LOGINPagi itu, rumah terasa jauh lebih damai dari biasanya. Arka berlari kecil di halaman, tertawa memanggil Ardan yang sedang menyiapkan sarapan bersama Kemuning.“Yah, cepat! Arka lapar!” serunya riang.Ardan tertawa kecil. “Iya, Pahlawan kecil.”Kemuning hanya menggeleng pelan sambil tersenyum. “Dua-duanya sama saja.”Ardan mendekat, meraih tangan Kemuning. “Capek?”“Tidak,” jawabnya pelan.“Maaf," ucapnya lirih. Kemuning menoleh, tatapannya bertemu dengan manik tajam Ardan."Untuk?""Semua, maaf karena membuatmu jatuh bangun dalam merawat anak kita. Bahkan saat dalam kandungan kamu begitu kesulitan, dan aku dengan bodohnya tidak menyadari." Tangannya terulur menangkup wajah cantik yang kini tak bercadar itu. "Itu sudah berlalu, lagi pula aku juga salah waktu itu. Aku mengambil kesimpulan tanpa mendengar kelanjutannya, mas maafkan aku. Seandainya aku bisa sabar mendengar semuanya pasti kamu dan anak kita tidak akan berjauhan, dan kamu bisa merasakan pergerakan anak kita dalam perut." S
Suasana meja itu langsung berubah hening. Beberapa orang menunduk, tidak berani menatap balik tatapan dingin Ardan yang menyapu satu per satu wajah mereka. Kata-katanya barusan cukup membuat siapa pun paham posisi mereka.Wanita yang sejak tadi paling vokal memojokkan Kemuning sontak pucat. Matanya membelalak saat menyadari suaminya, yang baru saja masuk ke restoran itu, ternyata adalah salah satu bawahan Ardan."Sayang, siapa yang berani menyinggung kita, hah?"“Mas… ini…,” suaranya gemetar.Suaminya yang semula ingin mencari Kemuning, seketika berubah pucat pasi. Begitu ia melihat siapa pria yang kini berdiri di depan. Wajahnya langsung menunduk hormat pada Ardan. “Maaf, Pak. Saya tidak sedang mencari wanita yang mencari gara-gara dengan istri saya." Ucapnya sopan. "Wanita yang menganggu istrimu?""Benar sekali pak Ardan.""Wanita itu adalah dia. Wanita yang berpenampilan lain dari yang lain." Tunjuk Ardan dengan dagunya. Ia ingin tahu apa yang akan di lakukan bawahannya pada Kemun
Siang itu terasa lebih ringan. Kemuning duduk di ruang keluarga, menata beberapa buku milik Arka yang baru saja ia bawa pulang. Senyum tipis tak lepas dari wajahnya, sesekali matanya melirik ke arah jendela, menunggu seseorang.Tak lama, suara langkah masuk terdengar.“Mas sudah pulang?” tanyanya, bangkit.Ardan berdiri di ambang pintu, melepas jasnya. “Lebih cepat hari ini. Katanya ada yang kangen.”Kemuning tersenyum kecil. “Siapa?”“Aku,” jawab Ardan tanpa ragu, membuat Kemuning salah tingkah.Ardan mendekat, meraih tangan Kemuning dan menariknya perlahan. “Kamu makin cantik kalau diem begini.”“Mas ini…,” Kemuning menunduk, pipinya menghangat.“Serius,” lirih Ardan, lalu mengecup punggung tangannya singkat. Kehangatan itu sederhana, tapi cukup membuat hari terasa utuh.—Sore harinya, mereka menghadiri pertemuan orang tua murid di sebuah restoran mewah. Ardan berjalan di samping Kemuning, sementara Arka sudah lebih dulu bergabung dengan teman-temannya.Tatapan mulai berdatangan.S
Pagi di kawasan elite itu terasa tenang, jauh dari hiruk pikuk yang dulu pernah menjadi bagian dari hidup Kemuning. Rumah besar dengan penjagaan ketat berdiri kokoh, seolah menjadi benteng yang tak mudah ditembus.Kemuning berdiri di balkon lantai dua, menatap halaman luas di depannya. Taman yang tertata rapi, udara yang bersih, dan suasana yang asing, namun menyejukkan berlahan mulai ia terima.Langkah kaki terdengar dari belakang, tangan besar itu melingkar di perutnya.“Sayang, kamu sudah bangun?” suara Ardan terdengar hangat.Kemuning menoleh, mengangguk pelan. “Dari tadi, mas."Ardan mendekatkan wajahnya di ceruk leher Kemuning. Menghirup wangi dari tubuh yang tertutup pakaian longgar. “Masih belum terbiasa, hm?”“Bukan begitu,” jawab Kemuning jujur. “Hanya saja, semuanya terasa berbeda. Meski mas buat suasana ini seperti yang aku inginkan. Dan taman itu aku begitu menyukainya,"Ardan tersenyum tipis. “Memang sengaja aku buat berbeda. Tapi, tetapi sesuai impian istriku. Nah, lih
