Share

DIKIRA DUDA MELARAT TERNYATA KONGLOMERAT
DIKIRA DUDA MELARAT TERNYATA KONGLOMERAT
Penulis: Maulina Fikriyah

Gagal Menciptakan Pelangi

***

"Kamu sudah gila, Mas?! Hah?!" Diandra memekik sambil melayangkan telunjuknya tepat di wajah Bara, pria yang sudah lebih dari tiga tahun menjadi tunangannya itu terlihat mengusap wajah sambil sesekali meremas rambutnya yang berwarna hitam kecoklatan. "Bulan depan kita menikah, undangan bahkan sudah disebar, kenapa tiba-tiba ...."

"Cinta tidak bisa dipaksakan, Diandra," sela Aluna sambil bersedekap dada. "Terima saja keputusan Mas Bara, itu artinya kalian tidak berjodoh. Berpisah sebelum menikah itu lebih baik, bukan, atau ... kamu justru ingin menyandang status janda dengan buru-buru?" cibir Aluna sarkas.

"Jangan ikut campur, Lun!" Rahang Diandra mengatup rapat. Dadanya yang nyeri dan sesak terasa semakin menguasai hati tatkala Aluna turut membuka suara.

"Sayangnya aku harus ikut campur, Di. Mas Bara melamarku siang ini." Aluna memamerkan cincin solitaire bermata putih dengan cara melambai-lambaikan jemarinya di depan wajah Diandra.

"Mas ...." Diandra berdesis. Matanya seketika memanas setelah melihat dengan seksama jika cincin yang Aluna kenakan adalah cincin yang ia pilih beberapa hari yang lalu bersama Bara. Cincin yang rencananya akan dipakai sebagai mahar ternyata sudah melingkar cantik di jari manis Aluna, sepupunya sendiri. "Kamu ... brengsek, Mas!"

Diandra hendak berlalu, namun pergelangan tangannya dicekal oleh Bara. "Aku bisa jelaskan, Di. Dengarkan aku ...."

"Lepaskan tanganku!" ucap Diandra tegas.

Aluna menepis tangan Bara dari pergelangan tangan Diandra. "Pergilah!"

"Lun, jangan seperti ini," keluh Bara memohon.

"Lalu kamu mau yang seperti apa, Mas?" teriak Aluna marah. "Kamu sudah berjanji akan menikahiku, cincin ini bahkan sudah melingkar di jari manisku, buat apa lagi kamu masih mengurusi hal-hal yang gak penting seperti Diandra, hah?"

Bara lagi-lagi meremas rambutnya kasar. "Aku mencintai Diandra, kamu tau itu, Lun ...."

Plak ...!!!

Aluna melayangkan tamparan keras di pipi Bara tanpa perduli jika saat ini Diandra sedang menyaksikan keributan keduanya dengan mata yang siap menurunkan semua cairan beningnya.

"Mencintainya?" Ulang Aluna parau. "Kamu hanya mencintaiku, Mas Bara! Hanya aku!" Tiba-tiba suara Aluna meninggi. "Aku rela memberikan keperawanan sampai akhirnya mengandung anakmu dan sekarang ... kamu mengatakan cinta pada perempuan lain? Ha ... ha ... gak waras!" Aluna tertawa sumbang. "Jika kamu mencintai Diandra, maka saat ini dialah yang seharusnya mengandung benihmu. Tapi nyatanya apa ... aku adalah pilihan disaat kamu butuh ...."

"Menjijikkan!" sela Diandra mencibir.

Aluna menoleh dengan sengit, sementara dadanya mulai membusung mendengar Diandra yang berani menghinanya di depan Bara.

"Ternyata ini alasan kamu memberikan cincin pilihanku pada Aluna, Mas? Oh, astaga ...." Diandra terkekeh. "Kalian memang cocok. Ya, sangat cocok. Selamat ... aku sangat rela melepas pria brengsek untuk perempuan murahan. Benar-benar jodoh adalah cerminan diri. Benar kah, Lun?"

Tangan Aluna terangkat, namun dengan cepat Diandra menepis tamparan yang hampir saja mendarat panas di pipinya. "Jangan coba-coba menamparku! Harusnya kamu berterima kasih karena selama menjadi tunangan Mas Bara, aku tidak sudi memberikan tubuhku padanya. Aku secara tidak langsung sudah memberimu kesempatan, iya kan?"

Wajah Aluna memanas mendengar cibiran yang teramat pedas dari bibir Diandra. "Selamat, Lun ... kalian pasangan yang serasi."

Setelah memberikan selamat palsu pada Aluna, Diandra setengah berlari dan bergegas mengendarai motornya yang terparkir di tepi jalan.

Air mata Diandra terus berjatuhan membayangkan betapa malu dan terlukanya kedua orang tuanya ketika mereka tahu bahwa rencana pernikahan putrinya dihancurkan oleh keponakannya sendiri.

