Home / Romansa / DIPTA / BAB 62 Keputusan

Share

BAB 62 Keputusan

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-04-26 12:59:01

Malam itu terasa panjang. Dipta bahkan tidak ingat sejak kapan ia benar-benar mencoba tidur. Ia hanya berbaring, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang terus berputar tanpa henti. Foto itu masih ada di sampingnya, surat itu belum ia lipat kembali dan setiap kali ia memejamkan mata yang muncul bukan gelap, justru wajah Aira. Wajah pucatnya, matanya yang berkaca-kaca dan isi surat itu, “Aku cuma pingin kamu tahu.”

Dipta menghela napas berat. Ia membalik tubuhnya ke samping, menutup mata
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DIPTA   BAB 112 Rania Meledak

    Pagi hari di lantai eksekutif Rajendra Engineering berjalan seperti biasa. Aira sudah duduk di ruangannya sejak pagi lebih cepat dari biasanya. Laptop sudah menyala, jadwal sudah tersusun dan dokumen sudah rapi. Namun hari ini ada yang berbeda. Ekspresinya lebih tenang dan lebih dingin, seolah sudah mengambil keputusan. ‘Tok.’ Tanpa menunggu jawaban, pintu langsung terbuka. Rania masuk seperti kemarin dan seperti biasanya. “Pagi.” Nada suaranya santai. Aira mengangkat kepala menatapnya. “Pagi." jawabnya singkat dan datar. Rania sedikit mengernyit. Ia masuk lebih dalam, menutup pintu di belakangnya. “Udah siap perang lagi hari ini?” Aira menutup laptopnya pelan. “Kerja, bukan perang.” Jawaban itu langsung tanpa senyum. Rania tersenyum tipis. “Iya… kerja.” Ia berjalan santai ke sofa lalu duduk. “Tapi dari kemarin kelihatannya kamu lumayan menikmati posisi itu ya.” Aira tidak langsung jawab. “Posisi apa?” Rania menyandarkan tubuhnya. “Yang beda sendiri.” Aira menatapnya

  • DIPTA   BAB 111 Tekanan Dua Arah

    Sore, langit Jakarta mulai gelap. Lampu-lampu kota menyala satu persatu. Di lantai eksekutif Rajendra Engineering sebagian besar karyawan sudah pulang, koridor mulai sepi. Di dalam ruangannya Dipta masih duduk di balik meja. Laptop terbuka, beberapa dokumen tersebar. Pikirannya masih fokus pada satu hal, Andalas Energi. ‘Tok… tok…’ Dipta tidak langsung menjawab, tatapannya masih di layar. ‘Tok… tok…’ Lebih pelan kali ini. “Masuk.” Pintu terbuka dan tanpa perlu melihat pun Dipta sudah tahu siapa yang masuk, Andine. “Masih sibuk?” Suaranya ringan, seolah tidak ada ketegangan sebelumnya. Dipta menutup laptopnya perlahan baru menatap. “Perlu apa?" tanyanya langsung tanpa basa-basi. Andine tidak tersinggung, justru tersenyum tipis. “Langsung ke inti ya…” Ia melangkah masuk. Menutup pintu di belakangnya. “Bagus. Aku juga nggak suka muter-muter.” Ia duduk tanpa diminta, percaya diri seperti biasa. “Aku cuma mau pastikan…” Ia menatap Dipta. “…kamu sudah lihat revisi terbaru

  • DIPTA   BAB 110 Mulai di Ragukan

    Sore itu, suasana di kantor Rajendra Engineering mulai lebih tenang. Jam kerja hampir selesai, sebagian karyawan sudah mulai merapikan meja. Di meja Aira, laptopnya masih terbuka. Dokumen dari Andalas Energi masih terpampang di layar. Aira membaca ulang dengan pelan dari awal. Tidak ada yang terlihat salah secara langsung, angkanya masuk, penjelasannya ada, strukturnya rapi terlalu rapi. “Ini aneh.” Ia bergumam pelan. Tangannya men-scroll ke atas lalu ke bawah lagi membandingkan dan mencari sesuatu yang “hilang”. Kalimat Arjito kemarin terlintas lagi di kepalanya. “Ini bukan fluktuasi.” “Ini indikasi masalah internal.” Aira menarik napas pelan. “Tapi yang ini…” Ia menatap layar. “…bersih.” Terlalu bersih dan justru itu yang membuatnya tidak nyaman. Tangannya sempat berhenti di tombol forward email, mau langsung kirim ke Dipta seperti biasa. Namun ia tidak jadi. “Kalau aku salah gimana…” Aira menggigit bibir bawahnya pelan. Ia menutup laptop sebentar, lalu membukanya lagi beber

