Share

Bab 25

Author: Flower Lidia
last update Last Updated: 2025-08-16 02:06:57

“Gue dapet kabar dari temen kita—sekolah kita lagi nyiapin reuni. Kayaknya 3 hari lagi.”

Ziva berhenti merapikan kursinya. “Reuni? Kok gue nggak denger?”

“Ya jelas, lo kan jarang buka grup alumni. Gue aja dikasih tau sama Tania pas ketemu kemarin. Katanya ini reuni besar, semua angkatan SMA kita diundang. Lo wajib datang.”

Ziva menghela napas, setengah malas, setengah penasaran. “Hmm… liat nanti.”

Bianca menyipitkan mata. “Liat nanti? Jangan bohong. Gue bakal pastiin lo datang. Dan gue mau lihat wajah semua orang pas tau lo udah nikah.”

“Bianca…” Ziva mendesah, tapi sahabatnya sudah memeluknya erat.

“Seneng banget ketemu lo lagi, Dokter Ziva. Sampai jumpa di reuni!”

Bianca melangkah keluar dengan senyum lebar, meninggalkan Ziva yang berdiri di depan kafe, memandang ke arah sepupunya sambil berpikir… bulan depan sepertinya akan sangat, sangat ribut.

🌸🌸🌸🌸🌸

Suara langkah cepat terdengar di koridor rumah sakit. Ziva baru saja keluar dari ru
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DIJODOHKAN MAMA   Bab 154

    Ziva langsung bangkit, menahan lengannya sendiri agar tidak panik.“Za, ayo kita ke sana sekarang.”Reza masih diam beberapa detik sebelum akhirnya sadar.“Iya…”Suaranya serak.“Iya, ayo.”Ziva mengambil tas kecil dan bergegas, sementara Reza dengan cepat meraih kunci mobil dan ponsel yang hampir jatuh dari tangannya.Begitu mereka keluar dari apartemen, suara lift yang biasanya terdengar biasa saja kini terasa berat.Di dalam lift, keduanya terdiam.Ziva memegang tangan Reza pelan, mencoba menenangkan. 🌸🌸🌸🌸🌸Bunyi langkah kaki Reza dan Ziva terdengar cepat di koridor rumah sakit yang dingin dan tenang.Suara roda brankar, aroma disinfektan yang menusuk, dan cahaya putih lampu-lampu di langit-langit membuat suasana semakin mencekam.Ziva yang sedang hamil berusaha mengimbangi langkah Reza yang terburu-buru, tangannya menggenggam lengan suaminya kuat-kuat.“Za... pelan sedikit, aku takut jatuh,” ucapnya dengan napas tersengal.Reza langsung memp

  • DIJODOHKAN MAMA   Bab 153

    DING DONG! DING DONG! DING DONG!!!Reza yang baru meneguk setengah cangkir kopinya sontak hampir tersedak.Ia melirik jam dinding. Jam tujuh pagi.“Siapa sih pagi-pagi begini udah bertamu?” gumamnya dengan alis berkerut.Begitu membuka pintu, Reza langsung membeku.Bukan satu. Bukan dua. Tapi tiga kurir ekspedisi berdiri rapi di depan pintu apartemen sambil membawa tumpukan kardus setinggi dada.Di belakang mereka—masih ada satu lagi yang mendorong troli penuh paket tambahan.“Pak Reza, pengiriman untuk Ibu Ziva, ya”Suara itu terdengar hampir bersamaan dari tiga arah berbeda.Reza melongo. “...Ibu Ziva?”Salah satu kurir tersenyum sopan, “Iya, Pak. Total ada dua puluh tiga paket. Mohon tanda tangannya, ini sisanya masih di bawah.”Reza mengedip dua kali.“Dua puluh... tiga?”Kurir lain menimpali dengan santai, “Iya, Pak. Dan paketnya sudah di bayar lunas.”“Lunas?” gumam Reza, menatap deretan logo butik mewah dan parfum internasional di tiap kardus.Ia menarik napas panjang. Baiklah

