LOGINPagi di kawasan elite itu terasa tenang, jauh dari hiruk pikuk yang dulu pernah menjadi bagian dari hidup Kemuning. Rumah besar dengan penjagaan ketat berdiri kokoh, seolah menjadi benteng yang tak mudah ditembus.Kemuning berdiri di balkon lantai dua, menatap halaman luas di depannya. Taman yang tertata rapi, udara yang bersih, dan suasana yang asing, namun menyejukkan berlahan mulai ia terima.Langkah kaki terdengar dari belakang, tangan besar itu melingkar di perutnya.“Sayang, kamu sudah bangun?” suara Ardan terdengar hangat.Kemuning menoleh, mengangguk pelan. “Dari tadi, mas."Ardan mendekatkan wajahnya di ceruk leher Kemuning. Menghirup wangi dari tubuh yang tertutup pakaian longgar. “Masih belum terbiasa, hm?”“Bukan begitu,” jawab Kemuning jujur. “Hanya saja, semuanya terasa berbeda. Meski mas buat suasana ini seperti yang aku inginkan. Dan taman itu aku begitu menyukainya,"Ardan tersenyum tipis. “Memang sengaja aku buat berbeda. Tapi, tetapi sesuai impian istriku. Nah, lih
Mobil melaju menembus malam, meninggalkan Yogyakarta tanpa banyak kata. Arka tertidur dalam pelukan Kemuning, napasnya masih tersengal sesekali, seolah trauma itu belum benar-benar pergi.Kemuning menatap ke luar jendela, kosong. Jemarinya terus mengusap punggung Arka, memastikan anaknya benar-benar ada di sana.Di kursi depan, Ardan menggenggam setir dengan rahang mengeras.“Kita langsung ke Jakarta,” ucapnya tegas.Kemuning tidak langsung menjawab. “Mas, apa kita harus secepat ini?”Ardan melirik lewat kaca spion. “Aku tidak akan ambil risiko lagi.”Hening sejenak, sebelum Ardan kembali bersuara.“Aku sudah tinggalkan orang untuk jaga rumah di sini. Tidak akan ada yang masuk tanpa izinku,”Lanjutnya dingin.Kemuning mengangguk pelan. Ia tidak punya tenaga untuk berdebat. Yang ia tahu, Arka ada di pelukannya.“Ayah…,” lirih Arka setengah sadar.Ardan langsung menoleh. “Iya, Nak. Ayah di sini.”Suara itu cukup untuk membuat Arka kembali tenang.Kemuning menunduk, air matanya jatuh dia
“Kembalikan anakku, Mas… kembalikan!”Suara Kemuning pecah di udara, tubuhnya melemah hingga hampir jatuh jika Ardan tidak sigap menahannya. Tangannya masih mencengkeram baju Ardan, seolah itu satu-satunya hal yang tersisa saat dunianya runtuh dalam sekejap.“Tenang, sayang,” suara Ardan rendah, namun tegas. “Menangis tidak akan mengembalikan Arka. Aku janji membawa anak kita."Kemuning menggeleng, air matanya tak berhenti. “Aku gak peduli caranya, aku cuma mau anakku pulang, Mas. Aku mau Arka…,"Ardan memejamkan mata sesaat, menahan sesuatu yang bergolak di dalam dirinya. Saat ia membukanya kembali, sorot matanya berubah bukan lagi amarah yang meledak, melainkan dingin yang berbahaya. Ia meraih ponselnya, menghubungi seseorang dengan tangan terkepal kuat.Para guru yang berada di sana tertunduk, bukan hanya takut tapi rasa bersalah karena membiarkan Arka di culik.“Faris, aku gak mau alasan. Cari semua rekaman CCTV di sekitar sekolah. Tutup semua akses keluar kota. Aku mau anakku dit
Beberapa hari berlalu sejak kebahagiaan itu kembali menyapa. Rumah yang dulu terasa asing, kini perlahan menjadi tempat pulang yang sesungguhnya bagi Kemuning.Tidak ada lagi jarak yang terlalu kaku. Tidak juga luka yang terus dipaksakan untuk diingat. Semua berjalan pelan, namun pasti.Pagi itu, Ardan menggenggam tangan Arka kecil, sementara Kemuning berjalan di sisi mereka. Senyum tipis terukir di wajahnya, melihat bagaimana Arka begitu antusias. Sekolah Arka jauh lebih bagus dari sebelumnya, kali ini Ardan memilih sekolah elite tidak jauh dari kediamannya sekarang. “Ibu, sekolahnya besar banget!"“Hmm, kamu suka nak?""Suka bangat ibu."Kemuning tersenyum, Ardan tidak kalah senang melihat dua orang penting dalam hidupnya kini berada dalam pandangannya."Nanti Arka harus jadi anak pintar, ya,” ujar Kemuning lembut."Pasti ibu."Ardan melirik, tersenyum. “Anaknya siapa dulu.”Kemuning mendengus pelan. “Jangan besar kepala, Mas.”"Harus, itu Yang. Masa punya istri sholehah, anak yang
