Início / Romansa / DIPTA / BAB 33 Mata yang Melihat dan Dilema

Compartilhar

BAB 33 Mata yang Melihat dan Dilema

Autor: Adw_Canss781
last update Data de publicação: 2026-03-25 00:33:20

Halaman SMA Garuda sudah ramai sejak bel istirahat berbunyi. Suara siswa bercampur dengan derit kursi yang digeser dan langkah-langkah terburu menuju kantin. Di salah satu meja dekat jendela kantin, Humaira Navya Aruna atau Aira duduk bersama dua sahabatnya, Nadhira dan Lestari. Nadhira baru saja menaruh nampan makanannya di meja dengan ekspresi kesal.

“Serius deh, aku nggak ngerti sama Bu Ratna”, gerutunya sambil menyodok nasi di piring. “Dibilang cuma latihan, tapi nilainya masuk penilaian h
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • DIPTA   BAB 115 Tekanan dan Rencana

    Pagi hari di gedung Rajendra Engineering kembali sibuk seperti biasa. Ada sesuatu yang berbeda, Aira datang lebih pagi dari biasanya. Wajahnya sudah segar, rapi dan terlihat profesional, seolah tidak terjadi apa-apa semalam, meski begit cara dia bergerak lebih hati-hati dan lebih menjaga jarak. Ia langsung masuk ke ruangannya, menyalakan laptop menatap layar dengan fokus atau mungkin memaksa diri untuk fokus. Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Dipta masuk, langkahnya seperti biasa tenang tapi ratapannya langsung mencari satu orang. “Aira.” Aira langsung berdiri. “Iya, Pak.” jawabnya formal dan terdengar berbeda. Dipta menangkap itu. “Kamu udah sarapan?” Aira sedikit terdiam. “Sudah.” jawabnya singkat. Dipta mengangguk kecil. “Obatnya diminum?” Aira mengangguk. “Iya, Pak.” lagi-lagi jawabannya formal dan kali ini lebih jelas. Dipta menatapnya beberapa detik. “Kalau ada yang nggak enak—” “Saya akan bilang.” Aira memotong dengan halus, jarak itu terasa. Dipta tidak

  • DIPTA   BAB 114 Arah yang Sama

    Malam sudah semakin larut. Udara di luar klinik terasa lebih dingin dari biasanya. Aira berjalan pelan keluar, langkahnya masih sedikit lemah. Di sampingnya, Dipta berjalan lebih lambat dari biasanya, seolah menyesuaikan. “Pelan-pelan aja, kita lagi gak ngejar deadline.” Refleks Aira melirik “Saya nggak selemah itu, Pak.” Dipta menatapnya sekilas. “Barusan kamu pingsan.” Aira terdiam. “Itu beda.” Dipta tidak membalas. Ia tetap menjaga jarak yang cukup dekat, kalau Aira goyah ia bisa langsung menahan. Di dalam mobil, suasana kembali sunyi. Mesin menyala, mobil mulai berjalan. Lampu-lampu jalan bergantian melewati kaca. Aira bersandar menatap keluar. Pikirannya kosong atau mungkin terlalu penuh. Beberapa menit berlalu tanpa suara. Sampai akhirnya Dipta membuka pembicaraan lebih dulu. “Kepalamu masih pusing?” Aira menoleh sedikit. “Udah mendingan.” Dipta mengangguk kecil. “Kalau belum enak bilang.” Nada suaranya tetap tenang, hanya saja ada sesuatu yang lebih lembut di

  • DIPTA   BAB 113 Aira Pingsan

    Malam di gedung Rajendra Engineering mulai benar-benar sepi. Lampu di beberapa lantai sudah dimatikan. Aira keluar dari lift, langkahnya pelan. Tas masih di tangannya, bahunya sedikit turun. Hari itu terlalu panjang, fisiknya lelah dan pikirannya lebih lelah. Ucapan demi ucapan berputar di kepalanya. Rania, meeting, Dipta. “Cukup…” Ia bergumam pelan. Langkahnya terus maju ke arah pintu keluar, tapi saat sampai di area lobi pandangan Aira mulai kabur. Lampu terlihat berbayang, suara di sekitarnya mulai jauh. Langkahnya goyah, tangannya mencoba berpegangan ke meja resepsionis. “Ra?” Suara itu terdengar samar. Tubuhnya kehilangan keseimbanga dan ambruk. 'BRUK.' Tubuh Aira jatuh. “AIRA!” Suara itu langsung pecah di lobi. Beberapa orang panik dan dari arah belakang Dipta berlari. Dia benar-benar terlihat panik. “Aira! Aira!” Ia langsung berlutut di samping tubuh Aira,engangkat kepalanya. “Aira, denger aku.” Tidak ada respon, wajahnya pucat dan.apasnya pelan. “Air! Cepa

