INICIAR SESIÓNJemari Juna memutih, mencengkeram pinggiran kusen kayu pintu kamar 202. Napasnya tersangkut di tenggorokan. Pupil matanya bergerak naik turun ke area dada dan paha Monic Suara dengung baling-baling kipas angin dinding dari dalam kamar Monic terdengar meredup. Otot di balik celana juna menenga. Ia memejamkan mata. Rahangnya mengatup keras hingga giginya berkerut."Anjing..." suara Juna berbisik. "Gue mau ngapain?"Juna menarik telapak tangannya dari kusen, menggantung di samping pahanya. Ia mundur satu langkah, menjauhkan dadanya dari celah pintu. Ia mengembuskan napas panjang lewat mulut. Kedua tangannya mengusap wajahnya, pipinya memerah.Tok. Tok. Tok.Juna mengetuk pintu kamar Monic.Monic tersentak, kain selimut yang tergulung di pinggangnya bergerak naik saat ia mengangkat kepalanya. Rambut panjangnya menutupi sebagian wajah. Dia mengedipkan mata beberapa kali, menatap lurus ke arah langit-langit, lalu kepalanya menoleh ke arah sumber suara. "Juna?" Suaranya parau.Juna tetap ber
Lampu-lampu jalan sebagian besar padam, sebagian berkedip, satu bohlam di sudut kelokan bergoyang pelan ditiup angin. Dari kejauhan, gonggongan anjing liar menyalak pendek dua kali, lalu hilang ditelan deru knalpot motor yang melintas cepat di jalan raya luar.Langkah kaki Juna tertahan di anak tangga besi ketiga. Ia menatap Dita duduk memunggungi arah tangga. Kepalanya tertunduk dalam, dagunya hampir menyentuh lutut yang tertekuk erat. Bahunya bergetar naik-turun. Ia menggenggam ponsel di tangan kanannya, layar ponsel menyala redup, menampilkan baris-baris pesan teks yang bergulir cepat tanpa suara. Isakan pendek terdengar dari sela bibirnya yang tertutup telapak tangan. Juna menarik kembali kaki kanannya ke undakan bawah. Jarinya menyentuh besi pegangan tangga yang dingin, rahangnya terbuka.Dita menoleh saat suara decit sepatu Juna terdengar dari belakang punggungnya. Tangan kirinya bergerak cepat mengusap kedua pipi dan pelupuk matanya. Ia bangkit berdiri, menyambar sandal jepitny
Juna menyandarkan kepalanya ke kaca bus yang bergetar.Matanya menatap pantulan wajahnya di kaca, yang seolah bersinggungan dengankerumunan orang di luar yang berebut masuk ke dalam bus.Bus menurunkan Juna di Halte Mampang saat jam menunjukkanpukul delapan lewat lima belas menit. Ia berjalan kaki menyusuri jalan rayayang mulai sepi, lalu berbelok memasuki gang sempit di antara ruko-rukokonveksi yang sudah berhenti beroperasi. Langkahnya terhenti di depan gerbang kos. Lampu bohlamkuning yang digantung di atas meja kayu menyala terang, membentuk bayanganbeberapa penghuni yang sedang berkumpul. Suara air dari ember cucian terdengarsamar dari sudut belokan.Juna berjalan memasuki teras, lalu duduk di ujung undakansemen dekat tiang penyangga tanpa langsung naik ke lantai atas.Nara duduk di ruang tengah kos. Ia mendongak. "Lokelihatan kayak habis ditolak lima cewek sekaligus, Jun."Juna meletakkan map birunya di atas lutut, lalu mengusapwajahnya. "Ditolak lima perusahaan, Nar.
Suara dengung mesin jahit elektrik dari ruko konveksi diseberang gang sudah menderu sejak pukul enam pagi, bersahut-sahutan denganbunyi sutil besi yang menghantam wajan tukang nasi uduk. Juna melangkahmenuruni tangga besi luar kos.Nara berdiri di depan dispenser yang diletakkan di atas mejakayu. Ia mengaduk kopi sachet di dalam gelas kertas. Rambutnya basah,diikat ekor kuda."Hari ini udah dilepas?" tanya Nara tanpa menoleh.Ujung sendoknya mengetuk pinggiran gelas tiga kali.Juna berhenti di dekat tiang beton, membetulkan posisiranselnya. "Iya. Disuruh nyari prospek sendiri. Keliling lapangan."Nara mengangkat gelasnya, meniup permukaan kopi yangmengepulkan uap panas, lalu menatap Juna. "Berarti hari ini lo bakalketemu Jakarta."Juna mengernyitkan dahi, matanya melirik ke arah jalanangang yang mulai dipadati punggung para pekerja pabrik. "Kemarin gue ketemuapa?""Versi trial," jawab Nara pendek. Diaberbalik lalu menuju kamarnya.Juna menarik napas panjang, melangkah kelua
Juna berdiri di depan pintu kaca lantai delapan di gedungperkantoran SCBD. Ia mendongak, menatap papan nama akrilik Nexus WebSolution - Ruang Kerja 1. Kepalanya menunduk, memandangi lantai parket kayu. Matanyabergerak ke meja kayu panjang yang dipenuhi monitor-monitor besar.Aroma kopi saset dan asap rokok elektrik dari arah balkonluar menyatu dengan dinginnya udara AC sentral yang berembus."Pagi, Mas Juna, ya? Sini, ikut saya," ujarseorang pria bertubuh tambun yang mengenakan kemeja biru dongker, dengankancing bagian bawah yang kesulitan menahan perutnya.Juna berjalan mendekat, mendekap map birunya ke dada."Pagi, Pak.""Gue Anto, Sales Manager di sini. Panggil Masatau Pak bebas, asal jangan panggil Sayang," kata Anto sambil terkekeh.Dia menunjuk ke arah pemuda kurus yang sedang mengetik di meja sebelah."Nah, ini Rafi. Senior sales lu. Nanti lu banyak belajar dilapangan sama dia."Rafi menoleh, mengangkat tangan kanannya. "Yo, Jun.Santai aja. Nanti siang kita langsung t
Baling-baling kipas angin besi berputar di langit-langit.Juna tidur telentang di atas kasur tanpa sprei. Kedua lengannya terlipat dibelakang kepalanya, menjadi bantalan. Cahaya lampu neon di atasnya terpantul dipupil matanya.Dari balik jendela kaca nako yang terbuka setengah, suaraknalpot motor matik menderu pendek, disusul gesekan standar samping. Dua oranglaki-laki berbicara di bawah, lalu tertawa. Langkah kaki terdengar menaiki tangga besi luar kos, laluberhenti di depan pintu kamar sebelah Juna.Tubuh Juna berbalik menghadap dinding. Matanya menatappermukaan semen pelapis yang tidak rata. "Jakarta enggak pernah tidur,apa?" Suaranya serak, tertahan di tenggorokan.Klek.Suara anak kunci yang diputar terdengar dari kamar sebelah,disusul gesekan daun pintu yang beradu dengan lantai keramik tidak rata."Hahaha, jangan di situ, ih! Geli!"Suara lengkingan tawa seorang perempuan menembus dinding.Juna tersentak. Kelopak matanya terbuka lebar. Pandangannya lurus menatapjeruji







