Mag-log in“Benarkah? mereka memiliki andil sebesar itu?” tanya Victor.
Dante terlihat mengangguk, “berkat mereka, kini aku bisa menilai orang yang tulus atau hanya memanfaatkanku saja.”Victor memahami maksud dari perkataan sahabat juga orang yang sangat dikaguminya itu.“Aku akan melakukan apapun perintahmu seperti biasa, jadi apa yang harus aku lakukan untumu sekarang?” lanjutnya bertanya.“Sebaiknya jangan terlalu mengekspos keberadaan juga ten"Berita itu bukan sekadar menyebar, Tuan," ucap Victor pelan namun tegas. "Itu sudah disebarkan oleh kantor berita besar, dan sepertinya ada pihak yang sengaja mendukungnya agar terus naik ke permukaan. Bahkan beberapa direktur perusahaan pun mulai membicarakannya. Mereka mengatakan jika nama baik Vascos terus tercoreng seperti ini, mereka akan mengambil langkah-langkah tertentu—termasuk meninjau kembali posisi Anda di perusahaan ini." Dante tertegun sejenak, lalu tertawa sinis. "Jadi begitu. Sekarang aku mengerti. Semua kemudahan yang aku dapatkan sejak kembali, sambutan yang begitu mulus... ternyata ini tujuannya. Aku dijadikan boneka. Mereka ingin aku kembali bukan karena mereka menerimaku, tapi agar aku bisa dinikahkan dengan wanita itu demi nama besar perusahaan dan kepentingan mereka sendiri." "Benar," Victor mengangguk. "Ada perpecahan besar di dalam dewan direksi sejak kepergian Anda beberapa tahun lalu. Dua kubu sedang bersaing keras untuk menguasai kepemilikan saham te
Di lantai teratas gedung pencakar langit Vascos Company, kaca tempered setebal dua puluh sentimeter memisahkan Dante dari riuh rendah kota yang kini terhampar jauh di bawah kakinya. Langit Coast Field siang itu kelabu, awan mendung menggantung rendah seolah ikut menekan dada pria itu. Tangan Dante meremas tepian meja kerja kayu jati tua yang sudah puluhan tahun menjadi saksi perjalanan keluarga besarnya, hingga buku-buku jarinya memutih. Ia kembali. Setelah beberapa tahun pergi tanpa pesan, tanpa kabar, dianggap hilang bahkan mungkin sudah tiada oleh sebagian besar orang yang mengenalnya. Dan kenyataannya justru yang paling membuatnya merasa tidak tenang: tidak ada yang bertanya ke mana ia pergi. Tidak ada yang menanyakan alasan kepergiannya yang tiba-tiba beberapa tahun silam. Tidak ada yang menyebutnya cucu durhaka—meski dalam lubuk hati terdalam, ia tahu betul itulah dirinya. Ia yang pernah meninggalkan semua kewajiban, melukai hati neneknya, dan membuang kepercayaan yang diberi
Nyonya Valencia duduk di ruang tengah, tangannya perlahan memutar cangkir teh hangat yang belum sempat ia minum. Wajahnya tampak tenang, namun di matanya tersirat kekhawatiran yang mendalam. Saat Bibi Alma masuk, ia menoleh perlahan, memberi isyarat agar wanita itu duduk di hadapannya. "Silakan duduk, Alma," ucap Nyonya Valencia lembut, suaranya rendah namun berwibawa. "Terima kasih sudah datang." Bibi Alma duduk dengan sopan, tangannya diletakkan di atas pangkuan. "Tentu, Nyonya. Ada yang bisa Nyonya perintahkan?" Nyonya Valencia menghela napas pelan, menatap ke arah rumah kecil yang kini ditempati Jemima sejenak sebelum kembali menatap Bibi Alma. "Aku memanggilmu hanya untuk bertanya… bagaimana keadaan Jemima sekarang?" tanyanya pelan, penuh perhatian. "Dia sudah mengurung diri cukup lama. Apakah dia sudah mau makan? Atau sekadar keluar sebentar?" Bibi Alma menunduk sedikit, wajahnya tampak sedih. "Maafkan saya, Nyonya… Jemima masih belum mau keluar dari kamarnya. Tadi saya men
