LOGINSuasana yang tadi sempat canggung perlahan mencair. Angger mengajak mereka duduk di salah satu meja dekat jendela. “Duduk dulu lah, sekalian gue jelasin.” ucapnya sambil menarik kursi. Dipta duduk santai. Aira ikut duduk di sampingnya. Seorang barista datang membawakan minuman. Sepertinya sudah jadi kebiasaan tanpa perlu dipesan. “Masih sama ya ” komentar Dipta singkat sambil melihat gelas di depannya. Angger nyengir. “Ya masa berubah, lu aja yang jarang mampir.” Percakapan mulai mengalir. “Gimana di sini?” tanya Dipta, kembali ke mode serius tapi tetap santai. Angger menyandarkan punggungnya. “Lumayan. Tapi gue sekarang nggak full di sini.” Dipta mengangkat alis sedikit. “Masih intershif?” Angger mengangguk. “Iya. Rumah sakit di Bandung sini.” Aira sedikit terkejut. “Serius kamu jadi dokter?” Nada suaranya spontan. Angger tertawa kecil. “Gue juga dulu nggak nyangka.” Dia menghela napas ringan. “Dulu kan nggak ada niat sama sekali ya. Cuma ya… sejak nyokap sempat sakit para
Begitu mobil mulai menjauh dari area proyek, suasana di dalam langsung berubah. Dipta fokus menyetir, tapi jelas dia sadar ada yang “nggak beres” di sebelahnya. Aira duduk dengan tangan terlipat, menatap ke luar jendela dalm diam. Tapi auranya sangat tidak santai. Beberapa menit berlalu. Akhirnya Dipta buka suara. “Capek?” Aira menjawab tanpa menoleh. “Capek.” Nada suaranya datar. "...dan kesel.” Dipta menarik napas pelan. “Kenapa lagi?” Aira langsung menoleh. Tatapannya tajam. “Kamu nanya kenapa?” Dipta melirik sekilas. “Ya aku nanya.” Aira tertawa siinis. “Tadi yang kamu bilang ke Pak Rendra.” Dipta sempat berpikir sepersekian detik. “Yang mana?” masih pura-pura. Aira langsung mendengus. “Jangan pura-pura nggak tau. 'Menang tender besar semalam’ katanya.” Nada suaranya meniru. Dipta menahan senyum, salah besar kalau ketahuan. “Itu kan cuma—” Belum selesai, Aira langsung potong. “Cuma apa?” Dipta diam. “Candaan.” Aira langsung menyandar lagi ke kursi. “Candaan apaan coba
Mereka sampai tepat pukul 10.00. benar-benar pas. Area proyek sudah cukup ramai. Beberapa tim dari PT Arkananta Konstruksi Nusantara sudah lebih dulu berada di lokasi, lengkap dengan helm proyek dan rompi keselamatan. Begitu mobil Dipta berhenti, beberapa pasang mata langsung menoleh. Dipta turun lebih dulu,angkahnya tegas seperti biasa. Aura dingin, profesional, tetap ada, namun hari ini ada yang beda. Wajahnya lebih “hidup”, matanya lebih terang. Bahkan garis tegas di wajahnya terlihat lebih ringan. Kalau orang tidak tahu mungkin dikira benar-benar habis dapat proyek besar. Sementara di sisi lain, Aira turun dari mobil. Secara tampilan tetap rapi, cantik dan profesional. Make-up tipisnya berhasil menutupi lingkar hitam di bawah mata. Namun raut wajahnya, masih ada sisa kelelahan meski samar tapi terasa dan cara jalannya yang sedikit lebih hati-hati cukup menjelaskan segalanya bagi orang yang peka. Dipta melirik sekilas. 'Kayaknya masih capek ya…' Belum sempat mereka melangkah le
Saat semuanya benar-benar berhenti, jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Aira bahkan tidak sempat berkata apa-apa. Begitu tubuhnya menyentuh ranjang, matanya langsung terpejam. Tenaganya benar-benar habis. Napasnya pelan, teratur. Wajahnya masih menyisakan lelah dan juga damai. Dipta yang masih terjaga hanya bisa menatapnya beberapa detik. Lalu perlahan dia menarik tubuh Aira ke dalam dekapannya. Aira tidak bereaksi. Sudah terlalu lelah bahkan untuk sekadar menggerakkan tubuh. Senyum kecil muncul di wajah Dipta. Tangannya mengusap punggung Aira pelan. Sesekali dia menunduk, memberi kecupan singkat di dahi, di pelipis bahkan di bibirnya dengan lembut. “Istri kecil…” gumamnya pelan. Kalimat itu terdengar hampir seperti kebiasaan lama. Namun maknanya sekarang sudah berbeda. Dulu, Aira adalah gadis yang lugu, polos dan penurut. Apa pun yang dia katakan, Aira ikuti. Sekarang Dipta menatap wajah Aira lagi. “Udah nggak kecil lagi ternyata…” bisiknya sambil terkekeh pelan. Aira se
