ANMELDENAnya kembali ke kubikelnya dengan kepala yang terasa dipenuhi udara panas. Rekan kerjanya, Dina, langsung menghampiri dengan ekspresi cemas.
“Astaga, Anya! Apa yang terjadi di dalam? Kami semua berpikir kamu dipecat. Kemeja Pak Rio itu...itu pasti harganya setara uang kuliah satu semester,” bisik Dina, matanya melirik waspada ke kantor kaca Rio. Anya menyandarkan punggungnya ke kursi, mengambil napas dalam-dalam. "Aku tidak dipecat. Tapi keadaannya… lebih rumit." "Rumit bagaimana?" "Mulai besok, aku bukan hanya mengurus berkas. Aku adalah Asisten Pribadi Pak Rio, di bawah kendali penuhnya." Anya tidak bisa menyembunyikan nada putus asa dari suaranya. Dina terdiam sesaat, lalu matanya membelalak kaget. "Kamu serius? Anya, itu… itu neraka berbalut jas Armani! Dia terkenal kejam pada asistennya. Dia mengganti tiga asisten dalam enam bulan terakhir karena mereka tidak tahan dengan standarnya yang mustahil!" Peringatan Dina membuat perut Anya melilit. Ia sudah tahu Rio Dirgantara terkenal, tapi ia tidak tahu tingkat keganasannya sampai sefatal itu. "Aku tidak punya pilihan, Dina. Ini adalah satu-satunya kesempatan terakhirku," jawab Anya pelan, sambil menatap berkas-berkas yang sekarang terasa jauh lebih tidak penting dibandingkan nasibnya. Keesokan paginya, Anya tiba pukul 07:30, tiga puluh menit lebih awal. Ia memastikan penampilannya sempurna: kemeja bersih, rok pensil rapi, dan rambut dikuncir ketat. Ia bahkan memeriksa tasnya empat kali untuk memastikan tidak ada cairan berbahaya di dalamnya. Pukul 07:45, Rio tiba. Ia mengenakan setelan biru tua, tampak segar dan tanpa cela, seolah insiden kopi kemarin hanyalah mimpi buruk yang cepat ia lupakan. Ia langsung menuju kantornya tanpa melirik Anya, tapi berhenti di ambang pintu. “Di ruang rapat kecil, lima menit,” katanya singkat, lalu menghilang. Anya buru-buru mengambil buku catatan dan pulpen, bergegas masuk ke ruang rapat kecil yang bersebelahan dengan kantor Rio. Di sana, Rio sudah duduk di ujung meja, dengan tablet dan segelas air es. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan basa-basi. “Duduk,” perintah Rio. “Saya akan menjelaskan tugas baru Anda. Tugas Anda bukan lagi merapikan berkas. Itu sudah saya tugaskan ke staf administrasi lain. Tugas Anda sekarang adalah memastikan hidup saya berjalan tanpa hambatan selama di kantor.” Rio menunjuk ke tablet di depannya. "Ini adalah jadwal saya. Sangat padat. Anda harus menguasainya. Saya tidak suka pengulangan. Jika Anda menanyakan jadwal saya dua kali dalam satu jam, itu sudah termasuk kegagalan." "Baik, Pak. Apa saja detailnya?" Rio mulai mendikte, nadanya seperti membacakan perjanjian bisnis yang rumit. "Pertama, Anda akan berada di meja tepat di luar ruangan saya, bukan lagi di pojok sana. Kedua, semua email masuk dan keluar saya harus Anda saring dan rangkum setiap jam. Ketiga, saya minum kopi hitam tanpa gula, disajikan tepat pukul 09:00 dan 15:00. Tidak kurang, tidak lebih." Anya mencatat dengan cepat. Ia merasa seperti sedang mengikuti kursus kilat untuk menjadi robot, bukan magang. “Keempat, ini yang terpenting,” Rio mencondongkan tubuh sedikit. “Anda akan ikut dalam setiap rapat penting yang saya hadiri. Tugas Anda adalah mencatat, menganalisis, dan memprediksi kebutuhan saya. Jika saya melirik ke arah tertentu, Anda harus tahu apakah saya butuh berkas, marker, atau telepon. Anda harus menjadi