Share

3. Menyusahkan

Author: Rafli123
last update Last Updated: 2026-01-09 09:05:14

“Kamu benar sekali, Mas. Kita akhirnya mendapatkan apa yang kita inginkan,” ujar Sabrina sambil tertawa kecil.

“Tidak sia-sia aku jadi simpananmu. Huff, enak sekali rasanya.”

Ia mendengus kesal.

“Aku iri padanya. Wanita itu bisa tinggal di rumahmu hanya karena ibumu yang menyebalkan. Coba saja sejak awal ibumu merestui hubungan kita.”

Liam terkekeh, menarik Sabrina ke dalam pelukannya.

“Sudahlah, Sayang. Jangan diingat lagi,” ucapnya ringan.

“Sekarang kita sudah bersama. Sebentar lagi kita akan mengadakan pesta besar. Aku ingin seluruh dunia tahu bahwa kamulah istriku.”

Ia mengangkat gelas minumannya tinggi-tinggi.

“Malam ini pesta untukmu. Menyambut kembalinya Sabrina, wanita yang paling aku cintai!” ujarnya lembut.

"Liam, kau yakin tidak menaruh hati padanya? Aku takut. Takut, kau memiliki rasa saat tinggal bersama, aku tahu bagaimana ibumu yang menginginkan dia menjadi istrimu," rengek Sabrina manja. Terbesit rasa takut jika diam-diam Liam menyukai Kemuning, mengingat mereka tinggal bersama dan dalam ikutan yang kuat.

Liam tersenyum, mengecup bibir Sabrina sekilas. "Kamu cemburu? Perlu aku buktikan? Aku tidak pernah menyentuhnya, bahkan melihat wajahnya saja aku tidak pernah. Jadi berhenti berfikir yang tidak-tidak. Cintaku mentok padamu sayang, aku tidak suka di ragukan. Wanita yang akan menjadi pendamping hidupku adalah kamu. Hanya kamu seorang, seribu wanita di kirim padaku tidak akan mampu menggoyahkan hatiku untukmu," ucap Liam jujur, namun ada rasa sesak yang tidak di pahami olehnya. Entah apa artinya, Liam tidak tahu.

"Aku percaya sekarang. Aku hanya wanita satu-satunya kamu, aku makin sayang kamu Liam. Segeralah buat pesta pernikahan yang mewah aku ingin melihat wanita di luar sana tahu bahwa aku yang mampu dan pantas ada di sampingmu,* senyum Sabrina semakin lebar, kepuasan dan kemenangan ada di tangannya.

'aku pemenangnya. Lihat Tante, putramu begitu tergila-gila padaku, bahkan putramu rela menyerahkan menantu pilihanmu pada pria itu hanya untuk menyelamatkan aku. Kau kalah Tante, kalah telak.'

"Apa yang kamu pikirkan sayang? Kenapa tersenyum begitu, hum?"

"Aku bahagia, kamu memperjuangkan aku sampai detik ini. Aku wanita beruntung itu, aku makin sayang kamu. Wanita kampung itu menyerah karena kamu adalah cintaku seutuhnya."

"Hum, lupakan. Malam ini kita akan rayakan kebahagiaan kita. Malam yang akan terus terjadi pada kita kedepannya. Bisnis dan kamu adalah dua hal yang berharga untukku."

Dentuman musik memenuhi ruangan. Tawa, sorak, dan alunan lagu bercampur tanpa mengusik kebahagiaan semu mereka.

Sementara itu, Kemuning berdiri mematung di dalam rumah besar itu. Bingung harus melakukan apa. Rumah itu indah, megah, namun terasa kosong dan dingin. Tak ada suara, tak ada kehidupan—selain pria yang tadi meninggalkannya di ruang tamu.

Dengan ragu, ia melangkah menuju tangga. Ia masih mengingat jelas ucapan Ardan: kamar di lantai dua, sebelah kanan.

Ia membuka pintu kamar itu perlahan.

