Mag-log in"Mati kamu wanita sialan!"
"Ya, Dia pantas mati! "Bunuh saja! Bunuh!" "Sekalian hancurkan makam ibunya!" "Ya ... ya! Hancurkan! Hancurkan!" Suara-suara sumbang terdengar tumpang tindih. "Tidak! Jangan lakukan itu! Jangan sentuh makam ibuku!" aku berteriak kencang, mencegah mereka bertindak anarki. Namun, mereka justru mendorongku dengan kuat hingga terjengkang ke belakang, bersamaan dengan ayunan palu mengenai bagian atas makam, "tidak!" Aku kembali menjerit pilu. Tanganku terulur ke depan, berharap bisa menyelamatkan satu-satunya hal yang tersisa dari wanita yang sangat berharga di hidupku. Akan tetapi, mereka justru tertawa terbahak-bahak kala benda itu terus terayun, menciptakan serpihan-serpihan debu beterbangan di udara, juga puing-puing berjatuhan ke tanah berumput hijau di kedua sisi. "Tidak ... tidak!" pekikku nyaring. Mataku terbuka, napasku terengah-engah. Kutatap nyalang sekitar hingga kudapati warna putih mendominasi juga aroma desinfektan yang sangat menyengat. Namun, belum sempat aku menyadari semua yang terjadi, sebuah tangan justru terulur bersama dengan sebuah suara berat yang sarat kekhawatiran terdengar. "Apa kamu baik-baik saja?" Aku tercekat, lalu mendongak, menyusuri lengan kekar yang bertengger di pundak hingga terlihat seraut wajah tampan yang menatapku dengan kening berkerut. "K-kamu siapa?" "A-apa?! K-kamu tidak mengingatku?!" Pria itu menunjuk ke arah dirinya sendiri. Wajahnya terlihat jelas syok berat. Hal itu membuatku merasa sangat aneh. "A-aku tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya. J-jadi aku benar-benar tidak tahu siapa kamu. Maaf," ujarku lirih. Ku tundukkan kepala dalam-dalam. Aku merasa bersalah saat melihat raut kecewa yang ia perlihatkan. Hela napas berat bahkan terdengar keras yang aku yakin berasal darinya, membuatku semakin merasa bersalah. Bahkan aku memejamkan mata sambil meremas kuat selimut. Ia berjalan mondar-mandir sambil mengacak-acak rambutnya. Terlihat kesal sekaligus frustrasi. "Oh, shit!" langkahnya terhenti, "kamu!" Suara kerasnya membuatku terperanjat kaget. Namun, aku masih tidak berani mendongak, meskipun sempat melirik diam-diam sebelumnya. "Ok. Mungkin kamu sudah melupakan semuanya, karena bagimu itu semua tidak penting. Tapi, kamu gak mungkin lupa sama orang yang udah nolongin kamu 'kan?!" Suara itu berhasil menarik perhatianku. Ku dongak kan kepala hingga bertemu pandang pada wajah tampan itu. "Apa maksudmu?" Ia menghela napas pendek. "Kamu menabrak mobil yang dikendarai oleh asistenku. Itu sebabnya kamu berada di tempat ini." Aku seketika merasa bersalah. "Oh, maafkan aku. Aku—" "Jangan berpura-pura tidak sengaja!" Dia memotong ucapanku. Raut khawatir yang semula ia perlihatkan justru lenyap tak bersisa, digantikan raut dingin dan jijik seolah-olah aku ini adalah sebuah parasit yang harus dibasmi dari muka bumi. Ia mendekatkan wajah, membuatku gugup sekaligus berdebar. Entah kenapa wajah itu serasa familiar sekaligus asing yang membuat perasaanku sesak dan tidak nyaman. "Apa karena aku telah berhasil menjadi seorang aktor ternama, sehingga kamu kembali menampakkan diri ... Lizzy?" tanyanya dengan nada rendah, berbisik di telinga. Gelenyar aneh seketika menggeliat, membuat wajahku tanpa sadar merona merah, terlebih kala mendengar panggilan yang ia berikan ... Lizzy! Hanya orang-orang terdekatku yang memanggilku seperti itu. Sementara pria ini tidak aku kenal sama sekali. Namun, kenapa dirinya bisa mengetahui nama panggilan masa kecilku? Ku beranikan diri mendorong dadanya hingga tubuh kami sedikit berjarak. Bahkan ku beranikan diri menatap wajahnya. "Kamu siapa?" tanyaku dengan nada tercekat. Bukannya menjawab, ia justru terkekeh tanpa suara, terlihat tidak mempercayai ucapanku bersama sebuah gelengan lemah tercipta. Namun, sorot tajamnya yang seperti elang terus saja menghujam relung jiwaku membuat dadaku