Bahu Diandra bergetar. Seluruh tubuhnya berkeringat karena mendadak suhu udara terasa panas sepanas kondisi hatinya saat ini.

"Bodoh," hardik Diandra pada dirinya sendiri. Tiba-tiba perempuan berambut panjang itu terkekeh sumbang mengingat betapa dekat hubungan antara Aluna dan Bara. Diandra mengira keduanya murni bersahabat karena pernah kuliah di universitas yang sama. Namun ternyata prasangka baiknya keliru. Bara dan Aluna kerap berbagi peluh hingga menghadirkan calon kehidupan di rahim sepupunya sendiri.

Pandangan Diandra mengabur karena air mata yang terus-menerus mengalir membasahi pipi. Perempuan yang bekerja sebagai pramuniaga di salah satu Mall Kota Surabaya itu memilih menepi dan menumpahkan tangisnya di atas motor tanpa peduli tatapan aneh para pengendara yang berlalu lalang.

***

"Dian, pernikahan kamu dan Bara sudah di depan mata. Jangan bercanda, Nduk ... Bapak tidak setuju kalau kamu membatalkan pernikahanmu dengan Bara. Apa kata orang-orang nanti?" ucap Pak Basuki lirih. "Usiamu sudah matang, Diandra, apalagi yang membuatmu ragu? Lihat, semua teman-temanmu sudah punya anak, sementara kamu ...."

"Aluna hamil anak Mas Bara, Pak," sela Diandra dengan tenang. Tidak ada getaran di nada suaranya seperti tadi siang ketika ia berbicara dengan Bara dan Aluna. "Apa mungkin pernikahan kami berlangsung sementara ada wanita lain yang sedang mengandung benih calon suamiku?"

Pak Basuki menatap istrinya sejenak, kemudian bertanya, "Aluna?"

"Ya. Aluna. Keponakan Bapak," jawab Diandra sambil tersenyum tipis.

Bu Anis mendekati Diandra dan duduk di samping putrinya. "Kamu serius, Dian?"

Diandra mengangguk. "Andai saja pengakuan Aluna dan Mas Bara tadi hanyalah candaan semata, mungkin sekarang aku sedang tertawa melihat wajah Bapak dan Ibu yang tak kalah terkejutnya seperti aku tadi siang. Tapi sayang ... inilah kenyataan, Bu. Mas Bara menghamili Aluna dan ... ini sakit sekali." Runtuh sudah pertahanan Diandra. Tangis wanita berusia dua puluh empat tahun itu pecah di pelukan Sang Ibu.

"Aku harus bagaimana, Bu? Undangan sudah disebar, beberapa tetangga sudah diberi tahu agar ikut ‘rewang’<¹> ...."

"Nduk, tenanglah," bisik Bu Anis serak. Bibirnya meminta agar Sang Putri bisa tenang, namun hatinya justru sedang menjerit melihat satu-satunya bukti cinta antara dirinya dan Pak Basuki menangis sesenggukan.

"Kenapa Mas Bara setega itu, Bu?" tanya Diandra yang tidak mendapat jawaban apapun dari Bu Anis. "Kenapa pula harus Aluna ...."

"Assalamualaikum."

Ucapan salam di ambang pintu membuat rintihan tangis Diandra terhenti. Pak Basuki bangkit dan melihat sosok Bara sedang berdiri di belakang tubuh kedua orang tuanya.

"Waalaikumsalam," jawab Pak Basuki berusaha tenang. "Monggo, silahkan masuk!"

Pintu rumah yang memang terbuka lebar membuat ketiga tamunya leluasa masuk dan dipersilahkan duduk oleh Pak Basuki.

"Sebelumnya, kami minta maaf, Pak Bas. Begini ...."

"Langsung ke intinya saja," sela Pak Basuki jengah. "Karena Bara yang membuat masalah pada rencana pernikahannya bersama Diandra, maka saya menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab Bara untuk mengatasi kekisruhan yang dia buat. Saya tidak mau tau apapun, pastikan tidak ada tamu undangan yang datang ke rumah kami."

Bara menatap Diandra yang menyembunyikan wajahnya di dada Bu Anis.

"Pak, saya akan tetap menikahi Diandra," ucap Bara tegas. "Diandra akan menjadi istri pertama dan ... setelah itu saya akan menikahi Aluna sampai anak yang dia kandung lahir ke dunia. Saya berjanji akan menceraikan Aluna setelah ...."

"Enak saja. Tidak bisa!" sela seseorang yang tiba-tiba datang tanpa salam.

Semua orang menoleh, dan betapa terkejutnya ketika melihat ....

Bersambung

<¹> rewang : ikut membantu di acara pernikahan

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status