​Hentakan kasar itu semakin menggila, membuat tubuh Miranda terdorong-dorong maju di atas meja yang berantakan. Miranda terus meringis menahan perih dan gelombang gairah terlarang yang bercampur aduk di dalam dirinya. George terus bergerak, menuntut kepuasan penuh dari tubuh wanita yang telah berani menyentuh batas kesabarannya.​Saat George menghentikan gerakannya sejenak untuk mengubah posisi, Miranda mengumpulkan sisa kekuatannya. Ia memutar tubuhnya dengan sentakan liar, lalu mengayunkan tangannya, mencakar wajah tampan George hingga meninggalkan jalur kemerahan di pipi pria itu.​"Cukup, George! Aku bukan budak seksmu!" teriak Miranda dengan napas tersengal-sengal dan rambut yang acak-acakan. Ia mencoba bangkit dari meja, hendak berlari menuju pintu.​Namun, amarah George justru semakin tersulut. Ia mencekal lengan Miranda sebelum wanita itu sempat melangkah, lalu melemparkan tubuh polos itu ke tengah ranjang besarnya. "Aarkh!"Miranda berusaha merangkak kabu

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    191. Harga Sebuah Pengakuan

    Malam di Pulau Eden terasa lebih pekat dari biasanya. Di dalam kamarnya, Miranda Ford baru saja menarik selimut untuk menutupi tubuh mungil Noah yang telah terlelap. Pikirannya masih gusar, digerogoti oleh bayangan-bayangan gelap dan ancaman dingin George di koridor siang tadi.​Tok! Tok! Tok!​Ketukan pelan di pintu mengejutkannya. Miranda membukanya dan mendapati seorang pelayan pria berdiri menunduk hormat. "Dokter Ford, Tuan Muda Riciteli meminta Anda untuk segera menemuinya di kamar pribadi beliau."​Darah Miranda berdesir hebat. Ia tahu persis apa arti panggilan tengah malam itu. Namun, kali ini ada gelombang pemberontakan yang membakar dadanya. Ia lelah menjadi bayang-bayang yang patuh. Ini adalah saatnya ia meminta haknya—meminta kepastian bahwa dirinya bukan sekadar budak pemuas nafsu di kala sang istri membeku.​Miranda melangkah menyusuri koridor megah menuju sayap kamar George. Malam ini, ia mengenakan jubah tidur sutra berwarna putih gading yang tipis, melapisi lingerie

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    190. Obsesi Dan Kegilaan Miranda

    Malam yang panjang dan menyiksa di Pulau Eden akhirnya habis tak bersisa. Dari ufuk timur, seberkas sinar jingga mulai memecah langit Rusia yang kelam, menandai dimulainya pagi yang baru. Di dalam laboratorium yang sunyi, aroma antiseptik bercampur cairan kimia tercium begitu pekat. Dua orang dokter, Klaus dan Arian, sudah berdiri di dekat kapsul isolasi, sibuk mengecek monitor dan mencatat sisa perkembangan metabolisme sel di tubuh Bella Riciteli.​Pintu laboratorium berdesis terbuka. Miranda Ford muncul dengan napas yang sedikit memburu. Langkah kakinya tergesa-gesa; ia kesiangan bangun akibat keletihan fisik dan siksaan mental yang ia lalui semalam di kamar pribadi George. Tanpa membuang waktu untuk menyapa kedua koleganya, Miranda memakai sarung tangan lateks dan langsung mendekati meja alumunium tempat tubuh Bella dibaringkan setelah dikeluarkan dari kapsul es.​Miranda meraih pergelangan tangan Bella, merasakan denyut nadinya. Ia kemudian menggunakan jemarinya untuk membuka

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    189. Kecanduan Hasrat Liar George

    Suasana di ruang makan mewah itu mendadak berubah menjadi panggung penyiksaan mental bagi Miranda Ford. Denting garpu dan pisau di atas piring porselen terdengar seperti detak jam dinding yang menghitung mundur harga dirinya. Di bawah gaun hitam pendek yang sengaja ia pilih untuk menarik perhatian, paha mulusnya terasa dingin. Setiap kali matanya terangkat, ia mendapati George Riciteli tetap tenang, mengunyah potongan daging lobsternya dengan presisi yang lambat dan elegan, seolah-olah wanita yang berdandan habis-habisan di hadapannya ini hanyalah dekorasi ruangan yang tak kasatmata.Rasa malu yang pekat mulai merayap di tengkuk Miranda. Apa aku terlihat menyedihkan? Apa riasanku terlalu tebal hingga tampak murahan? batinnya bergejolak, merutuki kebodohannya sendiri karena membiarkan obsesi aneh ini menguasai akal sehatnya."Uhuk! Uhuk... Mom..."Suara batuk yang tiba-tiba memecah keheningan. Noah tersedak saat mencoba menelan makanannya terlalu cepat karena asyik bermain robot. M

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status