Home / Romansa / DIPTA / BAB 53 Yang Tak Biasa

Share

BAB 53 Yang Tak Biasa

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-04-15 11:40:54

Beberapa hari setelah itu, Aira mulai terlihat lebih “normal”, setidaknya di depan orang lain. Ia kembali masuk sekolah seperti biasa. Wajahnya memang masih sedikit pucat, tapi ia sudah tidak lagi terlihat limbung seperti sebelumnya. Ia lebih banyak diam, namun tetap menjawab saat diajak bicara. Di rumah pun sama, ia mulai makan meski hanya sedikit, mulai keluar kamar meski tidak lama. Dan setiap kali ibunya bertanya, Aira selalu menjawab dengan kalimat yang sama. “Aku udah mendingan, Bu.”

Aw
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DIPTA   BAB 55 Taruhan yang Terlewat dan yang Tak Bisa Ditahan Lagi

    Sore itu, sebuah kafe tidak jauh dari pusat kota cukup ramai. Di salah satu sudut, empat orang sudah duduk santai sejak tadi. Angger bersandar di kursi, kakinya selonjoran, Bayu sibuk dengan minumannya dan Raka lebih banyak diam, memainkan sendok di gelasnya. Sementara David tampak santai, ponselnya di tangan. “Mana sih orangnya?”, keluh Bayu. “Ngaret mulu.” “Biasa”, jawab Angger santai. “Orang sibuk.” “Gaya”, gumam Bayu. Belum sempat mereka lanjut seseorang datang. Dipta, langkahnya tenang seperti biasa, ekspresinya datar. Ia langsung duduk tanpa banyak basa-basi. “Lama”, komentar Bayu. “Macet”, jawab Dipta singkat. Padahal tidak, namun tidak ada yang mempermasalahkan. Beberapa menit awal diisi obrolan ringan, tentang sekolah, tentang kelulusan dan tentang rencana setelah lulus. Sampai akhirnya topik itu muncul. “Eh”, ucap David tiba-tiba, matanya beralih ke Dipta. “Ngomong-ngomong…” Dipta melirik sekilas. “Apa?” David menyandarkan tubuhnya. “Udah lewat, ya?” “A

  • DIPTA   BAB 54 Yang Takut dan yang Kembali Mendekat

    Pintu kamar tertutup. Begitu kunci terpasang, Aira langsung bersandar di baliknya. Tubuhnya perlahan merosot ke bawah, tangannya menutup mulutnya sendiri, menahan suara yang sejak tadi ia paksa untuk tidak keluar dan saat itu juga semuanya pecah. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi, diam tanpa suara keras. Tubuhnya bergetar hebat seolah seluruh beban yang selama ini ia tahan akhirnya menemukan celah untuk keluar. Aira menunduk, dahinya hampir menyentuh lututnya. Tangannya masih menutup mulutnya, berusaha menahan agar tangisnya tidak terdengar keluar kamar. Ia tidak ingin ibunya tahu, tidak ingin siapa pun tahu, justru karena itulah rasanya semakin sesak. Napasnya tidak teratur, dadanya terasa sakit dan untuk beberapa saat, ia hanya bisa menangis seperti itu, sendirian. Entah berapa lama, tangisnya perlahan mereda dan hanya tersisa sesekali isakan kecil yang tertahan. Aira mengusap wajahnya kasar, mencoba menghapus sisa-sisa air mata. Ia menarik napas panjang beberapa kali la

  • DIPTA   BAB 53 Yang Tak Biasa

    Beberapa hari setelah itu, Aira mulai terlihat lebih “normal”, setidaknya di depan orang lain. Ia kembali masuk sekolah seperti biasa. Wajahnya memang masih sedikit pucat, tapi ia sudah tidak lagi terlihat limbung seperti sebelumnya. Ia lebih banyak diam, namun tetap menjawab saat diajak bicara. Di rumah pun sama, ia mulai makan meski hanya sedikit, mulai keluar kamar meski tidak lama. Dan setiap kali ibunya bertanya, Aira selalu menjawab dengan kalimat yang sama. “Aku udah mendingan, Bu.” Awalnya, ibunya masih memperhatikan dengan seksama. Namun hari demi hari, saat melihat Aira tetap bisa beraktivitas, kekhawatiran itu perlahan berkurang. Ayahnya juga berpikir hal yang sama, mungkin memang hanya kelelahan karena sekolah. Mereka mulai percaya dan Aira membiarkan itu. Malam hari, lampu kamar Aira menyala, musik terdengar cukup keras dari dalam. Lagu yang biasanya ia putar pelan, kali ini volumenya dinaikkan lebih tinggi dari biasanya. Di dalam kamar mandi, Aira membungkuk di depan