terasa sakit kembali. Ia kembali mendekat, menumpukan kedua tangan di tepi brankar. "Kamu sungguh-sungguh ingin tahu siapa aku, Lizzy?" Walaupun takut dan gentar, ku beranikan diri mengangguk. "Baiklah akan ku beritahu dirimu, jika aku ini adalah—" Aku dan dia menoleh bersamaan ke arah pintu saat mendengar suara handle pintu ditarik, disusul kedatangan beberapa orang perawat medis yang justru memasang raut terkejut saat melihat posisi kami berdua. Aku pun reflek mendorong tubuhnya hingga menjauh. Dirinya sempat oleng. Namun, akhirnya berhasil menyeimbangkan tubuh. Sementara aku merapikan pakaian yang sebenarnya masih rapi, hanya untuk menutupi rasa gugup yang entah kenapa bisa mendera, seolah-olah kami tengah tertangkap basah melakukan sesuatu yang intim. "Maaf, apa kami datang di waktu yang tidak tepat?" Salah seorang anggota medis yang berpenampilan seperti dokter justru bertanya dengan nada polos. Wanita cantik itu bahkan memasang raut imut hingga membuatku tidak tega memarahinya. Pria yang tidak aku ketahui namanya justru berdehem sambil membenahi posisi berdiri juga pakaiannya yang tidak kusut sama sekali. "Tidak! Kami hanya sedikit berbincang-bincang. Silakan jika kalian mau memeriksanya," ujarnya lugas sekaligus terdengar sombong. Kedua tangannya bersedekap sambil memasang raut angkuh. Namun, bersedia mundur dan memberikan ruang pada kelima petugas itu. "Terima kasih, Tuan Richard." Sang dokter justru menyahut ramah sambil mendekat, seolah-olah tidak mempermasalahkan tingkah pria itu sedikit pun, "silakan berbaring, Nyonya Alisha, dan bagaimana perasaan Anda saat ini? Apakah Anda merasakan sakit atau sesuatu yang tidak nyaman?" Kedua tangannya terlihat cekatan saat memeriksa tubuhku. Sesekali keningnya berkerut. Namun, tidak mengurangi sedikit pun raut cantik bak boneka Barbie yang ia miliki. "Maaf, Dokter. Saya merasa baik-baik saja. Tapi, perut saya sedikit tidak nyaman. Apakah janin saya selamat?" Sang dokter lantas menjelaskan padaku tentang semua kemungkinan yang bisa terjadi jika aku bertindak ceroboh. Aku lantas mengangguk mengerti, karena mau bagaimana pun aku tidak ingin anakku berada dalam bahaya. Mereka lantas berpamitan, meninggalkan diriku bersama pria aneh itu. Aku menoleh padanya, menelan ludah sebentar sebelum bicara, "Maaf. Aku mengucapkan terima kasih karena kamu telah menyelamatkan nyawaku. Tapi, bisakah kamu keluar? Karena aku ingin beristirahat." "Jadi, selain menjadi wanita tidak tahu diri. Kamu sekarang menjadi wanita yang tidak tahu berterima kasih?!" ujarnya sarkas. "Jangan bicara yang bukan-bukan!" Aku tersinggung mendengar ucapannya. Tahu apa dia dengan hidupku sehingga seenaknya memvonis diriku sehina itu. Akan tetapi, bukannya merasa bersalah. Ia justru terkekeh sarkas dan kembali mendekat, bahkan terlampau dekat karena hidungnya kini hampir bersentuhan dengan hidungku. "Kamu berhutang banyak padaku, Alisha. Akan aku pastikan kamu membayar semua hutang itu hingga lunas berikut dengan bunganya," ujarnya lirih. Namun, sarat akan ancaman, membuatku bergidik ngeri tanpa sadar.'Brengsek!' batinku memaki dengan keras. Aku bahkan menggertakkan gigiku bersama tubuh menegang. Namun, aku sadar ini bukan saatnya untuk meladeni ucapannya. Terlebih Marissa lebih penting daripada mereka semua. Lalu, dengan seluruh keberanian dan kekuatan penuh, ku dorong kuat pundak Sandra hingga terjengkang mundur. "Minggir!" bentak ku dengan keras sambil berjalan melewatinya tanpa melepaskan genggaman tangan, membuat Marissa mengikutiku. Meskipun aku tidak bisa menampik, jika jantungku sudah seperti genderang yang sedang ditabuh. Bersamaan dengan suara pekikan yang terlontar dari bibir merahnya, melengking sangat keras, "Arghhh!" Aku dan Marissa terus berjalan. Namun, dari belakang terdengar lengkingan suaranya, "Heh! Wanita sundal! Berani sekali kamu mendorong ku sampai hampir jatuh?!"
