홈 / Romansa / DI BALIK LAMPU IBUKOTA / 2. KOST DALAM GANG

공유

2. KOST DALAM GANG

작가: Arata Kaivan
last update 게시일: 2026-08-16 00:34:45

Juna terdiam di tempat duduknya. Ia membuka kembali aplikasi peta di ponselnya. Jari telunjuknya memperbesar area di balik deretan ruko besar.

Garis-garis jalan berubah menjadi urat-urat halus berwarna abu-abu. Matanya menatap titik bertuliskan nama kos dengan harga yang tidak sampai sepertiga dari harga kos pertama yang ia datangi.

Ia bangkit berdiri, membetulkan letak ranselnya, lalu melangkah menyeberangi jalan raya menuju celah di antara dua ruko.

Cahaya lampu neon jalan raya mendadak lenyap, berganti dengan temaram lampu bohlam kuning yang digantung di setiap tiang listrik swadaya.

Suara deru mobil berganti menjadi suara gemericik air buangan AC yang menetes ke atas seng, bersahut-sahutan dengan suara tangisan bayi dari dalam rumah seng. Di beberapa sudut, sepeda motor bebek terparkir melintang memenuhi lorong gang.

Juna memperlambat langkahnya saat melewati tikungan tajam yang hanya diterangi lampu teras sebuah rumah kontrakan.

Seorang perempuan berambut panjang yang diwarnai pirang jagung berjalan mendahuluinya. Juna melirik celana jeans pendek ketat dan kaus tanpa lengan bermotif garis-garis.

 Sepatu hak tinggi yang dipakainya mengetuk lantai semen. Kepala perempuan itu menunduk, menatap layar ponselnya yang menyala terang, memantulkan cahaya pada wajah yang berbedak tebal.

Dari arah berlawanan, seorang perempuan lain berjalan masuk. Pakaiannya mirip, dilengkapi tas selempang kecil berlapis manik-manik yang berkilau terkena cahaya lampu bohlam.

Sebuah motor matik berknalpot brong masuk ke dalam gang. Juna menyipitkan mata saat lampu kendaraan itu menyorot wajahnya. Motor itu berhenti di depan salah satu pintu kayu.

Seorang pria berjaket kulit hitam turun, mengetuk pintu tiga kali tanpa bersuara, lalu masuk setelah pintu terbuka sedikit. Di ujung gang yang lain, sepasang muda-mudi keluar dari celah bangunan.

Pria itu merangkul pinggang perempuan yang berjalan sempoyongan sambil tertawa cekikikan.

Langkah Juna terhenti. Punggungnya bersandar di dinding batako, jemarinya mengusap hidung. "Jakarta memang seramai ini, ya, padahal di dalam gang begini," suaranya samar di balik deru knalpot motor.

Ia mendongak, menatap bangunan kos tiga lantai. Cat dindingnya merah jambu yang memudar, dipenuhi noda hitam rembesan air hujan. Ia menoleh ke tangga besi melingkar di bagian luar yang menghubungkan lantai satu hingga lantai paling atas.

Seorang wanita paruh baya duduk di kursi depan pintu utama. Ia mengenakan daster batik longgar, rambutnya digulung menggunakan ikat rambut plastik besar. Kipas anyaman bambu di tangannya bergoyang mengipasi wajah.

"Kamar kosongnya tinggal dua, Mas. Satu di lantai dua, satu di lantai tiga." Kipas di tangan ibu kos itu menunjuk ke arah lantai dua. "Harganya delapan ratus lima puluh ribu. Sudah bersih, air lancar, listrik token masing-masing."

Juna mengintip ke dalam kamar lantai satu yang pintunya terbuka sedikit. Ukurannya tiga kali tiga meter.

Kasur busa tipis terhampar di lantai tanpa ranjang, berhadapan langsung dengan lemari pakaian plastik. Matanya bergerak ke pintu plastik kecil di sudut belakang, pembatas jalur ke kamar mandi.

