Home / Mafia / DI ATAS RANJANG MAFIA / 86. Di Mana George

Share

86. Di Mana George

Author: Dewa Amour
last update publish date: 2026-01-23 09:09:02

"Lepaskan!"

Suara Meghan memecah kesunyian hutan yang lembap. Ia menarik paksa lengannya dari cengkeraman Maxi, pria bertopeng perak yang terus menyeretnya menembus semak belukar.

Hutan ini terasa seperti labirin tanpa akhir setelah mereka meninggalkan mobil di tepi bukit yang curam.

Maxi hanya menyeringai tipis di balik topengnya. Ia menoleh sejenak, menatap wajah Meghan yang merah padam karena emosi—sebuah pemandangan yang baginya justru terlihat sangat menggemaskan. Semakin Meghan melawan,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    198. Bella Tahu Semuanya

    Miranda terdiam seribu bahasa, tubuhnya mendadak kaku seolah dialiri es. Beliau tidak pernah benar-benar melepaskan mangsanya... Ia masih tertegun ditempat saat ​Luca membungkuk hormat sekilas, lalu berbalik dan melanjutkan langkahnya keluar, meninggalkan Miranda yang berdiri terpaku sendirian di koridor yang sunyi. 𝘎𝘦𝘰𝘳𝘨𝘦 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪. 𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘎𝘦𝘰𝘳𝘨𝘦 𝘳𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯? ​Miranda berjalan gontai kembali ke dalam kamar. Ia duduk di tepi ranjang, menatap wajah polos Noah yang mulai mengeliat kecil dalam tidurnya. Jemari Miranda menyentuh kening putranya yang hangat. Pikiran wanita itu kini berkelana, tersesat dalam labirin spekulasi yang berbahaya. ​Andaikan George tidak datang tepat waktu tadi pagi... entah apa yang akan terjadi padaku dan Noah di tangan Morton, batinnya, didera rasa ngeri yang teramat sangat. Namun, pertanyaan terbesar yang merongrong jiwanya adalah: Kenapa?

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    197. Hanya Sebagai Mangsa

    Roda-roda SUV hitam yang membawa Miranda Ford terus berputar, bergerak mantap menjauhi hiruk-pikuk dermaga pelabuhan yang penuh kepulan kabut. Di dalam kabin penumpang yang senyap, Miranda duduk bersandar. Jemarinya yang masih gemetar bergerak ritmis, mengusap lembut helai rambut kecokelatan Noah yang meringkuk pasrah di pangkuannya. Napas bocah itu masih teratur di bawah sisa pengaruh kloroform, meninggalkan kedamaian semu di tengah badai yang kembali mengguncang hidup mereka. ​Miranda melemparkan pandangannya ke luar jendela kaca yang gelap. Di sepanjang jalan raya pinggiran kota, deretan pohon maple dengan daun-daun yang mulai menguning bergerak mundur. Lampu-lampu jalan yang belum padam sepenuhnya berkedip redup di bawah langit pagi yang kian benderang. Di trotoar, para pejalan kaki berjaket tebal tampak sibuk dengan urusan mereka sendiri—sebuah potret kehidupan normal yang fana, yang kini tak akan pernah bisa Miranda gapai. ​Pandangan mata hijau Miranda beralih, mengunc

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    196. Tak Bisa Lepas Darinya

    Napas Miranda terengah-engah, dadanya terasa panas terbakar oleh pasokan oksigen yang menipis saat kakinya menginjak lantai beton area parkir basement yang luas dan sepi. Pencahayaan di tempat itu sangat minim, hanya mengandalkan beberapa lampu neon yang berkedip-kedip redup. ​Sepasang matanya yang tajam dan dipenuhi air mata kemarahan menyapu deretan mobil-mobil yang terparkir rapi. Di sudut area yang agak gelap, ia menangkap siluet sebuah mobil sedan abu-abu yang pintunya terbuka. Seorang pria bertubuh kekar membelakanginya, tampak sedang memasukkan sesuatu yang besar ke dalam bagasi mobil. ​Melalui celah bagasi yang belum tertutup rapat, Miranda melihat sepasang sepatu kets kecil berwarna biru. Itu kaki kecil Noah! ​Kemarahan seorang ibu yang anaknya diusik seketika mengubah Miranda menjadi singa betina yang haus darah. Ia mengepalkan tangannya, membuang seluruh rasa takutnya, dan berlari kencang di atas lantai beton sembari berteriak murka yang menggema di seluruh ruangan

