Masuk
Humaira Navya Aruna atau biasa akrab dipanggil Aira menatap halaman depan sekolah baru itu dengan mata berbinar campur gugup. Gedung tinggi, cat krem yang rapi, kaca-kaca besar memantulkan cahaya pagi yang lembut. Semua terlihat begitu megah, berbeda dari sekolah lamanya yang sederhana. Jalan setapak yang lebar dan rapi, pepohonan yang tertata, dan suara murid-murid yang saling menyapa membuat hati Aira berdebar.
Ini adalah awal baru. Awal yang membuatnya bangga sekaligus takut. Ia menyesap napas panjang dan menggenggam tas punggungnya lebih erat. Di dalam tas itu, selain buku pelajaran, ada catatan kecil berisi tulisan-tulisan pribadinya cerita-cerita, ide-ide, dan beberapa catatan tentang mimpi yang ingin ia wujudkan. Saat melangkah ke gerbang, Aira menatap sekeliling. Murid-murid berjalan beriringan, ada yang berlari kecil, ada yang tertawa riang, beberapa berbisik satu sama lain. Ada ketegangan di udara yang membuatnya sadar: semua mata mungkin akan tertuju padanya. “Tenang, Aira… kamu bisa melakukan ini", gumamnya pelan. Ia memanggil dirinya sendiri dengan nama panggilan yang biasa dipakai teman-temannya lama, Aira. Nama yang terdengar ringan di bibir, tapi sekarang, di sekolah baru, terasa asing. Ia menapaki jalan ke kelas XI IPA 2, di mana ia akan duduk di bangku kosong dekat jendela. Setiap langkah membuat dadanya berdebar lebih kencang. Apalagi ketika beberapa murid menoleh, menatapnya, dan tersenyum kecil. Humaira hanya membalas dengan senyum malu, menundukkan kepala sebentar sebelum duduk. Bangku di sebelahnya kosong, tapi di sekeliling, murid-murid mulai memperhatikan. Ada yang saling berbisik, menoleh ke Aira lalu tersenyum, menebar sapaan hangat. Ia mencoba menyapa beberapa di antaranya dengan lembut, menanyakan nama, dan mendengarkan jawaban mereka dengan perhatian penuh. “Nama saya Humaira Navya Aruna tapi panggil saja saya Aira,” katanya pelan, suaranya terdengar hampir seperti bisikan. Seorang gadis dengan rambut cokelat sebahu tersenyum hangat. “Senang bertemu denganmu, Aira! Aku Nadhira. Kalau butuh bantuan, bilang saja ya.”, katanya bersemangat. Seorang anak laki-laki berkaca mata juga mendekat dan memperkenalkan dirinya. "Saya Sandi, sedang berkenalan denganmu, jangan sungkan dikelas ini. Semua teman-teman disini baik-baik kok", ucapnya tenang. "Iya Aira, kamu jangan takut, disini semuanya baik. Aku jamin kamu bakalan betah dikelas ini, apalagi kalo kamu bareng aku..", tunjuk Nadhira pada dirinya sendiri dengan percaya diri. "Huu... Udah ga usah didengar itu omongannya Nadhira, dia mah biangnya keributan disini, berisik". Kata seorang anak laki-laki dari ujung ruang kelas. "Heh siapa bilang, aku tuh ga berisik. Tapi ramai aja", dengan menekan tangannya dipinggang, Nadhira membela diri. Aira tertawa kecil melihat adu mulut antara Nadhira dan teman lain, lalu ia mengangguk, merasa lega. Senyum Nadhira membuat suasana sedikit lebih ringan. Di pojok lain, ada seorang murid laki-laki yang tampak ramah, melambaikan tangan kecil, sementara beberapa yang lain hanya tersenyum malu. Setiap interaksi kecil itu membuat Aira tersadar, ia masih bisa beradaptasi, meskipun gugup. Meskipun sekolah ini besar dan baru, ada sisi hangat yang membuatnya merasa diterima. Guru memasuki kelas dengan senyum hangat. Ia memperkenalkan diri, kemudian menanyakan beberapa hal sederhana, nama, hobi, dan alasan pindahnya Aira. “Saya Humaira… eh, Aira,” kata Aira malu-malu. “Saya suka menulis cerita dan ikut lomba sains.” Beberapa teman tertawa ringan, kagum. Seorang gadis bernama Lestari berkata, “Wah, keren! Aku suka bikin cerpen juga. Mungkin kita bisa saling tukar cerita!” Aira tersenyum lega, merasa sedikit lebih nyaman. Di pojok kelas, seorang anak laki-laki berbisik