LOGIN:-)
Duniaku rasanya berputar sekali lagi, namun kali ini bukan karena kekurangan oksigen.Di kepalaku, memori gaun pengantin yang teronggok dan rasa malu di pelaminan itu kembali menghantam. Bagiku, cinta adalah racun yang telah melumpuhkan separuh jiwaku, dan pernikahan adalah sebuah institusi yang sangat merepotkan, yang hanya menyisakan luka menganga.Cinta dan pernikahan adalah hal yang sudah mati rasa.Tapi … tawaran untuk bisa masuk dalam kehidupan Adnan yang digadang oleh ibunya sendiri adalah jackpot yang tak pernah kubayangkan.Namun aku tidak boleh terlalu agresif seperti perempuan haus harta dan tahta.Tidak! Aku harus sedikit jual mahal layaknya putri keluarga Pasha. Agar Ibu Widya makin jatuh hati padaku."Nyonya, terima kasih atas kebaikan hati Anda. Tapi, saya harus jujur. Tidak ada hubungan apa pun antara saya dan Pak Adnan selain profesionalisme kerja."Ibu Widya tampak sedikit kecewa, namun ia tetap diam mendengarkan.Aku ingat perkataan Bik Inah bahwa keluarga Adnan san
Seorang wanita paruh baya melangkah masuk. Meski pakaiannya tergolong sederhana, namun potongan kain dan cara ia membawakan diri menunjukkan kelas sosial yang berbeda.Di belakangnya, seorang perempuan muda berpakaian rapi mengikuti dengan sigap, membawa tas jinjing dan nampak seperti asisten pribadi yang selalu siaga.Bagas, yang biasanya tidak bisa diam, kini berdiri kaku layaknya prajurit di depan jenderal. Ia bahkan tidak berani menatap langsung wajah wanita itu."Selamat malam," suara wanita itu rendah, namun berwibawa.Ia berjalan mendekat ke sisi ranjangku. Matanya menatapku penuh selidik namun tidak terlihat memusuhi."S…selamat malam, Nyonya," ucap Bagas terbata-bata.Ia kemudian melirikku dengan tatapan kode agar aku bersikap sopan. Namun aku masih bingung dengan kehadiran wanita yang tidak kukenal ini."Aku Widya, ibunya Adnan," ucapnya memperkenalkan diri dengan nada yang sangat tenang.Mataku langsung membola dan langsung memperbaiki posisi duduk meski selang oksigen masi
Udara di dalam lift sudah bukan lagi sekadar pengap, ini adalah udara panas yang menekan paru-paru, memaksa setiap tarikan nafas terasa seperti menghirup debu bara.Aku bisa merasakan jemari Adnan yang gemetar saat mulai membuka sisa kancing blus dusty rose-ku. Sentuhan kulitnya yang panas bertemu kulitku yang basah oleh keringat menciptakan sensasi yang aneh di tengah kesadaranku yang kian menipis.Satu per satu kancing terlepas hingga blus itu tersingkap sepenuhnya, menampakkan pakaian dalamku yang berenda dengan warna senada. Yang kini menjadi satu-satunya pelindung dadaku.Adnan melakukan itu dengan gerakan hati-hati. Nafasnya terdengar memburu. Aku tahu, dalam kegelapan yang hanya menyisakan sorot lampu ponsel yang tergeletak di lantai, pemandangan ini pasti mengusik sisi maskulinnya.Di tengah panas yang menggila, ada ketegangan lain yang menyeruak, sesuatu yang membuat detak jantungnya tidak karuan. Bukan karena mendekati maut, tapi karena desakan gairah layaknya lelaki normal.
"Dengan senang hati, Pak," jawabku dengan senyum manis, "Saya akan bersiap.”Aku melangkah keluar dari ruangannya dengan euforia kemenangan ini.Strategiku berhasil.Adnan bukan hanya percaya, dia kini menjadikanku tameng sekaligus pedangnya. Aku kembali ke meja kerjaku yang sudah sepi, menyambar tas dan memastikan ponselku memiliki daya cukup.Aku tidak butuh waktu lama untuk merapikan riasan wajah. Agar kesan sosok Vivian yang tenang ini cukup menjadi topeng sempurna malam ini.Saat aku kembali, Adnan sudah menunggu di depan ruangannya. Jasnya sudah tersampir di lengan, sementara kemejanya dibuka satu kancing teratas, memberikan kesan santai namun tetap berwibawa.Kami berdiri berdampingan, menunggu kotak besi itu naik menjemput kami."Dila," suara Adnan memecah kesunyian, matanya lurus menatap lampu indikator lift. "Soal ... Rifat. Maaf, aku terlalu lancang menyinggung masa lalumu."Aku tidak menoleh."Saya udah paham karakter Bapak.""Maaf. Aku beneran nggak nyangka, kalau kamu ben
Lima belas menit sebelum jarum jam menunjuk angka lima, aku keluar dari ruangan tim Solvio.Suasana kantor mulai riuh dengan suara kursi yang bergeser dan percakapan ringan rekan kerja yang bersiap pulang, namun bagiku, ini adalah waktu untuk menyusun kembali puing-puing strategi yang mulai berserakan.Aku menekan nomor Papa. Hanya dia satu-satunya orang yang tahu bahwa setiap helaan nafasku di Monexia adalah bagian dari skenario besar untuk meruntuhkan tahta Rifat Aydan."Halo, Dila?" suara berat Papa di seberang sana selalu berhasil membawa ketenangan, meski hanya sesaat."Pa, Adnan terlalu keras kepala," bisikku, memastikan suaraku tidak merambat keluar. "Dia anggap peringatanku soal Michael Lim sebagai sampah. Dia lebih milih percaya topeng investor itu daripada ucapanku. Aku takut ... Monexia jatuh ke tangan Rifat sebelum aku sempat menghancurkannya."Papa menghela nafas panjang, sebuah bunyi yang sarat akan kekhawatiran seorang ayah."Dila, udah Papa bilang dari awal. Bermain di
Aku menatap layar ponsel itu selama beberapa detik. Pesan itu singkat, padat, dan terasa seperti sebuah titah dari singa yang sedang terusik harga dirinya.Ada gejolak di dadaku antara ingin mengabaikannya, seperti aku mengabaikannya di lobi tadi pagi, atau menghadapinya untuk menuntaskan ketegangan ini?"Mbak Dila? Apa masih ada yang perlu aku bantu?" Neni bertanya dan membuyarkan lamunanku."Nggak ada, Nen. Makasih. Kamu bisa lanjutin tugasmu," jawabku.Aku sempat bimbang.Egoku berteriak agar tetap duduk di kursi dan melanjutkan pekerjaan. Kesal rasanya dituduh melantur. Sekaligus menunjukkan padanya bahwa aku juga bisa acuh dan tidak takut dengan ancaman PHK darinya.Namun, jika aku ingin menghancurkan Rifat, aku tetap butuh Monexia tetap berdiri tegak. Dan untuk itu, aku harus tahu apa yang ada di kepala pria keras kepala itu setelah makan malam dengan Michael Lim.Akhirnya, aku menyambar map berisi dokumen kerja sama dengan kedua bank yang baru saja selesai. Setelah merapikan rok







