LOGINDi apartemen yang tenang itu hari-hari Aira tidak lagi seberat dulu. Perlahan ia mulai kembali, meski tidak sepenuhnya seperti dulu tapi cukup ada yang berubah. Ia sudah bisa duduk lebih lama di ruang tengah, sesekali membantu hal kecil, sesekali menanggapi obrolan bahkan beberapa kali ia tertawa pelan dan singkat. Senyum itu juga mulai kembali meski tidak sering tapi tidak lagi dipaksakan. Teman ibunya pernah memperhatikan itu dan tanpa sadar ikut tersenyum. Karena perubahan sekecil apa pun untuk kondisi seperti Aira adalah hal besar. Namun itu bukan berarti semuanya benar-benar hilang, ada hal-hal yang tetap tinggal diam di sudut pikirannya dan salah satunya adalah Dipta. Nama itu tidak pernah benar-benar pergi, hanya tidak lagi ia sentuh setiap waktu. Tidak lagi ia pikirkan terus-menerus, namun tetap ada. Seperti luka yang mulai mengering namun belum benar-benar sembuh. Kadang di waktu-waktu tertentu ia teringat tentang bagaimana semuanya dimulai, tentang bagaimana ia jatuh perla
Di Singapura, hari-hari Aira berjalan jauh lebih sunyi. Rutinitas yang biasanya menjadi kesehariannya semua berubah, tidak ada suara riuh sekolah, tidak ada bisik-bisik yang menekan dan tidak ada tatapan orang lain yang membuatnya harus berpura-pura kuat. Yang ada apartemen itu hanya tenang, rapi, dan terasa asing meski dulu sempat menjadi tempat tinggalnya. Ia tidak sendiri, Linda selalu ada di sana hampir tidak pernah meninggalkannya terlalu lama bahkan untuk hal kecil sekalipun. Mulai dari memastikan Aira makan, minum vitamin, sampai sekadar duduk di sampingnya tanpa bicara. Selain itu ada juga teman lama Linda yang tinggal di Singapura. Seseorang yang cukup dekat dan bisa dipercaya, sesekali datang membantu, menemani dan memberi suasana berbeda, agar Aira tidak merasa terkurung dalam kesunyian yang sama setiap hari. Sementara itu, di Jakarta Arjito Rajendra tetap menjalani rutinitasnya. Bekerja mengurus perusahaan, menghadiri rapat, seolah semuanya berjalan seperti biasa. Padah
Malam itu terasa panjang. Dipta bahkan tidak ingat sejak kapan ia benar-benar mencoba tidur. Ia hanya berbaring, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang terus berputar tanpa henti. Foto itu masih ada di sampingnya, surat itu belum ia lipat kembali dan setiap kali ia memejamkan mata yang muncul bukan gelap, justru wajah Aira. Wajah pucatnya, matanya yang berkaca-kaca dan isi surat itu, “Aku cuma pingin kamu tahu.” Dipta menghela napas berat. Ia membalik tubuhnya ke samping, menutup mata lagi memaksa dirinya untuk tidur. Namun tetap saja tidak bisa, pikirannya terlalu bising, dadanya terlalu sesak dan setiap kali ia hampir terlelap hanya sebentar sekitar satu jam ia terbangun lagi dengan napas tidak teratur, dengan perasaan tidak nyaman yang tidak bisa dijelaskan. Sampai akhirnya ia membuka mata lagi. Langit di luar jendela sudah mulai terang. Jam di dinding menunjukkan 06.00. Dipta menatap angka itu beberapa detik, ia merasa kosong dan lelah, semalam ia tidak benar-benar isti
Dipta berdiri di depan nakas, tangannya sudah hampir menyentuh kotak kecil itu kado dari Aira. Jaraknya tinggal beberapa senti, tapi seperti ada sesuatu yang menahan. Ia hanya menatapnya, diam dan ragu. "Tok.Tok." Pintu diketuk pelan, sebelum sempat menjawab, pintu itu sudah terbuka. Hadiyasa Mahesa masuk dan di tangannya ada sebuah album. Sampulnya terlihat usang, tapi masih terawat. Langkahnya pelan dan matanya langsung tertuju pada Dipta. “Duduk.” nada suaranya tidak tinggi namun tetap terdengar tegas. Dipta mengalihkan pandangan dari kado itu, lalu berjalan ke kursi di dekat meja belajarnya. Ia duduk, sementara Hadiyasa ikut duduk di depannya. Album itu diletakkan di meja. Beberapa detik mereka hanya diam, lalu Hadiyasa mulai membukanya. Halaman pertama, foto lama ada anak kecil dua orang. Seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. “Masih ingat?” suara Hadiyasa pelan. Dipta menatap foto itu, alisnya sedikit berkerut. Lalu perlahan, sesuatu muncul ingatan lama.
