Home / Romansa / DIPTA / BAB 1 Hari Pertama Humaira

Share

DIPTA
DIPTA
Author: Adw_Canss781

BAB 1 Hari Pertama Humaira

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-02-24 22:01:46

Humaira Navya Aruna atau biasa akrab dipanggil Aira menatap halaman depan sekolah baru itu dengan mata berbinar campur gugup. Gedung tinggi, cat krem yang rapi, kaca-kaca besar memantulkan cahaya pagi yang lembut. Semua terlihat begitu megah, berbeda dari sekolah lamanya yang sederhana. Jalan setapak yang lebar dan rapi, pepohonan yang tertata, dan suara murid-murid yang saling menyapa membuat hati Aira berdebar.

Ini adalah awal baru. Awal yang membuatnya bangga sekaligus takut. Ia menyesap napas panjang dan menggenggam tas punggungnya lebih erat. Di dalam tas itu, selain buku pelajaran, ada catatan kecil berisi tulisan-tulisan pribadinya cerita-cerita, ide-ide, dan beberapa catatan tentang mimpi yang ingin ia wujudkan.

Saat melangkah ke gerbang, Aira menatap sekeliling. Murid-murid berjalan beriringan, ada yang berlari kecil, ada yang tertawa riang, beberapa berbisik satu sama lain. Ada ketegangan di udara yang membuatnya sadar: semua mata mungkin akan tertuju padanya.

“Tenang, Aira… kamu bisa melakukan ini", gumamnya pelan.

Ia memanggil dirinya sendiri dengan nama panggilan yang biasa dipakai teman-temannya lama, Aira. Nama yang terdengar ringan di bibir, tapi sekarang, di sekolah baru, terasa asing. Ia menapaki jalan ke kelas XI IPA 2, di mana ia akan duduk di bangku kosong dekat jendela. Setiap langkah membuat dadanya berdebar lebih kencang. Apalagi ketika beberapa murid menoleh, menatapnya, dan tersenyum kecil. Humaira hanya membalas dengan senyum malu, menundukkan kepala sebentar sebelum duduk.

Bangku di sebelahnya kosong, tapi di sekeliling, murid-murid mulai memperhatikan. Ada yang saling berbisik, menoleh ke Aira lalu tersenyum, menebar sapaan hangat. Ia mencoba menyapa beberapa di antaranya dengan lembut, menanyakan nama, dan mendengarkan jawaban mereka dengan perhatian penuh.

“Nama saya Humaira Navya Aruna tapi panggil saja saya Aira,” katanya pelan, suaranya terdengar hampir seperti bisikan.

Seorang gadis dengan rambut cokelat sebahu tersenyum hangat. “Senang bertemu denganmu, Aira! Aku Nadhira. Kalau butuh bantuan, bilang saja ya.”, katanya bersemangat.

Seorang anak laki-laki berkaca mata juga mendekat dan memperkenalkan dirinya. "Saya Sandi, sedang berkenalan denganmu, jangan sungkan dikelas ini. Semua teman-teman disini baik-baik kok", ucapnya tenang.

"Iya Aira, kamu jangan takut, disini semuanya baik. Aku jamin kamu bakalan betah dikelas ini, apalagi kalo kamu bareng aku..", tunjuk Nadhira pada dirinya sendiri dengan percaya diri.

"Huu... Udah ga usah didengar itu omongannya Nadhira, dia mah biangnya keributan disini, berisik". Kata seorang anak laki-laki dari ujung ruang kelas.

"Heh siapa bilang, aku tuh ga berisik. Tapi ramai aja", dengan menekan tangannya dipinggang, Nadhira membela diri.

Aira tertawa kecil melihat adu mulut antara Nadhira dan teman lain, lalu ia mengangguk, merasa lega. Senyum Nadhira membuat suasana sedikit lebih ringan. Di pojok lain, ada seorang murid laki-laki yang tampak ramah, melambaikan tangan kecil, sementara beberapa yang lain hanya tersenyum malu. Setiap interaksi kecil itu membuat Aira tersadar, ia masih bisa beradaptasi, meskipun gugup. Meskipun sekolah ini besar dan baru, ada sisi hangat yang membuatnya merasa diterima.

Guru memasuki kelas dengan senyum hangat. Ia memperkenalkan diri, kemudian menanyakan beberapa hal sederhana, nama, hobi, dan alasan pindahnya Aira.

“Saya Humaira… eh, Aira,” kata Aira malu-malu. “Saya suka menulis cerita dan ikut lomba sains.”

Beberapa teman tertawa ringan, kagum.

Seorang gadis bernama Lestari berkata, “Wah, keren! Aku suka bikin cerpen juga. Mungkin kita bisa saling tukar cerita!”