  • DIPTA   BAB 112 Rania Meledak

    Pagi hari di lantai eksekutif Rajendra Engineering berjalan seperti biasa. Aira sudah duduk di ruangannya sejak pagi lebih cepat dari biasanya. Laptop sudah menyala, jadwal sudah tersusun dan dokumen sudah rapi. Namun hari ini ada yang berbeda. Ekspresinya lebih tenang dan lebih dingin, seolah sudah mengambil keputusan. ‘Tok.’ Tanpa menunggu jawaban, pintu langsung terbuka. Rania masuk seperti kemarin dan seperti biasanya. “Pagi.” Nada suaranya santai. Aira mengangkat kepala menatapnya. “Pagi." jawabnya singkat dan datar. Rania sedikit mengernyit. Ia masuk lebih dalam, menutup pintu di belakangnya. “Udah siap perang lagi hari ini?” Aira menutup laptopnya pelan. “Kerja, bukan perang.” Jawaban itu langsung tanpa senyum. Rania tersenyum tipis. “Iya… kerja.” Ia berjalan santai ke sofa lalu duduk. “Tapi dari kemarin kelihatannya kamu lumayan menikmati posisi itu ya.” Aira tidak langsung jawab. “Posisi apa?” Rania menyandarkan tubuhnya. “Yang beda sendiri.” Aira menatapnya

  • DIPTA   BAB 111 Tekanan Dua Arah

    Sore, langit Jakarta mulai gelap. Lampu-lampu kota menyala satu persatu. Di lantai eksekutif Rajendra Engineering sebagian besar karyawan sudah pulang, koridor mulai sepi. Di dalam ruangannya Dipta masih duduk di balik meja. Laptop terbuka, beberapa dokumen tersebar. Pikirannya masih fokus pada satu hal, Andalas Energi. ‘Tok… tok…’ Dipta tidak langsung menjawab, tatapannya masih di layar. ‘Tok… tok…’ Lebih pelan kali ini. “Masuk.” Pintu terbuka dan tanpa perlu melihat pun Dipta sudah tahu siapa yang masuk, Andine. “Masih sibuk?” Suaranya ringan, seolah tidak ada ketegangan sebelumnya. Dipta menutup laptopnya perlahan baru menatap. “Perlu apa?" tanyanya langsung tanpa basa-basi. Andine tidak tersinggung, justru tersenyum tipis. “Langsung ke inti ya…” Ia melangkah masuk. Menutup pintu di belakangnya. “Bagus. Aku juga nggak suka muter-muter.” Ia duduk tanpa diminta, percaya diri seperti biasa. “Aku cuma mau pastikan…” Ia menatap Dipta. “…kamu sudah lihat revisi terbaru

  • DIPTA   BAB 110 Mulai di Ragukan

    Sore itu, suasana di kantor Rajendra Engineering mulai lebih tenang. Jam kerja hampir selesai, sebagian karyawan sudah mulai merapikan meja. Di meja Aira, laptopnya masih terbuka. Dokumen dari Andalas Energi masih terpampang di layar. Aira membaca ulang dengan pelan dari awal. Tidak ada yang terlihat salah secara langsung, angkanya masuk, penjelasannya ada, strukturnya rapi terlalu rapi. “Ini aneh.” Ia bergumam pelan. Tangannya men-scroll ke atas lalu ke bawah lagi membandingkan dan mencari sesuatu yang “hilang”. Kalimat Arjito kemarin terlintas lagi di kepalanya. “Ini bukan fluktuasi.” “Ini indikasi masalah internal.” Aira menarik napas pelan. “Tapi yang ini…” Ia menatap layar. “…bersih.” Terlalu bersih dan justru itu yang membuatnya tidak nyaman. Tangannya sempat berhenti di tombol forward email, mau langsung kirim ke Dipta seperti biasa. Namun ia tidak jadi. “Kalau aku salah gimana…” Aira menggigit bibir bawahnya pelan. Ia menutup laptop sebentar, lalu membukanya lagi beber

  • DIPTA   BAB 63 Status dan Alur Hidup yang Berubah

    Di Singapura, hari-hari Aira berjalan jauh lebih sunyi. Rutinitas yang biasanya menjadi kesehariannya semua berubah, tidak ada suara riuh sekolah, tidak ada bisik-bisik yang menekan dan tidak ada tatapan orang lain yang membuatnya harus berpura-pura kuat. Yang ada apartemen itu hanya tenang, rapi,

  • DIPTA   BAB 62 Keputusan

    Malam itu terasa panjang. Dipta bahkan tidak ingat sejak kapan ia benar-benar mencoba tidur. Ia hanya berbaring, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang terus berputar tanpa henti. Foto itu masih ada di sampingnya, surat itu belum ia lipat kembali dan setiap kali ia memejamkan mata yang mun

  • DIPTA   BAB 61 Putri yang Hilang

    Dipta berdiri di depan nakas, tangannya sudah hampir menyentuh kotak kecil itu kado dari Aira. Jaraknya tinggal beberapa senti, tapi seperti ada sesuatu yang menahan. Ia hanya menatapnya, diam dan ragu. "Tok.Tok." Pintu diketuk pelan, sebelum sempat menjawab, pintu itu sudah terbuka. Hadiyasa M

  • DIPTA   BAB 60 Kedatangan dan Pukulan Kenyataan

    Rumah itu berdiri jauh lebih megah dari yang terakhir kali ia ingat. Arjito Rajendra berdiri di depan gerbang besar, matanya menatap lurus ke arah bangunan luas dengan arsitektur modern yang menjulang elegan. Dulu, tempat ini tidak seperti ini. Masih besar, iya. Tapi belum semewah dan sedingin seka

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status