Compartir

5. Barang

Autor: Rafli123
last update Última actualización: 2026-01-09 09:06:29

Pertanyaan Liam meluncur tiba-tiba, disertai lirikan tajam ke arah dapur. Dari sudut matanya, ia menangkap bayangan Kemuning yang sempat bergerak sebelum kembali bersembunyi di balik dinding. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya senyum yang selalu membuat Kemuning merinding.

Namun sebelum Liam sempat melangkah lebih jauh, suara Ardan menghantam udara dengan dingin.

“Dia lebih aman di sini daripada bersamamu.”

Ardan berdiri tegak, sorot matanya mengeras. “Dan satu hal lagi. Apa pun yang aku lakukan padanya adalah urusanku. Bukan urusanmu lagi. Jangan pernah bertanya tentang dirinya. Mengerti?”

Liam terdiam sesaat, lalu tertawa ringan, seolah ucapan itu hanya lelucon.

“Bagus kalau begitu,” katanya santai. “Pastikan kau menjaganya baik-baik, ya.”

Ia menyipitkan mata, menatap Ardan penuh selidik.

“Tapi jujur saja, aku heran, Tuan Muda. Sejak kapan kau tertarik pada perempuan seperti dia? Jangan-jangan… kau jatuh cinta?”

Sabrina ikut terkikik, kukunya mencengkeram lengan Liam.

“Kau tahu kan,” lanjut Liam merendahkan, “perempuan seperti dia pantasnya di dapur. Bukan berdiri sejajar dengan kita. Perempuan bodoh, mudah ditipu, dan—”

Kalimat itu terhenti. Bukan karena Ardan membentak.

Melainkan karena ketenangan Ardan justru terasa jauh lebih mengancam. Menatap sosok yang tertunduk, wanita yang di bawa ibunya untuk dijadikan sebagai istri.

Kemuning menggigit bibirnya keras-keras. Dadanya sesak. Setiap kata Liam seperti pisau yang menguliti harga dirinya sedikit demi sedikit. Ia ingin keluar. Ingin menampar wajah pria itu. Tapi ia tahu, di rumah ini, ia bahkan tidak memiliki hak untuk membela diri.

“Pergi,” ucap Ardan akhirnya, singkat dan tegas.

“Aku tidak ingin berdebat denganmu.”

Liam mendengus. “Kau berubah, Ardan. Dulu kau juga menyukai perempuan seksi dan berkelas. Tapi sekarang? Selera mu di bawah levelku. Ck, kau tidak takut Ardan? Di balik penutup wajahnya itu tersimpan wajah yang menakutkan? Bayangkan jika wajah itu banyak goresan dan tubuhnya itu hitam menjijikan!" Ia tertawa mengejek. “Apa kata rekan bisnismu nanti kalau tahu kau menyimpan wanita seperti itu?"

Ardan melangkah mendekat. Suaranya rendah, mengandung ancaman nyata.

“Kau tahu di mana pintu keluar.”

“Oke, oke.” Liam mengangkat tangan pura-pura menyerah.

Lalu sebelum berbalik, ia melemparkan kalimat terakhir yang membuat Kemuning merasa dunianya runtuh.

“Selamat menikmati barang bekasku, Ardan.”

Tawa Liam menggema lama, menghantam jantung Kemuning berkali-kali.

Barang?

Sejak kapan ia kehilangan status sebagai manusia?

Setelah mereka pergi, rumah kembali sunyi. Sunyi yang menyakitkan.

Kemuning memaksa dirinya kembali mencuci piring, meski tangannya gemetar. Air mata jatuh bercampur air sabun. Kata-kata Liam seperti luka terbuka yang terus disiram garam.

“Kau tidak lelah hidup seperti ini?”

Suara Ardan membuatnya terkejut. Pria itu berdiri di ambang pintu dapur, wajahnya tak terbaca.

“Apa maksud anda?” tanya Kemuning lirih.

“Menjadi lemah,” jawab Ardan tanpa basa-basi.

“Membiarkan orang menginjak mu tanpa perlawanan.”

Air mata Kemuning semakin deras. “Aku tidak punya pilihan, selain itu dia..,"

“Pilihan selalu ada.” Nada Ardan tajam. “Kau hanya terlalu takut untuk mengambilnya.”

Kalimat itu menghantamnya lebih keras dari hinaan Liam. Karena itu benar. Ia takut. Selalu takut karena janji yang ia pegang sampai detik ini. "Anda tidak akan pernah tahu." Gumam Kemuning.

"Kau,"

“Kenapa anda peduli?” tanya Kemuning akhirnya.

Ardan terdiam sesaat.

"Aku tidak peduli,” katanya datar. “Aku hanya muak melihat kebodohan seseorang. Apa sulit untuk membela dirinya sendiri?"

Ia pergi, meninggalkan Kemuning dengan rasa hampa yang semakin dalam. Malam harinya, saat membersihkan ruang kerja Ardan, mata Kemuning tertuju pada sebuah surat tua di atas meja. Kertasnya menguning. Tintanya memudar. Rasa penasaran mengalahkan rasa takut.