Aira tersenyum lega, merasa sedikit lebih nyaman. Di pojok kelas, seorang anak laki-laki berbisik ke temannya, “Kamu lihat dia nggak? Bener-bener lugu, tapi sepertinya pintar. Bisa jadi teman yang asyik nih.”

Saat kelas mulai, Aira memperhatikan jendela, cahaya pagi yang masuk menembus kaca, membuat lantai berkilau. Ia membuka buku catatan, mencoba fokus pada pelajaran, tapi pikirannya sesekali melayang, menyesap suasana baru ini.

Ia sadar, teman-teman sekelasnya menilai dengan mata penasaran. Beberapa menatapnya lebih lama, seperti ingin tahu siapa dia, mengapa wajahnya begitu cerah, polos, dan rapi. Aira hanya tersenyum malu, menundukkan kepala lagi, merapikan buku di mejanya.

"Mereka sepertinya terlihat baik-baik", pikirnya. "Mereka hanya ingin tahu.. dan hal itu sangat wajar".

Adegan-adegan kecil itu membuat Aira tersenyum sendiri. Ia merasa, meskipun tempat ini baru dan besar, ada teman-teman yang ramah dan menyenangkan.

Saat istirahat pertama, Aira duduk di bangku dekat jendela. Ia membuka buku catatan, mencoba menulis pengamatan. Warna baju teman-temannya, suara langkah guru dan murid di lorong, aroma tinta dan kertas yang khas, cahaya lembut yang menembus jendela, dan setiap detail itu ia catat. Bagi Aira, menulis adalah cara memahami dunia, menenangkan diri, dan juga melatih ingatannya. Ia ingin mengingat setiap momen, karena hari ini adalah hari pertama awal dari segalanya.

Aira menatap ke luar jendela, menyaksikan pepohonan tertiup angin pagi. Ia merasa campuran lega dan gugup leganya karena teman-teman baru terlihat ramah, gugup karena ini adalah lingkungan baru.

Ia mengingat alasan pindah, jarak sekolah lama terlalu jauh, aktivitas ekstra sulit dijangkau, dan ia ingin lingkungan baru yang lebih dekat dengan rumah.

Sekarang, setelah beberapa jam di sekolah ini, ia merasa keputusan itu benar, meskipun membuatnya harus menghadapi ketidakpastian. Aira tersenyum tipis, membuka buku catatan, dan menulis beberapa kata, 'Hari pertama. Baru. Menegangkan. Tapi menyenangkan.'

Sepanjang jam pelajaran berikutnya, Aira mulai berinteraksi dengan teman-teman kelas. Nadhira menunjukkan cara menemukan buku di rak perpustakaan sekolah, Lestari berbagi tips mencatat materi guru supaya cepat paham. Beberapa murid laki-laki menatapnya dengan rasa penasaran ringan, tapi Aira tetap biasa saja dengan senyum polosnya, hanya tersenyum dan menatap kembali.

Setiap interaksi memberi rasa nyaman dan membuatnya merasa diterima. Ia belajar nama-nama teman baru, kebiasaan mereka, dan mulai menyesuaikan diri dengan ritme kelas.

Saat Aira berjalan menuju kelasnya XI. IPA 2 sesaat setelah jam istirahat kedua, matanya secara tidak sengaja tertumbuk pada seorang pemuda di lorong lantai atas. Tingginya mencolok, posturnya tegap, rambut gelap rapi, dan wajahnya tegas. Rahangnya yang membentuk V-line dan bibir tipis memancarkan aura berbeda dari semua orang yang pernah ia lihat.

Humaira terdiam sejenak. Ada suatu rasa yang lembut di dadanya bukan takut, bukan juga canggung, hanya rasa kagum. Pandangan pemuda itu dingin, sedikit misterius, tapi entah kenapa, membuatnya penasaran. Ia mengalihkan pandangannya sejenak, mencoba menenangkan jantung yang tiba-tiba berdebar.

“Siapa dia…?”, gumamnya pelan.

Tidak ada jawaban, tidak ada perasaan lain selain kagum. Aira hanya tersenyum tipis dan menundukkan kepala, kembali fokus pada langkahnya menuju bangku kelas.

Walau hanya sebentar, kesan itu menempel. Tanpa ia sadari, itu adalah pandangan pertama yang akan terus tersimpan dalam memorinya, sebuah rasa penasaran polos yang akan perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam di hari-hari berikutnya.

Dari sudut lorong, terdengar bisik-bisik pelan. “Dia yang itu?”

Sebuah senyum tipis muncul di wajah pemuda yang sama. “Iya. Targetnya.”

Aira menatap sekeliling, tapi tidak ada yang tampak berbeda. Ia tersenyum tipis dan menundukkan kepala lagi, fokus pada langkahnya menuju bangku kelas. Hanya saja, sesuatu telah tertanam dalam benaknya rasa penasaran yang aneh, seperti ada yang sedang mengamati, menilai, dan menghitung setiap gerakannya.