Ruangan tersebut nyaman. Jauh lebih baik dibanding kamar yang ia tempati di rumah Liam. Tempat tidur besar dengan seprai putih bersih, lemari kayu mahal, dan suasana yang rapi. Namun semua itu tak mampu menghangatkan hatinya.

Kemuning duduk di tepi tempat tidur, memeluk lututnya.

Air mata mengalir perlahan. “Kenapa aku harus menjalani semua ini?” gumamnya lirih.

Bayangan Liam dan Sabrina yang tertawa bersama terus berputar di kepalanya. Menyerahkannya pada pria asing, seolah ia bukan siapa-siapa.

Malam semakin larut. Kemuning tak kunjung bisa tidur. Ia menatap langit-langit kamar, mendengarkan hembusan angin dari luar jendela.

Teringat ucapan Ardan beberapa jam lalu.

“Ambil ini. Aku tahu kau tidak pernah meninggalkan salatmu.”

Mukena yang diberikan pria itu terlipat rapi di sudut kamar. Saat pikirannya melayang, sebuah suara pelan terdengar dari luar kamar. Rasa penasaran mengalahkan ketakutannya. Dengan langkah hati-hati, Kemuning membuka pintu dan mengintip.

Pemandangan itu membuatnya terdiam.

Ardan, pria dingin dan penuh jarak itu tengah berjongkok di teras, memberi makan seekor kucing liar. Gerakannya tenang, ekspresinya datar, namun tidak kasar.

“Kenapa kau di sana?”

Suara berat Ardan membuat Kemuning tersentak.

“Gunakan penglihatanmu untuk hal yang baik,” lanjutnya dingin.

“Jangan mengintip. Apalagi mencoba mencari tahu sesuatu yang bukan urusanmu.”

“S-saya, tidak sengaja,” jawab Kemuning gugup.

Ardan berdiri, menatapnya tajam.

“Kalau kau tidak bisa tidur, kembalilah ke kamar. Jangan berkeliaran tanpa seizinku.”

Kemuning mengangguk cepat dan segera kembali masuk. Namun bayangan Ardan dan kucing itu terus terpatri di pikirannya.

Siapa sebenarnya pria ini?

Keesokan harinya, Kemuning terbangun dengan perasaan asing. Setelah salat Subuh, ia sempat terlelap sejenak. Tubuhnya lelah, pikirannya masih kacau.

Rumah itu terlalu besar. Terlalu sunyi. Terlalu asing.

Saat ia turun ke ruang makan, Ardan sudah duduk di sana, membaca koran. Ia hanya melirik sekilas saat Kemuning datang.

“Makan,” ucapnya singkat, menunjuk hidangan di meja.

Kemuning duduk perlahan dan mulai menyantap sarapan. Rasanya hambar, namun ia tidak berani mengeluh. Setidaknya, Ardan tidak memperlakukannya kasar seperti Liam.

“Setelah ini aku pergi,” kata Ardan datar.

“Kau boleh tinggal di rumah. Tapi ingat, jangan menyentuh apa pun yang bukan milikmu.”

Kemuning mengangguk pelan.

“Apa cuma itu yang bisa kau lakukan?” tanya Ardan sinis.

“T–tidak, Tuan,” jawab Kemuning lirih.

“Ck,” dengus Ardan.

“Menyusahkan. Pantas saja Liam menjadikanmu taruhan—”

Ucapannya terhenti. Ia menghela napas kasar.

Tatapannya beralih pada Kemuning yang menunduk. Wajahnya tertutup cadar, hanya matanya yang tampak sendu.

