LOGINSemua mata tertuju pada bayi di pangkuan Ziva.Reza menatap putranya dengan sorot mata penuh kasih dan kebanggaan yang tak bisa disembunyikan.Tangannya menggenggam jemari kecil itu, sementara Ziva menatap Reza lembut.“Kamu yang akan kasih namanya,”bisik Ziva pelan, senyumnya hangat.“Seperti yang udah kamu bilang dulu, setiap nama di keluarga Fernander punya makna.”Reza menarik napas dalam-dalam.Suara musik berhenti, dan suasana berubah hening.Ia menatap seluruh keluarga sebelum berbicara, suaranya mantap tapi penuh perasaan.“Kami memutuskan memberi nama ini bukan hanya sebagai simbol,tapi juga doa agar anak kami tumbuh jadi seseorang yang kuat, lembut, dan membawa terang bagi orang lain.”Ia menatap bayi mungil itu dan berkata perlahan,setiap kata terdengar jelas dan berat makna:“Namanya adalah… Birendra Althaf Fernander.”Ruangan hening sesaat, lalu tepuk tangan lembut menggema di seluruh aula.Mama Indri langsung menitikkan air mata bahagia, sementara Mama Lia tersenyum l
Langit pagi itu kelabu.Awan menggantung rendah, seolah tahu ada seseorang yang akan diantarkan menuju keabadian.Udara terasa berat, membawa aroma tanah basah dan dupa yang menyala di sudut halaman.Pemakaman keluarga Yudistira tampak sederhana tapi penuh wibawa.Tak ada tenda megah, hanya kursi-kursi putih berjejer dan bunga melati yang menebar harum samar.Orang-orang datang dengan pakaian hitam dan wajah menunduk dalam duka.Reza berdiri di barisan depan, mengenakan setelan hitam yang kini tampak terlalu suram di bawah cahaya pagi.Tangannya memegang foto Kakek Yudistira—senyum bijak di dalam bingkai itu terasa hidup, seolah masih menatap mereka semua dengan tenang.Di sisi lain, Ziva duduk di kursi roda, masih lemah pasca melahirkan.Bayi kecil mereka, tertidur dalam gendongan Mama Lia.Angin semilir membuat daun-daun bergoyang lembut, seperti bisikan halus yang menenangkan.“Hari ini… kita kehilangan sosok yang nggak akan pernah tergantikan,”kata Adrian saat berdiri di depan, s
Lampu ruang bersalin menyilaukan,suara suster terdengar tergesa:“Napas, Bu Ziva! Pelan-pelan ya, jangan panik!”Ziva menggenggam tangan Reza sekuat tenaga, keringatnya bercucuran.Sementara Reza terus membisikkan,“Sedikit lagi, Sayang… kamu pasti bisa. Aku di sini.”.Namun di sisi lain rumah sakit,suasana di ruang ICU berubah drastis.Monitor jantung yang semula stabil kini memunculkan garis naik-turun tak beraturan.Perawat berlarian, suara alat berbunyi beep cepat dan tak beraturan. Mama Indri dan Mama Lia berdiri terpaku di depan kaca, wajah mereka memucat.“Tekanan darah turun drastis!”“Siapkan oksigen tambahan!”“Ya Tuhan…” isak Mama Indri sambil memegangi dadanya. Air matanya jatuh tanpa henti.Tiba-tiba dari arah koridor, langkah tergesa terdengarAdrian datang, masih memakai jaket kantor, napasnya memburu. “Ayah gimana?!” serunya, menatap ke arah ruang ICU yang kini dipenuhi dokter.“Masuk jangan dulu, Dokter masih menangani!” kata perawat menahan.Tapi Adrian sudah tak p
Ziva baru hendak melangkah ke arah pintu, saat suara langkah Reza di luar terdengar makin dekat.Namun tiba-tiba, dari arah kamar kakek Yudistira terdengar bunyi benda jatuh keras, disusul suara napas tersengal.“Ka—Kakek?” panggil Ziva cepat, tubuhnya refleks berbalik.Suara itu makin jelas—suara seperti seseorang yang sedang berjuang menarik udara.Ziva berlari secepat mungkin, karna terhambat kondisi perutnya, ia menahan perutnya sambil membuka pintu kamar.Pemandangan di dalam kamar membuat darahnya membeku.Kakek Yudistira tergeletak di lantai, tubuhnya kaku bergetar hebat, wajahnya pucat pasi, dan mulutnya mengeluarkan busa tipis.“Kakek!” jerit Ziva panik. Ia segera berlutut di samping tubuh tua itu, menepuk pipinya pelan.“Kakek, dengar aku? Kakek, tolong buka mata!”Tangannya gemetar, ia buru-buru meraih ponsel di saku.“Reza! Kakek kejang!” suaranya nyaris histeris saat Reza mengangkat.“Cepat ke kamar, sekarang!”Suara langkah cepat terdengar dari luar—pintu apartemen terb
Ziva baru saja menyalakan diffuser aroma lavender di ruang tamu ketika bel pintu berbunyi.Suara “ting-tong” itu terdengar dua kali, cepat dan agak mendesak.Ia menatap jam dinding pukul 09.42.“Kurir?” gumamnya pelan.Padahal, ia tak merasa sedang menunggu kiriman apa pun.Dengan langkah hati-hati, Ziva menuju pintu.Begitu dibuka, seorang kurir dengan seragam abu-abu sudah berdiri di depan. Wajahnya tertutup masker, topinya agak miring.“Paket untuk Ibu Ziva Mangrove.” Ziva menatap tangan kurir itu. Kardusnya kecil, tapi tampak basah di sisi bawahnya — meninggalkan noda hitam di ujung box.“Dari siapa, ya?” tanya Ziva ragu.Kurir itu hanya menggeleng cepat.“Saya cuma diminta antar, Bu. Gak ada nama pengirim.”Tanpa menunggu, ia menyerahkan paket itu dan pergi. Begitu cepat, seolah tak ingin terlibat lebih jauh.Ziva menutup pintu perlahan.Matanya kembali ke arah paket. Ada sesuatu yang… tidak biasa.Lak hitam di sisi atasnya tampak seperti baru dipasang terburu-buru, dan bau ane
“Selamat malam, Pak. Atas nama pasien siapa, ya?”“Yudistira Prasetyo,” jawab Reza cepat.Petugas itu membuka berkas, memeriksa beberapa lembar dokumen, lalu berkata,“Untuk sementara biaya perawatan awal sudah ditanggung dari asuransi keluarga. Tapi nanti akan ada tambahan observasi di ruang rawat intensif, jadi mohon tanda tangan di sini, Pak.”Reza menandatangani tanpa banyak bicara.Matanya hanya fokus pada tulisan-tulisan di kertas itu, tapi pikirannya melayang pada sosok Kakek yang kini sedang beristirahat di kamar rawat.Selesai urusan administrasi, seorang dokter berpakaian putih datang menghampiri.“Maaf, Anda keluarga Pak Yudistira?” tanyanya sopan.“Iya, saya cucunya. Reza Fernander.”Dokter itu tersenyum kecil. “Baik, saya dokter Satria, yang menangani beliau.”Reza berdiri tegak, ekspresinya berubah serius.“Bagaimana kondisi Kakek saya, Dok? Tadi dokter bilang sudah sadar, tapi saya ingin tahu lebih detail.”Dokter menghela napas pelan.“Beliau memang sudah sadar, dan se