Hari pertama itu ternyata tidak akan sesederhana yang ia bayangkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DIPTA   BAB 95 Inspeksi

    Barang-barang di atas meja kasir mulai berpindah satu persatu. Suara beep mesin scanner terdengar berulang kaleng susu, botol minum, buku gambar astronot dan cemilan sampai perintilan kecil lainnya. Aira berdiri di sisi kasir, sesekali melirik layar total belanja. “Ini kayaknya bisa buat buka warung…” gumamnya pelan, setengah bercanda. Di sampingnya, Dipta masih membantu mengangkat barang dari troli. Gerakannya tenang sudah terbiasa, kasir menyebutkan total pembelian yang angkanya tidak kecil. Aira langsung mengambil dompetnya tanpa ragu. “Sebentar ya—” Namun tangan Dipta lebih dulu bergerak. Satu kartu sudah diletakkan di mesin. Aira langsung menoleh cepat. “Pak?!” Dipta tidak melihat ke arahnya. “Lanjut saja mbak.” Kasir langsung memproses. Aira langsung mendekat sedikit. “Pak, ini saya yang bayar…” Dipta tetap tenang. “Sudah biar saya aja.” Aira mengernyit. “Kan ini belanjaan saya…” Dipta baru memandang, tatapannya datar. “Iya.” Aira makin bingung. “Terus ken

  • DIPTA   BAB 94 Belanjaan

    Aira masih berdiri di depan rak susu, mencoba mengembalikan fokusnya setelah kejadian barusan yang jujur saja, cukup membuat kepalanya sedikit “panas dingin”. Troli di depannya sudah hampir penuh. Ia mengambil satu kaleng susu formula, memperhatikan labelnya sebentar, lalu tanpa ragu memasukkannya ke dalam troli. Gerakannya cepat seolah sudah hafal. Di sampingnya, Dipta berdiri tenang. Tadinya hanya memperhatikan sekilas, namun kali ini tatapannya bertahan lebih lama. Matanya turun perlahan ke dalam troli, satu persatu isi di dalamnya terlihat jelas produk anak-anak. Cemilan khusus, perawatan bayi, minyak telon dan lainnya. Semuanya bukan yang biasa, lalu pandangannya bergeser ke bagian lain. Produk milik Aira seperti sabun, sampo, body lotion, skincare, make up, semuanya standar. Bahkan bisa dibilang sederhana. Dipta tidak langsung bicara, tatapannya sedikit berubah lebih dalam. Aira yang masih fokus merapikan barang, tidak langsung sadar diperhatikan seperti itu. “Ini harusnya

  • DIPTA   BAB 93 Belanja

    Dulu, Dipta adalah seseorang yang mengendalikan. Sekarang dia terlihat seperti seseorang yang membentuk tanpa menekan. Arjito menghela napas lagi, lebih panjang dari sebelumnya. “Kamu benar-benar belajar…” Kalimat itu keluar pelan, bukan hanya untuk Aira justru ini juga untuk Dipta. Beberapa detik ruangan itu benar-benar hening. Tidak ada suara selain napas yang teratur. Lalu perlahan, tangan Arjito meraih ponselnya yang terletak di sisi meja. Ia menatap layar sebentar, seolah memastikan keputusan kecil itu, kemudian satu nama dipilih. Panggilan dilakukan. Nada sambung terdengar beberapa detik, sebelum akhirnya tersambung. “Jarang kamu yang menghubungi duluan.” suara di seberang terdengar santai, sedikit ringan, sangat kontras dengan suasana di ruangan itu. Suara dari Hadiyasa Mahesa. Arjito tidak langsung menjawab. Ia berdiri perlahan dari kursinya, berjalan mendekati jendela besar di belakang meja. Pemandangan kota terbentang luas di bawah sana, gedung-gedung tinggi berdir

  • DIPTA   BAB 92 Jalur yang Dibentuk

    Setelah Nadhira benar-benar pergi, akhirnya suasana di meja itu kembali tenang. Aira menarik napas panjang, lalu menegakkan badannya. “Akhirnya…” Di depannya, makanan sudah tersaji, hangat dan terlihat menggoda. Dipta mulai makan tanpa banyak bicara, seperti biasa. Aira mengambil sendok, belum langsung makan. “Pak.” Dipta berhenti dari aktivitasnya. “Ya?” “Tadi itu…” Aira berhenti sebentar. “…memalukan nggak sih?” Dipta tetap tenang. “Tidak.” Aira mengernyit. “Serius?” "Iya”, jawab Dipta singkat lagi. Aira memperhatikan ekspresinya, mencari jika ada tanda-tanda bercanda, tapi tidak ada. “Padahal itu temen saya paling… ya gitu lah…” Dipta menjawab singkat. “Sudah terlihat.” Aira langsung ketawa kecil. “Iya kan” Aira akhirnya mulai makan. Suasana perlahan jadi lebih santai dalam beberapa suapan berlalu. Aira tiba-tiba bicara lagi, lebih pelan. “…Pak.” “Ya?”, sahut Dipta yang kembali harus terhenti menikmati hidangan. “Kalau orang-orang dulu lihat kita sekar