"Bagaimana? Kalau cocok, langsung DP saja seratus ribu, biar saya kunci kamarnya. Di sini cepat habisnya, Mas. Yang mencari banyak," lanjut ibu kos sambil mengibaskan kipasnya lebih cepat.

Juna menurunkan map birunya ke atas meja kayu kecil di sebelah ibu kos. "Iya, Bu. Saya ambil yang lantai dua saja." Ia merogoh saku celananya, mengambil selembar uang seratus ribu.

"Bu, paket kosmetik saya yang kemarin dititipkan di bawah, ya?"

Suara seorang perempuan terdengar dari arah tangga besi luar. Langkah kakinya terdengar menuruni anak tangga yang berdentang pelan.

Tangan kanan Juna menerima kunci dari ibu kos.

"Ada di kardus samping kulkas tuh, Nar! Ambil sendiri!" seru ibu kos tanpa mengalihkan pandangan dari uang seratus ribu di tangannya.

Perempuan itu berjalan mendekat ke arah meja teras. Ia mengenakan kaus oblong kebesaran, dipadukan celana hotpants yang tertutup ujung kausnya.

Rambutnya diikat asal-asalan dengan karet gelang, beberapa helai jatuh di sekitar pipinya yang tanpa riasan. Sandal jepit putihnya kusam oleh noda tanah kering.

Langkah perempuan itu berhenti tepat dua meter di samping Juna. Matanya yang bulat menatap lurus ke sisi wajah Juna.

Juna menoleh pelan. Kedua pasang mata bertemu di bawah temaram lampu bohlam kuning teras kos. Ibu kos di antara mereka berdua sibuk menghitung uang kembalian.

Juna menurunkan tangannya yang memegang kunci. Matanya membelalak, otot-otot di wajahnya mengendur.

"...Nara?" suara Juna bergetar pelan, hampir seperti bisikan.

Angin malam bertiup pelan, helai rambut Nara bergoyang melewati pipinya.

"...Juna?" Ia menarik napas pendek, mulutnya sedikit terbuka lalu menutup lagi, lalu tersenyum tipis. "Beneran lo?"

Ibu kos mendongak, bergantian menatap Juna dan Nara dengan alis berkerut. "Lho, kalian sudah saling kenal?"

Mereka berdiri di dekat railing besi lantai dua, menghadap ke arah gang kecil di bawah yang remang. Suara musik dangdut dari radio saku terdengar sayup-sayup, bersahutan dengan suara tawa dari dalam kamar kos.

"Lo... sudah lama di sini, Nar?" Juna membuka percakapan, tangannya memegang besi railing yang dingin dan lengket oleh debu kota.

"Tiga tahun," jawab Nara singkat. Ia merobek ujung plastik paket kecil yang baru diambilnya dari bawah, lalu mengeluarkan botol serum wajah berukuran kecil. "Gue kerja di coffee shop daerah Senopati. Jadi barista."

Juna mengangguk, matanya memandangi sandal jepit Nara, lalu naik ke pahanya yang tertutup kaus. "Gue baru sampai tadi siang dari Cirebon naik kereta. Besok langsung mulai kerja di kantor daerah sini juga. Lo ngapain di sini?"

Jemari Nara berhenti memeriksa botol serum. Matanya beralih ke ransel hitam besar yang masih digendong Juna di punggung, lalu turun ke arah map plastik biru yang didekap erat di dadanya.

Tatapan Nara bergerak menyapu sekeliling koridor lantai dua kos: pintu-pintu kamar yang tertutup rapat, sepasang sandal wanita berhak tinggi yang diletakkan sembarangan di luar kamar nomor 12, di tengah bau asap rokok yang pekat dari lantai bawah.

Nara tertawa kecil.

"Lo tinggal di sini?" tanya Juna lagi.

"Pertanyaan gue dulu, Jun." Nara membalikkan tubuhnya, kedua sikutnya bersandar ke railing, menatap wajah Juna. "Lo yakin mau ambil kos di sini?"

