Share

Bab 73

Penulis: Paradista
last update Tanggal publikasi: 2024-06-23 22:19:45

Jemima terdengar ketakutan.

“Tunggu saja, saya hanya memastikan bahwa Anda berada di ruangan ini dengan aman,” jawab Egan lagi, berusaha meyakinkan wanita itu.

“Kami pergi dulu, sebaiknya Anda beristirahat,” lanjutnya, namun Jemima tak terdengar bersuara lagi. Hanya saja, sayup-sayup terdengar suara wanita itu menangis terisak.

“Ayo Miller, aku sudah selesai,” lapor Egan sambil menekan earphonenya, mau tak mau dia harus meninggalkan wanita itu sendirian.

Miller masih terdengar bertukar kata-kat
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 123

    Hari-hari berikutnya berubah menjadi perjuangan tanpa henti bagi Dante. Pagi buta sebelum matahari terbit, ia sudah berdiri di ruang kerja rumah lamanya, menatap peta kota Red Apple yang tertutup tanda merah dan biru — merah untuk panti jompo yang sudah diperiksa, biru untuk yang belum. Di satu sisi, timnya terus menyisir setiap sudut kota, menanyakan keberadaan Bibi Alma, Jemima, maupun neneknya. Di sisi lain, ia tahu ia tak bisa lagi menunda kewajiban terbesarnya — kembali ke pusat kendali Korpurasi Vascos. “Sekretaris utama sudah menunggu di ruang kerja utama, Tuan,” lapor Victor pelan sambil berdiri di ambang pintu. “Semua direktur utama dari berbagai cabang sudah berkumpul melalui sambungan jarak jauh. Mereka tahu kau kembali, dan mereka menantikan kepemimpinanmu.” Dante mengangguk pelan, namun tatapannya tetap terpaku pada peta di dinding. “Berapa persen panti yang sudah diperiksa?” “Baru tiga puluh persen, Tuan. Kebanyakan panti jompo elit di sini sangat menjaga privasi peng

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 122

    Malam itu, seluruh kota berubah menjadi wilayah pencarian. Perintah Dante bagai perintah raja — tak satu pun yang berani mengabaikannya. Puluhan kendaraan berplat khusus Vascos bergerak menyisir setiap sudut kota, lampu sorot menerangi gang-gang sempit, jalanan sepi, hingga tempat-tempat tersembunyi yang hampir tak terjamah manusia. Dante sendiri memimpin langsung, tak mau tinggal diam di kantor atau hotel. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain, matanya tak lelah meneliti setiap wajah, setiap bayangan, berharap sekilas saja melihat sosok yang dicarinya. Jam berputar melewati tengah malam, lalu dini hari. Namun hasilnya tetap nol. Tak ada yang melihat Jemima. Tak ada laporan, tak ada petunjuk, tak ada jejak. Seolah gadis itu lenyap ditelan bumi. Dante berdiri di pinggir jalan yang sepi, napasnya memburu, keringat bercampur debu di wajahnya yang tampak lelah namun tak sedikit pun menyerah. Victor mendekat dengan wajah muram, menahan rasa berat untuk menyampaikan kabar itu. “Da

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 121

    Malam itu, suasana di sekitar Hotel Vascos berubah total. Udara yang tadinya hangat dan romantis kini terasa dingin dan menyesakkan. Dante berdiri sendirian di depan pintu utama hotel, tubuhnya kaku, setiap otot menegang menahan amarah yang siap meledak. Tatapannya yang tadi penuh kasih sayang kini berubah tajam, dingin, dan mengerikan — tatapan Dante Julian Vascos, pria yang namanya cukup untuk membuat siapa pun gemetar ketakutan. Victor berlari keluar menyusul, diikuti Egan, Steve, dan Miller. Mereka semua berhenti di belakang Dante, tak berani bersuara. Batas kesabaran tuannya telah habis. “Kumpulkan semua orang,” ucap Dante, suaranya rendah namun berat, mematikan. “Sebarkan orang ke setiap jalan keluar kota, stasiun, terminal, bandara. Cek setiap nama penumpang, setiap transaksi, setiap kamera pengawas. Aku tidak peduli berapa biayanya, berapa lama waktu yang diambil. Temukan Jemima. Hidup kalian tak akan berharga jika dia terluka.” “Baik, Tuan,” jawab Egan tegas, segera berbal

