Share

Bab 32

Author: Paradista
last update publish date: 2024-05-22 19:00:10

“Owh! keluarga Franklin?” tanya Julian.

“Yeah! sekarang Kau tahu? berurusan dengan siapa?” tanya pria yang mengakui dirinya sebagai Eddie Franklin.

Julian hanya mengangguk-anggukan kepalanya, “eh. Tapi kenapa adik dari Peter ada di luar sini? sedangkan kakaknya ada di dalam sana? bukannya kakak Anda yang mengadakan pesta ini?” tanyanya.

“Ekhem! ya, nanti juga saya akan ke atas.” Jawab Eddie terdengar mengelak dan ada sesuatu hal yang aneh.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 123

    Hari-hari berikutnya berubah menjadi perjuangan tanpa henti bagi Dante. Pagi buta sebelum matahari terbit, ia sudah berdiri di ruang kerja rumah lamanya, menatap peta kota Red Apple yang tertutup tanda merah dan biru — merah untuk panti jompo yang sudah diperiksa, biru untuk yang belum. Di satu sisi, timnya terus menyisir setiap sudut kota, menanyakan keberadaan Bibi Alma, Jemima, maupun neneknya. Di sisi lain, ia tahu ia tak bisa lagi menunda kewajiban terbesarnya — kembali ke pusat kendali Korpurasi Vascos. “Sekretaris utama sudah menunggu di ruang kerja utama, Tuan,” lapor Victor pelan sambil berdiri di ambang pintu. “Semua direktur utama dari berbagai cabang sudah berkumpul melalui sambungan jarak jauh. Mereka tahu kau kembali, dan mereka menantikan kepemimpinanmu.” Dante mengangguk pelan, namun tatapannya tetap terpaku pada peta di dinding. “Berapa persen panti yang sudah diperiksa?” “Baru tiga puluh persen, Tuan. Kebanyakan panti jompo elit di sini sangat menjaga privasi peng

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 122

    Malam itu, seluruh kota berubah menjadi wilayah pencarian. Perintah Dante bagai perintah raja — tak satu pun yang berani mengabaikannya. Puluhan kendaraan berplat khusus Vascos bergerak menyisir setiap sudut kota, lampu sorot menerangi gang-gang sempit, jalanan sepi, hingga tempat-tempat tersembunyi yang hampir tak terjamah manusia. Dante sendiri memimpin langsung, tak mau tinggal diam di kantor atau hotel. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain, matanya tak lelah meneliti setiap wajah, setiap bayangan, berharap sekilas saja melihat sosok yang dicarinya. Jam berputar melewati tengah malam, lalu dini hari. Namun hasilnya tetap nol. Tak ada yang melihat Jemima. Tak ada laporan, tak ada petunjuk, tak ada jejak. Seolah gadis itu lenyap ditelan bumi. Dante berdiri di pinggir jalan yang sepi, napasnya memburu, keringat bercampur debu di wajahnya yang tampak lelah namun tak sedikit pun menyerah. Victor mendekat dengan wajah muram, menahan rasa berat untuk menyampaikan kabar itu. “Da

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 121

    Malam itu, suasana di sekitar Hotel Vascos berubah total. Udara yang tadinya hangat dan romantis kini terasa dingin dan menyesakkan. Dante berdiri sendirian di depan pintu utama hotel, tubuhnya kaku, setiap otot menegang menahan amarah yang siap meledak. Tatapannya yang tadi penuh kasih sayang kini berubah tajam, dingin, dan mengerikan — tatapan Dante Julian Vascos, pria yang namanya cukup untuk membuat siapa pun gemetar ketakutan. Victor berlari keluar menyusul, diikuti Egan, Steve, dan Miller. Mereka semua berhenti di belakang Dante, tak berani bersuara. Batas kesabaran tuannya telah habis. “Kumpulkan semua orang,” ucap Dante, suaranya rendah namun berat, mematikan. “Sebarkan orang ke setiap jalan keluar kota, stasiun, terminal, bandara. Cek setiap nama penumpang, setiap transaksi, setiap kamera pengawas. Aku tidak peduli berapa biayanya, berapa lama waktu yang diambil. Temukan Jemima. Hidup kalian tak akan berharga jika dia terluka.” “Baik, Tuan,” jawab Egan tegas, segera berbal