Mobil melaju menembus malam, meninggalkan Yogyakarta tanpa banyak kata. Arka tertidur dalam pelukan Kemuning, napasnya masih tersengal sesekali, seolah trauma itu belum benar-benar pergi.Kemuning menatap ke luar jendela, kosong. Jemarinya terus mengusap punggung Arka, memastikan anaknya benar-benar ada di sana.Di kursi depan, Ardan menggenggam setir dengan rahang mengeras.“Kita langsung ke Jakarta,” ucapnya tegas.Kemuning tidak langsung menjawab. “Mas, apa kita harus secepat ini?”Ardan melirik lewat kaca spion. “Aku tidak akan ambil risiko lagi.”Hening sejenak, sebelum Ardan kembali bersuara.“Aku sudah tinggalkan orang untuk jaga rumah di sini. Tidak akan ada yang masuk tanpa izinku,”Lanjutnya dingin.Kemuning mengangguk pelan. Ia tidak punya tenaga untuk berdebat. Yang ia tahu, Arka ada di pelukannya.“Ayah…,” lirih Arka setengah sadar.Ardan langsung menoleh. “Iya, Nak. Ayah di sini.”Suara itu cukup untuk membuat Arka kembali tenang.Kemuning menunduk, air matanya jatuh dia
“Kembalikan anakku, Mas… kembalikan!”Suara Kemuning pecah di udara, tubuhnya melemah hingga hampir jatuh jika Ardan tidak sigap menahannya. Tangannya masih mencengkeram baju Ardan, seolah itu satu-satunya hal yang tersisa saat dunianya runtuh dalam sekejap.“Tenang, sayang,” suara Ardan rendah, namun tegas. “Menangis tidak akan mengembalikan Arka. Aku janji membawa anak kita."Kemuning menggeleng, air matanya tak berhenti. “Aku gak peduli caranya, aku cuma mau anakku pulang, Mas. Aku mau Arka…,"Ardan memejamkan mata sesaat, menahan sesuatu yang bergolak di dalam dirinya. Saat ia membukanya kembali, sorot matanya berubah bukan lagi amarah yang meledak, melainkan dingin yang berbahaya. Ia meraih ponselnya, menghubungi seseorang dengan tangan terkepal kuat.Para guru yang berada di sana tertunduk, bukan hanya takut tapi rasa bersalah karena membiarkan Arka di culik.“Faris, aku gak mau alasan. Cari semua rekaman CCTV di sekitar sekolah. Tutup semua akses keluar kota. Aku mau anakku dit
“Ayah, mana Ardan junior? Aku mau lihat?!”Ardan langsung terdiam, lalu menatap Arka dengan wajah pura-pura serius. “Wah, Ardan junior itu makhluk langka, Ka. Tidak semua orang bisa lihat.”Arka membulatkan matanya. “Aku mau lihat! Aku kan anak Ayah!”“Hmm…," Ardan berpikir seolah berat, lalu menun
Lila menghela napas pelan, menatap Ardan dengan pandangan yang berbeda. Amarahnya belum sepenuhnya hilang, namun ia tidak lagi melihat pria itu sebagai ancaman seperti sebelumnya.“Saya lihat, anda jauh semakin berubah,” ucapnya akhirnya.Ardan tidak menjawab, karena ia tahu perubahan itu tidak bis
Ardan masih berada di dalam mobilnya di ujung gang sempit itu. Mesin kendaraan sudah lama mati, tetapi pria itu tidak juga pergi. Tatapannya tertuju pada rumah kecil di ujung jalan. Rumah yang kini menjadi tempat tinggal Kemuning.Rumah yang terlalu sederhana untuk wanita yang dulu pernah hidup ber
Cahaya pagi menembus tirai tipis ruang rawat di sebuah rumah sakit di Yogyakarta. Kemuning masih terbaring lemah dengan infus yang menggantung di sisi ranjang. Sejak kemarin ia harus bermalam di sana. Lila duduk di kursi samping tempat tidur, menunggu dengan wajah lelah. Sementara Arka yang biasany







