Share

DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL
DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL
Author: Paradista

Bab 1

Author: Paradista
last update publish date: 2023-12-28 15:44:50

Malam hari di kota Coast Field yang dingin.

“Lepaskan! Apa yang kalian lakukan!”

“Tolong… “

Sayup-sayup terdengar suara seorang wanita berteriak meminta pertolongan sambil berlari ketakutan di dalam lorong yang disampingnya berjejer para tunawisma yang sedang beristirahat.

“Lepaskan! Tolong… tolong!”

Salah satu pria diantara para tunawisma itu terbangun dan mengangkat kepalanya, pria tersebut itu melihat sekeliling, dia sadar jika itu bukan mimpi apalagi halusinasi karena tepat beberapa meter di depannya terlihat ada seorang gadis yang tampaknya sedang dikejar tiga orang pria. Ada begitu banyak tunawisma, tapi tak ada satupun dari mereka yang mau menolong seorang gadis yang kini sedang diganggu beberapa pria hidung belang itu, mereka tak mau peduli dan memilih mengabaikan dengan pura-pura tidur.

Baiklah, masa bodoh! batin pria itu, dia jadi ingat akan dirinya sendiri yang baru saja mengalami hal tak mengenakan, mengapa juga dia harus mempedulikan gadis malang itu, yang bukan siapa-siapa baginya? Orang lain saja memilih diam, lalu atas dasar apa dia harus bersikap sok pahlawan?

“Lepaskan saja bajunya, kita lakukan disini!” teriak salah satu pria dari tiga pria pengganggu itu.

“Hey! Dia milikku, Sam!” seru pria lainnya terdengar marah.

“Apa kau ingin mati!” lanjutnya mengancam.

“Akrg! I-i-iya, maafkan aku Ian.” Pria yang dipanggil Sam itu tampak ketakutan saat tangan pria yang dipanggilnya Ian itu mencengkram kerah bajunya, suaranya terdengar seperti orang tercekik.

“Apa yang kau lakukan Jemima? Ayo kita pulang, jangan berbuat onar!” seru Ian.

Gadis yang dipanggil Jemima itu terlihat berusaha menghindar dan menggunakan alat apapun untuk mencegah ketiga bajingan itu mendekatinya. Tapi sepertinya pertahanan itu sia-sia, bagaimanapun juga gadis itu terlihat lemah hingga akhirnya pria bernama Ian itu memegangi dan mencengkram tubuhnya.

“Lepas! Lepaskan aku, brengsek!” maki Jemima.

“Ayolah menyerah saja, Jemi.” Kata Ian, kedua matanya terpejam dengan hidung mendengus leher juga rambut gadis bernama Jemima.

“Apa maumu Ian? Siapa yang menyuruh kalian?!” teriak Jemima sambil meronta-ronta.

“Kamu mungkin sudah bisa menebaknya dan kami tak mau mengecewakannya, lagipula kamu adalah pengecualian bagiku.” Jawab Ian.

“Kalau kamu tidak mau aku paksa, lebih baik kamu mau menjadi wanitaku saja, bagaimana?” lanjutnya bertanya.

“Piuh! menjijikan!” seru Jemima sambil membuang air liur ke arah wajah Ian.

“Aish! Sial! Menjijikan!” ringis Ian sambil mengelap wajahnya.

“Ayo cepat seret dia ke atas dan masukan ke dalam mobil!” perintah Ian yang sepertinya ketua dari kedua pria lainnya.

Kedua pria yang dari tadi sudah sangat ingin meraih tubuh sang gadis itu tampak tak sabaran apalagi sudah ada perintah dari Ian.

“Ih! Pergi kalian! Jangan sentuh aku! Lepaskan aku!” 

“Jangan sentuh aku!”

“Tolong… siapapun itu tolong…”

Gadis bernama Jemima itu tak hentinya berteriak-teriak sambil meronta-ronta ingin melepaskan diri, satu pria yang kini sedang merangkul tubuh gadis itu terlihat tak senonoh memegang dan menelusuri sebagian tubuhnya.

