LOGINMalam sudah semakin larut. Udara di luar klinik terasa lebih dingin dari biasanya. Aira berjalan pelan keluar, langkahnya masih sedikit lemah. Di sampingnya, Dipta berjalan lebih lambat dari biasanya, seolah menyesuaikan. “Pelan-pelan aja, kita lagi gak ngejar deadline.” Refleks Aira melirik “Saya nggak selemah itu, Pak.” Dipta menatapnya sekilas. “Barusan kamu pingsan.” Aira terdiam. “Itu beda.” Dipta tidak membalas. Ia tetap menjaga jarak yang cukup dekat, kalau Aira goyah ia bisa langsung menahan. Di dalam mobil, suasana kembali sunyi. Mesin menyala, mobil mulai berjalan. Lampu-lampu jalan bergantian melewati kaca. Aira bersandar menatap keluar. Pikirannya kosong atau mungkin terlalu penuh. Beberapa menit berlalu tanpa suara. Sampai akhirnya Dipta membuka pembicaraan lebih dulu. “Kepalamu masih pusing?” Aira menoleh sedikit. “Udah mendingan.” Dipta mengangguk kecil. “Kalau belum enak bilang.” Nada suaranya tetap tenang, hanya saja ada sesuatu yang lebih lembut di
Malam di gedung Rajendra Engineering mulai benar-benar sepi. Lampu di beberapa lantai sudah dimatikan. Aira keluar dari lift, langkahnya pelan. Tas masih di tangannya, bahunya sedikit turun. Hari itu terlalu panjang, fisiknya lelah dan pikirannya lebih lelah. Ucapan demi ucapan berputar di kepalanya. Rania, meeting, Dipta. “Cukup…” Ia bergumam pelan. Langkahnya terus maju ke arah pintu keluar, tapi saat sampai di area lobi pandangan Aira mulai kabur. Lampu terlihat berbayang, suara di sekitarnya mulai jauh. Langkahnya goyah, tangannya mencoba berpegangan ke meja resepsionis. “Ra?” Suara itu terdengar samar. Tubuhnya kehilangan keseimbanga dan ambruk. 'BRUK.' Tubuh Aira jatuh. “AIRA!” Suara itu langsung pecah di lobi. Beberapa orang panik dan dari arah belakang Dipta berlari. Dia benar-benar terlihat panik. “Aira! Aira!” Ia langsung berlutut di samping tubuh Aira,engangkat kepalanya. “Aira, denger aku.” Tidak ada respon, wajahnya pucat dan.apasnya pelan. “Air! Cepa
Pagi hari di lantai eksekutif Rajendra Engineering berjalan seperti biasa. Aira sudah duduk di ruangannya sejak pagi lebih cepat dari biasanya. Laptop sudah menyala, jadwal sudah tersusun dan dokumen sudah rapi. Namun hari ini ada yang berbeda. Ekspresinya lebih tenang dan lebih dingin, seolah sudah mengambil keputusan. ‘Tok.’ Tanpa menunggu jawaban, pintu langsung terbuka. Rania masuk seperti kemarin dan seperti biasanya. “Pagi.” Nada suaranya santai. Aira mengangkat kepala menatapnya. “Pagi." jawabnya singkat dan datar. Rania sedikit mengernyit. Ia masuk lebih dalam, menutup pintu di belakangnya. “Udah siap perang lagi hari ini?” Aira menutup laptopnya pelan. “Kerja, bukan perang.” Jawaban itu langsung tanpa senyum. Rania tersenyum tipis. “Iya… kerja.” Ia berjalan santai ke sofa lalu duduk. “Tapi dari kemarin kelihatannya kamu lumayan menikmati posisi itu ya.” Aira tidak langsung jawab. “Posisi apa?” Rania menyandarkan tubuhnya. “Yang beda sendiri.” Aira menatapnya
Sore, langit Jakarta mulai gelap. Lampu-lampu kota menyala satu persatu. Di lantai eksekutif Rajendra Engineering sebagian besar karyawan sudah pulang, koridor mulai sepi. Di dalam ruangannya Dipta masih duduk di balik meja. Laptop terbuka, beberapa dokumen tersebar. Pikirannya masih fokus pada satu hal, Andalas Energi. ‘Tok… tok…’ Dipta tidak langsung menjawab, tatapannya masih di layar. ‘Tok… tok…’ Lebih pelan kali ini. “Masuk.” Pintu terbuka dan tanpa perlu melihat pun Dipta sudah tahu siapa yang masuk, Andine. “Masih sibuk?” Suaranya ringan, seolah tidak ada ketegangan sebelumnya. Dipta menutup laptopnya perlahan baru menatap. “Perlu apa?" tanyanya langsung tanpa basa-basi. Andine tidak tersinggung, justru tersenyum tipis. “Langsung ke inti ya…” Ia melangkah masuk. Menutup pintu di belakangnya. “Bagus. Aku juga nggak suka muter-muter.” Ia duduk tanpa diminta, percaya diri seperti biasa. “Aku cuma mau pastikan…” Ia menatap Dipta. “…kamu sudah lihat revisi terbaru
