Home / Romansa / DIPTA / BAB 52 Sesuatu yang Berbeda

Share

BAB 52 Sesuatu yang Berbeda

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-04-14 09:55:05

Di dalam UKS, Aira masih duduk lemah di tepi ranjang. Kepalanya terasa berat, pandangannya kadang masih sedikit berkunang. Perawat sudah beberapa kali menyuruhnya berbaring lagi, tapi Aira bersikeras ingin duduk.

“Pusingnya masih?”, tanya salah satu guru yang sejak tadi mendampinginya.

Aira menggeleng pelan. “Udah mendingan, Bu…”

Namun wajahnya yang pucat justru berkata sebaliknya.

Guru itu menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas pelan. “Sepertinya kamu nggak bisa lanjut pelajara
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DIPTA   BAB 189 Bersiap

    Malam akhirnya tiba. Hotel Arunika Grand Jakarta yang sejak pagi disibukkan dengan persiapan perjamuan kini tampak semakin semarak. Area lobi dihiasi rangkaian bunga segar dengan pencahayaan hangat, sementara beberapa staf hotel berdiri di dekat pintu masuk untuk menyambut para tamu undangan. Di depan ballroom, meja registrasi telah beroperasi. Para tamu mulai berdatangan dengan mengenakan pakaian formal terbaik mereka. Sejumlah pemegang saham, jajaran direksi, mitra bisnis, serta relasi perusahaan terlihat saling menyapa dan berbincang sebelum memasuki ruangan utama.Ballroom yang sebelumnya hanya dipenuhi kesibukan para pekerja kini telah berubah menjadi tempat perjamuan yang elegan. Lampu kristal di langit-langit memancarkan cahaya keemasan, berpadu dengan dekorasi bunga berwarna putih dan sentuhan hijau yang menghiasi setiap meja. Meja bundar ditata dengan taplak berwarna krem, peralatan makan berkilau, serta rangkaian bunga berukuran sedang sebagai pemanis. Di bagian depan, pangg

  • DIPTA   BAB 188 Sebelum Jamuan

    Setelah memastikan seluruh persiapan utama berjalan sesuai rencana, Dipta akhirnya meminta koordinator acara melanjutkan pemeriksaan tanpa perlu menunggu dirinya. Beberapa hal memang masih harus diselesaikan, tetapi ia sudah menerima laporan bahwa semuanya berada dalam kendali tim penyelenggara. Pihak hotel juga telah menempatkan seorang penanggung jawab khusus yang akan menghubunginya apabila ada perubahan atau kendala menjelang acara malam nanti.Sementara itu, Aira masih berdiri tidak jauh dari meja penerima tamu. Ia sedang berbincang singkat dengan salah seorang staf perempuan yang bertanggung jawab atas susunan tempat duduk. Sesekali ia menunjuk daftar yang dipegang staf tersebut, memastikan beberapa nama tamu ditempatkan sesuai dengan posisi dan hubungan mereka dengan perusahaan. Setelah selesai, Aira mengembalikan daftar itu dan mengucapkan terima kasih sebelum menghampiri Dipta.Laki-laki itu sedang memeriksa pesan di ponselnya. Begitu melihat Aira datang, ia memasukkan ponsel

  • DIPTA   BAB 187 Sebelum Jamuan

    Sejak pagi, Hotel Arunika Grand Jakarta sudah disibukkan dengan berbagai persiapan untuk perjamuan yang akan diselenggarakan oleh Rajendra Engineering malam nanti. Hotel berbintang lima itu memiliki ballroom luas dengan langit-langit tinggi, lampu kristal yang menggantung megah, serta area lobi yang didominasi perpaduan marmer dan ornamen kayu berwarna hangat. Sejumlah staf hotel, tim penyelenggara dari Rajendra Engineering, dekorator, hingga kru dokumentasi terlihat bergerak ke berbagai sudut ruangan. Mereka memastikan setiap detail telah sesuai dengan rancangan yang disepakati, mulai dari penataan meja bundar, dekorasi bunga, pencahayaan panggung, layar LED, hingga perangkat audio yang akan digunakan selama acara berlangsung.Sebenarnya, persiapan utama sudah dilakukan sejak kemarin. Ballroom telah ditata, panggung utama berdiri di bagian depan, sementara meja-meja tamu disusun dengan jarak yang cukup agar para undangan dapat bergerak dengan leluasa. Hari ini hanya tinggal tahap pen