BRUAK!

“Akh!”

Terdengar suara jatuh diikuti teriakan sang gadis, Pria misterius yang dari awal memperhatikan serta tak ingin ikut campur itu, kini hati nuraninya mulai tergerak, pria yang meraba-raba gadis tadi ingin rasanya dia patahkan saja kedua tangannya. Tapi kini pandangannya terpaku pada satu pria lainnya yang kini sedang meraih tubuh sang gadis, sedangkan satu temannya yang ingin sekali pria itu hajar kini tengah terkapar berada di atas aspal sana.

“Kenapa kau mendorongku? Aish! Sialan kau Ian!” seru pria di bawah sambil berusaha berdiri, tapi pria itu tak akan menyangkanya karena Ian kembali mendorong dan menendangnya.

BRUAK!

Suara jatuh tubuh pria itu terdengar begitu empuk, sudah dipastikan tubuhnya amat sakit karena dihantamkan ke atas aspal oleh pria bernama Ian tadi.

“Sialan kau Ian! Apa-apaan ini?!” teriak pria itu lagi sambil meringis kesakitan.

“Kau yang sialan Mat, berani-beraninya kau menyentuh tubuh Jemima ku!” balas Ian, berteriak sampai-sampai Mat gentar.

Melihat situasinya, pria misterius itu bisa menebak kalau pria bernama Ian itu menyukai gadis yang kini sedang diganggunya, sama halnya dengan pria bernama Sam juga Mat. Hanya saja Sam sudah tahu posisinya siapa, sedangkan Mat masih tak tahu diri dan tak sadar sedang berurusan dengan Ian.

“Sekali lagi kau berani macam-macam, kuhancurkan kedua tangan mesum mu itu!” lanjut Ian terdengar mengancam.

“Sialan! Ayo Jemima!” teriak Ian lagi sambil menarik tubuh Jemima, gadis itu terlihat meronta tapi tak berdaya. Hingga pada suatu titik, kedua mata gadis itu melihat ke arah pria asing yang juga sedang memandang ke arahnya, lagi-lagi tatapan gadis itu membuat hati pria misterius itu tersentuh.

“Ah! Sial!” dengus pria itu sambil berdiri dari duduknya.

Pria itu berjalan mendekat sambil mencari-cari sesuatu untuk iseng dia lemparkan pada ketiga pria pengganggu itu.

Pria tersebut akhirnya menemukan beberapa kerikil, lalu melemparnya tepat ke arah kepala Ian.

Pluk! Satu kerikil mendarat di kepala Ian.

“Siapa itu?!” seru Ian, tersentak kaget sambil meraba kepalanya lalu mencari-cari orang yang sudah berani melempar kepalanya.

Pluk! Belum selesai urusan dengan Ian, lemparan kali ini tepat sasaran meluncur ke arah punggung Sam.

“Sialan! siapa itu?!” seru Sam dengan suara nyaring.

“Apaan sih?” Mat tampak kebingungan tapi dia juga segera mundur beberapa langkah takut terkena lemparan batu yang mulai berdurasi cepat itu.

“Kalau berani, keluar kau!” teriak Ian.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 136

    Darah seketika berdesir di tubuh Jemima. Ia mundur selangkah, napasnya tertahan. Dante? Pria yang pernah berkata namanya Julian… yang menyembunyikan identitasnya… yang ternyata… "Julian…" bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Julian itu… Dante, sayangku." Ucap nyonya Valencia dengan mata berbinar. Nyonya Valencia mengangguk pelan, air mata kembali menetes. "Dia menyembunyikan nama aslinya dari semua orang, bahkan darimu. Demi keamanan, katanya. Demi melindungimu dari dunianya yang rumit. Dan aku… aku juga tidak pernah bilang siapa aku sebenarnya. Aku takut jika kamu tahu tentang siapa aku, kamu akan merasa terbebani, atau takut…" Wanita itu menggenggam tangan Jemima erat. "Aku tidak menyangka… takdir membawa kamu ke sini, ke tempatku, tanpa kita sadari siapa kita sebenarnya satu sama lain." Jemima terdiam, pikirannya berputar cepat. Semua potongan teka-teki itu akhirnya menyatu. "Selama ini…" Jemima menelan ludah, dadanya sesak oleh campuran rasa haru dan keterkejutan.

