หน้าหลัก / Romansa / DIPTA / BAB 116 Yang Tersembunyi di Balik Arus

แชร์

BAB 116 Yang Tersembunyi di Balik Arus

ผู้เขียน: Adw_Canss781
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-26 18:15:49

Sore menjelang, ruang kerja di Rajendra Engineering mulai lebih tenang. Di dalam ruangannya, Aira tidak benar-benar santai. Laptopnya terbuka, dokumen Andalas Energi masih di layar. Tatapannya fokus.

“Rapi, tapi dipaksakan…” Ia bergumam pelan. Jarinya berhenti, lalu ia meraih ponselnya. Menatap nama itu beberapa detik, Arjito Rajendra. Aira menghela napas. “Ya sudah.” Ia menekan tombol panggil.

Beberapa detik menunggu sampai akhirnya diangkat.

“Ya.” Suara di seberang tenang seperti biasa
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • DIPTA   BAB 116 Yang Tersembunyi di Balik Arus

    Sore menjelang, ruang kerja di Rajendra Engineering mulai lebih tenang. Di dalam ruangannya, Aira tidak benar-benar santai. Laptopnya terbuka, dokumen Andalas Energi masih di layar. Tatapannya fokus. “Rapi, tapi dipaksakan…” Ia bergumam pelan. Jarinya berhenti, lalu ia meraih ponselnya. Menatap nama itu beberapa detik, Arjito Rajendra. Aira menghela napas. “Ya sudah.” Ia menekan tombol panggil. Beberapa detik menunggu sampai akhirnya diangkat. “Ya.” Suara di seberang tenang seperti biasa. Aira tersenyum kecil. “Lagi sibuk?” “Untuk kamu, nggak.” jawab Arjito singkat. Aira terdiam sejenak. “Aku mau tanya sesuatu.” Henig sejenak, “Kerjaan atau pribadi?” Aira menatap layar laptopnya. “Kerjaan.” “Bagus.” Nada suara Arjito berubah sedikit. “Lanjut.” Aira langsung to the point. “Kalau ada perusahaan… yang revisinya terlalu cepat dan terlalu ‘bersih’… biasanya mereka nutup apa?” Sunyi, tidak langsung dijawab. Ada jeda beberapa detik. “Kamu lagi lihat siapa?” tanyanya la

  • DIPTA   BAB 115 Tekanan dan Rencana

    Pagi hari di gedung Rajendra Engineering kembali sibuk seperti biasa. Ada sesuatu yang berbeda, Aira datang lebih pagi dari biasanya. Wajahnya sudah segar, rapi dan terlihat profesional, seolah tidak terjadi apa-apa semalam, meski begit cara dia bergerak lebih hati-hati dan lebih menjaga jarak. Ia langsung masuk ke ruangannya, menyalakan laptop menatap layar dengan fokus atau mungkin memaksa diri untuk fokus. Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Dipta masuk, langkahnya seperti biasa tenang tapi ratapannya langsung mencari satu orang. “Aira.” Aira langsung berdiri. “Iya, Pak.” jawabnya formal dan terdengar berbeda. Dipta menangkap itu. “Kamu udah sarapan?” Aira sedikit terdiam. “Sudah.” jawabnya singkat. Dipta mengangguk kecil. “Obatnya diminum?” Aira mengangguk. “Iya, Pak.” lagi-lagi jawabannya formal dan kali ini lebih jelas. Dipta menatapnya beberapa detik. “Kalau ada yang nggak enak—” “Saya akan bilang.” Aira memotong dengan halus, jarak itu terasa. Dipta tidak

  • DIPTA   BAB 114 Arah yang Sama

    Malam sudah semakin larut. Udara di luar klinik terasa lebih dingin dari biasanya. Aira berjalan pelan keluar, langkahnya masih sedikit lemah. Di sampingnya, Dipta berjalan lebih lambat dari biasanya, seolah menyesuaikan. “Pelan-pelan aja, kita lagi gak ngejar deadline.” Refleks Aira melirik “Saya nggak selemah itu, Pak.” Dipta menatapnya sekilas. “Barusan kamu pingsan.” Aira terdiam. “Itu beda.” Dipta tidak membalas. Ia tetap menjaga jarak yang cukup dekat, kalau Aira goyah ia bisa langsung menahan. Di dalam mobil, suasana kembali sunyi. Mesin menyala, mobil mulai berjalan. Lampu-lampu jalan bergantian melewati kaca. Aira bersandar menatap keluar. Pikirannya kosong atau mungkin terlalu penuh. Beberapa menit berlalu tanpa suara. Sampai akhirnya Dipta membuka pembicaraan lebih dulu. “Kepalamu masih pusing?” Aira menoleh sedikit. “Udah mendingan.” Dipta mengangguk kecil. “Kalau belum enak bilang.” Nada suaranya tetap tenang, hanya saja ada sesuatu yang lebih lembut di