“Benarkah, aku menyusahkan?” ucap Kemuning lirih, nyaris tak terdengar. "Ya, benar. Apa yang Tuan katakan. Aku memang menyusahkan. Pantas suamiku menjual ku, karena itu pantas aku dapatkan."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DIKHIANATI SUAMI DINIKAHI TUAN MUDA    7. Milikku

    "Sayang aku mau shoping, Kamu bisa antar aku kan?" manja Sabrina, tanpa malu di lihat pelayan di rumah Liam."Aku tidak bisa sayang, kamu pergi sendiri ya, nanti aku transfer akan aku lebih kan untukmu sayang. Beli apapun yang kamu mau," ucap Liam tanpa berfikir dua kali. Jika apa yang di lakukannya itu akan menjadi boomerang untuknya di masa depan."Nah kalau kayak gini aku makin cinta sama kamu Liam. Oh, ya gimana wanita itu? Kenapa kamu selalu mengulur waktu untuk menceraikannya. Kapan aku jadi istri kamu Liam, aku capek harus kayak gini terus!" Kesal Sabrina, siapa yang tidak ingin menjadi istri dari Liam Pratama. Seorang pewaris tunggal dari kekayaan keluarga Pratama yang kini jatuh menjadi miliknya. Kekayaan yang begitu banyak hingga tidak akan habis jika untuk memanjakan kekasihnya."Sayang kamu tahu pengacara keluargaku itu gimana hum? Dia orang kepercayaan ibu, kalau sekarang aku ceraikan Kemuning maka semua harta ini akan menjadi milik Kemuning, apa kamu mau aku miskin?" kat

  • DIKHIANATI SUAMI DINIKAHI TUAN MUDA    6. Melawan

    Keesokan harinya matahari bersinar lembut, tapi suasana di rumah Ardan tetap terasa dingin, seperti pemiliknya. Kemuning duduk di meja makan, memainkan sendok di atas piringnya yang hampir kosong. Sarapan sudah disiapkan oleh pembantu rumah tangga, tetapi nafsu makannya hilang sejak kejadian semalam. Suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah tangga. Tanpa perlu menoleh, Kemuning tahu itu Ardan."Lambat sekali makannya," suara dingin Ardan langsung memecah keheningan. Ia berdiri di ambang pintu ruang makan, menatap tajam ke arah Kemuning. "Kalau tidak mau makan, jangan buang-buang makanan. Peliharaan ku masih membutuhkan makanan itu." Kemuning mengangkat wajahnya pelan, menatap pria itu hanya sedetik lalu kembali menunduk. "Maaf. Kalau Anda tidak suka, jangan lihat, maksudku, Anda tidak akan melihat ini lagi," balasnya bergetar. Namun sarat akan keberanian di dalamnya.Ardan terdiam sesaat, lalu bibirnya melengkungkan senyum tipis yang sinis. "Oh, jadi sekarang kamu punya nyali

  • DIKHIANATI SUAMI DINIKAHI TUAN MUDA    5. Barang

    Pertanyaan Liam meluncur tiba-tiba, disertai lirikan tajam ke arah dapur. Dari sudut matanya, ia menangkap bayangan Kemuning yang sempat bergerak sebelum kembali bersembunyi di balik dinding. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya senyum yang selalu membuat Kemuning merinding.Namun sebelum Liam sempat melangkah lebih jauh, suara Ardan menghantam udara dengan dingin.“Dia lebih aman di sini daripada bersamamu.”Ardan berdiri tegak, sorot matanya mengeras. “Dan satu hal lagi. Apa pun yang aku lakukan padanya adalah urusanku. Bukan urusanmu lagi. Jangan pernah bertanya tentang dirinya. Mengerti?”Liam terdiam sesaat, lalu tertawa ringan, seolah ucapan itu hanya lelucon.“Bagus kalau begitu,” katanya santai. “Pastikan kau menjaganya baik-baik, ya.”Ia menyipitkan mata, menatap Ardan penuh selidik. “Tapi jujur saja, aku heran, Tuan Muda. Sejak kapan kau tertarik pada perempuan seperti dia? Jangan-jangan… kau jatuh cinta?”Sabrina ikut terkikik, kukunya mencengkeram lengan Liam.“Kau tahu

