Share

7

last update Petsa ng paglalathala: 2025-06-18 17:40:53

Menyadari keterdiamanku, pria tampan bersorot mata tajam bak elang itu menghela napas pendek, lalu berjalan ke arah jendela, membukanya sedikit hingga udara malam terlihat mempermainkan anak rambutnya sekaligus membuat matanya terpejam.

Hela napas berat bahkan kembali lolos dari celah bibir sensual yang tanpa sadar membuatku menelan ludah.

Ya Tuhan! Apa yang sedang aku pikirkan!

Ku tepuk kepalaku agar pikiran negatif itu segera sirna.

Bisa-bisanya aku memikirkan hal itu di saat seperti ini.

"Siapa kamu?" Jantungku sedikit berdebar saat menanyakan hal itu, takut sekaligus penasaran, sehingga aku pun terkesiap saat melihat dirinya menoleh tiba-tiba ke arahku. Matanya terlihat menyipit hingga alis tebalnya terlihat bak padang rumput hitam berderet.

"S-siapa kamu?!" Aku kembali bertanya. Bahkan kini suaraku dipaksa terdengar tegas agar gugup itu sirna.

"Ternyata kamu benar-benar melupakanku, Lizzy," gumamnya dengan nada rendah, kembali mendekatiku, berdiri di samping brankar. Ia membungkuk, menekan kedua sisi ranjang dengan tangan, "semudah itu ternyata kamu melupakanku?Melupakan Marissa?"

Aku mengerut, mencengkram erat selimut sambil beringsut mundur. Beruntung dirinya membiarkan, mungkin saat melihat raut pucat yang aku perlihatkan. "Maaf. Tapi, aku benar-benar tidak mengenalmu. Anu ... apakah kita pernah saling mengenal sebelumnya?" Jantungku terdengar semakin bertalu-talu.

Dia bungkam sesaat. Lalu, membuka mulut. Aku pikir dia akan menjelaskan semuanya. Namun, justru kekehan sarkas yang terlontar dari mulut.

"Kenapa kamu tertawa?" Aku merasa heran.

"Tidak. Lupakan saja! Anggap aku tidak pernah bicara apa-apa sebelumnya," sahutnya santai, memasukkan tangan kiri ke dalam saku celana. Lalu, melemparkan sesuatu ke arahku.

Reflek aku menyambutnya. "Apa ini? Lalu, apa maksud ucapanmu barusan?!" Kutatap benda di tangan dan dirinya bergantian.

"Bukan apa-apa." Ia berujar cepat, berbalik badan ke arah sofa, lalu meraih cepat jaket kulit warna hitam miliknya, menyampirkan benda itu di pundak.

"Mau ke mana?!" Ku beranikan diri bertanya saat melihat dirinya berjalan menuju pintu keluar.

Langkahnya terhenti. Tanpa menoleh, ia menyahut, "Nyari angin." Lalu, bergegas menjauh, menyisakan keheningan.

"Sebenarnya Dia siapa?" gumamku bingung, berusaha keras mengingat. Namun, aku justru berdesis lirih saat kepalaku tiba-tiba terasa sakit.

"Selalu seperti ini jika aku memaksakan diri berpikir dengan keras. Tapi, bukankah Nyonya Dharma sendiri yang bilang kalau aku tidak boleh berpikir terlalu keras. Karena bisa membuat cedera ku kembali kambuh?" Aku mendongak, menatap langit-langit ruangan sambil menghela napas panjang, mengatur napas juga pikiran agar kepalaku tidak sakit kembali.

***

Pov Richard

Kususuri lorong rumah sakit hingga tiba di sebuah taman. Suasana terasa hening, hanya hembusan angin yang menemani, kembali mempermainkan anak rambut milikku.

Aku lantas menyugar rambut ke belakang, mengikatnya dengan karet gelang yang memang biasanya aku bawa di dalam kantung celana. Karet gelang dengan dua buah pernak-pernik berbentuk bulan dan bintang yang menggantung di kedua sisi. Terlihat lucu saat aku kenakan.

