로그인Juna menyandarkan kepalanya ke kaca bus yang bergetar. Matanya menatap pantulan wajahnya di kaca, yang seolah bersinggungan dengan kerumunan orang di luar yang berebut masuk ke dalam bus.
Bus menurunkan Juna di Halte Mampang saat jam menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit. Ia berjalan kaki menyusuri jalan raya yang mulai sepi, lalu berbelok memasuki gang sempit di antara ruko-ruko konveksi yang sudah berhenti beroperasi.
Langkahnya terhenti di depan gerbang kos. Lampu bohlam kuning yang digantung di atas meja kayu menyala terang, membentuk bayangan beberapa penghuni yang sedang berkumpul. Suara air dari ember cucian terdengar samar dari sudut belokan.
Juna berjalan memasuki teras, lalu duduk di ujung undakan semen dekat tiang penyangga tanpa langsung naik ke lantai atas.
Nara duduk di ruang tengah kos. Ia mendongak. "Lo kelihatan kayak habis ditolak lima cewek sekaligus, Jun."
Juna meletakkan map birunya di atas lutut, lalu mengusap wajahnya. "Ditolak lima perusahaan, Nar. Malah ada yang nggak ngangkat muka sama sekali saat gue ngomong."
Beberapa orang di teras terbahak pelan mendengarnya.
Suara sandal jepit karet terdengar dari arah pintu masuk gang. Monic berjalan masuk ke teras. Ia memakai kaus oblong putih kebesaran dan celana pendek kain bergaris longgar. Rambutnya dijepit asal ke atas dengan jepit plastik.
Juna menatap tempe goreng dan bakwan di dalam kantong plastik transparan di tangan kanan Monic.
"Eh, ada anak baru. Kebetulan nih, masih hangat." Monic meletakkan kantong plastik di tengah meja kayu, lalu duduk di sebelah Nara. Ia mengambil sepotong bakwan dan menggigitnya. "Makan, Jun. Muka lo udah kayak dompet tanggal tua."
Juna menoleh. Monic mengulurkan tangan dengan jemari yang bersih tanpa cat kuku palsu. Juna mengambil sepotong tempe goreng. "Makasih, Mon."
Monic mengunyah sambil mengipasi lehernya dengan selembar kertas koran bekas pembungkus gorengan. "Gimana hari pertama? Jakarta keras, ya? Makanya, kalau pusing, lo tahu kan harus ke mana." Ia mengedipkan matanya.
Juna mengunyah tempenya perlahan. Pupil matanya membesar menatap kedipan mata Monic.
Kantong plastik gorengan di atas meja bergoyang sedikit ketika seorang pria kurus keluar dari lorong kamar lantai satu. Tangan kirinya memegang mangkuk mi instan kuah yang asapnya mengepul tebal. Rokok kretek terselip di telinga kanannya.
"Ditolak lima mah biasa, Jun. Gue dulu hari pertama kerja di diler motor, nawarin brosur ke seratus orang, yang nerima cuma dua. Itu pun dipakai buat bungkus kacang." Deni duduk di lantai semen dekat kaki meja, lalu menyeruput kuah minya.
"Tapi kan lo sekarang udah jadi supervisor, Den. Gaya lo," sahut Bang Ucup, pria bertubuh kekar yang sibuk membersihkan obeng kembangnya di dekat tangga.
Deni terkekeh, membetulkan posisi duduknya. "Supervisor apaan. Target naik terus tiap bulan. Target hidup gue mah sekarang udah sederhana, Bang." Ia mengangkat sendok minya. "Mati sebelum BPJS gue non-aktif. Biar nggak ribet urusan birokrasi di rumah sakit."
Bang Ucup melempar kain lap kotornya ke arah pundak Deni. Monic tersedak bakwannya.
"Halah, lu berdua mah kurang jauh mainnya." Bang Ucup bangkit berdiri, meregangkan otot-otot lengannya yang besar, lalu berjalan ke arah dispenser untuk mengisi ulang botol air minumnya.
"Jakarta itu kayak mantan, Jun." Bang Ucup berbalik, menunjuk Juna dengan ujung obengnya. "Nyakitin terus tiap hari, bikin dompet kering, bikin kapalan, tapi anehnya... tetap aja nggak bisa ditinggal. Mau pulang kampung juga bingung mau ngapain di sana."
"Basi, Bang! Kalimat lo dapet dari F******k, ya?" Monic melempar tisu bekas ke arah Bang Ucup.
"Ini filosofi orang lapangan, Sayang! Tanya aja tuh si Dita yang tiap hari pulang jam sembilan malam dari pabrik garmen." Mata Bang Ucup beralih ke arah Dita.
Dita memotong kukunya. "Kalian kalau nggak ribut sehari kayaknya demam deh." Ia menoleh ke arah Juna, menatap kemeja putih pemuda itu yang sudah kusut di bagian lengan. "Jangan didengerin mereka, Juna. Di sini emang begitu suaranya. Kalau sepi, berarti lagi pada nggak punya duit buat beli kopi."