Lebih terkejut lagi, saat kurasakan sebuah tangan memegang pundak kananku. Aku tanpa sadar menegang. "Mommy, Ibu itu siapa?" Pertanyaan Marissa membuatku menunduk, menatap ke arahnya yang balas menatapku polos. "Mommy gak kenal," sahut ku berbisik yang dibalas Marissa dengan mulut membulat. "Ayo pergi!" ajakku sambil mengulas senyum tipis. Marissa mengangguk pelan. Kami pun kembali melanjutkan langkah. Namun, suara Sandra justru kembali terdengar, "Kamu Alisha, bukan? Mantan istri Dokter Kennan!" "Maaf, kamu salah orang," sahut ku cepat sembari mengubah gaya bicara, berharap dirinya tidak mengenali. "Masa sih?" Aku enggan berbalik, malah mempercepat laju kaki. Namun, lagi-lagi kami harus menghentikan langkah saat Ibu Avan justru menghadang dengan kedua tangan terentang lebar. "Mau apalagi sih?!" tanyaku menggeram marah sambil menahan suara agar tetap terdengar rendah. "Kamu dan anak kamu belum minta maaf sama saya dan anak saya. Jadi, kalian tidak boleh pe
"Wah! Wah! Wah! Ada apa ini? Kok rame?!" kami berempat serentak berbalik ke belakang dan mendapati seorang wanita dewasa berpenampilan glamor, dengan dandanan cetar membahana layaknya seorang artis papan atas, tengah berjalan dengan gayanya yang angkuh bersama beberapa bodyguard mengelilingi. "Eh, Mommy Ellie ternyata!" Ibu Avan terkekeh, terlihat jelas layaknya seseorang yang tengah menjilat. Yang dipanggil hanya mendelik sekilas lalu kembali menatap lurus ke depan dengan angkuh, tampak memindai sekitar. "Ada apa ini? Kok rame?!" tanya Mommy Ellie angkuh. Ibu Avan terlihat kesal diperlakukan seperti itu, yang terlihat jelas dari raut mukanya, tidak enak dilihat, walaupun hanya sekejap. Namun, bergegas tersenyum lebar, penuh maksud tersembunyi. "Biasa, Mommy Ellie. Ada sampah yang harus dibersihkan," sahut Ibu Avan menyindir.
