MasukHari-hari berlalu sejak kejadian beberapa hari lalu saat makan malam. Tidak ada komunikasi berarti di antara mereka. Jika pun ada, hanya satu dua kata itu pun sebatas hal penting.
Kemuning perlahan mulai terbiasa dengan kehidupan barunya di rumah Ardan. Pria irit bicara itu hampir selalu menghilang sepanjang hari. Namun, ada sesuatu tentang dirinya yang membuat Kemuning diam-diam merasa penasaran. Ia sering melihat Ardan membawa sebuah kotak kecil benda yang selalu ia jaga dengan sangat hati-hati, seolah menyimpan sesuatu yang berharga. Suatu malam, saat Kemuning sedang duduk di ruang tamu, ia mendengar suara langkah kaki di luar. Ia mendekat ke jendela dan melihat Ardan berdiri di taman, berbicara dengan seseorang. Jarak yang terlalu jauh membuatnya tak mampu menangkap satu pun kata dari percakapan itu. Rasa penasaran mendorongnya membuka pintu dan melangkah keluar. Namun belum sempat ia mendekat, Ardan tiba-tiba menoleh. Tatapannya tajam, seperti elang yang menangkap mangsanya. “Kembali ke dalam. Dan tunggu hukumanmu!” katanya tegas. Kemuning tertegun, lalu berbalik dan kembali masuk ke rumah. Namun rasa penasarannya justru semakin membesar. Apa yang sebenarnya disembunyikan pria itu? Dan siapa orang yang tadi berbicara dengannya? Keinginannya untuk tahu malah membuatnya harus menerima hukuman meski ia sendiri tidak tahu hukuman seperti apa yang menantinya. Malam itu, saat Kemuning mencoba memejamkan mata, suara pintu terbuka kembali terdengar. Ia bangkit dan melangkah pelan menuju pintu kamarnya. Dari celah kecil, ia melihat Ardan berdiri di ruang tamu, memegang kotak kecil itu. Wajahnya tegang, dan sorot matanya memancarkan kesedihan yang perlahan berubah menjadi amarah menakutkan. “Akan aku pastikan mereka membayar semua rasa sakit mu,” gumam Ardan lirih. Kemuning tertegun. Siapa yang ia maksud? Dan luka masa lalu seperti apa yang disimpan pria itu? Hatinya dipenuhi pertanyaan, meski ia tahu jawabannya tidak akan mudah ditemukan. Kemuning duduk di sudut kamar, menggenggam erat selimut tipis yang tak mampu menghangatkan tubuhnya. Matanya sembab akibat tangisan yang tak kunjung reda. Suara tawa Liam dan Sabrina masih menggema di telinganya, meski mereka tak lagi berada di hadapannya. “Apa salahku?” gumamnya pelan. Dalam keheningan malam, pertanyaan itu terus berputar di benaknya. Liam, suaminya pria yang seharusnya melindunginya, justru menjadi sumber kehancurannya. Dan kini ia berada di rumah pria asing bernama Ardan, yang tak kalah dingin dan kejam. Hidupnya terasa seperti lelucon pahit yang tak lucu. Pagi entah ke berapa karena Kemuning tak lagi menghitung hari ia bangun lebih awal. Ia tahu apa yang harus dilakukan. Di rumah ini, ia bukan hanya “jaminan” Liam, tetapi juga seperti seorang tahanan yang harus bekerja demi keberadaannya. Ia mencuci piring, menyapu lantai, memastikan rumah besar itu bersih dari debu. Saat sedang membersihkan ruang tamu, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga. Ardan muncul mengenakan kemeja putih yang sedikit kusut. Wajahnya tetap datar, tanpa ekspresi. “Kopi,” katanya singkat. Kemuning mengangguk dan berjalan ke dapur. Tangannya sibuk menyiapkan minuman itu, pikirannya melayang ke mana-mana. “Lama sekali,” suara Ardan memecah lamunannya. Kemuning terlonjak dan buru-buru membawa cangkir kopi ke ruang tamu. “Maaf,” ucapnya lirih. Ardan meliriknya sekilas. “Kau selalu seperti ini?” “Seperti apa maksud anda?” tanya Kemuning ragu. “Lambat. Tak punya pendirian. Dan satu lagi mudah ditipu,” jawab Ardan datar, namun menusuk. Kemuning