Kepulan asap rokok Bang Ucup bergerak lambat. Angin sepoi-sepoi menggerakkan daun-daun tanaman monstera di dalam pot beton ekspos.
Juna memperhatikan tangan Bang Ucup yang memijat pergelangan tangannya sendiri. "Bang Ucup udah berapa lama di Jakarta?"
"Tujuh tahun, Jun. Anak bini di Tegal. Tiap bulan yang penting kiriman lancar buat bayar sekolah sama beras." Bang Ucup menjawab singkat, matanya menatap asap rokoknya yang bergerak lurus ke atas, lalu pecah ditiup angin kipas teras.
"Kalau Mbak Dita?"
Dita memasukkan gunting kukunya ke dalam dompet kecil. "Empat tahun. Adik saya yang paling kecil mau masuk kuliah tahun depan di Yogyakarta. Perlu biaya tambahan."
Deni di sudut lantai menyandarkan kepalanya ke dinding batako, matanya setengah terpejam. "Kalau gue... simpel. Gue cuma pengen keluar dari kampung aja. Bosan lihat sawah melulu. Pengen ngerasain punya motor matik hasil kerja sendiri."
Monic tersenyum, jemarinya memainkan ujung plastik gorengan yang kosong saat mata Juna beralih kepadanya.
Nara bersandar di tiang, melipat kedua tangannya di dada, mengalihkan pandangannya dari ujung gang lurus ke wajah Juna. "Kalau lo sendiri, Jun? Ngapain lo jauh-jauh ke sini?"
Juna menatap map plastik birunya. "Gue... gue pengen berhasil, Nar," jawab Juna pelan.
Bang Ucup, Deni, dan Dita mengangguk pelan bersamaan.
Satu per satu penghuni mulai bangkit berdiri, menyambar barang bawaan mereka, lalu melangkah masuk ke dalam kamar masing-masing.
Teras bawah kembali sepi. Lampu bohlam kuning yang digantung di atas meja kayu bergoyang pelan ditiup angin malam.
Juna tetap duduk di undakan semen sendirian. Pandangannya lurus menatap lorong kos yang gelap, lalu berpindah ke arah luar gang. Lampu-lampu bohlam kuning dari rumah-rumah petak di sekitarnya berjejer rapat.
"Mau sampai jam berapa di situ, Juna?" suara Monic terdengar dari ujung tangga di lantai dua.
"Eh, iya, Mon." Juna berdiri, mengalungkan ranselnya ke satu bahu, lalu melangkah menaiki anak tangga besi menuju lantai dua.
Pendingin ruangan di sudut kubikel berdesis panjang, uap dingin menguap di atas kepala Danang. Di atas meja kerja Juna, gelas berisi sisa es kopi susu mulai berkeringat, membentuk lingkaran air yang perlahan melebar membasahi sudut kertas tagihan internet.Rafi duduk di sebelah Juna. Jari telunjuknya mengetuk sisi gelas kopinya bercampur suara ketikan papan ketik Bayu. Bahu Juna menegang, punggungnya tegak lurus menatap baris kode pemrograman yang tidak berubah selama sepuluh menit. Matanya merah di bagian sudut.Di kubikel seberang, Danang sesekali menurunkan pandangan dari monitornya, melirik ke arah Juna dan Rafi sebelum kembali mengetik.Gagang pintu kayu di ruangan tengah berputar. Anto melangkah keluar. Kemeja flanel kotak-kotak biru miliknya digulung kasar sampai siku. Wajahnya lurus,atanya menyapu ruangan, lalu berhenti tepat pada ubun-ubun Juna."Juna. Rafi. Ruangan gue."Juna menahan napasnya di tenggorokan. Rafi menurunkan gelas kopinya ke atas meja. Dia menoleh ke arah Dan
Logo emas Prames Group di dinding akrilik memantulkan cahaya putih lampu. Pulpen emas milik Heru tergeletak tanpa tutup di atas permukaan meja kayu oval, bergulir pelan, berhenti tepat di dekat garis tengah. Map kontrak kerja sudah tenggelam di balik ritsleting tas kanvas Dita.Dita berdiri tegak di tempatnya, kedua tangannya menggenggam erat tali tas kanvas di bahunya, buku-buku jarinya memutih. Heru melangkah memutari meja, mendekatinya.Dita tidak bergerak mundur. Matanya menatap lurus ke depan, kosong. "Setelah ini selesai, Pak."Heru berhenti satu jengkal di depan Dita. "Kamu terlalu banyak membuat aturan hari ini.""Bapak juga," balas Dita pendek.Heru berbalik sebentar, melangkah ke arah pintu kayu, mengintip lewat celah kecil di antara bilah tirai vertikal.Kursi kerja di dekat meja bergeser kasar, menabrak kaki meja oval. Tas kanvas Dita.Di dinding, poster dengan tulisan People First tetap terpampang di bawah sorot lampu. Kedua tangan Dita mencengkeram tepi meja oval kayu di