Nama Liam. Nama Sabrina. Dia nama yang berada di atas kertas yang mulai memudar.

Kalimat penuh kebencian dan dendam.

Tangannya gemetar.

“Jangan sentuh itu!”

Suara Ardan menggelegar. Kemuning tersentak, lututnya langsung lemas.

“Lancang! Seperti kamu, begitu penasaran? Samapi smua peraturan yang aku buat semua kamu langgar.” Bentak Ardan. "Aku izinkan kamu membersihkan, bukan mengacak-acak barang milikku!”

Kemuning segera berlutut. “Maaf, tuan. Aku tidak sengaja—”

“Mulai hari ini,” potong Ardan dingin, “kamu dilarang masuk ruang kerjaku.” Ia menatapnya tajam. “Atau kamu mata-mata Liam? Katakan apa itu benar?!"

“Tidak!” Kemuning menggeleng panik. “Aku bersumpah demi salatku, tuan. Aku bukan mata-mata.”

Ardan menatapnya lama. Terlalu lama hingga tanpa sadar menyelam sorot mata indah nan meneduhkan itu.

“Kau ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya akhirnya.

Kemuning mengangguk pelan. “Jika anda percaya padaku.”

“Belum saatnya,” jawab Ardan singkat.

Malam itu, Kemuning kembali ke kamarnya dengan hati penuh ketakutan dan tanda tanya.

Sementara di ruang tamu, Ardan berdiri menatap malam, menggenggam surat itu erat.

“Aku akan membuat mereka membayarnya,” gumamnya.

Namun di balik amarah itu, terselip luka yang jauh lebih dalam.

"Liam, jika saja istrimu tidak berarti apa-apa. Maka perusahaan dan wanita simpanan mu itu yang akan menjadi tempat pembalasan yang sesungguhnya."

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • DIKHIANATI SUAMI DINIKAHI TUAN MUDA    7. Milikku

    "Sayang aku mau shoping, Kamu bisa antar aku kan?" manja Sabrina, tanpa malu di lihat pelayan di rumah Liam."Aku tidak bisa sayang, kamu pergi sendiri ya, nanti aku transfer akan aku lebih kan untukmu sayang. Beli apapun yang kamu mau," ucap Liam tanpa berfikir dua kali. Jika apa yang di lakukannya itu akan menjadi boomerang untuknya di masa depan."Nah kalau kayak gini aku makin cinta sama kamu Liam. Oh, ya gimana wanita itu? Kenapa kamu selalu mengulur waktu untuk menceraikannya. Kapan aku jadi istri kamu Liam, aku capek harus kayak gini terus!" Kesal Sabrina, siapa yang tidak ingin menjadi istri dari Liam Pratama. Seorang pewaris tunggal dari kekayaan keluarga Pratama yang kini jatuh menjadi miliknya. Kekayaan yang begitu banyak hingga tidak akan habis jika untuk memanjakan kekasihnya."Sayang kamu tahu pengacara keluargaku itu gimana hum? Dia orang kepercayaan ibu, kalau sekarang aku ceraikan Kemuning maka semua harta ini akan menjadi milik Kemuning, apa kamu mau aku miskin?" kat

  • DIKHIANATI SUAMI DINIKAHI TUAN MUDA    6. Melawan

    Keesokan harinya matahari bersinar lembut, tapi suasana di rumah Ardan tetap terasa dingin, seperti pemiliknya. Kemuning duduk di meja makan, memainkan sendok di atas piringnya yang hampir kosong. Sarapan sudah disiapkan oleh pembantu rumah tangga, tetapi nafsu makannya hilang sejak kejadian semalam. Suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah tangga. Tanpa perlu menoleh, Kemuning tahu itu Ardan."Lambat sekali makannya," suara dingin Ardan langsung memecah keheningan. Ia berdiri di ambang pintu ruang makan, menatap tajam ke arah Kemuning. "Kalau tidak mau makan, jangan buang-buang makanan. Peliharaan ku masih membutuhkan makanan itu." Kemuning mengangkat wajahnya pelan, menatap pria itu hanya sedetik lalu kembali menunduk. "Maaf. Kalau Anda tidak suka, jangan lihat, maksudku, Anda tidak akan melihat ini lagi," balasnya bergetar. Namun sarat akan keberanian di dalamnya.Ardan terdiam sesaat, lalu bibirnya melengkungkan senyum tipis yang sinis. "Oh, jadi sekarang kamu punya nyali