Bab 124: Penyesalan yang Menyesakkan Langit kota Red Apple pagi itu mendung, sama persis seperti hati Jemima. Dia duduk meringkuk di sudut kamar, selimut tebal hanya menutupi separuh tubuh, matanya bengkak dan merah—sudah berjam-jam ia menangis, sampai air matanya terasa kering dan dadanya terasa sesak seakan dihimpit batu berat. Setiap kali ia memejam, wajah Dante muncul di benaknya, dan setiap kali itu juga, rasa sakit dan penyesalan menyergapnya lebih dalam dari sebelumnya. Ia teringat satu per satu hal-hal yang dulu ia abaikan begitu saja. "Aku bukan orang biasa, Jemima. Kalau kamu tahu siapa aku sebenarnya, mungkin kamu tak akan pernah melihatku sama lagi." Kalimat itu Dante ucapkan hari itu juga, saat ia masih tidur di kontrakan sempit pinggir kota Coast Field, saat Jemima memasakkan pria itu mie instan sambil mengeluh soal betapa sulitnya hidup. Saat itu Jemima hanya tertawa pelan, menganggap itu sekadar keluhan orang yang sedang terpuruk, atau mungkin sekadar kata-kata kos
Hari-hari berikutnya berubah menjadi perjuangan tanpa henti bagi Dante. Pagi buta sebelum matahari terbit, ia sudah berdiri di ruang kerja rumah lamanya, menatap peta kota Red Apple yang tertutup tanda merah dan biru — merah untuk panti jompo yang sudah diperiksa, biru untuk yang belum. Di satu sisi, timnya terus menyisir setiap sudut kota, menanyakan keberadaan Bibi Alma, Jemima, maupun neneknya. Di sisi lain, ia tahu ia tak bisa lagi menunda kewajiban terbesarnya — kembali ke pusat kendali Korpurasi Vascos. “Sekretaris utama sudah menunggu di ruang kerja utama, Tuan,” lapor Victor pelan sambil berdiri di ambang pintu. “Semua direktur utama dari berbagai cabang sudah berkumpul melalui sambungan jarak jauh. Mereka tahu kau kembali, dan mereka menantikan kepemimpinanmu.” Dante mengangguk pelan, namun tatapannya tetap terpaku pada peta di dinding. “Berapa persen panti yang sudah diperiksa?” “Baru tiga puluh persen, Tuan. Kebanyakan panti jompo elit di sini sangat menjaga privasi peng
Malam itu, seluruh kota berubah menjadi wilayah pencarian. Perintah Dante bagai perintah raja — tak satu pun yang berani mengabaikannya. Puluhan kendaraan berplat khusus Vascos bergerak menyisir setiap sudut kota, lampu sorot menerangi gang-gang sempit, jalanan sepi, hingga tempat-tempat tersembunyi yang hampir tak terjamah manusia. Dante sendiri memimpin langsung, tak mau tinggal diam di kantor atau hotel. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain, matanya tak lelah meneliti setiap wajah, setiap bayangan, berharap sekilas saja melihat sosok yang dicarinya. Jam berputar melewati tengah malam, lalu dini hari. Namun hasilnya tetap nol. Tak ada yang melihat Jemima. Tak ada laporan, tak ada petunjuk, tak ada jejak. Seolah gadis itu lenyap ditelan bumi. Dante berdiri di pinggir jalan yang sepi, napasnya memburu, keringat bercampur debu di wajahnya yang tampak lelah namun tak sedikit pun menyerah. Victor mendekat dengan wajah muram, menahan rasa berat untuk menyampaikan kabar itu. “Da
Victor, Miller dan Dante berhenti berjalan ketika seseorang memanggil Victor untuk berbicara sebentar.“Ya, benar. Anda Victor kan? Apakah Anda turun untuk menyambut kedatangan saya?” tanya pria tersebut, membuat kening Victor mengernyit heran.‘Sombong! Siapa kamu?’ batin Victor sambil merasa heran.M
Dante terlihat tak tenang, wajahnya diliputi kecemasan tapi tak memiliki keberanian untuk membangunkan Victor maupun Miller.“Bisa-bisanya mereka tidur di atas kecemasanku!” seru Dante sambil mondar mandir dan memegangi pinggangnya.Steve dan Egan hanya saling menatap lalu berisyarat dengan mengangkat
Tidak berhenti di situ, Robby akan semakin terkejut saat mendengar kalimat selanjutnya dari Dante. “Oh ya, William Maxim juga menyalurkan dana yang digelapkannya untuk perusahaan Sullivan.” Robby dan Rendy saling menatap kaget, mereka tidak percaya kalau keponakannya akan berkhianat karena sebelumny
Jemima terdengar ketakutan.“Tunggu saja, saya hanya memastikan bahwa Anda berada di ruangan ini dengan aman,” jawab Egan lagi, berusaha meyakinkan wanita itu.“Kami pergi dulu, sebaiknya Anda beristirahat,” lanjutnya, namun Jemima tak terdengar bersuara lagi. Hanya saja, sayup-sayup terdengar suara w