Waktu terasa berjalan lambat. Napas yang tadinya tidak teratur, perlahan mulai kembali normal. Keheningan memenuhi kamar itu, tapi bukan keheningan yang canggung justru terasa hangat dan penuh sisa-sisa emosi yang belum sepenuhnya hilang. Lebih dari satu jam berlalu, Dipta akhirnya bergerak lebih dulu. Dia menatap Aira yang masih berbaring membelakanginya, tubuhnya terlihat lemas, napasnya pelan, jelas kelelahan. Senyum tipis muncul di wajah Dipta. Dia mendekat sedikit, lalu memberi kecupan singkat di dahi Aira. “Terima kasih…” ucapnya pelan. Aira tidak menjawab hanya menarik napas pelan, masih terlalu lelah untuk bicara. Dipta terkekeh kecil. 'Dia yang mulai… dia juga yang tumbang duluan.' batinnya. Tangannya terangkat, mengusap lembut kepala Aira, menyelipkan beberapa helai rambut yang berantakan ke belakang telinga. “Ini cobaan… atau keberuntungan ya…” gumamnya pelan, setengah bicara pada dirinya sendiri. Cobaan karena semua ini berawal dari emosi Aira yang dipantik ol
Pintu kamar terbuka pelan. Dipta masuk sambil membawa beberapa kantong makanan di tangannya. Suasana kamar langsung terasa sunyi dan sepi. “Aira?” panggilnya. Tidak ada jawaban. Dia melangkah lebih masuk, menaruh makanan di meja kecil. Matanya menyapu ruangan, tapi memang tidak ada siapa-siapa. Alisnya sedikit berkerut. “Kemana dia…” Lalu terdengar suara air dari kamar mandi. “Oh…” gumamnya pelan, mengangguk kecil. Mungkin lagi di kamar mandi. Tanpa pikir panjang, Dipta mulai membuka satu per satu bungkus makanan, menatanya di atas meja. Gerakannya rapi, teratur, seperti biasa. Sementara itu, di balik pintu kamar mandi Aira berdiri di depan cermin. Dia baru saja selesai mencuci tangan. Perlahan, dia menyemprotkan parfum tipis di pergelangan tangan dan lehernya. Aroma lembut langsung menyebar, tidak menyengat, tapi cukup untuk meninggalkan kesan. Tangannya lalu mengambil lip balm dioleskan tipis di bibirnya. Matanya menatap bayangannya sendiri. Ingatan itu kembali pada ucapan S
Hari itu, Dipta duduk di kelas XII IPS 1 sambil membaca catatan ekonomi. Tapi matanya tidak sepenuhnya fokus pada buku, tatapannya sesekali tertuju ke kelas XI IPA 2, tepatnya ke Aira yang sedang menulis catatan di meja dekat jendela.“Hmm… berbeda dari yang lain", pikirnya dalam hati.Bukan karena
Pagi menjelang siang, lapangan sekolah lebih sepi dari biasanya. Angin tipis membuat dedaunan bergetar, dan cahaya matahari yang mulai miring menembus sela-sela pepohonan. Aira duduk di bawah pohon besar, buku biologi di pangkuan, mencoba memahami diagram sel yang rumit. Tiba-tiba, suara ringan
Suasana kelas XI IPA 2 pagi itu lebih tegang dari biasanya. Kertas ulangan biologi sudah dibagikan, masih tertutup di atas meja masing-masing siswa. Suara kipas angin berputar terasa lebih keras karena hampir semua orang diam. Aira duduk tegak. Tangannya berada di atas meja, jari-jarinya saling b
Bel pulang berbunyi nyaring, menggema sampai ke lorong-lorong gedung IPS. Siswa kelas XII IPS 1 mulai beranjak dari kursi mereka. Suara kaki kursi bergeser dan ritsleting tas yang ditarik bersahutan. Di antara keramaian itu, Dipta tetap bergerak dengan ritmenya sendiri. Ia merapikan buku ekonominya







