Masuk“Sampai kapan pun aku tidak akan peduli,” ucap Liam dingin. “Justru tempat ini yang paling pantas untukmu. Supaya kamu tahu rasanya hidup tersiksa. Itulah yang aku rasakan saat harus menerima perempuan sepertimu menjadi istriku.”
Hati Kemuning terasa seperti diremas. Dadanya sesak. “Dia akan menjadi milikmu,” lanjut Liam tanpa ragu. “Aku tidak peduli bagaimana kau memperlakukannya di sini. Ingat satu hal—dia masih bersegel.” Kalimat itu seperti cambukan. Liam bahkan tidak menganggapnya manusia. “Sekarang tidak ada lagi urusan di antara kita,” sambungnya santai. “Hari ini semuanya selesai. Dia milikmu. Kau bahkan bisa menjualnya. Percayalah, dia wanita cantik meskipun aku tidak pernah melihat wajahnya.” Air mata Kemuning jatuh tanpa bisa ditahan. Suaminya, pria yang seharusnya melindunginya, justru dengan ringan menyuruh orang lain menjual dirinya. Tak ada lagi yang perlu dipertahankan. Perlahan, jemarinya gemetar saat tali cadar itu terlepas. Runtuh sudah seluruh kehidupannya. Apa yang selama ini ia jaga untuk suaminya, untuk Tuhannya nyaris ia korbankan demi pria yang bahkan tak menganggapnya berharga. “Hanya orang bodoh yang mengorbankan agamanya demi manusia tak berguna seperti dia,” ucap pria berjas hitam itu dingin. Ia melirik sekilas wajah Kemuning yang hampir terlepas dari cadarnya, lalu berkata singkat, “Tutup kembali wajahmu.” Deg! Kemuning tersentak. Dengan tergesa ia meraih cadarnya yang hampir terjatuh ke lantai. Dadanya naik turun. Imannya goyah hanya karena seorang Liam. Ruangan itu minim cahaya. Tak seorang pun benar-benar menyadari bahwa ia sempat tanpa cadar. Pandangan Kemuning mengikuti punggung Liam yang menjauh dan menghilang di balik pintu. Detik berikutnya, tubuhnya luruh ke lantai. Tangisnya pecah dalam diam. Penyesalan menghantamnya bertubi-tubi. Istighfar terucap berulang kali dari bibirnya. Ia hampir saja mengorbankan segalanya demi pria yang bahkan tak layak diperjuangkan. Kini Kemuning sadar, semua ini hanyalah permainan cinta yang kejam. Datangnya terlambat, namun ia tak menolak takdirnya. Suami? Entahlah, apakah status itu masih ada. “Bersiaplah,” ucap salah satu pria dengan nada dingin. “Sebentar lagi kami akan mengantarmu ke sana. Jangan membuat bos kami marah.” “Ba–baik, Tuan,” jawab Kemuning lirih. Tak lama, dua pria itu datang menjemputnya. Kali ini sikap mereka berbeda—lebih sopan, hampir ramah. Namun Kemuning tak lengah. Tak ada yang bisa dipercaya. Perjalanan panjang membuatnya memilih terjaga. Semua terasa semu. Kini ia berdiri di depan sebuah rumah besar dengan tembok tinggi menjulang. Udara malam menusuk kulitnya, tapi tangan yang gemetar bukan karena dingin, melainkan takut. Rumah mewah itu sunyi. Terlalu sunyi untuk seorang Kemuning. “Masuk.” Suara berat itu membuat Kemuning refleks menunduk. Seorang pria berdiri di depan pintu. Kemeja hitamnya rapi, auranya dingin dan berwibawa. Dengan langkah ragu, Kemuning masuk. Sepatu tuanya beradu dengan lantai marmer berkilau. Rumah itu luas, mewah namun, terasa kosong. Tanpa berkata apa-apa, Ardan melangkah masuk lebih dulu. “Kalau kau hanya berdiri di situ,” katanya tanpa menoleh, “aku bisa menutup pintunya sekarang.” Kemuning segera menyusul. Beberapa jam lalu, ia masih istri Liam. Sekarang, ia berada di rumah pria asing, bukan sebagai tamu, melainkan taruhan. “Kau tinggal di lantai dua,” ucap Ardan singkat. “Kamar sebelah kanan. Jangan masuk ruangan lain tanpa izin.” Ujarnya dingin. Kemuning mengangguk pelan tanpa menatap pria itu. “Ingat satu hal,” lanjutnya dingin. “Kau bukan nyonya di rumah ini. Lakukan apa yang harus kau lakukan. Jangan menyentuh barang milikku. Dan jangan masuk ke ruangan terlarang.” “Baik, Tuan. Saya berjanji akan mengikuti semua aturan,” jawab Kemuning hampir tak bersuara. “Jika melanggar,” kata Ardan datar, “terima konsekuensinya.” Setelah mengatakan suar pintu tertutup keras. Kemuning terlonjak. 