Sore itu, suasana di kantor Rajendra Engineering mulai lebih tenang. Jam kerja hampir selesai, sebagian karyawan sudah mulai merapikan meja. Di meja Aira, laptopnya masih terbuka. Dokumen dari Andalas Energi masih terpampang di layar. Aira membaca ulang dengan pelan dari awal. Tidak ada yang terlihat salah secara langsung, angkanya masuk, penjelasannya ada, strukturnya rapi terlalu rapi. “Ini aneh.” Ia bergumam pelan. Tangannya men-scroll ke atas lalu ke bawah lagi membandingkan dan mencari sesuatu yang “hilang”. Kalimat Arjito kemarin terlintas lagi di kepalanya. “Ini bukan fluktuasi.” “Ini indikasi masalah internal.” Aira menarik napas pelan. “Tapi yang ini…” Ia menatap layar. “…bersih.” Terlalu bersih dan justru itu yang membuatnya tidak nyaman. Tangannya sempat berhenti di tombol forward email, mau langsung kirim ke Dipta seperti biasa. Namun ia tidak jadi. “Kalau aku salah gimana…” Aira menggigit bibir bawahnya pelan. Ia menutup laptop sebentar, lalu membukanya lagi beber
Ruang direktur di Aurelis Global Holdings kembali hening setelah semua duduk di posisi masing-masing. Dokumen kerja sama kini terbuka di meja, berbeda dengan sebelumnya. Kali ini bukan sekadar pembahasan umum, ini masuk ke inti. Arjito Rajendra duduk tenang, jemarinya menyentuh ujung dokumen. Tatapannya turun, membaca perlahan. Tidak terburu-buru. Di seberangnya, ayah Andine menunggu dengan ekspresi yakin. Sementara Andine duduk sedikit di samping, sesekali melirik ke arah Aira. Dan Aira duduk di samping Dipta mencatat sekaligus juga memperhatikan. Dia tahu, kalau ayahnya sudah diam seperti itu artinya sedang “mencari sesuatu”. Beberapa menit berlalu, tidak ada yang bicara. Hanya suara halaman dokumen yang dibalik. “Bagian ini." Suara Arjito akhirnya keluar dengan tenang dan datar namun langsung membuat suasana berubah. Semua fokus ke arahnya. Ia menunjuk satu halaman. “Permintaan suntikan dana tahap awal.” Ayah Andine langsung menjawab, “Itu untuk percepatan distribusi awal,
Ruang meeting akhirnya benar-benar kosong. Tamu sudah pergi, dokumen sudah ditutup dan suasana kantor perlahan kembali ke ritme normal walaupun jam sudah lewat cukup jauh dari jam makan siang. Aira masih duduk di ruang meeting kecil yang tadi dipakai. Laptopnya sudah ditutup tapi dia belum berger
Pintu rumah kembali terbuka pelan, kali ini bukan Aira. Langkah yang keluar lebih tenang dan lebih berat, Arjito Rajendra. Ia menutup pintu tanpa suara, matanya langsung tertuju ke depan. Di sana masih sama, Dipta berdiri diam bersandar di mobil. Lampu jalan jatuh tepat di atasnya dan dari situ se
Mobil melaju pelan menembus jalan malam yang mulai lengang. Lampu-lampu kota memantul di kaca depan, membentuk bayangan yang bergerak pelan seiring laju kendaraan. Di dalam hening, Dipta menyandarkan punggungnya ke kursi. Tangannya tetap di setir, pandangan lurus ke depan tapi pikirannya tidak di j
Suasana di depan pintu swalayan itu masih menyisakan sedikit ketegangan. Orang-orang sudah kembali lalu-lalang seperti biasa, tapi di antara empat orang yang berdiri di sana, rasanya belum benar-benar kembali normal. Indri menarik napas pelan, mencoba merapikan ekspresinya. Tatapannya kembali ke