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 135

    "Sekarang apa yang harus aku lakukan, bibi?" tanyaJemima, tersirat keraguan di wajahnya. "Kamu tidak harus memutuskan sekarang," jawab Bibi Alma lembut namun tegas. "Kamu sedang sakit, tubuhmu butuh waktu untuk pulih. Dan hatimu juga sama. Biarkan waktu yang menjawab. Yang penting sekarang adalah—kamu tahu kebenarannya. Dan kamu tahu jika suami yang kamu pilih ternyata sangat mencintaimu." Jemima menunduk, menyentuh perutnya yang terasa sedikit lebih tenang setelah mandi tadi. Pikirannya kembali ke rasa mual dan kelelahan yang terus menghantui dirinya. Bibi Alma benar—ada sesuatu yang lain di sini, sesuatu yang bukan sekadar patah hati. Dan ia harus tahu apa itu. "Bibi…" Jemima mendongak, menatap wanita itu dengan mata yang masih basah namun kini mulai memancarkan keteguhan. "Besok… bisakah kita pergi ke dokter?" Wajah Bibi Alma langsung bersinar. Senyum tulus merekah di wajahnya yang keriput itu. "Tentu saja, Nak. Besok pagi, kita pergi bersama-sama. Tidak peduli apa hasilnya, ki

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 134

    Mata Jemima membelalak. Apa? "Tapi bukan dengan alasan yang kalian pikirkan," cepat-cepat Dante menambahkan. Matanya menatap tajam ke arah para wartawan, seolah memperingatkan mereka untuk tidak menyimpulkan sembarangan. "Saya menyembunyikannya bukan karena ada pihak ketiga, bukan karena hubungan itu terlarang, dan bukan karena saya malu padanya. Saya menyembunyikannya karena… saya sedang dalam proses menyelesaikan masalah keluarga yang sangat rumit—masalah yang jika diketahui publik pada saat itu, justru akan membahayakan Jemima. Saya berusaha melindunginya, tapi ternyata… cara saya salah. Dan justru karena menyembunyikannya, ia menjadi sasaran kemarahan orang-orang yang tidak tahu kebenarannya." Ia berhenti sejenak, menelan ludah. "Saya tidak akan menjelaskan detail masalah pribadi keluarga saya di sini. Itu bukan urusan publik. Tapi satu hal yang harus kalian ketahui: sejak awal, niat saya tulus. Perasaan saya pada Jemima tulus. Dan kesalahan terbesar saya adalah tidak memberita

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 133

    "Dulu, saat kamu masih kecil, setiap kali kamu menangis karena dihina teman-temanmu, atau karena kalah lomba, Bibi selalu menyisir rambutmu seperti ini," ucap Bibi Alma pelan, suaranya terdengar lembut di tengah keheningan kamar. "Kamu selalu bilang, kalau Bibi menyisir rambutmu pelan-pelan, rasanya seperti semua kesedihanmu ikut tersisir pergi." Jemima menelan ludah. Air mata itu kembali ingin muncul, kali ini bukan karena kesedihan, tapi karena rasa syukur yang mendalam. "Aku ingat…" "Nah, sekarang pun begitu. Biarkan semuanya ikut pergi. Jangan dipendam terus di dalam hati. Nanti hatimu bisa pecah, Jemi." Sisir itu berhenti bergerak. Bibi Alma merapikan rambut Jemima ke belakang bahunya, lalu menepuk bahu gadis itu pelan. "Sudah selesai. Sekarang… apakah kamu sudah siap untuk melihatnya?" Jemima menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Jantungnya berdegup kencang kembali, seolah tahu apa yang akan datang. Ia mengangguk—kali ini lebih tegas. "Iya, Bibi. Aku siap.