Dita menunduk, rahangnya mengeras.Heru tertawa pendek. "Saya ini punya ingatan yang kuat soal wajah orang. Apalagi kalau pelayanannya malam itu... cukup membekas sampai besok paginya."Dita mempererat genggamannya di tas kanvasnya. "Saya datang ke sini untuk interview kerja, Pak Heru.""Saya tahu," Heru kembali duduk di kursi. "Makanya saya masih ada di dalam ruangan ini sekarang. Kalau saya nggak mau, kamu sudah disuruh pulang sama staf saya."Pandangan dita bergeram ke poster bertuliskan Integrity. Growth. People First di belakang HeruHeru menyilangkan kaki kirinya di atas lutut kanan. "Kita bicara realitas saja, Dita. Nilai tes administrasi kamu pas-pasan. Pengalaman kerja kamu di bidang logistik hampir nggak ada nilainya untuk standar Prames Group. Usia kamu juga sudah mepet untuk batas maksimal posisi entry level di sini."Dita menatap permukaan meja kayu yang mengkilap."Tapi saya bisa bantu kamu," suara Heru turun satu oktav.Dita tidak mengangkat wajahnya. "Bantu gimana, Pak
Cahaya matahari melewati celah gorden kain tipis. Debu-debu halus melayang di dalam garis vertikal yang menerangi permukaan kasur. Gaun hitam poliester ketat dan kemeja katun tergeletak di atas kasur.Dita duduk tegak di atas lantai, menghadap cermin kotak kecil di atas meja. Wajahnya polos. Jemarinya menggenggam pensil alis cokelat, menarik garis pelan di atas tulang pelipis, mencoba membuat lengkungan yang tipis, namun goresan itu berakhir terlalu tajam dan tebal—pola yang biasa dia gambar di bawah sorot lampu neon temaram room karaoke.Dita mengembuskan napas panjang. Ujung telunjuknya menghapus paksa sudut terluar alis itu hingga kulitnya memerah. Ia melirik ke layar ponsel ponsel di atas nakah, menatap email masuk.Prames Group TowerUndangan Interview: Staf Administrasi Logistik LapanganWaktu: Pukul 14.00 WIBLantai 12, Ruang Rekrutmen BTok. Tok.Pintu kamar diketuk dua kali dari luar.Monic berdiri di ambang pintu. Wajahnya masih pucat, gurat lelah setelah dua hari meringkuk
Gerakan koin di tangan Juna berhenti di tengah punggung Monic. Logam itu menempel kaku di atas kulit. "Hah? Maksud lo?""Kamar 104. Kamarnya Dita."Juna menelan ludah, menatap garis merah vertikal yang baru dibuatnya di punggung Monic. "Maksud lo apa sih, Mon? Jangan mulai deh," ia meletakkan koin seribuan di atas kasur. Logam itu jatuh tanpa bunyi di atas kain seprai.Monic memutar kepalanya, melirik dari balik bahunya yang memerah. Kelopak matanya yang sayu menyipit. "Gue kebangun tengah malem pas mau ambil minum ke bawah. Ada siluet cowok keluar dari Kamar 104 pakai kaos kebalik. Pas lewat lampu koridor, gue kenal kaosnya."Juna mematung. Tangannya terkepal di atas lutut."Besok paginya, si Dita keluar jemur baju sambil senyum-senyum sendiri pas pasang jepitan jemuran," Monic kembali menghadap bantal. Suaranya datar. "Gue cuma mau tahu satu hal dari lo.""Apa?""Lo m
Cahaya matahari siang menyinari koridor semen lantai dua. Dari luar gang Mampang, sayup-sayup terdengar teriakan intermiten tukang galon keliling beradu dengan deru knalpot motor yang melintas di atas aspal kering.Juna melangkah keluar dari Kamar 202.Rambutnya acak-acakan. Tangannya memegang botol mineral kosong. Langkahnya tertahan tepat tiga langkah sebelum mencapai pembatas koridor.Di depan pintu Kamar 203. Monic duduk di atas kursi kayu panjang. Ia mengenakan kaos jersey bola kebesaran. Wajahnya polos tanpa riasan, pucat dengan rona keunguan samar di bawah kelopak mata. Rambut hitam panjangnya diikat asal ke atas, anak rambut lepek menempel di pelipis. Selimut beludru tipis diturunkan sebatas pundak, membungkus lengan atasnya yang bergidik kecil.Juna menggeser sandal jepitnya. "Tumben nggak wangi parfum satu gang."Monic menoleh, Kelopak matanya bergerak lambat, mata sayu dan kemerahan di sudut-sudutnya. "G