Cahaya matahari masuk melalui jendela, menyinari ruang makan yang sederhana, namun penuh kehangatan yang sempat lama hilang. Arka duduk di kursinya, sibuk dengan sarapan, sementara Ardan berdiri di dapur, mencoba, dengan usaha yang terlihat jelas menyiapkan sesuatu.Kemuning bersandar di dekat pintu, memperhatikan dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.“Mas…," panggilnya pelan.Ardan menoleh cepat. “Iya? Tunggu, ini hampir jadi.”Kemuning mengernyit. “Mas lagi ngapain?”“Membuktikan kalau aku suami yang bisa diandalkan,” jawab Ardan percaya diri.Beberapa detik kemudian, aroma yang sedikit aneh tercium.Arka mengangkat kepala. “Ayah, itu bau apa?”Ardan terdiam sebentar, lalu tersenyum kaku. “Itu, aroma perjuangan.”Kemuning menahan tawa, tapi tetap lolos juga dari bibirnya. “Mas, itu gosong.”“Enggak, ini, setengah matang dengan sentuhan karakter,” bela Ardan.Arka langsung turun dari kursinya, menghampiri. “Ayah, Arka bantu ya. Nanti makin gosong.”Ardan menatap anak itu, lalu terta
“Ayah, mana Ardan junior? Aku mau lihat?!”Ardan langsung terdiam, lalu menatap Arka dengan wajah pura-pura serius. “Wah, Ardan junior itu makhluk langka, Ka. Tidak semua orang bisa lihat.”Arka membulatkan matanya. “Aku mau lihat! Aku kan anak Ayah!”“Hmm…," Ardan berpikir seolah berat, lalu menunduk sedikit. “Baiklah, tapi harus pakai jurus rahasia dulu.”“Jurus apa?”Ardan mendekat, lalu berbisik pelan, “Ketawa dulu yang keras.”Arka langsung tertawa lepas tanpa curiga. Ardan ikut tertawa, lalu dengan cepat menggelitik perut kecil itu hingga Arka semakin terbahak.“Itu dia! Ardan junior muncul!” ujar Ardan sambil menunjuk perut Arka.Arka berhenti tertawa sejenak, lalu menatap perutnya sendiri. “Ih, Ayah bohong!”Ardan mengangkat bahu santai. “Ayah nggak bohong. Dia muncul kalau Arka bahagia.”Arka terdiam sejenak, lalu kembali tersenyum lebar. “Berarti sekarang dia ada!”“Iya,” jawab Ardan pelan, matanya hangat menatap anak itu.Di ambang pintu, Kemuning tanpa sadar ikut tersenyum
Lila menghela napas pelan, menatap Ardan dengan pandangan yang berbeda. Amarahnya belum sepenuhnya hilang, namun ia tidak lagi melihat pria itu sebagai ancaman seperti sebelumnya.“Saya lihat, anda jauh semakin berubah,” ucapnya akhirnya.Ardan tidak menjawab, karena ia tahu perubahan itu tidak bis
Ardan masih berada di dalam mobilnya di ujung gang sempit itu. Mesin kendaraan sudah lama mati, tetapi pria itu tidak juga pergi. Tatapannya tertuju pada rumah kecil di ujung jalan. Rumah yang kini menjadi tempat tinggal Kemuning.Rumah yang terlalu sederhana untuk wanita yang dulu pernah hidup ber
Cahaya pagi menembus tirai tipis ruang rawat di sebuah rumah sakit di Yogyakarta. Kemuning masih terbaring lemah dengan infus yang menggantung di sisi ranjang. Sejak kemarin ia harus bermalam di sana. Lila duduk di kursi samping tempat tidur, menunggu dengan wajah lelah. Sementara Arka yang biasany
Pagi itu dapur kecil Kemuning dipenuhi aroma kue yang baru matang. Ia dan Arka sejak subuh sibuk menyelesaikan pesanan pelanggan. Semua itu Kemuning lakukan diam-diam agar tidak terus merepotkan Lila. Setelah semua kue diantar, Arka yang sejak tadi kelelahan mulai merengek.“Bu, Arka lapar, kita m