ekstensi otak saya.” Anya menelan ludah. "Memprediksi kebutuhan Anda?" "Tepat," Rio bersandar. "Saya tidak suka membuang waktu dengan meminta. Saya ingin Anda bertindak sebelum saya sadar saya butuh sesuatu. Ini disebut inisiatif, Anya. Jika saya harus meminta sesuatu yang seharusnya sudah Anda siapkan, Anda gagal." Rio lalu memberikan sebuah kartu akses dengan pin khusus. "Akses ini hanya untuk ruang kerja pribadi saya, bukan untuk hal lain. Anda bertanggung jawab penuh atas kebersihan dan kerapian meja saya, serta keamanan dokumen di dalamnya." “Pak Rio, apa yang terjadi jika maksud saya, seberapa sering Anda menganggap ini sebagai kegagalan?” tanya Anya dengan hati-hati, mencoba mengukur risikonya. Rio tersenyum tipis, tapi senyum itu jauh dari kata menghibur. "Di bawah kendali saya, kegagalan bukan opsi, Anya. Jika saya merasa satu hari Anda berjalan tanpa inisiatif, atau Anda membuat satu kesalahan fatal yang membuang waktu saya lebih dari lima menit, Anda akan tahu konsekuensinya." Ia lalu menatap mata Anya, menjatuhkan bom verbal terakhirnya. "Satu hal lagi. Di kantor, Anda hanya ada untuk bekerja. Tidak ada obrolan pribadi, tidak ada urusan pribadi, dan tidak ada hubungan pribadi dengan saya. Batasan kita harus jelas: Anda adalah Asisten Saya. Saya adalah Manajer Anda. Paham?" "Paham, Pak Rio," jawab Anya, nada tegasnya kembali, menyembunyikan gejolak kecemasan di dalam dirinya. Saat ia keluar dari ruang rapat, ia merasa seperti baru saja menandatangani kontrak jual beli jiwanya sendiri. Sore itu adalah ujian pertama yang sebenarnya. Anya kini duduk di meja barunya sebuah meja besar di luar kantor Rio, yang membuatnya menjadi pusat perhatian dan juga sasaran Rio yang mengintip dari balik kaca. Pukul 15:00, Anya membawa kopi dengan suhu yang, ia harap, sudah tepat. Ia menggunakan termometer digital kecil yang dibelinya saat makan siang tadi. Ia mengetuk pintu Rio. “Masuk,” sahut Rio. Anya meletakkan kopi di meja Rio. Rio hanya menatap cangkir itu, tidak menyentuhnya. "Apa Anda yakin ini adalah suhu yang benar?" tanyanya tanpa melihat Anya. Anya mencoba terdengar percaya diri. "Ya, Pak. Saya menggunakan termometer. Rio mengambil cangkir itu, menyesapnya perlahan, matanya masih terfokus pada layar komputer. Setelah beberapa detik yang terasa seperti satu jam bagi Anya, Rio mengangguk kecil. "Bagus. Berarti ada satu hal yang bisa Anda lakukan dengan benar." Meskipun itu terdengar seperti penghinaan, bagi Anya, itu adalah kemenangan kecil. Namun, ia nyaris gagal ketika Rio tiba-tiba berkata, “Saya butuh laporan bulanan PT Nusa Jaya, dan data akuisisi bulan lalu, sekarang.” Anya panik. Ia tahu laporan Nusa Jaya ada di sistem, tapi ia lupa di folder mana data akuisisi diletakkan. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Rio menunggu, matanya tajam. Bertindak sebelum diminta, menjadi ekstensi otaknya. Anya ingat Rio sempat melirik ke rak buku di belakangnya saat rapat tadi pagi. Rak itu diisi oleh buku-buku tebal, tapi di antara buku-buku itu, ada beberapa binder berwarna biru dan abu-abu. Anya berbalik, mengabaikan tatapan menunggu Rio. Ia menuju rak buku, menemukan binder biru tua, membukanya, dan bingo! Di sana ada cetakan laporan Nusa Jaya dan data akuisisi. Ia kembali ke meja Rio, menyerahkan berkas itu tanpa kata. Rio mengambilnya, matanya sedikit terangkat. Ada jeda panjang sebelum ia berbicara. "Anda