"Iya. Harganya cocok sama kantong gue." Juna menepuk saku celananya. "Lagian susah banget mencari yang murah dekat kantor. Tadi siang gue hampir gila mencari tempat."

Nara memandangi ujung sepatu Juna yang berdebu, lalu kembali menatap ke arah gang bawah yang semakin ramai dengan lalu lalang motor. "Ya... terserah lo, sih."

"Jakarta menyambut lo lebih cepat dari yang gue kira, Jun," lanjut Nara, suaranya datar, nyaris tanpa emosi.

Alis Juna mengerut. "Maksudnya? Menyambut bagaimana?"

Nara mengalihkan pandangannya ke arah ujung gang. Bayangan orang-orang yang lalu lalang terpantul di dinding batako.

"Nanti juga mengerti," ucap Nara pelan.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   46. DUA TOPENG

    Pendingin ruangan di sudut kubikel berdesis panjang, uap dingin menguap di atas kepala Danang. Di atas meja kerja Juna, gelas berisi sisa es kopi susu mulai berkeringat, membentuk lingkaran air yang perlahan melebar membasahi sudut kertas tagihan internet.Rafi duduk di sebelah Juna. Jari telunjuknya mengetuk sisi gelas kopinya bercampur suara ketikan papan ketik Bayu. Bahu Juna menegang, punggungnya tegak lurus menatap baris kode pemrograman yang tidak berubah selama sepuluh menit. Matanya merah di bagian sudut.Di kubikel seberang, Danang sesekali menurunkan pandangan dari monitornya, melirik ke arah Juna dan Rafi sebelum kembali mengetik.Gagang pintu kayu di ruangan tengah berputar. Anto melangkah keluar. Kemeja flanel kotak-kotak biru miliknya digulung kasar sampai siku. Wajahnya lurus,atanya menyapu ruangan, lalu berhenti tepat pada ubun-ubun Juna."Juna. Rafi. Ruangan gue."Juna menahan napasnya di tenggorokan. Rafi menurunkan gelas kopinya ke atas meja. Dia menoleh ke arah Dan

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   46. MEJA HRD

    Logo emas Prames Group di dinding akrilik memantulkan cahaya putih lampu. Pulpen emas milik Heru tergeletak tanpa tutup di atas permukaan meja kayu oval, bergulir pelan, berhenti tepat di dekat garis tengah. Map kontrak kerja sudah tenggelam di balik ritsleting tas kanvas Dita.Dita berdiri tegak di tempatnya, kedua tangannya menggenggam erat tali tas kanvas di bahunya, buku-buku jarinya memutih. Heru melangkah memutari meja, mendekatinya.Dita tidak bergerak mundur. Matanya menatap lurus ke depan, kosong. "Setelah ini selesai, Pak."Heru berhenti satu jengkal di depan Dita. "Kamu terlalu banyak membuat aturan hari ini.""Bapak juga," balas Dita pendek.Heru berbalik sebentar, melangkah ke arah pintu kayu, mengintip lewat celah kecil di antara bilah tirai vertikal.Kursi kerja di dekat meja bergeser kasar, menabrak kaki meja oval. Tas kanvas Dita.Di dinding, poster dengan tulisan People First tetap terpampang di bawah sorot lampu. Kedua tangan Dita mencengkeram tepi meja oval kayu di

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   45. KONTRAK

    Dita menunduk, rahangnya mengeras.Heru tertawa pendek. "Saya ini punya ingatan yang kuat soal wajah orang. Apalagi kalau pelayanannya malam itu... cukup membekas sampai besok paginya."Dita mempererat genggamannya di tas kanvasnya. "Saya datang ke sini untuk interview kerja, Pak Heru.""Saya tahu," Heru kembali duduk di kursi. "Makanya saya masih ada di dalam ruangan ini sekarang. Kalau saya nggak mau, kamu sudah disuruh pulang sama staf saya."Pandangan dita bergeram ke poster bertuliskan Integrity. Growth. People First di belakang HeruHeru menyilangkan kaki kirinya di atas lutut kanan. "Kita bicara realitas saja, Dita. Nilai tes administrasi kamu pas-pasan. Pengalaman kerja kamu di bidang logistik hampir nggak ada nilainya untuk standar Prames Group. Usia kamu juga sudah mepet untuk batas maksimal posisi entry level di sini."Dita menatap permukaan meja kayu yang mengkilap."Tapi saya bisa bantu kamu," suara Heru turun satu oktav.Dita tidak mengangkat wajahnya. "Bantu gimana, Pak