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 120

    Restoran utama Hotel Vascos tampak hangat dan romantis. Lampu gantung berkilau lembut, musik biola mengalun pelan, dan aroma bunga mawar memenuhi ruangan. Di sudut paling tenang, Dante — atau Julian — sudah menunggu. Jantungnya berdebar kencang, malam ini ia berniat jujur sepenuhnya. Tak ada lagi kebohongan. Tak ada lagi penyamaran. Pintu terbuka. Jemima melangkah masuk mengenakan gaun krem sederhana namun indah. Wajahnya bersinar, matanya berbinar bahagia melihat suaminya. Bagi siapa pun yang melihat, mereka adalah pasangan yang sempurna — meski Jemima tak pernah tahu siapa pria yang berdiri di hadapannya sesungguhnya. “Kau cantik sekali, Jemima,” sapa Dante lembut, menyambutnya dengan senyum penuh kasih sayang. “Terima kasih, Julian. Kau juga tampan,” jawab Jemima tersipu, duduk di hadapannya. Sepanjang makan malam, mereka tertawa dan bercerita. Namun di balik tawa itu, Dante terus menahan rasa gelisah. Saat hidangan penutup habis, ia menggenggam kedua tangan Jemima di atas meja

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 119

    Dante tak memedulikan nada sindiran Victor. Tangannya bergerak lincah menyapu rak-rak pakaian, memilih gaun demi gaun yang menurutnya akan terlihat indah di tubuh Jemima. Warna-warna lembut, kain yang jatuh sempurna, hingga potongan yang sederhana namun berkelas — semuanya ia ambil tanpa ragu, seolah-olah ia sudah membayangkan Jemima mengenakannya di hadapannya nanti malam. “Kau sudah ambil terlalu banyak, Dante,” ujar Victor sambil menatap tumpukan gaun di lengan temannya itu. “Dia hanya satu orang, bukan seluruh rombongan.” “Yang mana yang paling bagus?” tanya Dante, seolah tak mendengar keluhan itu. Ia menatap tiga gaun sekaligus dengan wajah serius. “Yang biru langit ini? Atau krem yang ini? Jemima suka bunga-bunga, kan? Atau yang bermotif halus ini?” Victor menghela napas panjang, lalu berdiri dan mengambil gaun berwarna krem dengan hiasan renda tipis di bagian bahu. “Ini. Sederhana, lembut, dan tidak berlebihan. Sesuai dengan kepribadiannya.” Mata Dante berbinar seketika

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 118

    Untung saja ada William yang tiba-tiba saja mau bersekutu dengannya, dia yakin kalau Dante dan Jemima akan segera berpisah. Lalu, apakah rencana keduanya akan berhasil? Beberapa minggu berlalu, pasangan Julian dan Jemima tampak semakin romantis. Keduanya sedang dimabuk cinta, dan Julian berpikir jika saatnya dia akan berencana jujur tentang identitasnya pada Jemima. Malam itu Julian berencana makan malam bersama di restoran hotel tempat mereka tinggal selama ini, dia akan membuat Jemima tak bisa melupakan makan malam romantis tersebut. Julian juga berharap kali ini istrinya itu mau mendengarkan penjelasannya tanpa berpikir salah paham, apalagi masih menertawakannya. Siang harinya sebelum rencana makan malam bersama, dia pergi ke butik bersama Victor. Sahabatnya itu sengaja dipaksa agar mau pergi dengannya, meskipun dia tahu sedang rapat penting. “Dante, mereka datang jauh dari luar negeri. Rasanya…”

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 22

    Mendengar perkataan dari Julian yang tampak lebih berani dari Victor, Diego yang dari tadi menjadi orang yang menyimak pertemuan akrab dua pria tersebut semakin penasaran.“Iya Tuan, pecatlah aku. Asal Kau kembali ke tempatmu,” terdengar Victor membalas dengan santai.“Haha… sialan Kau! masih tetap ta

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 42

    Si Jenius tampak maju, dia terlihat gugup saat berhadapan dengan Julian, berkali-kali pria itu membenarkan posisi kacamatanya yang baik-baik saja untuk menutupi kecemasannya tersebut.“Aku saja, aku panggil Diego.” Katanya mengajukan diri dengan penuh percaya diri.Eddie tentu saja tak bisa menerima k

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 34

    Mendengar pertanyaan itu, Eddie terduduk lemas sambil mengangguk-anggukan kepalanya.Tommy mengangkat telapak tangannya, “tidak perlu merasa malu.” Katanya.Eddie tak berkutik, bagaimana mungkin dia tidak merasa malu? tentu saja rasanya dia ingin sembunyi saat seseoran

  • DIKIRA GELANDANGAN TERNYATA PEWARIS TUNGGAL   Bab 33

    Mendengar pertanyaan itu, Julian hanya bisa mengedikkan bahunya, lalu melengos pergi untuk mencari tempat duduk. Eddie akan segera mengikuti tapi kedua pegawainya mencegahnya.“Tuan, ada urusan yang lebih penting daripada berurusan dengan orang yang tidak penting.” Kata Si Jenius.“Ya, betul Tuan. Seb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status