  • DIJODOHKAN MAMA   Bab 152

    Malam itu apartemen terasa berbeda.Biasanya, setelah makan malam, Ziva dan Reza akan duduk bersama di ruang tamu — ngobrol ringan, menonton film, atau sekadar membahas hal-hal kecil yang lucu.Tapi malam ini, suasananya sunyi.Reza duduk di meja kerja kecil di pojok ruangan, menatap layar laptop dengan fokus yang tak biasa.Earphone menempel di telinganya, beberapa berkas menumpuk di meja.Sementara Ziva duduk di sofa, menatap televisi yang sudah lama menyala tapi tak ia perhatikan.Sesekali, Ziva melirik ke arah Reza.Ia sempat berharap Reza menoleh, menyapa, atau sekadar bertanya apakah ia sudah makan buah seperti biasa.Tapi yang terdengar hanya ketikan laptop dan sesekali nada dering notifikasi email.Setelah menunggu cukup lama, Ziva akhirnya bersuara pelan,“Za… kamu belum istirahat dari tadi.”Reza tak langsung menjawab. Butuh waktu beberapa detik sebelum ia melepas earphone dan menoleh sambil mengusap wajah.“Hmm? Oh, iya. Maaf, sayang. Lagi banyak banget kerjaan. Perusahaan

  • DIJODOHKAN MAMA   Bab 151

    “Baik,” jawab Ziva singkat, suaranya lembut tapi sedikit serak.Reza memperhatikan wajah istrinya, lalu merapikan rambut Ziva yang berantakan.“Kamu kurang tidur, ya?”Ziva tersenyum samar. “Dikit. Tapi udah tenang sekarang. Mama nemenin aku semalam.”Reza mengangguk lega. “Untung Mama cepet sampai. Aku sempat khawatir banget.”Ia lalu menatap meja makan dan terbelalak.“Wow… ini jam berapa Mama mulai perang di dapur?”Indri tertawa kecil. “Jam enam, tepat. Kamu beruntung masih dapet bagian ayam gorengnya, soalnya Ziva udah nyicil dua potong.”“Ma—!” protes Ziva sambil cemberut malu.Reza terkekeh pelan, lalu duduk di kursi, mengambil sendok.“Aku gak keberatan, kok. Kalau yang makan dua potong itu ibu dari anakku, aku ikhlas.”Indri menggeleng geli. “Aduh, kalian berdua nih, tiap hari kayak drama romantis tapi di dapur.”Suasana hangat memenuhi ruangan.Reza makan dengan lahap, Ziva memperhatikan dengan pandangan lembut, dan Indri menatap mereka berdua dengan senyum yang nyaris seper

  • DIJODOHKAN MAMA   Bab 150

    Jantungnya belum tenang.Tadi, layar TV sempat menampilkan tulisan aneh—dan ia yakin sekali melihat sosok di belakangnya, meski kini tak ada siapa-siapa.Ziva berdiri perlahan, berniat masuk ke kamar.Tapi sebelum ia sempat melangkah,DING DONG!Bel apartemen berbunyi nyaring.Suara itu membuat Ziva melonjak.Ia menatap pintu.Sekujur tubuhnya menegang.Tidak lagi. Jangan bilang ini kejadian kayak tadi…Bel berbunyi lagi, lebih cepat,DING DONG! DING DONG!Ziva menelan ludah.Tangannya meraih ponsel di meja, hampir saja menekan nomor Reza, tapi terhenti.Kalau itu cuma kurir? Atau—Ia berjalan pelan ke arah pintu.Langkahnya berat, napasnya pendek-pendek.Di layar interkom tak terlihat siapa-siapa.“Siapa di sana?” tanyanya dengan suara bergetar.Hening.Hanya suara lift di ujung koridor.Ziva memutar kunci perlahan.Pintu bergeser sedikit. Udara malam langsung menyeruak masuk.Dan—“Ziva sayang! Ini Mama!”Ziva terlonjak kaget, lalu menatap wajah yang muncul di balik pintu.Mama Indr

  • DIJODOHKAN MAMA   Bab 149

    “Blok D dua-belas, tahanan hilang!” teriak seorang sipir sambil menekan walkie-talkie.Lampu-lampu darurat berkedip, menyorot tembok tinggi yang sebagian catnya terkelupas.Dan di balik bayangan gelap di luar pagar, sesosok wanita berjalan cepat, mengenakan hoodie lusuh, rambutnya acak-acakan, napasnya tersengal.Clara.Ia berhenti di balik pepohonan, menatap gedung penjara yang semakin jauh di belakangnya.Matanya kosong tapi tajam—campuran antara kegilaan dan kebencian yang tak padam.“Gampang banget… mereka pikir aku bakal diam di sana selamanya?” gumamnya lirih, dengan senyum miring di wajahnya.Tangannya gemetar saat membuka tali di pergelangan, bekas borgol masih menempel di kulitnya.Dari balik sakunya, ia mengeluarkan potongan kecil kertas kusam yang sudah lecek.Di situ tertulis nama: Ziva MagnolyaClara menatap nama itu lama.Mulutnya perlahan membentuk senyum lebar—senyum yang lebih menyerupai retakan di wajah seseorang yang kehilangan arah.“Belum selesai, Ziva…” katanya p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status