ingin membela diri, tapi mulutnya terkunci. Ia menunduk dan kembali ke dapur. Siang menjelang. Ardan yang hendak mengambil berkas tertinggal mendadak terhenti saat suara deru mobil terdengar dari luar. Kemuning mengintip dari balik jendela dapur. Liam turun dari mobil bersama Sabrina yang menempel di lengannya seperti lintah. Dada Kemuning terasa nyeri. Pemandangan itu seharusnya sudah biasa, tapi kali ini terasa jauh lebih menyakitkan karena ia berada di sini akibat mereka. “Ardan!” suara Liam menggema tanpa mengetuk pintu. Ardan keluar dari ruang kerjanya, berdiri tenang di ruang tamu. “Apa maumu kali ini?” tanyanya dingin. Liam tertawa kecil. “Santai saja. Kami hanya mampir.” “Kau mampir, tapi tak bisa membayar utangmu?” balas Ardan tajam. Sabrina terkekeh. “Ini hanya soal waktu, Ardan.” Kemuning mengintip dari dapur, menahan amarah. “Barang jaminanku aman di sini, kan?” ucap Liam santai. “Aku yakin kau tak akan menyukai barang seperti itu. Kita sama, sama-sama menyukai yang indah.” Deg! Barang? Jadi selama ini, aku hanya dianggap barang olehnya? Sesakit inikah, kebenaran terungkap?"Sayang aku mau shoping, Kamu bisa antar aku kan?" manja Sabrina, tanpa malu di lihat pelayan di rumah Liam."Aku tidak bisa sayang, kamu pergi sendiri ya, nanti aku transfer akan aku lebih kan untukmu sayang. Beli apapun yang kamu mau," ucap Liam tanpa berfikir dua kali. Jika apa yang di lakukannya itu akan menjadi boomerang untuknya di masa depan."Nah kalau kayak gini aku makin cinta sama kamu Liam. Oh, ya gimana wanita itu? Kenapa kamu selalu mengulur waktu untuk menceraikannya. Kapan aku jadi istri kamu Liam, aku capek harus kayak gini terus!" Kesal Sabrina, siapa yang tidak ingin menjadi istri dari Liam Pratama. Seorang pewaris tunggal dari kekayaan keluarga Pratama yang kini jatuh menjadi miliknya. Kekayaan yang begitu banyak hingga tidak akan habis jika untuk memanjakan kekasihnya."Sayang kamu tahu pengacara keluargaku itu gimana hum? Dia orang kepercayaan ibu, kalau sekarang aku ceraikan Kemuning maka semua harta ini akan menjadi milik Kemuning, apa kamu mau aku miskin?" kat
Keesokan harinya matahari bersinar lembut, tapi suasana di rumah Ardan tetap terasa dingin, seperti pemiliknya. Kemuning duduk di meja makan, memainkan sendok di atas piringnya yang hampir kosong. Sarapan sudah disiapkan oleh pembantu rumah tangga, tetapi nafsu makannya hilang sejak kejadian semalam. Suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah tangga. Tanpa perlu menoleh, Kemuning tahu itu Ardan."Lambat sekali makannya," suara dingin Ardan langsung memecah keheningan. Ia berdiri di ambang pintu ruang makan, menatap tajam ke arah Kemuning. "Kalau tidak mau makan, jangan buang-buang makanan. Peliharaan ku masih membutuhkan makanan itu." Kemuning mengangkat wajahnya pelan, menatap pria itu hanya sedetik lalu kembali menunduk. "Maaf. Kalau Anda tidak suka, jangan lihat, maksudku, Anda tidak akan melihat ini lagi," balasnya bergetar. Namun sarat akan keberanian di dalamnya.Ardan terdiam sesaat, lalu bibirnya melengkungkan senyum tipis yang sinis. "Oh, jadi sekarang kamu punya nyali