  • DIPTA   BAB 91 Andine dan Bertemu Nadhira

    Pagi itu berjalan seperti biasa di Rajendra Engineering. Aira sudah kembali dengan rutinitasnya, menyusun jadwal, menyiapkan dokumen, dan memastikan semua agenda Dipta berjalan rapi. Suasana kantor relatif normal dan tenang. Sampai ada suara yang menahan aktivitasnya. “Bu Aira, ada tamu.” ucap staf yang memanggilnya. Aira menoleh. “Tamu?” Staf di depannya mengangguk. “Dari perusahaan luar, sudah ada janji dengan Pak Dipta.” Aira langsung mengangguk kecil. “Baik, saya konfirmasi dulu.” Dia berdiri, berjalan ke ruang kerja Dipta, mengetuk pelan. “Masuk.” ucap Dipta. Aira membuka pintu. “Pak, tamu dari perusahaan—” Kalimatnya terhenti, karena di dalam ruangan itu sudah berdiri dua orang. Seorang pria paruh baya dengan aura pebisnis kuat dan di sampingnya Andine. Aira langsung diam sepersekian detik, matanya menyipit sedikit. “Oh…” Andine yang melihat itu, langsung mengenali wajah Aira. Tatapannya berubah tajam, senyum tipis muncul di bibirnya. "Ternyata kamu…” gumamnya pelan

  • DIPTA   BAB 90 Revisi Bersama

    Ruang kerja kembali hening setelah tumpukan revisi itu selesai mereka baca. Aira masih duduk, menatap dokumen di depannya seolah belum benar-benar selesai memproses semuanya. Sementara Dipta sudah mulai menandai bagian-bagian yang perlu diperbaiki. Aira akhirnya bicara pelan. “Pak.” Dipta tidak menoleh. "Iya?” Aira menarik napas kecil. “Saya baru ngerti sekarang.” Dipta berhenti sebentar. “Apa?” Aira menatap dokumen itu lagi. “Kenapa orang-orang masih hormat sama beliau…” Dia berhenti, lalu lanjut pelan. “…padahal standarnya kayak… ya ini…” dia mengangkat sedikit kertas revisi itu. Dipta menutup pulpen. “Karena dia tidak menjatuhkan orangnya.” Aira langsung menoleh. “Iya…” Dia mengangguk pelan. “…dia kayak… selalu punya cara lain sebelum nyalahin orang.” lalu berhenti sebentar. Aira melanjutkan, kali ini lebih jujur. “…dulu saya kira ayah saya itu dingin.” Dia tertawa kecil. “…ternyata bukan dingin… cuma terlalu mikir jauh.” Dipta menatapnya sekilas. “…dan kamu baru

  • DIPTA   BAB 22 Tempat Yang Sama, Posisi Yang Berubah

    Tempat itu tidak pernah berubah. Kafe semi-terbuka di sudut jalan utama, dengan dinding kaca besar menghadap persimpangan. Lampunya terang, tidak temaram. Meja-meja tersusun rapi, kursi kayu dengan sandaran lurus, dan aroma kopi yang lebih kuat daripada wangi manis sirup seperti di tempat lain, tid

  • DIPTA   BAB 21 Langkah Lebih Dekat

    Mobil melaju kembali, lampu jalan mulai menari di kaca depan. Hening, tapi tidak canggung hanya ruang yang penuh konsentrasi. Aira masih merasakan sisa hangat di pergelangan tangannya, sedangkan Dipta memutar-mutar setir dengan tenang, matanya fokus ke depan, tapi pikirannya masih tertuju pada resp

  • DIPTA   BAB 19 Hari Pertemuan Kedua

    Sabtu pagi, jam menunjukkan pukul 06.12. Padahal biasanya Aira baru benar-benar bangun pukul tujuh saat tidak ada sekolah. Matanya sudah terbuka sejak lima belas menit lalu. Ia menatap langit-langit kamar, diam untuk beberapa waktu. Lalu memiringkan tubuh, mengambil ponsel di meja samping ranjang, t

  • DIPTA   BAB 18 Perubahan dan H-1 Pertemuan

    Jum'at, saat jam istirahat pertama selalu jadi waktu yang paling bising di sekolah. Tapi koridor lantai dua hari itu justru terasa lebih lengang. Mungkin karena sebagian besar siswa turun ke kantin. Cahaya matahari masuk dari jendela panjang, memantul di lantai keramik yang sedikit kusam. Aira ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status