  • DIKHIANATI SUAMI DINIKAHI TUAN MUDA    5. Barang

    Pertanyaan Liam meluncur tiba-tiba, disertai lirikan tajam ke arah dapur. Dari sudut matanya, ia menangkap bayangan Kemuning yang sempat bergerak sebelum kembali bersembunyi di balik dinding. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya senyum yang selalu membuat Kemuning merinding.Namun sebelum Liam sempat melangkah lebih jauh, suara Ardan menghantam udara dengan dingin.“Dia lebih aman di sini daripada bersamamu.”Ardan berdiri tegak, sorot matanya mengeras. “Dan satu hal lagi. Apa pun yang aku lakukan padanya adalah urusanku. Bukan urusanmu lagi. Jangan pernah bertanya tentang dirinya. Mengerti?”Liam terdiam sesaat, lalu tertawa ringan, seolah ucapan itu hanya lelucon.“Bagus kalau begitu,” katanya santai. “Pastikan kau menjaganya baik-baik, ya.”Ia menyipitkan mata, menatap Ardan penuh selidik. “Tapi jujur saja, aku heran, Tuan Muda. Sejak kapan kau tertarik pada perempuan seperti dia? Jangan-jangan… kau jatuh cinta?”Sabrina ikut terkikik, kukunya mencengkeram lengan Liam.“Kau tahu

  • DIKHIANATI SUAMI DINIKAHI TUAN MUDA    4. Kotak Kecil

    Hari-hari berlalu sejak kejadian beberapa hari lalu saat makan malam. Tidak ada komunikasi berarti di antara mereka. Jika pun ada, hanya satu dua kata itu pun sebatas hal penting.Kemuning perlahan mulai terbiasa dengan kehidupan barunya di rumah Ardan. Pria irit bicara itu hampir selalu menghilang sepanjang hari. Namun, ada sesuatu tentang dirinya yang membuat Kemuning diam-diam merasa penasaran. Ia sering melihat Ardan membawa sebuah kotak kecil benda yang selalu ia jaga dengan sangat hati-hati, seolah menyimpan sesuatu yang berharga.Suatu malam, saat Kemuning sedang duduk di ruang tamu, ia mendengar suara langkah kaki di luar. Ia mendekat ke jendela dan melihat Ardan berdiri di taman, berbicara dengan seseorang. Jarak yang terlalu jauh membuatnya tak mampu menangkap satu pun kata dari percakapan itu.Rasa penasaran mendorongnya membuka pintu dan melangkah keluar. Namun belum sempat ia mendekat, Ardan tiba-tiba menoleh. Tatapannyatajam, seperti elang yang menangkap mangsanya.“Kem

  • DIKHIANATI SUAMI DINIKAHI TUAN MUDA    3. Menyusahkan

    “Kamu benar sekali, Mas. Kita akhirnya mendapatkan apa yang kita inginkan,” ujar Sabrina sambil tertawa kecil. “Tidak sia-sia aku jadi simpananmu. Huff, enak sekali rasanya.” Ia mendengus kesal. “Aku iri padanya. Wanita itu bisa tinggal di rumahmu hanya karena ibumu yang menyebalkan. Coba saja sejak awal ibumu merestui hubungan kita.” Liam terkekeh, menarik Sabrina ke dalam pelukannya. “Sudahlah, Sayang. Jangan diingat lagi,” ucapnya ringan. “Sekarang kita sudah bersama. Sebentar lagi kita akan mengadakan pesta besar. Aku ingin seluruh dunia tahu bahwa kamulah istriku.” Ia mengangkat gelas minumannya tinggi-tinggi. “Malam ini pesta untukmu. Menyambut kembalinya Sabrina, wanita yang paling aku cintai!” ujarnya lembut."Liam, kau yakin tidak menaruh hati padanya? Aku takut. Takut, kau memiliki rasa saat tinggal bersama, aku tahu bagaimana ibumu yang menginginkan dia menjadi istrimu," rengek Sabrina manja. Terbesit rasa takut jika diam-diam Liam menyukai Kemuning, mengingat merek

  • DIKHIANATI SUAMI DINIKAHI TUAN MUDA    2. Tangis Dalam Diam

    “Sampai kapan pun aku tidak akan peduli,” ucap Liam dingin. “Justru tempat ini yang paling pantas untukmu. Supaya kamu tahu rasanya hidup tersiksa. Itulah yang aku rasakan saat harus menerima perempuan sepertimu menjadi istriku.”Hati Kemuning terasa seperti diremas. Dadanya sesak.“Dia akan menjadi milikmu,” lanjut Liam tanpa ragu. “Aku tidak peduli bagaimana kau memperlakukannya di sini. Ingat satu hal—dia masih bersegel.”Kalimat itu seperti cambukan. Liam bahkan tidak menganggapnya manusia.“Sekarang tidak ada lagi urusan di antara kita,” sambungnya santai. “Hari ini semuanya selesai. Dia milikmu. Kau bahkan bisa menjualnya. Percayalah, dia wanita cantik meskipun aku tidak pernah melihat wajahnya.”Air mata Kemuning jatuh tanpa bisa ditahan.Suaminya, pria yang seharusnya melindunginya, justru dengan ringan menyuruh orang lain menjual dirinya. Tak ada lagi yang perlu dipertahankan.Perlahan, jemarinya gemetar saat tali cadar itu terlepas. Runtuh sudah seluruh kehidupannya.Apa yan

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status