Pertanyaan Liam meluncur tiba-tiba, disertai lirikan tajam ke arah dapur. Dari sudut matanya, ia menangkap bayangan Kemuning yang sempat bergerak sebelum kembali bersembunyi di balik dinding. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya senyum yang selalu membuat Kemuning merinding.Namun sebelum Liam sempat melangkah lebih jauh, suara Ardan menghantam udara dengan dingin.“Dia lebih aman di sini daripada bersamamu.”Ardan berdiri tegak, sorot matanya mengeras. “Dan satu hal lagi. Apa pun yang aku lakukan padanya adalah urusanku. Bukan urusanmu lagi. Jangan pernah bertanya tentang dirinya. Mengerti?”Liam terdiam sesaat, lalu tertawa ringan, seolah ucapan itu hanya lelucon.“Bagus kalau begitu,” katanya santai. “Pastikan kau menjaganya baik-baik, ya.”Ia menyipitkan mata, menatap Ardan penuh selidik. “Tapi jujur saja, aku heran, Tuan Muda. Sejak kapan kau tertarik pada perempuan seperti dia? Jangan-jangan… kau jatuh cinta?”Sabrina ikut terkikik, kukunya mencengkeram lengan Liam.“Kau tahu
Hari-hari berlalu sejak kejadian beberapa hari lalu saat makan malam. Tidak ada komunikasi berarti di antara mereka. Jika pun ada, hanya satu dua kata itu pun sebatas hal penting.Kemuning perlahan mulai terbiasa dengan kehidupan barunya di rumah Ardan. Pria irit bicara itu hampir selalu menghilang sepanjang hari. Namun, ada sesuatu tentang dirinya yang membuat Kemuning diam-diam merasa penasaran. Ia sering melihat Ardan membawa sebuah kotak kecil benda yang selalu ia jaga dengan sangat hati-hati, seolah menyimpan sesuatu yang berharga.Suatu malam, saat Kemuning sedang duduk di ruang tamu, ia mendengar suara langkah kaki di luar. Ia mendekat ke jendela dan melihat Ardan berdiri di taman, berbicara dengan seseorang. Jarak yang terlalu jauh membuatnya tak mampu menangkap satu pun kata dari percakapan itu.Rasa penasaran mendorongnya membuka pintu dan melangkah keluar. Namun belum sempat ia mendekat, Ardan tiba-tiba menoleh. Tatapannyatajam, seperti elang yang menangkap mangsanya.“Kem
“Kamu benar sekali, Mas. Kita akhirnya mendapatkan apa yang kita inginkan,” ujar Sabrina sambil tertawa kecil. “Tidak sia-sia aku jadi simpananmu. Huff, enak sekali rasanya.” Ia mendengus kesal. “Aku iri padanya. Wanita itu bisa tinggal di rumahmu hanya karena ibumu yang menyebalkan. Coba saja sejak awal ibumu merestui hubungan kita.” Liam terkekeh, menarik Sabrina ke dalam pelukannya. “Sudahlah, Sayang. Jangan diingat lagi,” ucapnya ringan. “Sekarang kita sudah bersama. Sebentar lagi kita akan mengadakan pesta besar. Aku ingin seluruh dunia tahu bahwa kamulah istriku.” Ia mengangkat gelas minumannya tinggi-tinggi. “Malam ini pesta untukmu. Menyambut kembalinya Sabrina, wanita yang paling aku cintai!” ujarnya lembut."Liam, kau yakin tidak menaruh hati padanya? Aku takut. Takut, kau memiliki rasa saat tinggal bersama, aku tahu bagaimana ibumu yang menginginkan dia menjadi istrimu," rengek Sabrina manja. Terbesit rasa takut jika diam-diam Liam menyukai Kemuning, mengingat merek
“Sampai kapan pun aku tidak akan peduli,” ucap Liam dingin. “Justru tempat ini yang paling pantas untukmu. Supaya kamu tahu rasanya hidup tersiksa. Itulah yang aku rasakan saat harus menerima perempuan sepertimu menjadi istriku.”Hati Kemuning terasa seperti diremas. Dadanya sesak.“Dia akan menjadi milikmu,” lanjut Liam tanpa ragu. “Aku tidak peduli bagaimana kau memperlakukannya di sini. Ingat satu hal—dia masih bersegel.”Kalimat itu seperti cambukan. Liam bahkan tidak menganggapnya manusia.“Sekarang tidak ada lagi urusan di antara kita,” sambungnya santai. “Hari ini semuanya selesai. Dia milikmu. Kau bahkan bisa menjualnya. Percayalah, dia wanita cantik meskipun aku tidak pernah melihat wajahnya.”Air mata Kemuning jatuh tanpa bisa ditahan.Suaminya, pria yang seharusnya melindunginya, justru dengan ringan menyuruh orang lain menjual dirinya. Tak ada lagi yang perlu dipertahankan.Perlahan, jemarinya gemetar saat tali cadar itu terlepas. Runtuh sudah seluruh kehidupannya.Apa yan







