Compartir

6. Melawan

Autor: Rafli123
last update Última actualización: 2026-01-09 09:07:12

Keesokan harinya matahari bersinar lembut, tapi suasana di rumah Ardan tetap terasa dingin, seperti pemiliknya. Kemuning duduk di meja makan, memainkan sendok di atas piringnya yang hampir kosong. Sarapan sudah disiapkan oleh pembantu rumah tangga, tetapi nafsu makannya hilang sejak kejadian semalam. Suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah tangga. Tanpa perlu menoleh, Kemuning tahu itu Ardan.

"Lambat sekali makannya," suara dingin Ardan langsung memecah keheningan. Ia berdiri di ambang pintu ruang makan, menatap tajam ke arah Kemuning. "Kalau tidak mau makan, jangan buang-buang makanan. Peliharaan ku masih membutuhkan makanan itu."

Kemuning mengangkat wajahnya pelan, menatap pria itu hanya sedetik lalu kembali menunduk. "Maaf. Kalau Anda tidak suka, jangan lihat, maksudku, Anda tidak akan melihat ini lagi," balasnya bergetar. Namun sarat akan keberanian di dalamnya.

Ardan terdiam sesaat, lalu bibirnya melengkungkan senyum tipis yang sinis. "Oh, jadi sekarang kamu punya nyali untuk melawan, ya? Bagus, setidaknya aku tidak perlu berurusan dengan wanita yang hanya bisa diam dan menangis."

Kemuning mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia ingin membalas, tapi memilih menahan diri. Tidak ada gunanya berdebat dengan pria seperti Ardan setidaknya, itulah yang ia pikirkan sebelumnya. Namun, hari ini perasaannya berbeda. Ia merasa marah, bukan hanya pada Ardan, tapi pada dirinya sendiri karena terlalu lama membiarkan dirinya diperlakukan seperti ini.

Sejak mendapatkan sindiran dari Ardan yang hampir setiap hari, sehingga Kemuning memiliki keberanian yang tak terduga.

"Kalau Anda tidak punya hal penting untuk dibicarakan, aku ingin sendiri," katanya, mencoba terdengar tegas meski suaranya sedikit bergetar. Ada rasa takut di setiap katanya.

Ardan menyipitkan matanya, memperhatikan Kemuning seolah mencoba membaca pikirannya. "Sepertinya kamu mulai belajar untuk berbicara, ya. Tapi ingat, aku tidak akan segan-segan mengingatkanmu siapa yang punya kuasa di sini. Kamu tetap pada posisimu!"

Kemuning tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menahan napas, dan berharap Ardan segera pergi. Namun, pria itu justru menarik kursi di depannya dan duduk.

"Apa yang sebenarnya kamu inginkan dari hidupmu, Kemuning?" suara Ardan tiba-tiba berubah, lebih pelan tapi tetap menusuk. Melihat keraguan meski mencoba untuk berani.

Kemuning mendongak, menatap pria itu dengan bingung. "Apa maksud Anda?"

Ardan menghela napas panjang, lalu bersandar di kursinya. "Kamu menikah dengan Liam, pria yang bahkan tidak peduli denganmu. Kamu dijadikan taruhan, dan sekarang kamu di sini, di rumahku. Apa kamu tidak lelah dengan semua ini?"

Pertanyaan itu menusuk jauh ke dalam hati Kemuning. Tentu saja ia lelah. Ia lelah menjadi boneka dalam permainan orang lain. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Selama ini ia hanya berusaha bertahan, berharap suatu hari semuanya akan berubah.

"Saya tidak punya pilihan," jawabnya pelan, 'melawan Liam? Melawan Ardan, apa aku mampu? Di sana ataupun di sini sama saja bukan? Aku tidak pernah di anggap oekh siapapun, setidaknya di sini aku tidak harus melihat Liam dan wanita itu.'