ke temannya, “Kamu lihat dia nggak? Bener-bener lugu, tapi sepertinya pintar. Bisa jadi teman yang asyik nih.” Saat kelas mulai, Aira memperhatikan jendela, cahaya pagi yang masuk menembus kaca, membuat lantai berkilau. Ia membuka buku catatan, mencoba fokus pada pelajaran, tapi pikirannya sesekali melayang, menyesap suasana baru ini. Ia sadar, teman-teman sekelasnya menilai dengan mata penasaran. Beberapa menatapnya lebih lama, seperti ingin tahu siapa dia, mengapa wajahnya begitu cerah, polos, dan rapi. Aira hanya tersenyum malu, menundukkan kepala lagi, merapikan buku di mejanya. "Mereka sepertinya terlihat baik-baik", pikirnya. "Mereka hanya ingin tahu.. dan hal itu sangat wajar". Adegan-adegan kecil itu membuat Aira tersenyum sendiri. Ia merasa, meskipun tempat ini baru dan besar, ada teman-teman yang ramah dan menyenangkan. Saat istirahat pertama, Aira duduk di bangku dekat jendela. Ia membuka buku catatan, mencoba menulis pengamatan. Warna baju teman-temannya, suara langkah guru dan murid di lorong, aroma tinta dan kertas yang khas, cahaya lembut yang menembus jendela, dan setiap detail itu ia catat. Bagi Aira, menulis adalah cara memahami dunia, menenangkan diri, dan juga melatih ingatannya. Ia ingin mengingat setiap momen, karena hari ini adalah hari pertama awal dari segalanya. Aira menatap ke luar jendela, menyaksikan pepohonan tertiup angin pagi. Ia merasa campuran lega dan gugup leganya karena teman-teman baru terlihat ramah, gugup karena ini adalah lingkungan baru. Ia mengingat alasan pindah, jarak sekolah lama terlalu jauh, aktivitas ekstra sulit dijangkau, dan ia ingin lingkungan baru yang lebih dekat dengan rumah. Sekarang, setelah beberapa jam di sekolah ini, ia merasa keputusan itu benar, meskipun membuatnya harus menghadapi ketidakpastian. Aira tersenyum tipis, membuka buku catatan, dan menulis beberapa kata, 'Hari pertama. Baru. Menegangkan. Tapi menyenangkan.' Sepanjang jam pelajaran berikutnya, Aira mulai berinteraksi dengan teman-teman kelas. Nadhira menunjukkan cara menemukan buku di rak perpustakaan sekolah, Lestari berbagi tips mencatat materi guru supaya cepat paham. Beberapa murid laki-laki menatapnya dengan rasa penasaran ringan, tapi Aira tetap biasa saja dengan senyum polosnya, hanya tersenyum dan menatap kembali. Setiap interaksi memberi rasa nyaman dan membuatnya merasa diterima. Ia belajar nama-nama teman baru, kebiasaan mereka, dan mulai menyesuaikan diri dengan ritme kelas. Saat Aira berjalan menuju kelasnya XI. IPA 2 sesaat setelah jam istirahat kedua, matanya secara tidak sengaja tertumbuk pada seorang pemuda di lorong lantai atas. Tingginya mencolok, posturnya tegap, rambut gelap rapi, dan wajahnya tegas. Rahangnya yang membentuk V-line dan bibir tipis memancarkan aura berbeda dari semua orang yang pernah ia lihat. Humaira terdiam sejenak. Ada suatu rasa yang lembut di dadanya bukan takut, bukan juga canggung, hanya rasa kagum. Pandangan pemuda itu dingin, sedikit misterius, tapi entah kenapa, membuatnya penasaran. Ia mengalihkan pandangannya sejenak, mencoba menenangkan jantung yang tiba-tiba berdebar. “Siapa dia…?”, gumamnya pelan. Tidak ada jawaban, tidak ada perasaan lain selain kagum. Aira hanya tersenyum tipis dan menundukkan kepala, kembali fokus pada langkahnya menuju bangku kelas. Walau hanya sebentar, kesan itu menempel. Tanpa ia sadari, itu adalah pandangan pertama yang akan terus tersimpan dalam memorinya, sebuah rasa penasaran polos yang akan perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam di hari-hari berikutnya. Dari sudut lorong, terdengar bisik-bisik pelan. “Dia yang itu?” Sebuah senyum tipis muncul di wajah pemuda yang sama. “Iya. Targetnya.” Aira menatap sekeliling, tapi tidak ada yang tampak