Seorang rockstar sepertiku justru harus mengenakan karet gelang khas anak perempuan. Bahkan setiap kali aku mengenakan benda ini, teman-teman satu band milikku selalu mengejek. Sayangnya aku tidak perduli, karena keyakinanku satu, sang pemilik pastilah akan kembali dan benar saja, sekarang dirinya sudah aku temukan.

Semula aku tidak percaya saat dirinya mengatakan jika dia tidak mengenalku. Namun, saat ku konfirmasi pada dokter, aku baru sadar jika dirinya berkata jujur.

Ku rogoh saku jaket, lalu mulai menyalakan sebatang rokok. Tak lama kemudian, asap putih membumbung ke udara bersama sensasi rileks yang aku rasakan setiap kali benda putih ini berhasil menenangkan kegundahan hati.

"Boleh aku minta sebatang?" Sebuah tangan dengan kemarin lentik terjulur di depan wajahku dari arah sebelah kiri. Reflek aku menoleh, lalu mendengkus keras saat mengetahui siapa gerangan yang telah mengganggu.

"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyaku berbasa-basi tanpa niat memberikan apa yang ia inginkan. Kutatap kembali ke arah depan di mana riak air terlihat saat tertimpa cahaya lampu.

"Ck! Dasar pelit!" gerutunya, berdecih.

Aku hanya terkekeh kecil, terlebih saat melihat dirinya mengeluarkan sebatang rokok dari dalam saku jaket yang ia kenalan, menyalakannya. Bahkan menghembuskan asap berisi zat nikotin itu ke wajahku hingga aku reflek terpejam sambil menggeram, menahan kesal.

Aku menoleh ke arahnya. "Bisakah kamu berhenti bersikap kekanak-kanakan?"

"Bisakah kamu mengembalikan kebahagiaan Marissa?" Ia justru menatapku tajam.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (11)
goodnovel comment avatar
putristana
gimana cara mengembalikan kebahagiaan Marisa? apakah dengan menikahinya? gpp, deh alisha. nikah aja sama dia, kayaknya dia cinta deh sama kamu
goodnovel comment avatar
Sri Indah
Ternyata Alisha mengalami amnesia. Siapakah Richard dan Marissa bagi alisha ?
goodnovel comment avatar
Tyas Ratih
Oh Alisha amnesia ya
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • DIBUANG SUAMI, DIRATUKAN AKTOR TERNAMA   21

    'Brengsek!' batinku memaki dengan keras. Aku bahkan menggertakkan gigiku bersama tubuh menegang. Namun, aku sadar ini bukan saatnya untuk meladeni ucapannya. Terlebih Marissa lebih penting daripada mereka semua. Lalu, dengan seluruh keberanian dan kekuatan penuh, ku dorong kuat pundak Sandra hingga terjengkang mundur. "Minggir!" bentak ku dengan keras sambil berjalan melewatinya tanpa melepaskan genggaman tangan, membuat Marissa mengikutiku. Meskipun aku tidak bisa menampik, jika jantungku sudah seperti genderang yang sedang ditabuh. Bersamaan dengan suara pekikan yang terlontar dari bibir merahnya, melengking sangat keras, "Arghhh!" Aku dan Marissa terus berjalan. Namun, dari belakang terdengar lengkingan suaranya, "Heh! Wanita sundal! Berani sekali kamu mendorong ku sampai hampir jatuh?!"