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 132

    "Kenapa… kenapa dia melakukan itu?" suaranya hampir tak terdengar. "Itulah sebabnya aku memintamu melihatnya," jawab Bibi Alma lembut. "Tapi tidak sekarang. Kamu tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ayo, biarkan Bibi membantumu mandi dulu. Kamu butuh air hangat, agar tubuhmu terasa lebih ringan. Setelah itu kita makan, lalu kita tonton bersama. Bagaimana?" Jemima menunduk, menatap lantai yang terasa bergoyang pelan. Rasa ingin tahu bertarung dengan rasa takut di dadanya. Ia takut melihat wajahnya lagi. Takut mendengar apa yang akan dikatakannya. Tapi pada saat yang sama, ada bagian dari dirinya yang membutuhkan jawaban. Jawaban atas semua pertanyaan yang menghantui tidurnya selama ini. Ia mengangguk pelan. "Baik…" *** Di Bawah Air Hangat Bibi Alma segera bergerak masuk, menopang tubuh Jemima dengan lembut namun kokoh. "Ayo, duduk dulu sebentar di tepi tempat tidur. Biarkan Bibi menyiapkan airnya." Ia menuntun Jemima duduk, lalu bergegas masuk ke kamar mandi dalam kamar it

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 131

    Di Kota yang Sama, Tapi Tempat yang Berbeda Di Balik Pintu Kamar yang Tertutup Suara ketukan itu kembali terdengar, kali ini lebih tegas namun tetap menyimpan nada kelembutan yang tak pernah berubah. Duk. Duk. Duk. "Jemi, jika kamu masih belum mau makan, setidaknya lihat berita. Ada sesuatu yang harus kamu lihat," ucap Bibi Alma dari balik pintu. Suaranya terdengar sedikit bergetar—seolah-olah apa yang baru saja ia saksikan di layar televisi ruang tengah itu, membuatnya berat untuk mengucapkannya. Di dalam kamar, Jemima masih meringkuk di bawah selimut tebal hingga batas leher. Tubuhnya terasa berat, seolah setiap inci kulitnya tertarik ke bawah oleh gaya gravitasi yang tiba-tiba menjadi berkali-kali lipat lebih kuat. Sudah hampir tiga hari sejak ia tiba di rumah Bibi Alma—tempat yang dulu sering ia kunjungi saat masih kecil, tempat yang seharusnya menjadi pelarian paling aman—namun bukannya merasa lebih baik, tubuhnya justru memberontak dengan cara yang tak ia mengerti. Setiap k

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 95

    Terlihat mulai banyak penonton yang menggemari akun Hektor dan mereka senang terutama para wanita saat pria itu melakukan live streaming. Mereka mulai mengomentari siapa yang berada di dalam butik bersama pasangan terpopuler saat ini.(Wah, kalian sangat penasaran. Baiklah aku akan memperlihatkannya,

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 89

    “Ada apa? Kenapa wajahmu merah?” tanya Julian, benar-benar tak peka. Pria itu mendekat, bermaksud untuk mengusap pipi Jemima, namun Jemima segera mundur untuk menghindar.“Dasar tak peka! Ayo pergi makan,” balasnya, sambil bersiap pergi. Namun Julian segera menarik tubuh Jemima dan mendorong tubuhnya

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 80

    Victor, Miller dan Dante berhenti berjalan ketika seseorang memanggil Victor untuk berbicara sebentar.“Ya, benar. Anda Victor kan? Apakah Anda turun untuk menyambut kedatangan saya?” tanya pria tersebut, membuat kening Victor mengernyit heran.‘Sombong! Siapa kamu?’ batin Victor sambil merasa heran.M

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 79

    Dante terlihat tak tenang, wajahnya diliputi kecemasan tapi tak memiliki keberanian untuk membangunkan Victor maupun Miller.“Bisa-bisanya mereka tidur di atas kecemasanku!” seru Dante sambil mondar mandir dan memegangi pinggangnya.Steve dan Egan hanya saling menatap lalu berisyarat dengan mengangkat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status