Ardan tertawa kecil, tapi tidak ada kehangatan dalam tawanya. "Pilihan? Semua orang punya pilihan, Kemuning. Hanya saja, kamu terlalu takut untuk mengambilnya."

Kemuning membenarkan perkataan Ardan, ya kata-kata Ardan seperti tamparan keras untuknya, tetapi ia tahu pria itu tidak sepenuhnya salah. Selama ini ia memang terlalu takut untuk melawan, terlalu takut untuk memperjuangkan dirinya sendiri.

"Tapi kamu benar tentang satu hal," lanjut Ardan sambil bangkit dari kursinya. "Kamu tidak punya pilihan di sini. Jadi, jangan pernah berpikir untuk melawan."

Ardan berbalik dan berjalan keluar dari ruang makan, meninggalkan Kemuning yang masih duduk dengan perasaan campur aduk. Ia marah, sedih, dan bingung. Tapi di balik semua itu, ada percikan kecil keberanian yang mulai tumbuh di dalam dirinya.

____

Beberapa hari setelah percakapan di ruang makan, Kemuning mulai mencari cara untuk mengalihkan pikirannya. Ia menemukan kebun kecil di belakang rumah yang tampaknya sudah lama tidak terawat. Rumput liar tumbuh di mana-mana, dan bunga-bunga yang dulunya indah sekarang layu tak terurus.

Kemuning berdiri di tengah kebun itu, menghela napas panjang. "Setidaknya, ini lebih baik daripada diam di dalam rumah," gumamnya.

Ia mulai membersihkan kebun itu sedikit demi sedikit. Tangannya kotor oleh tanah, tetapi ia merasa lebih tenang. Setiap kali ia mencabut rumput liar, ia membayangkan sedang mencabut semua luka dan rasa sakit di hatinya.

Saat ia sedang sibuk, suara berat yang familiar tiba-tiba terdengar di belakangnya. "Apa yang kamu lakukan di sini?"

Kemuning berbalik dan melihat Ardan berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan ekspresi datar. "Membersihkan kebun," jawabnya singkat.

Ardan mengangkat alis. "Kenapa? Tidak ada yang memintamu melakukannya."

"Aku tidak butuh izin untuk melakukan sesuatu yang aku suka. Lagi pula bunga ini sudah layu bahkan sebagian mati, aku hanya ingin memberikan tempt yang baru untuk bunga yang akan tumbuh," balas Kemuning. Kali ini ia tidak lagi menunduk atau menghindari tatapan Ardan. Ia memberanikan diri menatap langsung ke mata pria itu, satu detik, hanya satu detik Kemuning melakukan hal itu meski hatinya berdebar kencang. Tidak, itu tidak boleh. Kemuning memiliki suami, suami? Bahkan ia tidak tahu apa rumah tangganya masih bisa bertahan? Apa suaminya akan datang menjemputnya lagi? Atau bahkan keberadaannya di rumah Ardan adalah keinginan sesungguhnya Liam.

Ardan terdiam sejenak, lalu menghela napas. "Terserah kamu. Tapi jangan berharap aku akan membantumu."

Kemuning tersenyum tipis. "Aku tidak pernah berharap apa pun dari Anda. Tapi aku berharap bunga ini akan tumbuh sampai kumbang datang untuknya,"

Jawaban itu membuat Ardan sedikit terkejut, meski ia tidak menunjukkannya. Ia hanya mengangguk kecil sebelum berbalik dan pergi, meninggalkan Kemuning yang kembali fokus pada kebunnya. Tapi di dalam hati, Ardan merasa aneh. Ada sesuatu tentang Kemuning yang mulai membuatnya penasaran.