  • DIKHIANATI SUAMI DINIKAHI TUAN MUDA    4. Kotak Kecil

    Hari-hari berlalu sejak kejadian beberapa hari lalu saat makan malam. Tidak ada komunikasi berarti di antara mereka. Jika pun ada, hanya satu dua kata itu pun sebatas hal penting.Kemuning perlahan mulai terbiasa dengan kehidupan barunya di rumah Ardan. Pria irit bicara itu hampir selalu menghilang sepanjang hari. Namun, ada sesuatu tentang dirinya yang membuat Kemuning diam-diam merasa penasaran. Ia sering melihat Ardan membawa sebuah kotak kecil benda yang selalu ia jaga dengan sangat hati-hati, seolah menyimpan sesuatu yang berharga.Suatu malam, saat Kemuning sedang duduk di ruang tamu, ia mendengar suara langkah kaki di luar. Ia mendekat ke jendela dan melihat Ardan berdiri di taman, berbicara dengan seseorang. Jarak yang terlalu jauh membuatnya tak mampu menangkap satu pun kata dari percakapan itu.Rasa penasaran mendorongnya membuka pintu dan melangkah keluar. Namun belum sempat ia mendekat, Ardan tiba-tiba menoleh. Tatapannyatajam, seperti elang yang menangkap mangsanya.“Kem

  • DIKHIANATI SUAMI DINIKAHI TUAN MUDA    3. Menyusahkan

    “Kamu benar sekali, Mas. Kita akhirnya mendapatkan apa yang kita inginkan,” ujar Sabrina sambil tertawa kecil. “Tidak sia-sia aku jadi simpananmu. Huff, enak sekali rasanya.” Ia mendengus kesal. “Aku iri padanya. Wanita itu bisa tinggal di rumahmu hanya karena ibumu yang menyebalkan. Coba saja sejak awal ibumu merestui hubungan kita.” Liam terkekeh, menarik Sabrina ke dalam pelukannya. “Sudahlah, Sayang. Jangan diingat lagi,” ucapnya ringan. “Sekarang kita sudah bersama. Sebentar lagi kita akan mengadakan pesta besar. Aku ingin seluruh dunia tahu bahwa kamulah istriku.” Ia mengangkat gelas minumannya tinggi-tinggi. “Malam ini pesta untukmu. Menyambut kembalinya Sabrina, wanita yang paling aku cintai!” ujarnya lembut."Liam, kau yakin tidak menaruh hati padanya? Aku takut. Takut, kau memiliki rasa saat tinggal bersama, aku tahu bagaimana ibumu yang menginginkan dia menjadi istrimu," rengek Sabrina manja. Terbesit rasa takut jika diam-diam Liam menyukai Kemuning, mengingat merek

  • DIKHIANATI SUAMI DINIKAHI TUAN MUDA    2. Tangis Dalam Diam

    “Sampai kapan pun aku tidak akan peduli,” ucap Liam dingin. “Justru tempat ini yang paling pantas untukmu. Supaya kamu tahu rasanya hidup tersiksa. Itulah yang aku rasakan saat harus menerima perempuan sepertimu menjadi istriku.”Hati Kemuning terasa seperti diremas. Dadanya sesak.“Dia akan menjadi milikmu,” lanjut Liam tanpa ragu. “Aku tidak peduli bagaimana kau memperlakukannya di sini. Ingat satu hal—dia masih bersegel.”Kalimat itu seperti cambukan. Liam bahkan tidak menganggapnya manusia.“Sekarang tidak ada lagi urusan di antara kita,” sambungnya santai. “Hari ini semuanya selesai. Dia milikmu. Kau bahkan bisa menjualnya. Percayalah, dia wanita cantik meskipun aku tidak pernah melihat wajahnya.”Air mata Kemuning jatuh tanpa bisa ditahan.Suaminya, pria yang seharusnya melindunginya, justru dengan ringan menyuruh orang lain menjual dirinya. Tak ada lagi yang perlu dipertahankan.Perlahan, jemarinya gemetar saat tali cadar itu terlepas. Runtuh sudah seluruh kehidupannya.Apa yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status