  • DIBUANG SUAMI, DIRATUKAN AKTOR TERNAMA   20

    Lebih terkejut lagi, saat kurasakan sebuah tangan memegang pundak kananku. Aku tanpa sadar menegang. "Mommy, Ibu itu siapa?" Pertanyaan Marissa membuatku menunduk, menatap ke arahnya yang balas menatapku polos. "Mommy gak kenal," sahut ku berbisik yang dibalas Marissa dengan mulut membulat. "Ayo pergi!" ajakku sambil mengulas senyum tipis. Marissa mengangguk pelan. Kami pun kembali melanjutkan langkah. Namun, suara Sandra justru kembali terdengar, "Kamu Alisha, bukan? Mantan istri Dokter Kennan!" "Maaf, kamu salah orang," sahut ku cepat sembari mengubah gaya bicara, berharap dirinya tidak mengenali. "Masa sih?" Aku enggan berbalik, malah mempercepat laju kaki. Namun, lagi-lagi kami harus menghentikan langkah saat Ibu Avan justru menghadang dengan kedua tangan terentang lebar. "Mau apalagi sih?!" tanyaku menggeram marah sambil menahan suara agar tetap terdengar rendah. "Kamu dan anak kamu belum minta maaf sama saya dan anak saya. Jadi, kalian tidak boleh pe

  • DIBUANG SUAMI, DIRATUKAN AKTOR TERNAMA   19

    "Wah! Wah! Wah! Ada apa ini? Kok rame?!" kami berempat serentak berbalik ke belakang dan mendapati seorang wanita dewasa berpenampilan glamor, dengan dandanan cetar membahana layaknya seorang artis papan atas, tengah berjalan dengan gayanya yang angkuh bersama beberapa bodyguard mengelilingi. "Eh, Mommy Ellie ternyata!" Ibu Avan terkekeh, terlihat jelas layaknya seseorang yang tengah menjilat. Yang dipanggil hanya mendelik sekilas lalu kembali menatap lurus ke depan dengan angkuh, tampak memindai sekitar. "Ada apa ini? Kok rame?!" tanya Mommy Ellie angkuh. Ibu Avan terlihat kesal diperlakukan seperti itu, yang terlihat jelas dari raut mukanya, tidak enak dilihat, walaupun hanya sekejap. Namun, bergegas tersenyum lebar, penuh maksud tersembunyi. "Biasa, Mommy Ellie. Ada sampah yang harus dibersihkan," sahut Ibu Avan menyindir.

  • DIBUANG SUAMI, DIRATUKAN AKTOR TERNAMA   18

    'Apa Dia bilang? Anak haram?! Siapa yang Dia panggil anak haram?!'Aku menggeram marah. Suara gemeletuk gigiku terdengar beradu.Kesal! Aku teramat kesal. Terlebih saat menyadari tubuh Marissa bergetar dengan raut pucat pasi. Gegas kutarik lembut tangannya, membuatnya mendongak dengan sorot berkaca-kaca. Aku lantas memberikan senyum teduh yang kurasa bisa menguatkan dirinya."Jangan khawatir! Mommy akan melindungi kamu," bisikku. Gadis kecil itu, yang semula kulihat terpana, akhirnya mengangguk kuat sambil tersenyum lebar, tampak merasa senang karena mendapatkan perlindungan dariku. Ia bahkan mengulas senyum bahagia, yang tentu saja ikut menular padaku. "Mommy," panggilnya pelan sambil menggoyangkan ujung jaket ku. "Ya, Sayang," sahut ku lembut. "Icha takut," rengeknya sambil merapatkan tubuh padaku, membuatku merasa sedih sekaligus bertekad untuk melindunginya, apapun y