'Apa Dia bilang? Anak haram?! Siapa yang Dia panggil anak haram?!'Aku menggeram marah. Suara gemeletuk gigiku terdengar beradu.Kesal! Aku teramat kesal. Terlebih saat menyadari tubuh Marissa bergetar dengan raut pucat pasi. Gegas kutarik lembut tangannya, membuatnya mendongak dengan sorot berkaca-kaca. Aku lantas memberikan senyum teduh yang kurasa bisa menguatkan dirinya."Jangan khawatir! Mommy akan melindungi kamu," bisikku. Gadis kecil itu, yang semula kulihat terpana, akhirnya mengangguk kuat sambil tersenyum lebar, tampak merasa senang karena mendapatkan perlindungan dariku. Ia bahkan mengulas senyum bahagia, yang tentu saja ikut menular padaku. "Mommy," panggilnya pelan sambil menggoyangkan ujung jaket ku. "Ya, Sayang," sahut ku lembut. "Icha takut," rengeknya sambil merapatkan tubuh padaku, membuatku merasa sedih sekaligus bertekad untuk melindunginya, apapun y
Richard terdiam. Bingung dan enggan memberikan penjelasan. Ia justru bergegas pergi tanpa sepatah katapun terucap. Aku yang melihat kepergiannya, hanya bisa menghela napas berat. Jujur saja aku merasa sedih. Namun, apa yang bisa kulakukan sekarang, jika dia tidak mau memberikan penjelasan. Aku lantas menarik napas dalam-dalam, lalu menoleh pada Bik Ratmi yang balas menatapku teduh. "Kenapa Dia tidak mau menjawab pertanyaanku, Bik?" Bik Ratmi menepuk pelan pundak kiriku. "Tuan sedang sibuk mempersiapkan tour ke Jepang bulan depan, Neng. Jadi, mungkin karena itu Beliau belum bisa menjawab pertanyaan Neng Lisha." Mendengar hal itu, aku terpaksa mengangguk kecil, berusaha mengerti meskipun beribu pertanyaan kini mengganjal di lubuk hati. Terlebih kala teringat pertemuan dengan wanita yang mengaku sebagai ibunya itu di ruang makan. "Sudah larut malam. Sebaiknya Neng Lisha beristirahat. Besok Neng akan mulai bertugas mengantar jemput Nona Marissa sekolah, bukan?" Suara Bik
Ruangan itu terasa lebih hening dan menyesakkan, hanya detak jarum jam yang membuat suasana sedikit lebih hidup. Richard bahkan terlihat menunduk enggan menoleh ataupun bersuara sepatah katapun. Membuat sosok yang kini tengah duduk di seberangnya mendengkus keras pertanda kesal diabaikan. "Jelasin sama mama, Ri! Kenapa wanita sialan itu ada di luar?" Suara Nadhira berdesis dengan urat-urat wajah sedikit menonjol di balik wajah keriput nya. Bagaimanapun juga ia sekarang berusia 67 tahun, sementara Richard adalah putra bungsu kesayangannya. "Mama apain Dia?" Bukannya menjawab, Richard justru balik bertanya sambil mengangkat pandangan, balas menatap lurus sang bunda. Sorot matanya terlihat tajam, seolah-olah tengah membangun perisai guna melindungi sesuatu atau seseorang. "See?! Kamu gak berubah, Ri." Nadhira terlihat kecewa karena lagi-lagi sang putra tercinta berani melawannya karena orang yang sama. Ia sama sekali tidak berusaha menutupi wajah sedihnya itu, justru memperlih
Menyadari keterdiamanku, pria tampan bersorot mata tajam bak elang itu menghela napas pendek, lalu berjalan ke arah jendela, membukanya sedikit hingga udara malam terlihat mempermainkan anak rambutnya sekaligus membuat matanya terpejam. Hela napas berat bahkan kembali lolos dari celah bibir sensu
Hari ini hari keempat aku berada di rumah sakit ini. Beruntung seorang perawat bersedia membawaku pergi ke taman belakang rumah sakit saat kukatakan jika aku merasa bosan terus menerus berada di dalam kamar. Perutku bahkan sudah terasa lebih baik daripada sebelumnya dan nanti siang dokter akan me
"Sepertinya Dia sudah sadar?" Samar terdengar suara dengung di sekitar saat kelopak mataku perlahan terbuka. Silau! Tanganku perlahan terangkat ke atas guna menghalau sinar terang yang terasa menusuk. "Matikan lampunya! Jangan lupa panggil Dokter Raline. Katakan padanya jika pasien kamar 3
Aku terus berlari menyusuri lorong, tidak perduli pada apapun lagi. Sayangnya tepat di belokan, langkahku harus terhenti saat mendapati sebuah jalan buntu. Aku pun memindai sekeliling, hingga menemukan sebuah pintu kecil dan bergegas masuk ke dalamnya yang ternyata adalah lemari loker khusus temp