'Jika ini takdirku,' batinnya lirih, 'aku ikhlas menerimanya. Ya Rabb, berikan aku kesabaran dan tawakal.' Sementara itu, pesta meriah berlangsung di tempat lain. Liam dan Sabrina tertawa di tengah kemewahan. Kebebasan Liam dari Kemuning, dan kembalinya Sabrina dari tahanan Ardan, dirayakan tanpa rasa bersalah. “Kamu yakin tidak akan membebaskan wanita itu?” tanya Sabrina manja. “Tentu,” jawab Liam santai. “Kalau aku membebaskannya, aku harus kehilangan kamu. Dan itu tidak akan terjadi.” Ia tersenyum puas. Percaya jika Liam akan mempertahankan dirinya, dari pada istrinya. Wanita yang menjadi penghalang hubungan Liam dan Sabrina. “Kita bebas sekarang. Biarkan dia di sana. Wanita itu sudah tidak berarti apa-apa. Tidak ada halangan bagi kita untuk bersatu.""Sayang aku mau shoping, Kamu bisa antar aku kan?" manja Sabrina, tanpa malu di lihat pelayan di rumah Liam."Aku tidak bisa sayang, kamu pergi sendiri ya, nanti aku transfer akan aku lebih kan untukmu sayang. Beli apapun yang kamu mau," ucap Liam tanpa berfikir dua kali. Jika apa yang di lakukannya itu akan menjadi boomerang untuknya di masa depan."Nah kalau kayak gini aku makin cinta sama kamu Liam. Oh, ya gimana wanita itu? Kenapa kamu selalu mengulur waktu untuk menceraikannya. Kapan aku jadi istri kamu Liam, aku capek harus kayak gini terus!" Kesal Sabrina, siapa yang tidak ingin menjadi istri dari Liam Pratama. Seorang pewaris tunggal dari kekayaan keluarga Pratama yang kini jatuh menjadi miliknya. Kekayaan yang begitu banyak hingga tidak akan habis jika untuk memanjakan kekasihnya."Sayang kamu tahu pengacara keluargaku itu gimana hum? Dia orang kepercayaan ibu, kalau sekarang aku ceraikan Kemuning maka semua harta ini akan menjadi milik Kemuning, apa kamu mau aku miskin?" kat
Keesokan harinya matahari bersinar lembut, tapi suasana di rumah Ardan tetap terasa dingin, seperti pemiliknya. Kemuning duduk di meja makan, memainkan sendok di atas piringnya yang hampir kosong. Sarapan sudah disiapkan oleh pembantu rumah tangga, tetapi nafsu makannya hilang sejak kejadian semalam. Suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah tangga. Tanpa perlu menoleh, Kemuning tahu itu Ardan."Lambat sekali makannya," suara dingin Ardan langsung memecah keheningan. Ia berdiri di ambang pintu ruang makan, menatap tajam ke arah Kemuning. "Kalau tidak mau makan, jangan buang-buang makanan. Peliharaan ku masih membutuhkan makanan itu." Kemuning mengangkat wajahnya pelan, menatap pria itu hanya sedetik lalu kembali menunduk. "Maaf. Kalau Anda tidak suka, jangan lihat, maksudku, Anda tidak akan melihat ini lagi," balasnya bergetar. Namun sarat akan keberanian di dalamnya.Ardan terdiam sesaat, lalu bibirnya melengkungkan senyum tipis yang sinis. "Oh, jadi sekarang kamu punya nyali