  • DIPTA   BAB 186 Keinginan Dipta

    Persiapan untuk acara perjamuan terus berjalan seiring dengan penanganan masalah Priska dan Rania yang belum sepenuhnya selesai. Tim penyelenggara mulai memastikan seluruh kebutuhan acara, mulai dari penataan ruangan, susunan meja tamu, pencahayaan, perangkat audio, hingga urutan acara yang akan berlangsung pada malam perjamuan. Undangan telah disebarkan kepada para pemegang saham, mitra bisnis, jajaran direksi, serta sejumlah tokoh yang memiliki hubungan penting dengan Rajendra Engineering. Dipta sendiri turut memastikan beberapa nama masuk dalam daftar undangan, termasuk Rendra Wijaya, suami Sania, perempuan yang pernah memiliki hubungan dengannya di masa lalu. Kehadiran Rendra dan Sania memang bukan sesuatu yang perlu dihindari. Bagi Dipta, masa lalu sudah selesai dan tidak ada alasan untuk mengecualikan seseorang hanya karena pernah ada cerita yang tidak menyenangkan di antara mereka.Hari demi hari berlalu, hingga akhirnya tiba malam sebelum acara perjamuan diselenggarakan. Segal

  • DIPTA   BAB 185 Kenapa harus Aira?

    Sore harinya, Rania akhirnya tiba di apartemennya setelah melewati perjalanan pulang yang terasa lebih panjang daripada biasanya. Begitu memasuki unit tempat tinggalnya, ia meletakkan tas di atas sofa ruang tengah, kemudian melepas sepatu hak tingginya dengan gerakan yang sedikit kasar. Kakinya terasa pegal setelah seharian berada di kantor, tetapi bukan itu yang membuat suasana hatinya begitu buruk. Sejak pertemuannya dengan Aira tadi, pikirannya terus dipenuhi berbagai hal yang sulit ia singkirkan.Ia berjalan menuju dapur, mengambil segelas air putih, lalu meneguknya beberapa kali sebelum kembali ke ruang tengah. Setelah itu, ia menjatuhkan tubuh ke sofa dan menyandarkan kepala. Matanya tertuju pada langit-langit apartemen yang diterangi cahaya matahari sore dari balik jendela kaca. Ruangan itu terasa begitu sunyi, hanya terdengar samar suara kendaraan dari jalan raya di bawah gedung.Rania mengembuskan napas panjang. Jujur saja, ia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang ter

  • DIPTA   BAB 184 Teringat Masa Lalu

    Setelah meninggalkan pantry, Aira kembali menyusuri lorong menuju ruang kerjanya. Langkahnya cukup cepat, meskipun sesekali ia harus menepi untuk memberi jalan kepada karyawan lain yang melintas. Pertemuan singkat dengan Rania tadi ternyata meninggalkan rasa kesal yang belum sepenuhnya reda. Bukan karena perkataan perempuan itu berhasil melukai harga dirinya, melainkan karena Aira merasa urusannya sendiri sudah cukup banyak tanpa harus kembali berhadapan dengan seseorang yang terus-menerus menjadikannya sasaran kemarahan.Sesampainya di ruang kerja, Aira mendorong pintu hingga terbuka, kemudian masuk dan menutupnya kembali. Ia meletakkan cangkir teh yang dibawanya dari pantry di atas meja, menarik kursi, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sana dengan embusan napas panjang.Beberapa detik ia hanya bersandar, menatap langit-langit ruangan sambil mencoba mengendurkan ketegangan di bahunya. Namun, semakin ia berusaha mengabaikan pertemuan tadi, semakin jelas pula wajah Rania terbayang dalam pik

  • DIPTA   BAB 7 Perhatian

    Pagi itu, udara di SMA terasa hangat, tapi tidak menusuk. Cahaya matahari menembus jendela kelas XI IPA 2, menyorot buku catatan Aira yang rapi. Ia duduk di bangku dekat jendela, mencoba fokus pada pelajaran Biologi. Tapi pikirannya sering melayang ke seseorang yang ia lihat beberapa kali dalam beb

  • DIPTA   BAB 3 Taruhan Dimulai

    Bel pulang berbunyi nyaring, menggema sampai ke lorong-lorong gedung IPS. Siswa kelas XII IPS 1 mulai beranjak dari kursi mereka. Suara kaki kursi bergeser dan ritsleting tas yang ditarik bersahutan. Di antara keramaian itu, Dipta tetap bergerak dengan ritmenya sendiri. Ia merapikan buku ekonominya

  • DIPTA   BAB 2 Mata Yang Mengamati

    Di kelas dekat sisi lapangan, suasana pagi begitu hidup. Beberapa murid masih asyik mengobrol, ada yang menatap papan tulis dengan serius didalam kelas, ada yang memainkan pulpen sambil setengah mengantuk saat berjalan. Di salah satu sisinya, empat murid Angger, Bayu, Raka, dan David duduk berdampi

  • DIPTA   BAB 1 Hari Pertama Humaira

    Humaira Navya Aruna atau biasa akrab dipanggil Aira menatap halaman depan sekolah baru itu dengan mata berbinar campur gugup. Gedung tinggi, cat krem yang rapi, kaca-kaca besar memantulkan cahaya pagi yang lembut. Semua terlihat begitu megah, berbeda dari sekolah lamanya yang sederhana. Jalan setap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status