tahu, Anya," katanya, suaranya sedikit lebih lembut dari biasanya, meskipun masih kaku. "Mayoritas orang yang saya pekerjakan hanya bereaksi. Anda… mencoba berpikir ke depan. Ini adalah langkah yang baik." "Terima kasih, Pak," Anya berbisik, lega. Rio kembali fokus pada pekerjaannya, tapi sebelum Anya bisa berbalik, Rio berkata, "Pastikan meja saya bebas dari debu besok. Dan jangan pernah, jangan pernah lagi menumpahkan cairan ke pakaian saya." Saat Anya keluar dari kantor Rio, ia tahu pertempuran baru saja dimulai. Dia telah lulus ujian pertama, tetapi ia telah meletakkan dirinya di bawah pengawasan ketat pria paling dingin yang pernah ia temui. Anya memegang kendali yang sangat sedikit atas hidupnya di kantor, dan ia takut, bahwa kendali Rio perlahan akan menjangkau lebih dari sekadar meja kerja.Keheningan di tempat itu terasa lebih menyakitkan daripada ledakan kemarahan mana pun. Rio berdiri terpaku, menatap punggung Anya yang bergetar hebat. Di depannya, Sari masih memegang alat tes kehamilan itu dengan dagu terangkat, sebuah gestur kemenangan yang salah alamat."Anya... aku..." Rio mencoba melangkah, tapi lidahnya kelu. Segala retorika bisnis dan ketegasannya sebagai CEO menguap begitu saja.Anya berbalik perlahan. Tidak ada teriakan. Hanya air mata yang mengalir deras di wajahnya yang pucat. Ia menatap Rio seolah pria itu adalah orang asing yang baru saja masuk ke rumahnya."Berapa kali, Rio?" suara Anya serak, nyaris berbisik.Rio menunduk, tak berani menatap mata istrinya. "Anya, maafkan aku... aku khilaf... aku...""Aku tanya BERAPA KALI?!" teriak Anya, kali ini suaranya pecah, memenuhi ruangan sempit itu.Rio terpejam erat. "Aku tidak tahu... aku tidak menghitungnya."Jawaban itu seperti belati yang diputar di jantung Anya. Ia tertawa getir, tawa yang penuh dengan kep
Setelah keberangkatan Rio ke kantor, suasana apartemen terasa hampa. Anya duduk di kursi goyang sambil menyusui bayinya, namun matanya terus tertuju pada pintu paviliun yang tertutup rapat.Sari tidak langsung berangkat. Ia beralasan ingin membereskan kamarnya dulu.Sekitar tiga puluh menit kemudian, Sari keluar. Ia sudah rapi dengan kemeja putih dan rok span yang membalut tubuhnya dengan apik. Namun, saat ia melewati Anya, sebuah aroma menyengat indra penciuman Anya.Bukan parfum vanilla Sari yang biasanya. Tapi aroma parfum kayu cendana dan citrus—aroma yang sangat spesifik milik Rio.Anya tertegun. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Mungkin hanya karena mereka tadi di dalam mobil yang sama? pikirnya mencoba logis. Tapi mereka belum berangkat. Rio sudah pergi satu jam yang lalu."Sar," panggil Anya pelan.Sari menoleh, tersenyum santun. "Iya, Bu?""Kamu pakai parfum suamiku?"Pertanyaan itu tajam, namun diucapkan dengan nada datar. Sari tidak terlihat panik. Ia justru tertaw
tempat itu terasa seperti sebuah panggung sandiwara yang melelahkan. Di siang hari, semua tampak tertata. Rio adalah suami yang perhatian, Anya adalah istri yang sedang berjuang pulih, dan Sari adalah asisten yang sangat tahu diri. Namun, saat malam tiba dan lampu-lampu rumah mulai dipadamkan, kegelapan menjadi saksi bisu atas garis yang telah dilampaui.Anya tertidur lebih awal karena pengaruh vitamin dan kelelahan setelah seharian mengurus bayinya. Rio berbaring di sampingnya, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk. Ia merasa terjebak dalam rasa bersalah, namun di saat yang sama, ia merasakan kekosongan yang aneh—sebuah dahaga akan ketenangan yang tidak ia dapatkan di tengah tuntutan hidupnya.Pelan, sangat pelan, Rio menyibak selimutnya. Ia melirik Anya yang bernapas teratur, lalu bangkit dari tempat tidur tanpa suara.Pertemuan di PaviliunLantai kayu paviliun samping tidak berderit saat Rio memasukinya. Pintu kamar Sari tidak terkunci. Di dalam, hanya ada caha