Pertanyaan Liam meluncur tiba-tiba, disertai lirikan tajam ke arah dapur. Dari sudut matanya, ia menangkap bayangan Kemuning yang sempat bergerak sebelum kembali bersembunyi di balik dinding. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya senyum yang selalu membuat Kemuning merinding.Namun sebelum Liam sempat melangkah lebih jauh, suara Ardan menghantam udara dengan dingin.“Dia lebih aman di sini daripada bersamamu.”Ardan berdiri tegak, sorot matanya mengeras. “Dan satu hal lagi. Apa pun yang aku lakukan padanya adalah urusanku. Bukan urusanmu lagi. Jangan pernah bertanya tentang dirinya. Mengerti?”Liam terdiam sesaat, lalu tertawa ringan, seolah ucapan itu hanya lelucon.“Bagus kalau begitu,” katanya santai. “Pastikan kau menjaganya baik-baik, ya.”Ia menyipitkan mata, menatap Ardan penuh selidik. “Tapi jujur saja, aku heran, Tuan Muda. Sejak kapan kau tertarik pada perempuan seperti dia? Jangan-jangan… kau jatuh cinta?”Sabrina ikut terkikik, kukunya mencengkeram lengan Liam.“Kau tahu
Hari-hari berlalu sejak kejadian beberapa hari lalu saat makan malam. Tidak ada komunikasi berarti di antara mereka. Jika pun ada, hanya satu dua kata itu pun sebatas hal penting.Kemuning perlahan mulai terbiasa dengan kehidupan barunya di rumah Ardan. Pria irit bicara itu hampir selalu menghilang sepanjang hari. Namun, ada sesuatu tentang dirinya yang membuat Kemuning diam-diam merasa penasaran. Ia sering melihat Ardan membawa sebuah kotak kecil benda yang selalu ia jaga dengan sangat hati-hati, seolah menyimpan sesuatu yang berharga.Suatu malam, saat Kemuning sedang duduk di ruang tamu, ia mendengar suara langkah kaki di luar. Ia mendekat ke jendela dan melihat Ardan berdiri di taman, berbicara dengan seseorang. Jarak yang terlalu jauh membuatnya tak mampu menangkap satu pun kata dari percakapan itu.Rasa penasaran mendorongnya membuka pintu dan melangkah keluar. Namun belum sempat ia mendekat, Ardan tiba-tiba menoleh. Tatapannyatajam, seperti elang yang menangkap mangsanya.“Kem
“Kamu benar sekali, Mas. Kita akhirnya mendapatkan apa yang kita inginkan,” ujar Sabrina sambil tertawa kecil. “Tidak sia-sia aku jadi simpananmu. Huff, enak sekali rasanya.” Ia mendengus kesal. “Aku iri padanya. Wanita itu bisa tinggal di rumahmu hanya karena ibumu yang menyebalkan. Coba saja sejak awal ibumu merestui hubungan kita.” Liam terkekeh, menarik Sabrina ke dalam pelukannya. “Sudahlah, Sayang. Jangan diingat lagi,” ucapnya ringan. “Sekarang kita sudah bersama. Sebentar lagi kita akan mengadakan pesta besar. Aku ingin seluruh dunia tahu bahwa kamulah istriku.” Ia mengangkat gelas minumannya tinggi-tinggi. “Malam ini pesta untukmu. Menyambut kembalinya Sabrina, wanita yang paling aku cintai!” ujarnya lembut."Liam, kau yakin tidak menaruh hati padanya? Aku takut. Takut, kau memiliki rasa saat tinggal bersama, aku tahu bagaimana ibumu yang menginginkan dia menjadi istrimu," rengek Sabrina manja. Terbesit rasa takut jika diam-diam Liam menyukai Kemuning, mengingat merek
“Sampai kapan pun aku tidak akan peduli,” ucap Liam dingin. “Justru tempat ini yang paling pantas untukmu. Supaya kamu tahu rasanya hidup tersiksa. Itulah yang aku rasakan saat harus menerima perempuan sepertimu menjadi istriku.”Hati Kemuning terasa seperti diremas. Dadanya sesak.“Dia akan menjadi milikmu,” lanjut Liam tanpa ragu. “Aku tidak peduli bagaimana kau memperlakukannya di sini. Ingat satu hal—dia masih bersegel.”Kalimat itu seperti cambukan. Liam bahkan tidak menganggapnya manusia.“Sekarang tidak ada lagi urusan di antara kita,” sambungnya santai. “Hari ini semuanya selesai. Dia milikmu. Kau bahkan bisa menjualnya. Percayalah, dia wanita cantik meskipun aku tidak pernah melihat wajahnya.”Air mata Kemuning jatuh tanpa bisa ditahan.Suaminya, pria yang seharusnya melindunginya, justru dengan ringan menyuruh orang lain menjual dirinya. Tak ada lagi yang perlu dipertahankan.Perlahan, jemarinya gemetar saat tali cadar itu terlepas. Runtuh sudah seluruh kehidupannya.Apa yan