  • DIPTA   BAB 113 Aira Pingsan

    Malam di gedung Rajendra Engineering mulai benar-benar sepi. Lampu di beberapa lantai sudah dimatikan. Aira keluar dari lift, langkahnya pelan. Tas masih di tangannya, bahunya sedikit turun. Hari itu terlalu panjang, fisiknya lelah dan pikirannya lebih lelah. Ucapan demi ucapan berputar di kepalanya. Rania, meeting, Dipta. “Cukup…” Ia bergumam pelan. Langkahnya terus maju ke arah pintu keluar, tapi saat sampai di area lobi pandangan Aira mulai kabur. Lampu terlihat berbayang, suara di sekitarnya mulai jauh. Langkahnya goyah, tangannya mencoba berpegangan ke meja resepsionis. “Ra?” Suara itu terdengar samar. Tubuhnya kehilangan keseimbanga dan ambruk. 'BRUK.' Tubuh Aira jatuh. “AIRA!” Suara itu langsung pecah di lobi. Beberapa orang panik dan dari arah belakang Dipta berlari. Dia benar-benar terlihat panik. “Aira! Aira!” Ia langsung berlutut di samping tubuh Aira,engangkat kepalanya. “Aira, denger aku.” Tidak ada respon, wajahnya pucat dan.apasnya pelan. “Air! Cepa

  • DIPTA   BAB 112 Rania Meledak

    Pagi hari di lantai eksekutif Rajendra Engineering berjalan seperti biasa. Aira sudah duduk di ruangannya sejak pagi lebih cepat dari biasanya. Laptop sudah menyala, jadwal sudah tersusun dan dokumen sudah rapi. Namun hari ini ada yang berbeda. Ekspresinya lebih tenang dan lebih dingin, seolah sudah mengambil keputusan. ‘Tok.’ Tanpa menunggu jawaban, pintu langsung terbuka. Rania masuk seperti kemarin dan seperti biasanya. “Pagi.” Nada suaranya santai. Aira mengangkat kepala menatapnya. “Pagi." jawabnya singkat dan datar. Rania sedikit mengernyit. Ia masuk lebih dalam, menutup pintu di belakangnya. “Udah siap perang lagi hari ini?” Aira menutup laptopnya pelan. “Kerja, bukan perang.” Jawaban itu langsung tanpa senyum. Rania tersenyum tipis. “Iya… kerja.” Ia berjalan santai ke sofa lalu duduk. “Tapi dari kemarin kelihatannya kamu lumayan menikmati posisi itu ya.” Aira tidak langsung jawab. “Posisi apa?” Rania menyandarkan tubuhnya. “Yang beda sendiri.” Aira menatapnya

  • DIPTA   BAB 111 Tekanan Dua Arah

    Sore, langit Jakarta mulai gelap. Lampu-lampu kota menyala satu persatu. Di lantai eksekutif Rajendra Engineering sebagian besar karyawan sudah pulang, koridor mulai sepi. Di dalam ruangannya Dipta masih duduk di balik meja. Laptop terbuka, beberapa dokumen tersebar. Pikirannya masih fokus pada satu hal, Andalas Energi. ‘Tok… tok…’ Dipta tidak langsung menjawab, tatapannya masih di layar. ‘Tok… tok…’ Lebih pelan kali ini. “Masuk.” Pintu terbuka dan tanpa perlu melihat pun Dipta sudah tahu siapa yang masuk, Andine. “Masih sibuk?” Suaranya ringan, seolah tidak ada ketegangan sebelumnya. Dipta menutup laptopnya perlahan baru menatap. “Perlu apa?" tanyanya langsung tanpa basa-basi. Andine tidak tersinggung, justru tersenyum tipis. “Langsung ke inti ya…” Ia melangkah masuk. Menutup pintu di belakangnya. “Bagus. Aku juga nggak suka muter-muter.” Ia duduk tanpa diminta, percaya diri seperti biasa. “Aku cuma mau pastikan…” Ia menatap Dipta. “…kamu sudah lihat revisi terbaru

  • DIPTA   BAB 18 Perubahan dan H-1 Pertemuan

    Jum'at, saat jam istirahat pertama selalu jadi waktu yang paling bising di sekolah. Tapi koridor lantai dua hari itu justru terasa lebih lengang. Mungkin karena sebagian besar siswa turun ke kantin. Cahaya matahari masuk dari jendela panjang, memantul di lantai keramik yang sedikit kusam. Aira ber

  • DIPTA   BAB 15 Diantara Jadwal dan Jarak

    Ruang musik sudah setengah terbuka ketika Aira datang. Ia memang sengaja datang lebih awal bukan karena terlalu rajin, tapi karena ia butuh ruang sebelum ruangan itu penuh suara dan tatapan. Tasnya ia letakkan di kursi dekat piano. Udara di dalam masih dingin, bercampur aroma kayu dan kabel alat mu

  • DIPTA   BAB 14 Perbedaan dan Gesekan

    Aira terbangun bahkan sebelum alarmnya berbunyi. Langit di luar jendela kamarnya masih berwarna abu-abu pucat. Cahaya pagi belum sepenuhnya masuk, tapi cukup untuk membuat bayangan lemari dan meja belajarnya terlihat jelas. Ia menatap langit-langit beberapa detik, lalu semalam kembali. Cahaya layar

  • DIPTA   BAB 12 Pertemuan dan Lebih dari Sekedar Pedas

    Jam di dinding kamar Aira menunjukkan pukul 15.12. Ia sudah membuka lemari sejak lima menit lalu, tapi belum juga mengambil keputusan.“Kenapa sih susah banget cuma mau makan?” gumamnya pelan.Tangannya menyentuh beberapa gantungan baju. Blus putih? Terlalu formal. Kaos oversized? Terlalu santai. A

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status