'kata itu? Kata yang selalu di ucapannya, ah kenapa aku merindukanmu,'

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • DIKHIANATI SUAMI DINIKAHI TUAN MUDA    7. Milikku

    "Sayang aku mau shoping, Kamu bisa antar aku kan?" manja Sabrina, tanpa malu di lihat pelayan di rumah Liam."Aku tidak bisa sayang, kamu pergi sendiri ya, nanti aku transfer akan aku lebih kan untukmu sayang. Beli apapun yang kamu mau," ucap Liam tanpa berfikir dua kali. Jika apa yang di lakukannya itu akan menjadi boomerang untuknya di masa depan."Nah kalau kayak gini aku makin cinta sama kamu Liam. Oh, ya gimana wanita itu? Kenapa kamu selalu mengulur waktu untuk menceraikannya. Kapan aku jadi istri kamu Liam, aku capek harus kayak gini terus!" Kesal Sabrina, siapa yang tidak ingin menjadi istri dari Liam Pratama. Seorang pewaris tunggal dari kekayaan keluarga Pratama yang kini jatuh menjadi miliknya. Kekayaan yang begitu banyak hingga tidak akan habis jika untuk memanjakan kekasihnya."Sayang kamu tahu pengacara keluargaku itu gimana hum? Dia orang kepercayaan ibu, kalau sekarang aku ceraikan Kemuning maka semua harta ini akan menjadi milik Kemuning, apa kamu mau aku miskin?" kat

  • DIKHIANATI SUAMI DINIKAHI TUAN MUDA    6. Melawan

    Keesokan harinya matahari bersinar lembut, tapi suasana di rumah Ardan tetap terasa dingin, seperti pemiliknya. Kemuning duduk di meja makan, memainkan sendok di atas piringnya yang hampir kosong. Sarapan sudah disiapkan oleh pembantu rumah tangga, tetapi nafsu makannya hilang sejak kejadian semalam. Suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah tangga. Tanpa perlu menoleh, Kemuning tahu itu Ardan."Lambat sekali makannya," suara dingin Ardan langsung memecah keheningan. Ia berdiri di ambang pintu ruang makan, menatap tajam ke arah Kemuning. "Kalau tidak mau makan, jangan buang-buang makanan. Peliharaan ku masih membutuhkan makanan itu." Kemuning mengangkat wajahnya pelan, menatap pria itu hanya sedetik lalu kembali menunduk. "Maaf. Kalau Anda tidak suka, jangan lihat, maksudku, Anda tidak akan melihat ini lagi," balasnya bergetar. Namun sarat akan keberanian di dalamnya.Ardan terdiam sesaat, lalu bibirnya melengkungkan senyum tipis yang sinis. "Oh, jadi sekarang kamu punya nyali

  • DIKHIANATI SUAMI DINIKAHI TUAN MUDA    5. Barang

    Pertanyaan Liam meluncur tiba-tiba, disertai lirikan tajam ke arah dapur. Dari sudut matanya, ia menangkap bayangan Kemuning yang sempat bergerak sebelum kembali bersembunyi di balik dinding. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya senyum yang selalu membuat Kemuning merinding.Namun sebelum Liam sempat melangkah lebih jauh, suara Ardan menghantam udara dengan dingin.“Dia lebih aman di sini daripada bersamamu.”Ardan berdiri tegak, sorot matanya mengeras. “Dan satu hal lagi. Apa pun yang aku lakukan padanya adalah urusanku. Bukan urusanmu lagi. Jangan pernah bertanya tentang dirinya. Mengerti?”Liam terdiam sesaat, lalu tertawa ringan, seolah ucapan itu hanya lelucon.“Bagus kalau begitu,” katanya santai. “Pastikan kau menjaganya baik-baik, ya.”Ia menyipitkan mata, menatap Ardan penuh selidik. “Tapi jujur saja, aku heran, Tuan Muda. Sejak kapan kau tertarik pada perempuan seperti dia? Jangan-jangan… kau jatuh cinta?”Sabrina ikut terkikik, kukunya mencengkeram lengan Liam.“Kau tahu