  • DIPTA   BAB 109 Andalas Energi

    Ruang direktur di Aurelis Global Holdings kembali hening setelah semua duduk di posisi masing-masing. Dokumen kerja sama kini terbuka di meja, berbeda dengan sebelumnya. Kali ini bukan sekadar pembahasan umum, ini masuk ke inti. Arjito Rajendra duduk tenang, jemarinya menyentuh ujung dokumen. Tatapannya turun, membaca perlahan. Tidak terburu-buru. Di seberangnya, ayah Andine menunggu dengan ekspresi yakin. Sementara Andine duduk sedikit di samping, sesekali melirik ke arah Aira. Dan Aira duduk di samping Dipta mencatat sekaligus juga memperhatikan. Dia tahu, kalau ayahnya sudah diam seperti itu artinya sedang “mencari sesuatu”. Beberapa menit berlalu, tidak ada yang bicara. Hanya suara halaman dokumen yang dibalik. “Bagian ini." Suara Arjito akhirnya keluar dengan tenang dan datar namun langsung membuat suasana berubah. Semua fokus ke arahnya. Ia menunjuk satu halaman. “Permintaan suntikan dana tahap awal.” Ayah Andine langsung menjawab, “Itu untuk percepatan distribusi awal,

  • DIPTA   BAB 108 Kerja Sama

    Pagi di Rajendra Engineering berjalan seperti biasa. Aira datang dengan langkah yang lebih tenang dibanding beberapa hari sebelumnya. Efek perjalanan luar kota masih terasa di tubuhnya, tapi pikirannya justru yang lebih sibuk. Semalam, pagi tadi dan sekarang, semuanya seperti nyambung tapi juga bikin dia bingung sendiri. Ia duduk di kursinya, membuka laptop, mencoba fokus pada pekerjaan. Tapi sesekali pandangannya tanpa sadar melirik ke arah ruang kerja Dipta. “Kenapa sih aku jadi mikir aneh-aneh gini…” gumamnya pelan. Ia menggeleng kecil, lalu mulai membuka dokumen hari ini, belum sampai lima menit. “Selamat pagi, Aira." suara itu. Aira langsung berhenti mengetik. Pelan-pelan ia menoleh dan benar saja. Andine berdiri di sana, dengan senyum yang rapi dan ekspresi yang seolah tidak punya masalah apa pun. Aira menarik napas kecil, lalu membalas dengan sopan. “Pagi, Bu.” Andine melangkah mendekat, melirik layar laptop Aira sekilas. “Kamu cepat juga ya masuknya” ucapnya santai.

  • DIPTA   BAB 107 Rutinitas Seperti Biasa

    Pagi hari datang lebih cepat dari biasanya. Cahaya matahari masuk dari celah tirai kamar Aira. Ia sudah bangun lebih dulu, duduk di tepi kasur dan menatap kosong ke depan. Pikirannya masih belum benar-benar tenang tentang parfum, pesan dan kalimat Dipta semalam. “Dari dulu…” Aira menghela napas panjang. “Udahah … fokus kerja.” Ia berdiri lalu masuk ke kamar mandi dan merapikan diri. Hari ini bukan hari untuk overthinking, hari ini hari kerja. Di sisi lain, Dipta sudah siap lebih dulu seperti biasa selalu rapi, kemeja tersusun sempurna dan jam tangan itu masih melingkar di pergelangan tangannya, tidak berubah. Ketika mereka bertemu di luar kamar, hening sebentar. “Pagi, Pak.” sapa Aira. “Pagi.” Nada suara tetap normal dan profesional, seolah tidak ada yang terjadi semalam dan mungkin itu yang mereka butuhkan sekarang adalah jarak sementara. Mereka berangkat menuju lokasi proyek. Hari ini bukan meeting meja lagi, tapi langsung ke lapangan. Area distribusi yang menjadi inti k

  • DIPTA   BAB 106 Peringatan dari Andine

    Mobil tetap melaju dengan tenang, tidak ada yang mengejar dan tidak ada yang mencurigakan lagi di kaca spion. Seolah semuanya biasa saja tapi justru itu yang bikin Aira tidak bisa benar-benar santai. Ia menyandarkan kepalanya ke kursi. Matanya melihat ke luar jendela. Lampu-lampu kota mulai menyala

  • DIPTA   BAB 105 Di Buntuti

    Aira mencoba melanjutkan makannya, sendok kembali bergerak. Roti diambil, jus diminum, tidak ada yang benar-benar masuk. Fokusnya sudah hilang, matanya memang ke piring tapi pikirannya ke satu titik yang sama memandang jam tangan itu. “Masih dipakai…” Kalimatnya sendiri terulang. Dan jawaban Dipt

  • DIPTA   BAB 104 Canggung

    Pintu kamar tertutup pelan. ‘Klik.’ Aira bersandar beberapa detik di balik pintu. Tangannya masih menggenggam handle pintu, seolah belum benar-benar siap melepas momen barusan. “Kenapa sih aku ngomong sejauh itu…" gumamnya pelan. Ia menghela napas panjang, lalu akhirnya melepas tangannya dan m

  • DIPTA   BAB 102 Malu

    Di kamar sebelah, Dipta sudah duduk kembali di depan laptopnya. Namun tidak ada satu pun kalimat di layar yang benar-benar dia proses. “Ada kecoak…” gumamnya pelan. Tangannya berhenti di atas keyboard. Biasanya dia bisa fokus bahkan di tengah rapat paling rumit. Tapi sekarang yang muncul di pikir

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status