Malam turun pelan di apartemen itu.Lampu kamar Anya redup. Obat membuat napasnya teratur, terlalu tenang untuk seorang perempuan yang dulu selalu terjaga mengurus segalanya sendiri. Rio berdiri lama di ambang pintu, memastikan istrinya benar-benar tertidur, lalu menutup pintu perlahan, seolah takut suara engsel bisa membangunkan rasa bersalahnya.Di dapur, Sari sedang mencuci botol susu.“Bapak belum makan,” katanya tanpa menoleh.Rio menghela napas. “Gak lapar.”“Kalau Bapak jatuh sakit, siapa yang urus semua?” Nada itu terdengar seperti perhatian. Dan Rio membiarkannya terdengar seperti itu.Ia duduk di kursi. Menyandarkan punggung. Mengusap wajah dengan kedua tangan.“Sari…” ucapnya pelan. “Kadang aku ngerasa gagal.”Sari berhenti mencuci. Kali ini ia menoleh.“Gagal kenapa?”“Sebagai suami. Sebagai ayah.” Rio tertawa pahit. “Semua orang bilang aku kuat. CEO. Pemimpin. Tapi di rumah sendiri… aku gak tahu harus ngapain.”Sari mendekat, duduk di seberangnya. Jarak mereka terlalu dek
Kepulangan mereka dari desa seharusnya menjadi awal yang hangat fase baru sebagai keluarga kecil yang utuh. Namun takdir memilih jalan lain.Beberapa hari setelah melahirkan, kondisi Anya justru menurun. Pendarahan yang tak kunjung berhenti, nyeri hebat di perut, dan pusing yang datang tiba-tiba memaksanya kembali ke rumah sakit. Diagnosis dokter membuat Rio terdiam lama: komplikasi pasca melahirkan. Anya harus bedrest total. Tidak boleh kelelahan. Tidak boleh stres.Anya hanya bisa berbaring, memandangi langit-langit kamar dengan bayi yang sesekali menangis di sisinya. Perasaan bersalah menggerogoti dadanya, pada bayinya, pada rumah yang tak lagi ia urus, dan terutama pada Rio.Rio mencoba kuat. Ia bolak-balik kantor rumah sakit apartemen dengan mata yang semakin cekung. Hingga suatu malam, saat Anya terbangun karena nyeri dan melihat Rio tertidur di sofa dengan laptop masih menyala, ia tahu suaminya juga hampir runtuh.“Mas…” suara Anya lirih.Rio terbangun, langsung mendekat. “Kena
Hari terakhir di desa seharusnya menjadi hari yang tenang, namun suasana pagi itu sedikit berbeda. Saat Rio sedang membantu Ibu Anya merapikan halaman, seorang wanita tetangga datang bersama anak gadisnya yang tampak sangat menonjol. Gadis itu bernama Sari. Ia memiliki kecantikan khas desa yang polos namun matanya memancarkan ambisi yang besar. Ia mengenakan pakaian yang sedikit lebih ketat dibandingkan gadis desa lainnya. "Nak Rio, ini Sari, anak saya. Dia baru saja lulus sarjana manajemen di kota, tapi belum dapat kerja tetap. Apa tidak ada posisi untuknya di kantor Bapak?" tanya ibunya penuh harap. Rio, yang sedang memegang cangkul, menatap Sari sekilas secara profesional. "Kami selalu membuka lowongan, tapi prosedurnya tetap melalui HRD." Sari melangkah maju, memberikan senyum yang sangat manis, terlalu manis. "Saya siap belajar apa saja, Pak Rio. Jadi asisten pribadi pun saya mau, supaya bisa belajar langsung dari orang sehebat Bapak." Anya, yang baru keluar dari pintu,