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 120

    Restoran utama Hotel Vascos tampak hangat dan romantis. Lampu gantung berkilau lembut, musik biola mengalun pelan, dan aroma bunga mawar memenuhi ruangan. Di sudut paling tenang, Dante — atau Julian — sudah menunggu. Jantungnya berdebar kencang, malam ini ia berniat jujur sepenuhnya. Tak ada lagi kebohongan. Tak ada lagi penyamaran. Pintu terbuka. Jemima melangkah masuk mengenakan gaun krem sederhana namun indah. Wajahnya bersinar, matanya berbinar bahagia melihat suaminya. Bagi siapa pun yang melihat, mereka adalah pasangan yang sempurna — meski Jemima tak pernah tahu siapa pria yang berdiri di hadapannya sesungguhnya. “Kau cantik sekali, Jemima,” sapa Dante lembut, menyambutnya dengan senyum penuh kasih sayang. “Terima kasih, Julian. Kau juga tampan,” jawab Jemima tersipu, duduk di hadapannya. Sepanjang makan malam, mereka tertawa dan bercerita. Namun di balik tawa itu, Dante terus menahan rasa gelisah. Saat hidangan penutup habis, ia menggenggam kedua tangan Jemima di atas meja

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 119

    Dante tak memedulikan nada sindiran Victor. Tangannya bergerak lincah menyapu rak-rak pakaian, memilih gaun demi gaun yang menurutnya akan terlihat indah di tubuh Jemima. Warna-warna lembut, kain yang jatuh sempurna, hingga potongan yang sederhana namun berkelas — semuanya ia ambil tanpa ragu, seolah-olah ia sudah membayangkan Jemima mengenakannya di hadapannya nanti malam. “Kau sudah ambil terlalu banyak, Dante,” ujar Victor sambil menatap tumpukan gaun di lengan temannya itu. “Dia hanya satu orang, bukan seluruh rombongan.” “Yang mana yang paling bagus?” tanya Dante, seolah tak mendengar keluhan itu. Ia menatap tiga gaun sekaligus dengan wajah serius. “Yang biru langit ini? Atau krem yang ini? Jemima suka bunga-bunga, kan? Atau yang bermotif halus ini?” Victor menghela napas panjang, lalu berdiri dan mengambil gaun berwarna krem dengan hiasan renda tipis di bagian bahu. “Ini. Sederhana, lembut, dan tidak berlebihan. Sesuai dengan kepribadiannya.” Mata Dante berbinar seketika

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 118

    Untung saja ada William yang tiba-tiba saja mau bersekutu dengannya, dia yakin kalau Dante dan Jemima akan segera berpisah. Lalu, apakah rencana keduanya akan berhasil? Beberapa minggu berlalu, pasangan Julian dan Jemima tampak semakin romantis. Keduanya sedang dimabuk cinta, dan Julian berpikir jika saatnya dia akan berencana jujur tentang identitasnya pada Jemima. Malam itu Julian berencana makan malam bersama di restoran hotel tempat mereka tinggal selama ini, dia akan membuat Jemima tak bisa melupakan makan malam romantis tersebut. Julian juga berharap kali ini istrinya itu mau mendengarkan penjelasannya tanpa berpikir salah paham, apalagi masih menertawakannya. Siang harinya sebelum rencana makan malam bersama, dia pergi ke butik bersama Victor. Sahabatnya itu sengaja dipaksa agar mau pergi dengannya, meskipun dia tahu sedang rapat penting. “Dante, mereka datang jauh dari luar negeri. Rasanya…”

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 84

    Melihat orangtuanya terdiam, Shania buru-buru menghampiri ibunya untuk membujuk. “Baiklah, Ma, terimalah saja. Kalau harus putus hubungan, biarlah putus saja. Bukankah yang kita inginkan hanya uang?” tambah Shania, sengaja memprovokasi sambil merasa iri karena ada pria yang berani menawar harga yang

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 83

    “Siapa Anda, berani ikut campur dalam pembicaraan kami dengan Tuan Victor?” tanya wanita dengan nada tajam, mengejutkan semua yang ada di sekitarnya.“Eh, tunggu. Bukankah kamu___” Bela terdiam sejenak, mencoba mengingat sesuatu saat melihat pria di depannya, “Ah, aku ingat. Bukankah Kamu si pecundan

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 80

    Victor, Miller dan Dante berhenti berjalan ketika seseorang memanggil Victor untuk berbicara sebentar.“Ya, benar. Anda Victor kan? Apakah Anda turun untuk menyambut kedatangan saya?” tanya pria tersebut, membuat kening Victor mengernyit heran.‘Sombong! Siapa kamu?’ batin Victor sambil merasa heran.M

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 79

    Dante terlihat tak tenang, wajahnya diliputi kecemasan tapi tak memiliki keberanian untuk membangunkan Victor maupun Miller.“Bisa-bisanya mereka tidur di atas kecemasanku!” seru Dante sambil mondar mandir dan memegangi pinggangnya.Steve dan Egan hanya saling menatap lalu berisyarat dengan mengangkat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status