  • DIPTA   BAB 52 Sesuatu yang Berbeda

    Di dalam UKS, Aira masih duduk lemah di tepi ranjang. Kepalanya terasa berat, pandangannya kadang masih sedikit berkunang. Perawat sudah beberapa kali menyuruhnya berbaring lagi, tapi Aira bersikeras ingin duduk. “Pusingnya masih?”, tanya salah satu guru yang sejak tadi mendampinginya. Aira menggeleng pelan. “Udah mendingan, Bu…” Namun wajahnya yang pucat justru berkata sebaliknya. Guru itu menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas pelan. “Sepertinya kamu nggak bisa lanjut pelajaran hari ini. Ibu nggak mau kamu pingsan lagi di kelas.” Aira ingin menolak. Ia tidak ingin merepotkan siapa pun. Tapi bahkan untuk sekadar berdiri saja, tubuhnya masih terasa ringan dan tidak stabil. “Teman kamu ada yang bisa antar pulang?”, tanya guru itu lagi. Aira sempat terdiam. Ia tidak tahu harus meminta tolong pada siapa. Di luar UKS, Farhan yang sejak tadi berdiri agak menjauh akhirnya melangkah mendekat. “Saya bisa, Bu. Saya bawa mobil.” Guru itu langsung mengangguk. “Ya sudah,

  • DIPTA   BAB 51 Semakin Menjauh

    Beberapa hari sebelum ujian akhir sekolah dimulai, Dipta semakin jarang punya waktu. Jadwalnya penuh dari pagi sampai sore di sekolah untuk tambahan belajar dan try out, malamnya di rumah atau di apartemen dengan buku-buku dan materi ujian. Karena itu, saat suatu sore Dipta tiba-tiba berkata, “Besok malam ke apartemen. ” Aira langsung menoleh. “Buat apa?” Dipta menatapnya sebentar. “Belajar... habis ini aku bakal sibuk banget. Mungkin itu terakhir kali aku bisa ngajarin kamu sebelum ujian.” Kalimat itu sederhana, namun cukup membuat Aira mengangguk tanpa banyak berpikir. Bagaimanapun, akhir-akhir ini ia selalu merindukan saat-saat ketika Dipta duduk di sampingnya, menjelaskan pelajaran dengan nada datar dan tatapan serius seperti dulu. Malam berikutnya, Aira datang ke apartemen Dipta. Seperti biasa, awalnya memang benar-benar belajar. Meja di ruang makan penuh dengan buku, catatan, dan laptop. Dipta masih mengajari seperti biasa, masih sabar, masih sesekali menyindir Aira k

  • DIPTA   BAB 50 Perubahan dan Ketergantungan

    Libur panjang yang awalnya Aira kira akan terasa menyenangkan, justru berubah menjadi sesuatu yang membuatnya semakin tidak tenang. Hari pertama setelah pembagian rapor, Dipta masih seperti biasa. Masih sempat mengirim pesan pagi, masih sempat bertanya Aira sedang apa, bahkan malamnya masih menelepon sebentar, meski tidak lama. Setelah itu, semuanya mulai berubah. Pesan Aira yang biasanya dibalas dalam hitungan menit, sekarang bisa berjam-jam. Kadang baru dibalas sore, padahal dikirim sejak pagi, kadang bahkan malam dan jawaban Dipta selalu singkat. “Aku lagi sibuk.” “Di luar.” “Nanti ya.” “Capek.” Tidak ada penjelasan lebih dari itu. Awalnya Aira berusaha menganggap biasa, mungkin Dipta memang sedang sibuk, mungkin ada urusan keluarga atau mungkin karena libur, jadi dia lebih banyak pergi ke luar rumah. Namun semakin lama, semakin aneh, bahkan ada momen saat akhirnya membalas, Dipta tidak lagi seperti biasanya, tidak ada pesan panjang, tidak ada godaan menyebalkan, tidak

  • DIPTA   BAB 38 Rania Yang Tak Aman dan Sebuah Fakta

    Koridor sekolah masih ramai oleh siswa yang baru keluar kelas.Rania berjalan bersama dua temannya, namun langkahnya melambat ketika beberapa siswa dari kelas lain lewat di dekat mereka. Suara mereka tidak terlalu pelan, justru cukup jelas untuk terdengar. “Eh… itu Rania, kan?”, ucap siswa yang me

  • DIPTA   BAB 32 Rutinitas Sekolah dan Masa Lalu

    Bel istirahat baru saja berbunyi. Kantin sekolah sudah mulai ramai oleh suara siswa yang saling bercakap. Aira duduk di salah satu meja bersama Nadhira dan Lestari. Nadhira sedang bercerita tentang guru matematika mereka yang tiba-tiba memberi kuis dadakan pagi tadi.“…terus dia bilang ini cuma lat

  • DIPTA   BAB 31 Metode Belajar Baru

    Sore itu hujan turun tipis di luar apartemen Dipta. Cahaya kota memantul samar dari jendela kaca besar ruang nonton yang terhubung dengan ruang rahasia. Humaira duduk bersila di karpet tebal, buku anatomi terbuka di depannya. Diagram tubuh manusia terpampang jelas sistem reproduksi, jaringan, kelen

  • DIPTA   BAB 8 Persaingan & Flirty Close Call

    Hari-hari berlanjut, Aira tiba di sekolah lebih awal dari biasanya. Hari ini ada latihan OSIS untuk kegiatan lingkungan sekolah, yang ia ikuti bersama teman dekatnya Nadhira dan Lestari. Meski pagi masih terasa sejuk, hati Aira sedikit berdebar karena ia tahu kemungkinan akan bertemu Dipta di area s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status