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    195. Noah Di Culik

    Pagi belum jatuh sepenuhnya di dermaga pelabuhan Amerika Timur. Kabut tebal yang bergulung dari laut membuat atmosfer di sekitar area kedatangan terasa lembap dan suram. Namun suara terompet kapal yang membaur dengan hirup pikuk orang-orang, memecah keheningan. Miranda Ford berjalan tergesa-gesa di antara kerumunan orang yang lalu lalang. Tas besar disampirkan di bahunya, sementara tangan kanannya menyeret sebuah koper perak dengan susah payah. Kapal pesiar mewah yang membawanya dari Pulau Eden telah menghilang kembali ke balik kabut samudra, membawa pergi para pengawal Riciteli yang mengawalnya. Kini, ia benar-benar sendirian di tanah kelahirannya. ​Miranda menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak yang masih tertinggal di dadanya pasca-mendengar pengakuan jujur George dari mulut Noah. Ia menoleh ke samping bawah, menatap putranya yang berjalan dengan langkah gontai. Noah menggendong ransel kecilnya, dengan wajah yang masih tampak murung dan enggan bicara. ​"Noah, Sa

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    194. Keheningan Dan Kehilangan

    Satu jam perjalanan yang sunyi berlalu hingga mobil akhirnya tiba di sebuah dermaga rahasia yang terisolasi di pinggiran pulau. Sebuah kapal pesiar berukuran sedang yang mewah sudah bersandar, mesinnya bergandengan dengan suara ombak laut yang tenang.​Luca mengantarkan Miranda dan Noah hingga ke jembatan kapal. "Dua pengawal terbaik Tuan Muda akan menemani perjalanan Anda hingga tiba di daratan Amerika Timur, Dokter Ford. Seluruh kebutuhan Anda selama di kapal sudah terpenuhi," ujar Luca formal.​"Terima kasih, Luca... untuk semuanya," ucap Miranda pelan, menyadari bahwa pria di hadapannya ini adalah salah satu dari sedikit orang yang memperlakukannya secara manusiawi di tempat ini.​Miranda menuntun Noah melangkah memasuki kabin penumpang kapal yang mewah. Begitu kapal mulai bergerak meninggalkan dermaga Pulau Eden, membelah lautan Rusia menuju samudra luas, Miranda duduk di kursi penumpang yang empuk. Tangannya perlahan merayap ke dalam saku mantelnya, mengeluarkan selembar kert

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    193. Kepergian Miranda

    Semburat cahaya jingga di ufuk timur belum sepenuhnya jatuh menyinari Pulau Eden ketika ketegangan memuncak di salah satu kamar paviliun. Kamar yang selama lima bulan terakhir menjadi saksi bisu kecemasan, air mata, dan pergulatan batin seorang Miranda Ford kini tampak berantakan. Koper-koper kulit besar terbuka di atas ranjang, menampung pakaian-pakaian yang dilipat dengan tergesa-gesa.​"Cepat, Noah. Masukkan mainanmu yang tersisa ke dalam ransel. Kita harus pergi sekarang juga," perintah Miranda, suaranya bergetar menahan tekanan emosi yang mendera dadanya sejak subuh. Perintah George mutlak: pergi begitu matahari terbit.​Di sudut ruangan, Noah berdiri mematung. Bocah berusia lima tahun itu tidak menyentuh ranselnya sama sekali. Wajah bulat yang biasanya ceria kini tampak mendung, matanya menatap lantai marmer dengan tatapan murung yang begitu dalam.​"Noah, kau dengar Mommy? Ayo cepat kemasi mainan mu," desak Miranda lagi, tangannya gemetar saat menutup ritsleting kopernya den

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status