  • DIBUANG SUAMI, DIRATUKAN AKTOR TERNAMA   17

    Richard terdiam. Bingung dan enggan memberikan penjelasan. Ia justru bergegas pergi tanpa sepatah katapun terucap. Aku yang melihat kepergiannya, hanya bisa menghela napas berat. Jujur saja aku merasa sedih. Namun, apa yang bisa kulakukan sekarang, jika dia tidak mau memberikan penjelasan. Aku lantas menarik napas dalam-dalam, lalu menoleh pada Bik Ratmi yang balas menatapku teduh. "Kenapa Dia tidak mau menjawab pertanyaanku, Bik?" Bik Ratmi menepuk pelan pundak kiriku. "Tuan sedang sibuk mempersiapkan tour ke Jepang bulan depan, Neng. Jadi, mungkin karena itu Beliau belum bisa menjawab pertanyaan Neng Lisha." Mendengar hal itu, aku terpaksa mengangguk kecil, berusaha mengerti meskipun beribu pertanyaan kini mengganjal di lubuk hati. Terlebih kala teringat pertemuan dengan wanita yang mengaku sebagai ibunya itu di ruang makan. "Sudah larut malam. Sebaiknya Neng Lisha beristirahat. Besok Neng akan mulai bertugas mengantar jemput Nona Marissa sekolah, bukan?" Suara Bik

  • DIBUANG SUAMI, DIRATUKAN AKTOR TERNAMA   16

    Ruangan itu terasa lebih hening dan menyesakkan, hanya detak jarum jam yang membuat suasana sedikit lebih hidup. Richard bahkan terlihat menunduk enggan menoleh ataupun bersuara sepatah katapun. Membuat sosok yang kini tengah duduk di seberangnya mendengkus keras pertanda kesal diabaikan. "Jelasin sama mama, Ri! Kenapa wanita sialan itu ada di luar?" Suara Nadhira berdesis dengan urat-urat wajah sedikit menonjol di balik wajah keriput nya. Bagaimanapun juga ia sekarang berusia 67 tahun, sementara Richard adalah putra bungsu kesayangannya. "Mama apain Dia?" Bukannya menjawab, Richard justru balik bertanya sambil mengangkat pandangan, balas menatap lurus sang bunda. Sorot matanya terlihat tajam, seolah-olah tengah membangun perisai guna melindungi sesuatu atau seseorang. "See?! Kamu gak berubah, Ri." Nadhira terlihat kecewa karena lagi-lagi sang putra tercinta berani melawannya karena orang yang sama. Ia sama sekali tidak berusaha menutupi wajah sedihnya itu, justru memperlih

  • DIBUANG SUAMI, DIRATUKAN AKTOR TERNAMA   6

    Hari ini hari keempat aku berada di rumah sakit ini. Beruntung seorang perawat bersedia membawaku pergi ke taman belakang rumah sakit saat kukatakan jika aku merasa bosan terus menerus berada di dalam kamar. Perutku bahkan sudah terasa lebih baik daripada sebelumnya dan nanti siang dokter akan me

  • DIBUANG SUAMI, DIRATUKAN AKTOR TERNAMA   5

    "Mati kamu wanita sialan!" "Ya, Dia pantas mati! "Bunuh saja! Bunuh!" "Sekalian hancurkan makam ibunya!" "Ya ... ya! Hancurkan! Hancurkan!" Suara-suara sumbang terdengar tumpang tindih. "Tidak! Jangan lakukan itu! Jangan sentuh makam ibuku!" aku berteriak kencang, mencegah mereka berti

  • DIBUANG SUAMI, DIRATUKAN AKTOR TERNAMA   4

    "Sepertinya Dia sudah sadar?" Samar terdengar suara dengung di sekitar saat kelopak mataku perlahan terbuka. Silau! Tanganku perlahan terangkat ke atas guna menghalau sinar terang yang terasa menusuk. "Matikan lampunya! Jangan lupa panggil Dokter Raline. Katakan padanya jika pasien kamar 3

  • DIBUANG SUAMI, DIRATUKAN AKTOR TERNAMA   3

    Aku terus berlari menyusuri lorong, tidak perduli pada apapun lagi. Sayangnya tepat di belokan, langkahku harus terhenti saat mendapati sebuah jalan buntu. Aku pun memindai sekeliling, hingga menemukan sebuah pintu kecil dan bergegas masuk ke dalamnya yang ternyata adalah lemari loker khusus temp

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status