berbeda. Ia tersenyum tipis dan menundukkan kepala lagi, fokus pada langkahnya menuju bangku kelas. Hanya saja, sesuatu telah tertanam dalam benaknya rasa penasaran yang aneh, seperti ada yang sedang mengamati, menilai, dan menghitung setiap gerakannya. Hari pertama itu ternyata tidak akan sesederhana yang ia bayangkan.Sore itu, sebuah kafe tidak jauh dari pusat kota cukup ramai. Di salah satu sudut, empat orang sudah duduk santai sejak tadi. Angger bersandar di kursi, kakinya selonjoran, Bayu sibuk dengan minumannya dan Raka lebih banyak diam, memainkan sendok di gelasnya. Sementara David tampak santai, ponselnya di tangan. “Mana sih orangnya?”, keluh Bayu. “Ngaret mulu.” “Biasa”, jawab Angger santai. “Orang sibuk.” “Gaya”, gumam Bayu. Belum sempat mereka lanjut seseorang datang. Dipta, langkahnya tenang seperti biasa, ekspresinya datar. Ia langsung duduk tanpa banyak basa-basi. “Lama”, komentar Bayu. “Macet”, jawab Dipta singkat. Padahal tidak, namun tidak ada yang mempermasalahkan. Beberapa menit awal diisi obrolan ringan, tentang sekolah, tentang kelulusan dan tentang rencana setelah lulus. Sampai akhirnya topik itu muncul. “Eh”, ucap David tiba-tiba, matanya beralih ke Dipta. “Ngomong-ngomong…” Dipta melirik sekilas. “Apa?” David menyandarkan tubuhnya. “Udah lewat, ya?” “A
Pintu kamar tertutup. Begitu kunci terpasang, Aira langsung bersandar di baliknya. Tubuhnya perlahan merosot ke bawah, tangannya menutup mulutnya sendiri, menahan suara yang sejak tadi ia paksa untuk tidak keluar dan saat itu juga semuanya pecah. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi, diam tanpa suara keras. Tubuhnya bergetar hebat seolah seluruh beban yang selama ini ia tahan akhirnya menemukan celah untuk keluar. Aira menunduk, dahinya hampir menyentuh lututnya. Tangannya masih menutup mulutnya, berusaha menahan agar tangisnya tidak terdengar keluar kamar. Ia tidak ingin ibunya tahu, tidak ingin siapa pun tahu, justru karena itulah rasanya semakin sesak. Napasnya tidak teratur, dadanya terasa sakit dan untuk beberapa saat, ia hanya bisa menangis seperti itu, sendirian. Entah berapa lama, tangisnya perlahan mereda dan hanya tersisa sesekali isakan kecil yang tertahan. Aira mengusap wajahnya kasar, mencoba menghapus sisa-sisa air mata. Ia menarik napas panjang beberapa kali la
Beberapa hari setelah itu, Aira mulai terlihat lebih “normal”, setidaknya di depan orang lain. Ia kembali masuk sekolah seperti biasa. Wajahnya memang masih sedikit pucat, tapi ia sudah tidak lagi terlihat limbung seperti sebelumnya. Ia lebih banyak diam, namun tetap menjawab saat diajak bicara. Di rumah pun sama, ia mulai makan meski hanya sedikit, mulai keluar kamar meski tidak lama. Dan setiap kali ibunya bertanya, Aira selalu menjawab dengan kalimat yang sama. “Aku udah mendingan, Bu.” Awalnya, ibunya masih memperhatikan dengan seksama. Namun hari demi hari, saat melihat Aira tetap bisa beraktivitas, kekhawatiran itu perlahan berkurang. Ayahnya juga berpikir hal yang sama, mungkin memang hanya kelelahan karena sekolah. Mereka mulai percaya dan Aira membiarkan itu. Malam hari, lampu kamar Aira menyala, musik terdengar cukup keras dari dalam. Lagu yang biasanya ia putar pelan, kali ini volumenya dinaikkan lebih tinggi dari biasanya. Di dalam kamar mandi, Aira membungkuk di depan