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   44. INTERVIEW

    Cahaya matahari melewati celah gorden kain tipis. Debu-debu halus melayang di dalam garis vertikal yang menerangi permukaan kasur. Gaun hitam poliester ketat dan kemeja katun tergeletak di atas kasur.Dita duduk tegak di atas lantai, menghadap cermin kotak kecil di atas meja. Wajahnya polos. Jemarinya menggenggam pensil alis cokelat, menarik garis pelan di atas tulang pelipis, mencoba membuat lengkungan yang tipis, namun goresan itu berakhir terlalu tajam dan tebal—pola yang biasa dia gambar di bawah sorot lampu neon temaram room karaoke.Dita mengembuskan napas panjang. Ujung telunjuknya menghapus paksa sudut terluar alis itu hingga kulitnya memerah. Ia melirik ke layar ponsel ponsel di atas nakah, menatap email masuk.Prames Group TowerUndangan Interview: Staf Administrasi Logistik LapanganWaktu: Pukul 14.00 WIBLantai 12, Ruang Rekrutmen BTok. Tok.Pintu kamar diketuk dua kali dari luar.Monic berdiri di ambang pintu. Wajahnya masih pucat, gurat lelah setelah dua hari meringkuk

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   43. KAMAR 203

    Gerakan koin di tangan Juna berhenti di tengah punggung Monic. Logam itu menempel kaku di atas kulit. "Hah? Maksud lo?""Kamar 104. Kamarnya Dita."Juna menelan ludah, menatap garis merah vertikal yang baru dibuatnya di punggung Monic. "Maksud lo apa sih, Mon? Jangan mulai deh," ia meletakkan koin seribuan di atas kasur. Logam itu jatuh tanpa bunyi di atas kain seprai.Monic memutar kepalanya, melirik dari balik bahunya yang memerah. Kelopak matanya yang sayu menyipit. "Gue kebangun tengah malem pas mau ambil minum ke bawah. Ada siluet cowok keluar dari Kamar 104 pakai kaos kebalik. Pas lewat lampu koridor, gue kenal kaosnya."Juna mematung. Tangannya terkepal di atas lutut."Besok paginya, si Dita keluar jemur baju sambil senyum-senyum sendiri pas pasang jepitan jemuran," Monic kembali menghadap bantal. Suaranya datar. "Gue cuma mau tahu satu hal dari lo.""Apa?""Lo m

  • DI BALIK LAMPU IBUKOTA   42. KEROKAN

    Cahaya matahari siang menyinari koridor semen lantai dua. Dari luar gang Mampang, sayup-sayup terdengar teriakan intermiten tukang galon keliling beradu dengan deru knalpot motor yang melintas di atas aspal kering.Juna melangkah keluar dari Kamar 202.Rambutnya acak-acakan. Tangannya memegang botol mineral kosong. Langkahnya tertahan tepat tiga langkah sebelum mencapai pembatas koridor.Di depan pintu Kamar 203. Monic duduk di atas kursi kayu panjang. Ia mengenakan kaos jersey bola kebesaran. Wajahnya polos tanpa riasan, pucat dengan rona keunguan samar di bawah kelopak mata. Rambut hitam panjangnya diikat asal ke atas, anak rambut lepek menempel di pelipis. Selimut beludru tipis diturunkan sebatas pundak, membungkus lengan atasnya yang bergidik kecil.Juna menggeser sandal jepitnya. "Tumben nggak wangi parfum satu gang."Monic menoleh, Kelopak matanya bergerak lambat, mata sayu dan kemerahan di sudut-sudutnya. "G

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status