  • DIKHIANATI SUAMI DINIKAHI TUAN MUDA    4. Kotak Kecil

    Hari-hari berlalu sejak kejadian beberapa hari lalu saat makan malam. Tidak ada komunikasi berarti di antara mereka. Jika pun ada, hanya satu dua kata itu pun sebatas hal penting.Kemuning perlahan mulai terbiasa dengan kehidupan barunya di rumah Ardan. Pria irit bicara itu hampir selalu menghilang sepanjang hari. Namun, ada sesuatu tentang dirinya yang membuat Kemuning diam-diam merasa penasaran. Ia sering melihat Ardan membawa sebuah kotak kecil benda yang selalu ia jaga dengan sangat hati-hati, seolah menyimpan sesuatu yang berharga.Suatu malam, saat Kemuning sedang duduk di ruang tamu, ia mendengar suara langkah kaki di luar. Ia mendekat ke jendela dan melihat Ardan berdiri di taman, berbicara dengan seseorang. Jarak yang terlalu jauh membuatnya tak mampu menangkap satu pun kata dari percakapan itu.Rasa penasaran mendorongnya membuka pintu dan melangkah keluar. Namun belum sempat ia mendekat, Ardan tiba-tiba menoleh. Tatapannyatajam, seperti elang yang menangkap mangsanya.“Kem

  • DIKHIANATI SUAMI DINIKAHI TUAN MUDA    3. Menyusahkan

    “Kamu benar sekali, Mas. Kita akhirnya mendapatkan apa yang kita inginkan,” ujar Sabrina sambil tertawa kecil. “Tidak sia-sia aku jadi simpananmu. Huff, enak sekali rasanya.” Ia mendengus kesal. “Aku iri padanya. Wanita itu bisa tinggal di rumahmu hanya karena ibumu yang menyebalkan. Coba saja sejak awal ibumu merestui hubungan kita.” Liam terkekeh, menarik Sabrina ke dalam pelukannya. “Sudahlah, Sayang. Jangan diingat lagi,” ucapnya ringan. “Sekarang kita sudah bersama. Sebentar lagi kita akan mengadakan pesta besar. Aku ingin seluruh dunia tahu bahwa kamulah istriku.” Ia mengangkat gelas minumannya tinggi-tinggi. “Malam ini pesta untukmu. Menyambut kembalinya Sabrina, wanita yang paling aku cintai!” ujarnya lembut."Liam, kau yakin tidak menaruh hati padanya? Aku takut. Takut, kau memiliki rasa saat tinggal bersama, aku tahu bagaimana ibumu yang menginginkan dia menjadi istrimu," rengek Sabrina manja. Terbesit rasa takut jika diam-diam Liam menyukai Kemuning, mengingat merek

  • DIKHIANATI SUAMI DINIKAHI TUAN MUDA    2. Tangis Dalam Diam

    “Sampai kapan pun aku tidak akan peduli,” ucap Liam dingin. “Justru tempat ini yang paling pantas untukmu. Supaya kamu tahu rasanya hidup tersiksa. Itulah yang aku rasakan saat harus menerima perempuan sepertimu menjadi istriku.”Hati Kemuning terasa seperti diremas. Dadanya sesak.“Dia akan menjadi milikmu,” lanjut Liam tanpa ragu. “Aku tidak peduli bagaimana kau memperlakukannya di sini. Ingat satu hal—dia masih bersegel.”Kalimat itu seperti cambukan. Liam bahkan tidak menganggapnya manusia.“Sekarang tidak ada lagi urusan di antara kita,” sambungnya santai. “Hari ini semuanya selesai. Dia milikmu. Kau bahkan bisa menjualnya. Percayalah, dia wanita cantik meskipun aku tidak pernah melihat wajahnya.”Air mata Kemuning jatuh tanpa bisa ditahan.Suaminya, pria yang seharusnya melindunginya, justru dengan ringan menyuruh orang lain menjual dirinya. Tak ada lagi yang perlu dipertahankan.Perlahan, jemarinya gemetar saat tali cadar itu terlepas. Runtuh sudah seluruh kehidupannya.Apa yan

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status