Di dalam UKS, Aira masih duduk lemah di tepi ranjang. Kepalanya terasa berat, pandangannya kadang masih sedikit berkunang. Perawat sudah beberapa kali menyuruhnya berbaring lagi, tapi Aira bersikeras ingin duduk. “Pusingnya masih?”, tanya salah satu guru yang sejak tadi mendampinginya. Aira menggeleng pelan. “Udah mendingan, Bu…” Namun wajahnya yang pucat justru berkata sebaliknya. Guru itu menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas pelan. “Sepertinya kamu nggak bisa lanjut pelajaran hari ini. Ibu nggak mau kamu pingsan lagi di kelas.” Aira ingin menolak. Ia tidak ingin merepotkan siapa pun. Tapi bahkan untuk sekadar berdiri saja, tubuhnya masih terasa ringan dan tidak stabil. “Teman kamu ada yang bisa antar pulang?”, tanya guru itu lagi. Aira sempat terdiam. Ia tidak tahu harus meminta tolong pada siapa. Di luar UKS, Farhan yang sejak tadi berdiri agak menjauh akhirnya melangkah mendekat. “Saya bisa, Bu. Saya bawa mobil.” Guru itu langsung mengangguk. “Ya sudah,
Beberapa hari sebelum ujian akhir sekolah dimulai, Dipta semakin jarang punya waktu. Jadwalnya penuh dari pagi sampai sore di sekolah untuk tambahan belajar dan try out, malamnya di rumah atau di apartemen dengan buku-buku dan materi ujian. Karena itu, saat suatu sore Dipta tiba-tiba berkata, “Besok malam ke apartemen. ” Aira langsung menoleh. “Buat apa?” Dipta menatapnya sebentar. “Belajar... habis ini aku bakal sibuk banget. Mungkin itu terakhir kali aku bisa ngajarin kamu sebelum ujian.” Kalimat itu sederhana, namun cukup membuat Aira mengangguk tanpa banyak berpikir. Bagaimanapun, akhir-akhir ini ia selalu merindukan saat-saat ketika Dipta duduk di sampingnya, menjelaskan pelajaran dengan nada datar dan tatapan serius seperti dulu. Malam berikutnya, Aira datang ke apartemen Dipta. Seperti biasa, awalnya memang benar-benar belajar. Meja di ruang makan penuh dengan buku, catatan, dan laptop. Dipta masih mengajari seperti biasa, masih sabar, masih sesekali menyindir Aira k
Libur panjang yang awalnya Aira kira akan terasa menyenangkan, justru berubah menjadi sesuatu yang membuatnya semakin tidak tenang. Hari pertama setelah pembagian rapor, Dipta masih seperti biasa. Masih sempat mengirim pesan pagi, masih sempat bertanya Aira sedang apa, bahkan malamnya masih menelepon sebentar, meski tidak lama. Setelah itu, semuanya mulai berubah. Pesan Aira yang biasanya dibalas dalam hitungan menit, sekarang bisa berjam-jam. Kadang baru dibalas sore, padahal dikirim sejak pagi, kadang bahkan malam dan jawaban Dipta selalu singkat. “Aku lagi sibuk.” “Di luar.” “Nanti ya.” “Capek.” Tidak ada penjelasan lebih dari itu. Awalnya Aira berusaha menganggap biasa, mungkin Dipta memang sedang sibuk, mungkin ada urusan keluarga atau mungkin karena libur, jadi dia lebih banyak pergi ke luar rumah. Namun semakin lama, semakin aneh, bahkan ada momen saat akhirnya membalas, Dipta tidak lagi seperti biasanya, tidak ada pesan panjang, tidak ada godaan menyebalkan, tidak
Koridor sekolah masih ramai oleh siswa yang baru keluar kelas.Rania berjalan bersama dua temannya, namun langkahnya melambat ketika beberapa siswa dari kelas lain lewat di dekat mereka. Suara mereka tidak terlalu pelan, justru cukup jelas untuk terdengar. “Eh… itu Rania, kan?”, ucap siswa yang me
Bel istirahat baru saja berbunyi. Kantin sekolah sudah mulai ramai oleh suara siswa yang saling bercakap. Aira duduk di salah satu meja bersama Nadhira dan Lestari. Nadhira sedang bercerita tentang guru matematika mereka yang tiba-tiba memberi kuis dadakan pagi tadi.“…terus dia bilang ini cuma lat
Sore itu hujan turun tipis di luar apartemen Dipta. Cahaya kota memantul samar dari jendela kaca besar ruang nonton yang terhubung dengan ruang rahasia. Humaira duduk bersila di karpet tebal, buku anatomi terbuka di depannya. Diagram tubuh manusia terpampang jelas sistem reproduksi, jaringan, kelen
Pagi itu terasa berbeda bagi Aira, bukan karena cuaca dan bukan karena jadwal pelajaran, tapi karena sejak membuka mata, ada satu wajah yang langsung muncul di kepalanya, Dipta. Aira berdiri di depan cermin kamar, merapikan rambutnya. Tangannya sempat berhenti beberapa detik ketika bayangan semalam