Rumah itu berdiri jauh lebih megah dari yang terakhir kali ia ingat. Arjito Rajendra berdiri di depan gerbang besar, matanya menatap lurus ke arah bangunan luas dengan arsitektur modern yang menjulang elegan. Dulu, tempat ini tidak seperti ini. Masih besar, iya. Tapi belum semewah dan sedingin sekarang. Ia menarik napas pelan, langkahnya mantap saat akhirnya masuk. Bukan karena rindu atau karena ingin mengenang masa lalu, justru karena satu hal, anaknya. Pintu utama terbuka setelah pelayan mempersilakan masuk. Di dalam, suasana rumah terasa tenang dan tertata rapi. Beberapa detik kemudian, langkah kaki terdengar dari arah dalam dan sosok itu muncul. Hadiyasa Mahesa, langkahnya langsung terhenti dan wajahnya jelas menunjukkan keterkejutan. “…Arjito?” Nama itu keluar pelan, hampir tidak percaya. Sudah belasan tahun dan orang itu sekarang berdiri di depannya. Arjito tidak tersenyum, dan tatapannya datar. “Hadiyasa.” Sunyi sesaat, lalu Hadiyasa sadar dan sedikit mengangguk. “Ma
Setelah dua hari pemeriksaan di klinik, malam itu dirumah tidak lagi sama, suasana rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Pintu utama terbuka pelan. Arjito Rajendra akhirnya pulang setelah beberapa hari berada di Singapura untuk urusan kantor pusat. Biasanya, setiap kali ia pulang, Aira akan menyambutnya meski tidak berlari atau memeluk, setidaknya ada senyum kecil dan sapaan hangat tapi kali ini, tidak ada. Rumah terasa kosong. Ia melepas jasnya perlahan, lalu menoleh ke arah ruang tengah. Linda keluar dari dapur, wajahnya terlihat lelah. “Kamu sudah pulang mas…” Arjito mengangguk. “Aira di mana?” Linda terdiam sejenak sebelum menjawab pelan, “Di kamar.” Nada suaranya cukup untuk membuat Arjito langsung paham, ada sesuatu yang tidak beres. “Ada apa?” Linda sempat ragu, tangannya saling menggenggam. “Aira… lagi nggak enak badan. Capek katanya.” Arjito mengernyit. “Cuma capek?” Linda memaksakan senyum kecil. “Iya… mungkin kecapekan sekolah.” Arjito tidak langsung per
Sore hari, diruang utama rumah Aira. Lampu hangat, rak buku rapi, layar komputer menyala. Aroma kopi hangat dari cangkir di sampingnya. Arjito Rajendra, duduk di kursi kulit hitam, mata fokus menatap layar. Jari-jarinya mengetik cepat, membuka profil Mahesa Group, berita lama, dan forum diskusi bis
Aira baru saja selesai bicara. “Kalau memang ada yang belum selesai, selesaikan dulu. Aku nggak mau jadi orang di tengah.” Kalimatnya tenang, tidak tinggi dan tidak gemetar, justru itu yang bikin Dipta tidak bisa menganggap enteng. Aira lalu melangkah pergi tanpa menunggu jawaban, langkahnya tidak
Pintu apartemen terbuka bahkan sebelum Aira sempat mengetuk dua kali. Dipta sudah berdiri di sana, kaus hitam polos dan celana training abu-abu, rambutnya sedikit basah seperti baru selesai mandi. “Cepat banget bukanya”, Aira mengangkat alis. “Kebetulan lagi di dekat pintu”, jawabnya ringan. Pada
Tempat itu tidak pernah berubah. Kafe semi-terbuka di sudut jalan utama, dengan dinding kaca besar menghadap persimpangan. Lampunya terang, tidak temaram. Meja-meja tersusun rapi, kursi kayu dengan sandaran lurus, dan aroma kopi yang lebih kuat daripada wangi manis sirup seperti di tempat lain, tid







